Tidak Sepatutnya Merasa Lebih Dari Yang Lain

Di tengah perjalanan malamnya, Al-Imam Abu Yazid al-Busthami bertemu dengan seekor anjing. Dengan sigap, diangkatlah gamisnya, dengan maksud agar tidak terkena najisnya.

Spontan anjing tersebut berhenti & memandang Abu Yazid. Atas kuasa Allah, Abu Yazid mendengar anjing tersebut berbicara, kepadanya, “Wahai Yazid, tubuhku ini kering, tidak akan menimbulkan najis kepadamu. Jika pun terkena najisku, engkau tinggal membasuhnya 7x, dengan air dan tanah. Maka najisku akan hilang, namun jika engkau angkat gamismu, karena berbaju manusia, merasa lebih mulia & menganggap aku hina, maka najis di dalam hatimu, tidak akan mampu terhapus, walau kau bersihkan dengan air dari 7 samudera.”

Abu Yazid terkejut mendengar perkataan anjing tersebut. Dia menunduk malu, dan segera meminta maaf kepada si anjing. Diajaknya anjing tersebut bersahabat & mengikuti perjalanannya, namun anjing tersebut menolak. Kemudian anjing itu berkata, “Engkau tak mungkin bersahabat & berjalan dengan aku, karena orang-orang yang memuliakanmu, akan mencemooh kamu & melempari aku dengan batu. Aku juga tidak tahu mengapa, mereka menganggap aku hina, padahal aku telah berserah diri, kepada pencipta-Ku atas wujud ini. Lihatlah, tidak ada yang aku bawa, bahkan sepotong tulang sebagai bekalku saja tidak. Sementara engkau masih membawa bekal sekantong gandum.” Kemudian anjing tersebut berlalu.

Dari jauh Abu Yazid memandangi anjing tersebut, berjalan meninggalkannya. Tidak terasa air mata Abu Yazid menetes, dan ia berkata dalam hati, “Ya Rabb, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-Mu saja, aku merasa tidak pantas. Bagaimana aku bisa pantas berjalan dengan-Mu? Ampunilah aku. Sucikanlah najis di dalam qalbuku ini.”

Jangan pernah merasa lebih baik, mulia dan terhormat pada ciptaan Allah, karena Allah melihat hatimu, bukan penampilanmu.

Advertisements

Pakaian Lebaran Dari Surga

Diriwayatkan pada masa kecil menjelang lebaran. Al Hasan dan Al Husain AS tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran, sedangkan hari raya sebentar lagi datang. Mereka bertanya kepada ibunya,
“Wahai ummah anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian lebaran kecuali kami, mengapa bunda tidak menghiasi kami?”
Sayyidah Fathimah RA menjawab, “Sesungguhnya baju kalian berada di tukang jahit.”

Ketika malam hari raya tiba, mereka berdua mengulangi pertanyaan yang sama, Sayyidah Fathimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu. Ketika malam tiba, ada yang mengetuk pintu rumah, lalu Sayyidah Fathimah bertanya, “Siapa?” Orang itu menjawab, “Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit, aku datang membawa hadiah pakaian untuk putra-putramu.”

Maka Beliau pun membuka pintu, tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah, lalu diberikan kepada Sayyidah Fathimah RA. Kemudian Beliau membuka bingkisan tersebut, ternyata didalamnya terdapat 2 gamis, 2 celana, 2 mantel, 2 sorban serta 2 pasang sepatu hitam yang semuanya sangat indah. Lalu Sayyidah Fathimah membangunkan kedua putra kesayangannya lalu memakaikan hadiah tersebut kepada mereka.

Kemudian ketika Rasulullah SAW datang dan melihat keduanya sudah dihiasi dari semua hadiah yang terdapat dalam bingkisan tersebut. Kemudian Rasulullah SAW menggendong kedua cucunya dan menciumi mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang. Rasulullah SAW bertanya kepada Sayyidah Fathimah SAW,
“Apakah engkau melihat tukang jahit tersebut?”
Sayyidah Fathimah RA menjawab, “Iya, aku melihatnya.”
Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan penjaga surga.”

Bahkan para penghuni langit dan bumi pun berbahagia jika kedua cucu Rasulullah SAW bahagia.

Kecintaan Ba Misbah Pada Ahlul Bait

Kecintaan dan Penghormatan Ba Misbah Sebuah Kisah Begitu Mencintai Dzurriyah Rasulullah SAW.

