Keindahan Rasulullah

Oleh Al Habib Munzir Al Musawa.

Belum pernah dalam kehidupanku, mata ini memandang sesuatu yg lebih indah dari pada wajah Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sayyidina Abu Hurayrah Ra berkata, “Yang mana apabila beliau SAW tertawa, seakan-akan memercikkan cahaya di dinding-dinding rumah kami.”

Sayyid Muhammad bin Alwy Al Malikki berkata, “Rasulullah SAW telah diberi 10 keindahan, namun di dunia ini hanya 1 keindahan yang ditampakkan, sedangkan yang 9 nya akan ditampakkan nanti di akherat.”

Karena jika manusia melihat ke 10 keindahan yg dimiliki Rasulullah SAW, maka tak akan ada rasa sakit yg dirasakan manusia sekalipun ia menyayat wajahnya dengan silet. Karena ia telah terbius dengan seluruh keindahan yg dimiliki oleh Rasulullah SAW.

Ya Rabb, kumpulkan kami di akherat kelak bersama kekasih-Mu Rasulullah SAW, tak ada kebahagiaan terbesar bagi kami umat Nabi Muhammad SAW selain berjumpa dan memandang wajah Rosul-Mu, kekasih-Mu, Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Malaikat membentangkan sayapnya kepada orang yang menuntut ‘Ilmu (hadir majelis), karena Ridho dengan apa yang ia lakukan.”

Dan ketahuilah setiap jengkal di tempat kehadiran majelis ini penuh dengan keluhuran, pengampunan, kebahagiaan, dan kelembutan Allah, serta taufik dan hidayah-Nya. Demikian pula tangga-tangga keluhuran terus teruntai luas bagi yang ingin mendakinya.

Tabarukan Air Wudhu Rasulullah

Oleh Habib Umar bin Hafidz.

Pernah Sayyidinna Bilal datang membawa air untuk Nabi ﷺ melakukan wudhu’. Sayyidinna Bilal menuangkan air untuk Nabi Muhammad ﷺ sekaligus menadah untuk mengumpulkan air yang mengalir dari tubuh Nabi Muhammad ﷺ yang diberkati itu dalam sebuah wadah lain.

Kemudian ia akan pergi dan membawa air bekas wudhu’ ini untuk dibagikan kepada para sahabat, yang berebutan dan nyaris bertengkar agar bisa mendapatkan bagian meski sedikit dari air itu. Ada yang membasuh kepala, wajah atau dada mereka dengan air itu, bahkan ada yang meminumnya. Mereka yang tidak menerima bagian dari air itu akan menyeka atau menempelkan kulit mereka pada para sahabat yang dapat bagian air.

Ini adalah ‘pemahaman para sahabat’, di masa keemasan dan kaum terbaik dalam sepanjang sejarah Islam, mereka tahu arti dari barokah. Di tengah-tengah mereka ada yang terbesar dari semua tauladan sehingga mereka tidak membutuhkan orang lain untuk memperbaiki pemahaman mereka, takkan ada yang berkata bahwa itu syirik, atau bid’ah atau ribut bertanya mana dalilnya.

*Tabarukan = Mencari berkah dengan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan sumber yang membawa kebaikan, tetap dalam syari’at.

Ternyata Jendral Sudirman Pakai Jimat

Jenderal Sudirman belum pernah ditangkap penjajah Belanda & PKI karena Pakai ‘Jimat’.

Pemerhati Komunisme, KH. Muh Jazir mengungkapkan bahwa diantara para pejuang dan pahlawan nasional yang belum pernah ditangkap oleh penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI atau kelompok Komunis pada zaman revolusioner adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Bahkan beberapa kali para petinggi penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI mengeluarkan keputusan dan mengerahkan pasukan untuk menangkap Jenderal Sudirman hingga terkepung, mereka tidak juga bisa menangkap Jenderal Sudirman.

Hal ini dikatakan KH. Jazir saat menjadi pemateri dalam tabligh akbar “Mencerdaskan Umat dari Bahaya Komunis,” di Masjid Jami’ Wedi Klaten pada Ahad (31/5/2015) malam.

Dengan fenomena tersebut, orang-orang yang memanggul Jenderal Sudirman, seperti Suparjo Rustam, Tjokro Pranolo sampai kaget dan terheran-heran. Sebab, pada saat itu Jenderal Sudirman sedang dalam kondisi sakit.

“Bahkan pada waktu Jenderal Sudirman dikepung oleh tentara Inggris di sekitar Jambu (Temanggung –red) dan Ambarawa (Magelang –red), di situ kan ada sebuah pegunungan dan Jenderal Sudirman beserta pasukannya ada di tengah-tengah, tapi nyatanya Jenderal Sudirman bisa lolos dari pengepungan,” ungkap KH. Jazir.

Aktivis senior di Kota Yogyakarta ini menambahkan, hingga pada suatu saat, para pejuang yang setia mendampingi Jenderal Sudirman dan yang memanggung pria yang disebut oleh pasukannya dengan nama “Mas Kyai” itu bertanya, “jimat” apa yang dipakai oleh Jenderal Sudirman.

Bahkan sampai herannya, Suparjo Roestam dan yang lainnya yang memanggul Jenderal Sudirman ini bertanya, “Sebenarnya jimat apa yang dipakai Mas Kyai ini sehingga selalu lolos dan tidak bisa ditangkap oleh Belanda dan PKI?”

Lalu dengan senyum kecil, Jenderal Sudirman menjawab, “Iya, saya memang pakai jimat,” ujarnya. “Dan jimat saya yang pertama adalah, saya berperang selalu dalam kondisi berwudhu.”

