Keadaan Neraka

Dalam status Facebook beliau KH. Arsil Ibrahim MA menulis :

Dalam kitab Tanbihul Ghafilin Syaikh As Samarqandi mengatakan bahwa suatu hari malaikat Jibril datang menemui Rasulullah SAW dalam keadaan ketakutan.

Maka Rasulullah SAW bertanya, “Ada apa wahai Jibril?”

Jibril menjawab, “Wahai Muhammad sesungguhnya hari ini Allah SWT sedang mengobarkan nyala api neraka. Maka seluruh malaikat amat ketakutan. Mereka tidak tahu harus bagaimana. Untunglah aku ingat bahwa engkau adalah sumber cinta dan sayang Allah kepala alam semesta. Justru itulah aku di sini. Untuk bertabaruk dengan cinta Allah yang ada pada dirimu.”

Rasulullah SAW terdiam beberapa saat lalu bertanya, “Wahai Jibril, shif lii washfan naar. (ceritakan padaku bagaimanakah neraka itu sesungguhnya).”

Jibril menjelaskan, “Wahai Muhammad, neraka itu bagaikan lobang-lobang yang terdiri dari tujuh tingkat. Jarak antara satu lobang dengan yang lain adalah 70 tahun perjalanan. Lobang yang paling bawah adalah yang paling panas.”

Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah penghuni lobang-lobang neraka itu wahai Jibril?”

Jibril menjawab, “Lobang yang paling bawah diciptakan untuk orang-orang munafik. Lobang berikutnya untuk penyembah berhala. Lalu untuk penyembah bintang dan matahari.” Jibril terus menerangkan penghuni tingkatan lobang-lobang itu. Hingga lobang neraka yang ke lima tempatnya umat Yahudi dan ke enam Nasrani. Lalu kemudian Jibril diam cukup lama.

Rasulullah SAW bertanya, “Wahai Jibril, siapakah penghuni neraka yang ketujuh?” Jibril diam, dan Rasulullah SAW bertanya lagi. Jibril tetap diam. Rasulullah SAW mendesak lagi. Akhirnya Jibril berkata, “Umatmu wahai Muhammad, pelaku dosa besar di kalangan umatmu yang sampai mati belum sempat bertaubat.”

Mendengar jawaban Jibril Rasulullah SAW langsung jatuh pingsan. Jibril merangkulnya dan meletakkan tubuh baginda SAW di atas pangkuannya. Tidak berapa lama Rasulullah SAW sadar dan langsung menangis bersimbah air mata. Sambil terisak-isak Nabi SAW bertanya, “Yaa Jibril..awayadkhulu ummatii an naar? (Wahai Jibril apakah memang ada di antara umatku yg masuk neraka?)”

“Benar wahai Muhammad …pelaku dosa besar di antara umatmu yang belum bertaubat.”

Setelah itu Nabi SAW langsung menghadap kiblat dan sujud menyembah Allah SWT dalam isakan tangis. Sesekali dengan lirih perlahan beliau membisikkan kata-kata..’Ummati ya Rabb…ummatii…’ Beliau SAW tidak mengangkat kepalanya dalam keadaan seperti itu selama tiga hari tiga malam, kecuali setiap Bilal bin Rabah melaungkan azan beliau SAW bangkit untuk menjadi imam dan setelahnya kembali sujud.

Pada hari ketiga Abu Bakar RA menyadari hal ini. Dia mengetuk pintu Rasulullah SAW dan mengucapkan salam tiga kali. Namun tidak ada jawaban. Abu Bakar RA sedih dan berseru di pintu Nabi SAW, “Hal ilaa bayti Rasulillah min sabiil? (Aduhai bolehkah saya masuk ke rumahmu ya Rasulullah?)” Tetap tidak ada jawaban. Lalu beliau menangis dan melangkah pulang.

Di jalan beliau bertemu Umar RA dan beliau bertanya, “Mengapa engkau menangis hai Abu Bakar?” Abu Bakar menceritakan keadaan Rasulullah SAW, maka Umar RA pun melangkah ke rumah Nabi SAW dan terjadilah hal yang sama. Umar pun pulang dan menangis.

Di jalan beliau bertemu Salman Al Farisi, sambil terisak-isak Umar bercerita kepada Salman. Salman amat sedih. Namun dia tidak berani mengulangi hal yang sama. Salman melangkah ke rumah Fatimah RA dan menceritakan hal itu.

Setengah berlari Fatimah RA menuju rumah Nabi SAW dan mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Mendengar suara lembut putri tercinta sejuklah dada Nabi SAW. Baginda bangkit dari sujud dan membuka pintu. Alangkah terkejutnya Fatimah RA melihat Nabi SAW yang amat kurus dan pucat. Fatimah memeluknya seraya menangis, “Wahai ayahanda apa yang terjadi? Mengapa engkau sedih seperti ini?” Rasulullah SAW kembali menangis dan berkata dengan suara lirih, “Wahai Fatimah belahan jiwaku, bagaimana mungkin aku tidak sedih. Jibril mengatakan akan ada kelak umatku yang akan masuk neraka?” Kedua anak dan bapak itupun menangis bersimbah air mata.

Advertisements