Suatu hari Sayidina Abdullah bin Syeikh Alaydrus duduk mengobrol dengan para sahabatnya. Tiba-tiba beliau bertanya, “Adakah dermawan yang lebih murah hati daripada aku?” Dua kali pertanyaan ini diajukan, tetapi semua diam, tidak ada seorang pun yang berani menjawab. Namun, kemudian ada salah seorang dari mereka berkata,

“Ya sayyidiy, ada yang lebih murah hati daripada engkau.”

“Siapa dia?”

“Dia tak begitu dikenal.”

“Kau harus memberitahukan siapa orang itu. Tak ada alasan untuk menyembunyikannya dariku.”

“Dia adalah seorang lelaki lemah bernama Ba Misbah, tinggal di Kholif. Dia lebih murah hati daripada engkau.”

“Apa pekerjaan laki-laki ini?”

“Hanya pelantun adzan di masjid”

Setelah hari malam, Habib Abdullah menyamar sebagai wanita, lalu pergi
ke rumah Ba Misbah di Kholif. Sesampainya di sana, beliau mengetuk pintu rumah
Ba Misbah.

“Siapa…?” tanya Ba Misbah.

“Aku seorang syarifah alawiyah. Aku butuh sesuatu darimu.”

Dengan perasaan senang, ia segera keluar menemui beliau.

“Selamat datang wahai Syarifah, segala puji syukur bagi Allah yang telah memilih kami untuk memenuhi kebutuhanmu”, katanya setelah membuka pintu. Malam itu kebetulan adalah malam Idul Adha. “Ya Sayyidatiy, apakah kebutuhanmu, mintalah semua yang kau butuhkan. Hamba akan patuh kepadamu”, kata Ba Misbah.

“Aku adalah seorang syarifah yang miskin. Anakku banyak. Aku tidak memiliki ayah, saudara maupun suami. Besok hari raya, tapi kami tak memiliki apa-apa.”

“Marhaba…Permintaan yang mudah bagi pelayanmu ini. Lalu apa yang kau inginkan?”

“Aku butuh makanan dan beras.”

“Siap!” ia lalu memberikan dua karung makanan dan dua karung beras.

Habib Abdullah tidak membawa barang itu pulang ke rumah, tapi beliau pergi ke belakang rumah Ba Misbah, lalu meletakkan makanan dan beras tersebut di sana. Beliau menunggu hingga Ba Misbah naik ke tingkat paling atas dari rumahnya. Setelah merasa yakin bahwa Ba Misbah telah tidur, beliau kembali ke rumah Ba Misbah, mengetuk pintunya.

“Siapa?” tanya Ba Misbah.

“Hababahmu, Syarifah yang tadi datang ke sini. Aku masih ada kebutuhan yang lupa kusampaikan kepadamu.”

“Selamat datang Sayyidatiy, puji syukur bagi Allah yang telah memilih aku untuk memenuhi kebutuhanmu. Ini sebuah nikmat yang agung.” Ia segera menemui Habib Abdullah dengan perasaan senang dan bahagia. “Ya Sayyidatiy, mintalah apa yang kau perlukan, aku adalah abdimu, milikmu”, katanya setelah membuka pintu.

“Aku lupa, kami berempat di rumah tidak memiliki pakaian. Aku butuh pakaian.”

“Siap!” ia lalu mengambilkan 4 pakaian yang telah dicelup dan bergambar. Pakaian-pakaian itu berkualitas tinggi, dan pakaian terbaik bagi wanita zaman itu adalah yang bergambar.

Habib Abdullah membawa pakaian tersebut ke belakang rumah Ba Misbah dan meletakkannya di tempat yang sama. Beliau mulai takjub dengan kebaikan akhlak Ba
Misbah. Sebab, meski diganggu di malam hari, ia tidak merasa susah dan jengkel. Setelah merasa yakin bahwa Ba Misbah telah tidur pulas, Habib Abdullah kembali ke rumah Ba Misbah untuk yang ke tiga kalinya. Beliau mengetuk pintu rumahnya. Ba Misbah segera bangun dan bertanya,

“Siapakah yang di luar?”

“Hababahmu, syarifah yang tadi datang ke sini. Aku lupa, masih ada satu
kebutuhan lagi yang belum kusampaikan kepadamu.”

