Hati-Hati Jaga Hati

(Di share oleh salah satu teman).

Pernah jatuh cinta? Pernah sekedar suka? Pernah kagum? Atau bahkan saat ini sedang jatuh cinta? Saya yakin setiap orang pernah merasakannya.

Ketika seseorang jatuh cinta. Ada yang tetap diam tanpa pernah menyatakannya. Ada pula yang baru sekedar kagum saja, tapi sudah berani bilang cinta dan berujung pada hubungan ilegal, pacaran.

Bagi kita yang memilih pacaran, tak selamanya kita tidak tahu bagaimana hukum pacaran, bukan? Kebanyakan tahu dan mengakui bahwa pacaran itu bukan jalan yang baik, namun lagi-lagi nafsu menuntun kita untuk melupakan kebenaran dan membuat pembenaran, dengan dalih, “Kita pacaran nggak ngapa-ngapain kok.”

Sedangkan, bagi kita yang memutuskan untuk diam dan tak mudah bilang cinta, ada keyakinan dan prinsip kuat yang mendasari sikap kita itu. Kita bukan termasuk manusia yang tidak normal, bukan pula pengecut karena tak berani mengatakan cinta. Kita tetap diam, karena kita yakin dan percaya bahwa cinta yang kita miliki akan indah pada waktunya dan bunga-bunga asmara itu pun akan mekar pada masanya. Kapan? Ketika Allah telah mendatangkan jodohnya dan mempersatukan kita dalam hubungan resmi, pernikahan. Kita tak ingin menodai cinta itu dan salah dalam mencintai.

Kita yang sudah faham pacaran itu tak baik akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak terjerumus atau menjerumuskan diri padanya. Sekuat tenaga menghindari zina, dengan tidak mengikuti budaya pacaran bahkan berusaha menghapusnya dari kamus kehidupan kita. Pokoknya, bagaimanapun susahnya kita akan berjuang terus agar fisik kita tak berzina melalui pacaran.

Namun terkadang ada yang kita lupakan dan dirasa sulit untuk kita lakukan, yakni menjaga hati. Menjaga hati agar tetap bersih. Menjaga hati agar hanya terisi dengan nama-Nya. Menjaga hati agar tetap tenang. Menjaga hati yang terus bergejolak karena asmara. Menjaga hati yang mudah sekali berbolak-balik agar tetap terpaut pada-Nya dan istiqomah di jalan-Nya.

Jangan dulu merasa bebas, aman dan menang apalagi sombong, ujub dan merasa diri paling baik ketika kita sudah bisa menghindarkan diri kita dari zina fisik berupa pacaran, salah satunya. Karena bukan tidak mungkin syaitan yang gagal menjerumuskan kita pada zina fisik tidak akan pernah tinggal diam dan akan terus mencari cara lain untuk mengelabui kita dan membuat kita terjerumus. Salah satu caranya, mungkin lewat hati ini. Hati yang dimana kebanyakan merasa memiliki titik terlemah padanya, apalagi bagi kita yang merasa perempuan yang banyak melibatkan perasaan.

Jangan kita kira bahwa hanya dengan memandanginya dari jauh, memandangi fotonya di sosmed kita tidak sedang berzina. Hati-hati, itu adalah zina mata!

Jangan kita kira bahwa hanya dengan memperbincangkan dirinya dengan rasa senang kepadanya kita tidak sedang berzina. Hati-hati, itu zina lisan!

Jangan kita kira bahwa hanya dengan memikirkan dan mengkhayalkannya kita tidak sedang berzina. Hati-hati, itu zina hati!

Dari Abdullah bin Abbas RA, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda, “Sesungguhya Allah telah menetapkan zina yang tidak mustahil dialami oleh manusia. Zina mata adalah melihat, zina lisan adalah berbicara, zina hati adalah berangan-angan dan berkeingnanan, kemudian kemaluan yang akan membenarkannya atau menolaknya.” (HR. Bukhari)

Ya, itulah zina yang terkadang kita lupa untuk sama-sama menghindarinya. Kita selalu membuat pembenaran dengan dalih “nggak apa-apa” padahal jika kita sudah terbiasa melakukan ketiga zina itu dan menganggapnya ringan, bukan dosa, maka bukan tidak mungkin jika lambat laun kita pun akan berlanjut melakukan tingkatan zina selanjutnya, yakni zina fisik dengan menyentuh lawan jenis dan memperturutkan kemaluan. Naudzubillah.

“Takutlah pada zina, karena sesungguhnya dalam zina ada enam perkara (adzab), tiga di dunia dan tiga di akhirat. Tiga perkara di dunia; hilangnya wibawa, pendeknya umur dan menjadi miskin selamanya. Tiga perkara di akhirat; murka Allah, jeleknya hisab dan siksa neraka.” (HR. Baihaqi)

Jagalah diri, jaga iman, jaga kehormatan dan jaga hati agar kita tak terjerumus pada zina.

Zina bukan hanya terjadi karena tak tahu hukumnya, melainkan karena ada nafsu hati yang terus menerus melakukan pembenaran.

Advertisements