Kapan Menggunakan Subhanallah & Masyaallah?

سُبْحَانَ اللّهُ / Subhanallah / Maha Suci Allah

Diucapkan saat melihat hal-hal yang indah ciptaan Allah, seperti saat melihat gunung, laut, sunrise, sunset, dan peristiwa menakjubkan lainnya. Kenapa? Agar kita mendapatkan manfaat dari alam tersebut dan memuji kebesaranNya, bukan bencananya seperti gunung meletus, tsunami, dll.

Atau menurut K.H Muhammad Arifin Ilham: “Saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, ucapkan Subhanallah sebagai penegasan: ‘Allah Maha Suci dari keburukan tersebut’.”

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Suatu hari aku berjunub dan aku melihat Rasulullah SAW berjalan bersama para sahabat, lalu aku menjauhi mereka dan pulang untuk mandi junub. Setelah itu aku datang menemui Rasulullah SAW. Beliau bersabda: “Wahai Abu Hurairah, mengapakah engkau malah pergi ketika kami muncul?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah, aku kotor (dalam keadaan junub) dan aku tidak nyaman untuk bertemu kalian dalam keadaan junub.” Rasulullah SAW bersabda: “Subhanallah, sesungguhnya mukmin tidak najis.” (HR. Tirmizi)

“Sesungguhnya mukmin tidak najis” maksudnya adalah keadaan junub jangan menjadi halangan untuk bertemu sesama muslim. Dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), misalnya: “Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan” (QS: 40-41), juga digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik.

Jadi kesimpulannya, ungkapan Subhanallah dianjurkan setiap kali seseorang melihat sesuatu yang tidak baik, bukan yang baik-baik atau keindahan saja.

مَاشَآءَاللّهُ / Maasya Allah / Inilah yang dikehendaki oleh Allah

مَاشَآءَاللّهُ لاَ قُوَّتَ اِلاَّبِاللّهِ / Maasya Allah laa quwwata illa billah / Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah

Diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah, atau memuji apa yang manusia punya, seperti rumah, mobil, termasuk anak-anak, atau memuji diri kita. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendakNya. Ungkapan kekaguman kepada Allah dan ciptaanNya yang indah lagi baik, semua itu terjadi atas kehendak Allah.

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Masyaallah laa quwwata illa billah‘. Sekiranya kamu anggap Aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).

Advertisements