“Selamat datang,segala puji bagi Allah yang telah memilihku untuk memenuhi kebutuhanmu”, Ba Misbah segera keluar menemui Habib Abdullah dengan perasaan lebih senang dan bahagia dari sebelumya. Ia membukakan pintu seakan-akan Habib Abdullah baru pertama kali datang ke rumahnya. “Ya Sayyidatiy, wahai penyejuk hatiku, mintalah apa yang engkau butuhkan, pelayanmu ini akan selalu patuh. Apa gerangan kebutuhamu sekarang?”

“Aku butuh minyak zaitun, minyak samin, korma dan asidah.”

“Marhaba, setiap kali kau butuh sesuatu mintalah kepadaku”, Ba Misbah segera mengambilkan satu kantong minyak zaitun, satu kantong minyak samin, satu wadah korma. “Ya sayyidatiy, ambillah barang-barang ini. Maafkan aku telah meyusahkanmu lantaran engkau lupa menyebutkan semua kebutuhanmu. Jika masih ada yang terlupa, kembalilah kemari. Kedatanganmu ke rumahku ini merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah padaku.”

Habib Abdullah mengambil semua pemberiannya, lalu pergi ke belakang rumah Ba Misbah. Habib Abdullah takjub melihat kebaikan akhlak Ba Misbah dan mukanya tidak berubah. Beberapa saat kemudian, setelah beliau yakin bahwa Ba Misbah telah tidur pulas, beliau kembali mengetuk pintu rumahnya. Beliau ingin melihat sifat buruknya, atau perubahan wajah Ba Misbah.

Ba misbah segera bangun dari tidurnya dan bertanya,”Siapa itu?”

“Hababahmu, syarifah yang tadi datang ke sini. Masih ada keperluanku yang terlupakan. Cepatlah kemari.”

Ba Misbah segera keluar dengan perasaan senang dan bahagia, seakan-akan baru pertama kali syarifah itu mengetuk pintu rumahnya. “Selamat datang sayyidatiy, penyejuk hatiku. Segala puji bagi Allah yang telah mengistimewakanku dengan
bolak-baliknya engkau ke rumahku. Mintalah apa yang kau butuhkan. Aku adalah
abdi dan pelayanmu. Dan memenuhi semua kebutuhanmu adalah puncak cita-citaku.”

“Masih ada kebutuhan yang terlupakan olehku.”

“Apa itu? Semua yang engkau butuhkan akan kusediakan. Jika tidak ada di sini, aku akan menjual diriku untuk membeli barang yang kau butuhkan.”

“Aku butuh daging untuk hari raya besok. Besok hari raya, tapi kami tidak memiliki sesuatu pun.”

“Demi Allah, di rumah pelayanmu ini tidak ada sesuatu pun kecuali satu kepala kambing untuk hari raya anak-anaknya”, kata Ba Misbah sambil memegang janggutnya, “Akan tetapi tidaklah benar jika anak-anak orang yang kopiahnya bau ini menikmati hari raya, sementara anak cucu Rasulullah SAW tidak berhari raya. Ambillah kepala kambing ini dan berhari rayalah dengan anak-anakmu.”

Habib Abdullah membawa kepala kambing itu dan kembali meletakkannya di belakang rumah Ba Misbah. Habib Abdullah terheran-heran menyaksikan akhlak Ba Misbah. Beliau berkata dalam hatinya, “Hanya seorang arifbillah saja yang akhlaknya seperti ini. Laki-laki ini sedikit pun tidak melihat basyariah seseorang.”

Habib Abdullah diam di sana beberapa saat. Setelah merasa yakin bahwa Ba Misbah telah tidur pulas, ia segera kembali ke rumah Ba Misbah untuk yang ke lima kalinya. Beliau ingin melihat sedikit saja perubahan dari sikap Ba Misbah, walaupun hanya sekedar perubahan raut wajah. Beliau kembali mengetuk pintu rumah Ba Misbah.

“Siapa itu?”

“Hababahmu, syarifah yang tadi datang ke sini. Aku teringat satu lagi kebutuhanku.”

“Selamat datang wahai cucu Rasulullah. Kenikmatan apa gerangan yang
diberikan Allah kepadaku di malam ini? Segala puji syukur bagi-Nya.” Ia segera keluar dengan perasaan senang dan bahagia seakan-akan baru pertama kali syarifah tersebut datang ke rumahnya. “Selamat datang Ya sayyidatiy, dan penyejuk hatiku.
Mintalah semua yang kau butuhkan. Aku adalah abdi dan pelayanmu. Aku patuh kepadamu.”

“Aku butuh kayu.”

