Indonesia Negeri Para Wali

Bumi telah menunjukkan tanda-tanda akhir zaman, dan bumi sudah terlalu tua untuk menanggung bebannya. Salah satu dari tanda akhir zaman adalah perpecahan ummat, dimana-mana telah ditemui fitnah akhir zaman dari paham najd yang lebih cenderung digelari wahabi karena kecondongan mereka terhadap pendapat Muhhamad Bin Abdul Wahab. Paham ini merebak dan menuntut tauhid mutlak secara massal yang sebenarnya memecah belah umat. Paham zionis dari yahudi telah berhasil secara perlahan tapi pasti menyusupi paham-paham seperti ini untuk bertujuan merusak Islam dari dalam.

Apalagi kalau bukan perpecahan ummat, membenturkan sunni-syiah, madzhab-madzhab, budaya versus tradisi Islam dan menarik nilai-nilai islam dari setiap jengkal thariqahnya. Sungguh rentan dan berbahaya.

Ketahuilah ini telah banyak menumpahkan darah dan harta kaum muslim. Membunuh dan mengaburkan jejak para salaf lewat pemalsuan kitab, memerangi ulama dan memecah ummat lewat organisasi-organisasi, ormas dan fanatisme akan tauhid yang semakin jelas menunjukkan tanda akhir zaman berikutnya yaitu “ditariknya ilmu dari dunia”.

Ilmu telah berhasil ditarik dari dunia dengan cara keji dan pembodohan generasi muda. Sehingga paham ini merebak dan menjadikan pemiliknya merasa sebagai seorang pejuang tauhid. Sungguh adalah kebodohan dan kedangkalan akhlak akan ilmu itu sendiri.

Indonesia penganut Islam terbesar setelah dunia Arab adalah target empuk paham-paham rendah ini. Meracuni generasi muda untuk belajar instant lewat via internet, majelis dangkal tanpa adanya seorang mursyid, mengerok ilmu agama dengan pemahaman sendiri dan dengan takaran kemampuan seorang abid.

Ketika seseorang menjadi abid (ahli ibadah) dia berada dalam ujian ilmu sesungguhnya. Kita harus belajar ridha atas kemutlakan terjadinya fitnah akhir zaman ini. Bentengi diri dan keluarga terdekat anda. Perlawanan secara masif akan menjadi ladang fitnah yang lebih berbahaya.

Indonesia sebagai negeri para wali, sebuah gelar yang sangat agung untuk sebuah negeri yang “bodoh” karena melupakan para walinya. Merujuk kembali kepada gelar tersebut adalah jalan keluar membentengi diri kita dan masyarakat kita akan paham najd ini.

Tenanglah, karena Indonesia tidak akan runtuh sebelum gelar ini berubah menjadi negeri yang kehilangan wali. Kedudukan mereka saat hidup hingga wafatnya tidak merubah kedudukan kewalian mereka. Cintai para wali cintai nasab dan ranting penyambung ilmu ini (ulama), ini lebih mudah ketimbang  menyerang dengan ketidaksepahaman yang menjadi tujuan mereka (provokasi).

Membedakannya tidaklah sulit, selayaknya ini hanya menjadi perjalanan menemukan seorang ayah bagi seorang anak yang tersesat. Dia hanya perlu menemukan ayahnya, sehingga ayahnya akan menjaminnya, mengasihinya, dan menjadi pelindungnya. Adalah akal yang bodoh seorang anak ketika mengetahui ayahnya masih hidup namun berusaha bertahan hidup jauh darinya dan berusaha paham cara bertahan hidup tanpa ayahnya yang pastinya telah teruji dengan takdir yang menjadikannya seorang ayah.

Suatu saat Al Magfurlahu sang Murrobbi Al Habib Muhammad bin Alwi Al Maliki berziarah ke makam datuknya (Rasullulah SAW) telah terbuka bagi beliau “hijab” sehingga beliau bertemu secara sadar kepada baginda Rosul SAW. Dan beliau menjumpai Sang Nabi bersama banyak pengikutnya dan sang Murobbi bertanya siapakah mereka wahai Rasullulah? Dan baginda Rosul menjawab mereka adalah orang INDONESIA yang menjadi banyak penghuni surga dan mereka mencintaiku. Sang Murobbi menangis dan berikutnya mencari orang-orang Indonesia di barisan para murid-muridnya dan mengatakan “Mana-mana orang Indonesia? Saya mencintai mereka.”

Semoga Allah melindungi Indonesia dengan keutamaan para Wali Allah dan menjadikan kita orang-orang yang disebutkan kisah diatas. Amin.

Advertisements