11 Kebiasaan Cara Didik Anak Para Salaf Bani ‘Alawi

Oleh Sayyid Muhammad Abdullah Muhammad Alhaddar (Ribat Alhaddar Yemen)

  1. Ibu ketika menyusui sambil membaca Ayat Kursi, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas dan mengulang-ulang bacaan.
  2. Pertama kali yang diajarkan ke anak ketika baru bisa bicara: “Rodiina billahi robba wa bil islami diina wa bil muhammadin nabiyya.” Artinya: Aku ridho Allah sebagai Tuhanku dan Islam agamaku dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rosulku.
  3. Mengajak keluar anak-anak kecil ketika waktu malam yang terakhir (sebelum subuh) ke masjid agar menjadi kebiasaan.
  4. Sebelum memasuki bulan-bulan berkah seperti Ramadhan, mereka mengumpulkan anak-anak mereka dan bertanya kepada mereka, “Apa amalan yg akan kalian kerjakan di bulan yg berkah ini?” Seperti membaca Al Qur’an, dzikir, sedekah, dll.
  5. Mereka mengajari anak-anak mereka niat-niat yang baik sebagaimana mengajari mereka surat Al Fateha.
  6. Mereka mengadakan majelis ilmu di rumah dan berkumpul semua yang di rumah harian atau mingguan, mereka membaca sedikit dari Al Qur’an (tadarus) dan kitab hadist dan fiqih. Mereka menutup majelis dengan doa dan solawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  7. Ketika masuk baligh anak mereka, mereka memberi tahu anaknya kalau sudah Mukallaf dan sekarang dua Malaikat akan mencatat kebaikan dan kejelekan dan menulis ucapan dan perbuatannya, dan hal itu diadakan perayaan yang dihadiri ulama’.
  8. Mereka tidak menunda pernikahan anak-anak mereka setelah baligh, karena khawatir terjerumus kepada kemaksiatan.
  9. Mereka mengajari anak-anak dengan berdoa memohon kepada Allah dalam setiap keadaan, maka apabila anaknya ingin sesuatu dari orangtuanya, mereka berkata kepada anaknya wudhu’lah, sholat 2 rokaat dan mintalah kepada Allah hajat-hajatmu. Setelah Sholat, orangtua memberikan yang anak minta seraya berkata, “Sungguh Allah yang mengabulkan doamu”.
  10. Mereka membagi tugas kepada setiap anak, ada yang tugas belanja ke pasar, ada yang menyapu rumah, ada yang tugas melayani tamu dan mengambil air, dll.
  11. Mereka lebih banyak memperhatikan pembelajaran putri-putri mereka daripada yang laki-laki karena anak perempuan tidak keluar rumah.
Advertisements