“Marhaba.” Ia memanggil pembantunya, meminta kayu. “Wahai hababahku, wahai pelipur hatiku, inilah kayu yang kau butuhkan. Setiap kali kau ingat suatu kebutuhan, kembalilah ke sini. Sebab, melayanimu merupakan salah satu pendekatan diri yang paling baik kepada Allah.”

Habib Abdullah membawa kayu itu, lalu meletakkannya di tempat yang sama. Beliau kagum menyaksikan kebaikan akhlak Ba Misbah dan kelapangan hatinya. Tak sehelai rambut pun bergerak, tak sedikit pun raut wajah berubah. Beliau duduk sejenak hingga benar-benar yakin bahwa Ba Misbah telah pulas dalam tidurnya. Beliau kembali mengetuk pintu rumahnya untuk yang ke enam kali. Dalam hati, beliau berkata, “Mungkin kali ini raut wajahnya akan berubah, atau ia akan mulai menghina dan berkata kasar.”

Ba Misbah segera bangun dan bertanya, “Siapa yang mengetuk pintu?”

“Hababahmu, syarifah yang tadi ke sini. Masih ada satu kebutuhanku yang baru kuingat sekarang.”

“Marhaba…Wahai hababahku, tuanku dan penyejuk hatiku.” Ba Misbah keluar dengan perasaan lebih senang dan bahagia dari sebelumnya. Sekan-akan baru pertama kalinya syarifah itu mengetuk pintu rumahnya. “Alhamdulillaah, kenikmatan agung apa yang sedang diberikan Allah kepadaku ini. Aku tidak berhak menerima kenikmatan ini. Mintalah apa yang kau butuhkan. Wahai sayyidatiy, setiap kali kau ingat sesuatu, datanglah ke sini. Aku adalah abdi dan pelayanmu. Aku akan patuh kepadamu.”

“Aku butuh seseorang untuk membawakan semua yang kau berikan kepadaku. Lihatlah, semua yang kau berikan kuletakkan di belakang rumahmu. Aku tidak kuat membawanya ke rumahku.”

“Beres! Kami akan mengantarkan barang-barang itu ke mana pun engkau suka” Ia kemudian membangunkan isteri, anak dan pembantunya. Mereka semua kemudian diperintahkannya membawa barang-barang syarifah tadi. “Ya sayyidatiy, jalanlah lebih dahulu, agar kami dapat mengikutimu”, kata Ba Misbah.

Habib Abdullah berjalan di depan mereka. Ketika sampai di Nuwaidiroh, Habib Abdullah berhenti dan berkata, “Wah, aku datang bukan dari rumahku, dan aku tidak kenal jalan ini, kecuali kalau aku memulai lagi dari rumah kalian. Mari kita kembali.”

“Marhaba.”

Mereka semua kembali ke rumah Ba Misbah. Setelah sampai di sana, Habib Abdullah berkata, “Sekarang aku ingat jalan menuju rumahku. Inilah jalannya. “Jalanlah di muka, agar kami dapat mengikutimu.” Beliau berjalan di depan, dan mereka semua mengikutinya. Sesampainya di Nuwaidiroh, beliau berhenti. “Aku kehilangan arah lagi. Apakah gerangan yang terjadi? Aku tidak dapat mengingat jalan menuju rumahku, kecuali jika kita mulai lagi dari rumah kalian. Mari kita balik ke sana.”

Mereka pun dengan senang hati kembali ke rumah Ba Misbah. Habib Abdullah telah menguji Ba Misbah sampai pada puncaknya. Beliau ingin melihat lelaki itu marah, namun sedikit pun sikapnya tidak berubah hingga Habib Abdullah sendiri merasa kelelahan. Fajar mulai menyingsing, Habib Abdullah berkata kepada mereka, “Sekarang telah masuk waktu fajar. Bukalah pintu rumah kalian, aku ingin menunaikan salat Subuh di rumah kalian.”

“Selamat datang. Salatmu di rumah ini adalah nikmat terbesar bagi kami. Setiap kali kau meminta sesuatu kepada pembantumu ini, ia akan menyediakannya untukmu. Meskipun kau minta semua yang ada di rumahnya, ia akan memberikannya kepadamu. Dan engkau sesungguhnya telah bermurah hati kepada kami, karena telah mengistimewakan aku untuk memenuhi kebutuhanmu.”

Ba Misbah lalu membuka pintu rumahnya. Setelah memasuki rumah, Habib Abdullah membuka cadar yang menutupi wajahnya dan berkata kepada Ba Misbah, “Sungguh beruntung kamu, sungguh beruntung, kuucapkan selamat atas akhlakmu yang luhur ini. Demi Allah, kau seorang dermawan sejati, lebih murah hati dariku. Aku bukanlah seorang wanita. Aku adalah Abdullah bin Syeikh Alaydrus. Tidak ada seorang manusia pun akan mampu berperilaku dengan akhlak yang luhur ini.”

Air mata Habib Abdullah menetes di pipi, ia berkata, “Selamat…selamat…selamat… Maafkanlah aku. Semoga Allah menambah apa yang telah Ia berikan kepadamu, dan menjadikan budi pekerti kita seperti budi pekertimu.” Setelah berpamitan, Habib Abdullah lalu pergi sambil memuji dan mendoakannya.

Pada keesokan subuh Baa Misbah keluar hendak melantunkan adzan, dan terlihat dua orang berpakaian serba putih penuh kemilau cahaya di pintu masjid, maka Baa Misbah bertanya..
“Siapakah saudara berdua?”
“Kami musafir dan ingin singgah sholat.”
“Marhabaa..marilah kita masuk, karena aku akan mengumandangkan adzan.”

Mereka pun masuk ke dalam masjid, setelah adzan maka di tunggulah para jama’ah tidak ada yang datang, seolah warga kampung terlelap dalam tidur, sehingga kedua musafir mengatakan, “Apakah tidak masuk waktu tasryik jika engkau tetap menunggu warga, sedangkan kami adalah cukup untuk sholat bersamamu? Maka Baa Misbah pun melantunkan iqomat, dan salah satu musafir menjadi imam sholat, setelah selesai sholat musafir yang duduk di belakang imam berkata,

“Wahai hamba Allah, tahukah engkau siapa yang menjadi imam kita?
“Siapakah dia wahai hamba Allah?”
“Dia adalah Rosulillah dan aku adalah Bilal Ibnu Rabbah.”

Seketika Baa Misbah terkejut dan pucat wajahnya, beliau langsung menciumi wajah dan sekujur tubuh Rosulillah sambil terisak isak menunjukkan kerinduan yang selama ini tidak pernah terwujudkan. Maka rosulillah berkata, “Wahai Ba Misbah aku mendatangimu karena kecintaanmu pada anak cucuku, maka aku dan Bilal akan mendatangimu kembali di saat akhir ajalmu.” Kemudian kedua musafir yang tidak lain adalah Baginda Mustofa dan Bilal Ibnu Rabbah keluar masjid.

Darimana Rasul-Rasul Berasal?

USIA PARA RASUL

Sahabat Nabi Yang Gagal Miskin

Suatu ketika Rasulullah SAW berkata, Abdurrahman bin Auf RA akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.

Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf RA pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. Abdurrahman bin Auf RA pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur, Alhamdulillah, kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf.

Sahabat gembira, Abdurrahman bin Auf RA pun gembira. Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku. Abdurrahman bin Auf RA gembira juga, sebab berharap jatuh miskin!

Abdurrahman bin Auf RA merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, karena sudah miskin. Namun, Subhanallah, rencana Allah itu memang yang terbaik.

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk. Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular dan obat yang bisa menyembuhkannya adalah kurma busuk!

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf RA dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Allahuakbar, orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah: “Wahai manusia, di langit ada rezeki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian.” (QS. Adz Dzariat:22)

Jadi, yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk? Allah SWT lah yang Memberi Rezeki.

Ibroh dari kisah ini sangat spesial buat kita, sebab ini membuat kita harus yakin bahwa rezeki itu totally dari Allah, bukan hanya karena usaha kita itu sudah cukup bagus atau produk kita yang terbaik yang akan memberi kita omzet yang banyak. Kadang-kadang, keyakinan dalam hati kita itu yang belum cukup kuat dan bulat.

Jaminan Hutang Dan Mimpi Rasulullah

Syeikh Husna Syarif, seorang ulama besar di Mesir bercerita tentang seorang yang terbelit banyak hutang di tengah kubangan kemiskinannya.

Dulunya dia adalah orang yang sangat kaya raya namun jatuh bangkrut sampai terbelit hutang sana sini. Setiap hari, rumahnya penuh dengan orang yang menagih hutang. Akhirnya ia terpaksa pergi menjumpai seorang saudagar kaya dan meminjam uang sebanyak 500 dinar. 

Saking terkenalnya dia sudah banyak hutang sampai-sampai saudagar ini bertanya,

“Kira-kira kapan anda akan melunasi pinjaman ini?”

“Minggu depan tuan.” Jawabnya singkat.

Ia pun berhasil meminjam hutang lalu pulang dengan 500 dinar di genggamannya. Uang itu segera dia bayarkan kepada orang-orang yang setiap hari datang menagih hutang kepadanya sampai 500 dinar yang ia peroleh itu tidak tersisa sama sekali.

Hari demi hari ia bertambah sulit dan terpuruk kondisi ekonominya hingga tempo pembayaran hutangnya pun tiba. Saudagar mendatangi rumah si miskin dan mengatakan, “Tempo hutang anda telah tiba.”

Dengan suara lirih dia menjawab, “Demi Allah saya sedang tak berhasil mendapatkan apa-apa untuk membayar. Tapi sungguh saya terus berusaha untuk melunasi.”

Saudagar merasa geram lalu mengadukannya ke pengadilan, dan membawanya ke hakim. Di pengadilan, Hakim bertanya, “Mengapa anda tidak membayar hutang anda?”

Dia menjawab, “Demi Allah saya tidak memiliki apa-apa tuan.”

Karena merasa ini adalah kesalahan si miskin maka hakim memvonisnya dengan hukuman penjara sampai ia bisa melunasi hutangnya. Kemudian si miskin bangkit dan berkata, “Wahai tuan Hakim, berilah saya waktu untuk hari ini saja. Saya hendak pulang ke rumah untuk berjumpa keluarga dan mengabarkan hukuman ini sekalian berpamitan dengan mereka, kemudian saya akan langsung kembali untuk menjalani hukuman penjara.”

Hakim, “Bagaimana mungkin, apa jaminannya kau akan kembali besok?”
Lelaki itu terdiam, tapi seolah mendapat ilham di benaknya. “Rasulullah SAW jaminanku, wahai tuan hakim, bersaksilah untukku jika besok aku tidak kembali maka aku bukanlah termasuk umat Rasulullah SAW.”

Sang Hakim tersentak diam, ia sadar betapa bahayanya jaminan itu jika si miskin bohong. Hakim berfikir sejenak lalu memilih untuk percaya demi Rasulullah SAW. Hukuman pun ditunda sampai besok.

Sesampainya di rumah, si miskin mengabarkan kondisinya kepada istrinya bahwa esok akan dipenjara.
Istrinya bertanya, “Kok sekarang engkau bisa bebas?”
“Aku menaruh nama Rasulullah SAW sebagai jaminanku.”
Air hangat menetes dari mata istrinya seraya ia berkata pada suaminya, “Jika nama Rasulullah SAW yang menjadi jaminan bagimu maka mari kita bershalawat.”

Dan mereka pun bershalawat kepada Rasulullah SAW dengan rasa cinta dan ketulusan yang mendalam hingga mereka tertidur.

Tiba-tiba dalam tidurnya mereka bermimpi melihat Rasulullah SAW. Beliau memanggil nama si miskin seraya berkata, “Hai fulan jika telah terbit fajar pergilah ke tempat Alim fulan. Sampaikan salamku padanya dan mintalah supaya ia menyelesaikan hutang piutangmu. Jika Alim itu tidak percaya maka sampaikan 2 bukti ini; ‘Katakan padanya bahwa di malam pertama ia sudah membaca shalawat untukku 1000 kali dan di malam terakhir dia telah ragu dalam jumlah bilangan shalawat yang dibacanya. Sampaikan padanya bahwa ia telah menyempurnakan shalawatnya.”

Seketika si miskin terbangun dan terkejut. Tanpa ragu setelah subuh ia pergi menuju rumah sang Alim dan berjumpa dengannya. Tanpa buang waktu si miskin menyampaikan mimpinya, “Wahai tuan, Rasulullah SAW telah menitipkan salam untukmu dan meminta agar engkau sudi menyelesaikan hutang piutangku.”

Alim bertanya, “Apa bukti dari kebenaran mimpimu itu?”

“Kata baginda Nabi, di malam pertama engkau telah bershalawat sebanyak 1000 kali dan di malam kedua anda tertidur dalam keadaan ragu dengan jumlah bilangan shalawat yang telah anda baca. Rasulullah SAW mengatakan bahwa hitungan shalawat anda telah sempurna dan shalawat anda telah diterima olehnya.”

Mendengar itu, Alim itu spontan menangis karena berita gembira shalawatnya diterima Rasulallah SAW. Maka alim tersebut memberi uang 500 dinar dari baitul mal untuk melunasi hutang si miskin dan 2500 dari harta pribadinya untuk si miskin sebagai tanda terima kasih atas berita gembira yang disampaikan.”

Dengan dana itu si miskin langsung bergegas pergi ke Hakim untuk menyelesaikan perkaranya. Sesampainya di pengadilan, si Hakim bangkit dari kursinya menyambut si miskin seakan sudah rindu. Dengan senyum lebar sang Hakim memanggilnya seraya berkata, “Kemarilah, berkat kamu aku mimpi berjumpa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW telah berpesan kepadaku bahwa jika aku menyelesaikan hutangmu maka kelak Rasulullah SAW akan menyelesaikan perkaraku di akhirat. Ini uang 500 dinar untuk lunasi hutang-hutangmu.”

Belum juga Hakim selesai bicara, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk. Ketika dibuka, ternyata saudagar penagih hutang. Dia langsung memeluk si miskin dan menciumnya sembari berucap, “Berkat anda saya mimpi berjumpa Rasulullah. Beliau berkata padaku jika aku merelakan hutangmu maka kelak di hari kiamat, Rasulullah SAW akan merelakan segala tanggunganku dan ini uang 500 dinar hadiah untuk anda dan hutangmu lunas.”

“Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya bersalawat kepada Nabi (Muhammad S.A.W) maka wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya.” (QS. Al Ahzab: 56)

Ketika Baca Alqur’an Tanpa Tahu Artinya

Ada seorang remaja bertanya kepada kakeknya, “Kakek, apa gunanya aku membaca Al-Qur’an, sementara aku tidak mengerti arti dan maksud dari Al-Qur’an yang kubaca.“

Lalu si kakek menjawabnya dengan tenang, “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku dengan sekeranjang air.“

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tapi semua air yang dibawanya habis sebelum ia sampai di rumah.

Kakeknya berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat.“

Kakek meminta cucunya kembali ke sungai. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong (tanpa air) sebelum sampai di rumah.

Dia berkata kepada kakeknya, “Tidak mungkin bisa membawa sekeranjang air. Aku ingin menggantinya dengan ember.“

“Aku ingin sekeranjang air, bukan dengan ember,“ jawab kakek.

Si anak kembali mencoba, dan berlari lebih cepat lagi. Namun tetap gagal juga. Air tetap habis sebelum ia sampai di rumah. Keranjang itu tetap kosong.

“Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja. Air pasti akan habis di jalan sebelum sampai di rumah.“

Kakek menjawab:

“Mengapa kamu berpikir ini tidak ada gunanya? Coba lihat dan perhatikan baik-baik apa yang terjadi dengan keranjang itu.”

Anak itu memperhatikan keranjangnya, dan ia baru menyadari bahwa keranjangnya yang tadinya kotor berubah menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam.

“Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Al-Qur’an? Boleh jadi kamu tidak mengerti sama sekali. Tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu sadari kamu akan berubah, luar dan dalam. Itulah pekerjaan Allah dalam mengubah kehidupanmu.”

Halal Buat Kami, Haram Buat Tuan

Kisah dari ulama terkenal di Makkah, Abu Abdurrahman Abdullah Bin Al-Mubarak Al Hanzhali Al Marwazi.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur.

Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka:

“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.

“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”

“Tidak satupun.”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.

“Apa..?” ia menangis dalam mimpinya. 

“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.

“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

“Kok bisa??”

“Itu Kehendak Allah.”

“Siapa orang tersebut?”

“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq Damaskus*

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, di tepi kota.”

Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.

Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh.

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu.

“Betul, siapa tuan?”

“Aku Abdullah bin Mubarak”

Sa’id pun terharu, “Bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”

“Wah saya sendiri tidak tahu!”

“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini!”

Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.

“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar, ‘Labbaika allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka’ (Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu).

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis. Ya Allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat Ka’bah. Izinkan aku datang. Izinkan aku datang ya Allah.

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.

Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji. Saya sudah siap berhaji.”

“Tapi anda batal berangkat haji”

“Benar”

“Apa yang terjadi?”

“Istri saya hamil dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat.

‘Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?’

‘Ya, sayang.’

‘Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku.’

Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :

‘Tidak boleh tuan.’

‘Dijual berapapun akan saya beli.’

‘Makanan itu tidak dijual, tuan.’ katanya sambil berlinang mata.

‘Kenapa?’

Sambil menangis, janda itu berkata, ‘Daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan.’

Dalam hati saya, ‘Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?’

Karena itu saya mendesaknya lagi, ‘Kenapa?’

‘Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak. Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram.’

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

‘Ini masakan untuk mu.’

Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.

‘Pakailah uang ini untukmu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi.’

Ya Allah, disinilah Hajiku.

Ya Allah, disinilah Mekahku.”

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata.

Kisah ini memberi hikmah, bahwa membantu orang disekitar kita bisa jadi sama nilainya dengan pergi Haji di mata Allah

Buat yang akan naik haji atau yang sudah berhaji, ada dua yang tidak kekal dalam diri manusia, yakni masa muda dan kekuatan fisik.

Ada dua juga yang akan bermanfaat bagi semua orang, yakni budi pekerti yang luhur serta jiwa yang ikhlas memaafkan.

Ada dua yang akan mengangkat derajat kemulian manusia, yakni rendah hati dan suka meringankan beban hidup orang lain.

Ada dua yang akan menolak datangnya bencana, yakni sedekah serta menjalin hubungan silaturrahim.

Keindahan Rasulullah

Oleh Al Habib Munzir Al Musawa.

Belum pernah dalam kehidupanku, mata ini memandang sesuatu yg lebih indah dari pada wajah Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sayyidina Abu Hurayrah Ra berkata, “Yang mana apabila beliau SAW tertawa, seakan-akan memercikkan cahaya di dinding-dinding rumah kami.”

Sayyid Muhammad bin Alwy Al Malikki berkata, “Rasulullah SAW telah diberi 10 keindahan, namun di dunia ini hanya 1 keindahan yang ditampakkan, sedangkan yang 9 nya akan ditampakkan nanti di akherat.”

Karena jika manusia melihat ke 10 keindahan yg dimiliki Rasulullah SAW, maka tak akan ada rasa sakit yg dirasakan manusia sekalipun ia menyayat wajahnya dengan silet. Karena ia telah terbius dengan seluruh keindahan yg dimiliki oleh Rasulullah SAW.

Ya Rabb, kumpulkan kami di akherat kelak bersama kekasih-Mu Rasulullah SAW, tak ada kebahagiaan terbesar bagi kami umat Nabi Muhammad SAW selain berjumpa dan memandang wajah Rosul-Mu, kekasih-Mu, Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Malaikat membentangkan sayapnya kepada orang yang menuntut ‘Ilmu (hadir majelis), karena Ridho dengan apa yang ia lakukan.”

Dan ketahuilah setiap jengkal di tempat kehadiran majelis ini penuh dengan keluhuran, pengampunan, kebahagiaan, dan kelembutan Allah, serta taufik dan hidayah-Nya. Demikian pula tangga-tangga keluhuran terus teruntai luas bagi yang ingin mendakinya.

Tabarukan Air Wudhu Rasulullah

Oleh Habib Umar bin Hafidz.

Pernah Sayyidinna Bilal datang membawa air untuk Nabi ﷺ melakukan wudhu’. Sayyidinna Bilal menuangkan air untuk Nabi Muhammad ﷺ sekaligus menadah untuk mengumpulkan air yang mengalir dari tubuh Nabi Muhammad ﷺ yang diberkati itu dalam sebuah wadah lain.

Kemudian ia akan pergi dan membawa air bekas wudhu’ ini untuk dibagikan kepada para sahabat, yang berebutan dan nyaris bertengkar agar bisa mendapatkan bagian meski sedikit dari air itu. Ada yang membasuh kepala, wajah atau dada mereka dengan air itu, bahkan ada yang meminumnya. Mereka yang tidak menerima bagian dari air itu akan menyeka atau menempelkan kulit mereka pada para sahabat yang dapat bagian air.

Ini adalah ‘pemahaman para sahabat’, di masa keemasan dan kaum terbaik dalam sepanjang sejarah Islam, mereka tahu arti dari barokah. Di tengah-tengah mereka ada yang terbesar dari semua tauladan sehingga mereka tidak membutuhkan orang lain untuk memperbaiki pemahaman mereka, takkan ada yang berkata bahwa itu syirik, atau bid’ah atau ribut bertanya mana dalilnya.

*Tabarukan = Mencari berkah dengan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan sumber yang membawa kebaikan, tetap dalam syari’at.