Jadi yang pertama Jenderal Sudirman itu selalu bersuci sebelum memulai peperangan. Makanya, kalau kita menyusuri jejak perjuangan dan pemberhentian pasukan Jenderal Sudirman, disitu kita akan mendapati adanya sebuah Padasan (semacam gentong atau tempat air yang terbuat dari tanah liat –red), dan padasan itu fungsinya adalah untuk berwudhu Jenderal Sudirman,” jelas KH. Jazir.

“Kemudian yang kedua, jimatku adalah selalu Shalat di awal waktu”.

“Jadi dalam kondisi apapun, meskipun sedang pecah perang, Jenderal Sudirman tidak pernah meninggalkan sholat wajib diawal waktu,” imbuhnya.

“Dan yang ketiga, jimatku adalah aku mencintai rakyatku sepenuh hatiku”.

“Bahkan jika Jenderal Sudirman membawa perbekalan makanan disaat perang, lalu singgah di suatu tempat, maka para pasukannya itu disuruh memberikan makanan itu kepada warga terlebih dahulu,” ucapnya.

Itulah ‘jimat’ Panglima Besar Jendral Sudirman. Tokoh yg tawadhu’ (rendah hati), gigih & pantang menyerah dalam menjaga NKRI.

Kenapa Kita Tidak Menangis Saat Baca Alqur’an?

Kita sebagai umat muslim tentu sering membaca ayat suci Al-Qur’an, tetapi terkadang mereka tidak mengetahui apa isi kandungannya. Berikut ini sebuah cerita yang akan menjawab pertanyaan, “Mengapa kita tidak menangis saat membaca Al-Qur’an?”

Sampai kabar kepada Imam Ahmad bin Hambali bahwa salah seorang muridnya selalu bangun malam dan mengkhatamkan Al-Qur`an secara sempurna hingga terbit fajar. Kemudian dilanjutkan dengan shalat Subuh. Imam Ahmad pun ingin mengajarkannya cara menadabburi Al-Qur`an.

Datanglah ia kepada muridnya itu, kemudian berkata, “Aku dengar, kamu melakukan ini dan itu?” Muridnya menjawab, “Ya.” Imam Ahmad berkata lagi, “Kalau begitu, coba nanti malam kamu lakukan seperti kemarin-kemarin, tapi saat membaca Al-Qur`an, bayangkan kamu membacanya di hadapanku atau seakan-akan aku mengawasi bacaanmu.”

Keesokan harinya, datanglah si murid dan Imam Ahmad bertanya hasilnya. Si murid menjawab, “Aku hanya bisa membaca 10 juz saja.” Imam Ahmad menukas, “Coba nanti malam baca Al-Qur`an seakan-akan kamu membacanya di hadapan Rasulullah SAW.”

Keesokan harinya si murid datang lagi dan berkata, “Ya Imam, aku hanya sanggup membaca juz ‘amma saja.” Imam Ahmad berkata, “Nah sekarang, cobalah nanti malam kamu baca Al-Qur`an seakan-akan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.” Si murid pun kaget disuruh seperti ini.

Keesokan harinya, si murid datang dengan mata bengkak akibat dari menangis. Imam Ahmad pun bertanya, “Apa yang kamu lakukan, anakku?” Si murid menjawab sambil menangis, “Ya Imam, demi Allah, sepanjang malam aku tidak bisa menyempurnakan bacaan surat Al-Fatihah.”

Begitulah mungkin, mengapa selama ini bacaan Al Qur’an kita tidak pernah membuat kita menangis dan terutamanya berubah. Karena kita mungkin luput menghadirkan semua hal yang seharusnya ada dalam Al Qur’an pada diri kita.

Adab Imam Hambali Pada Muridnya

Adalah Harun ibn ‘Abdillah, seorang ulama ahli hadits yang juga pedagang kain di kota Baghdad, menceritakan betapa ihsannya seorang Ahmad ibn Hanbal dalam mengkritik dan memberi nasehat.

Harun ibn ‘Abdillah berkisah. Saat malam beranjak larut, pintu rumahku di ketuk. “Siapa..?”, tanyaku.

“Ahmad”, jawab orang di luar pelan.

“Ahmad yang mana?” tanyaku makin penasaran.

“Ibn Hanbal”, jawabnya pelan.

“Subhanallah, itu guruku!” kataku dalam hati. Maka kubuka pintu. Kupersilakan beliau masuk, dan kulihat beliau berjalan berjingkat, seolah tak ingin terdengar langkahnya. Saat kupersilakan untuk duduk, beliau menjaga agar kursinya tidak berderit mengeluarkan suara.

“Wahai guru, ada urusan yang penting apakah sehingga dirimu mendatangiku selarut ini?”, tanyaku.

“Maafkan aku yaa Harun. Aku tahu biasanya engkau masih terjaga meneliti hadits selarut ini, maka akupun memberanikan diri mendatangimu. Ada hal yang mengusik hatiku sedari siang tadi.”

Aku terkejut. Sejak siang?, “Apakah itu wahai guru?”

“Mmmm begini…”, suara Ahmad ibn Hanbal sangat pelan, nyaris berbisik. “Siang tadi aku lewat di samping majelismu, saat engkau sedang mengajar murid-muridmu. Aku saksikan murid-muridmu terkena terik sinar mentari saat mencatat hadits-hadits, sementara dirimu bernaung di bawah bayangan pepohonan. Lain kali, janganlah seperti itu wahai Harun. Duduklah dalam keadaan yang sama sebagaimana murid-muridmu duduk.”

Aku tercekat, tak mampu berkata. Maka beliau berbisik lagi, mohon pamit, melangkah berjingkat dan menutup pintu hati-hati.

MasyaAllah. Inilah guruku Ahmad ibn Hanbal. Begitu mulianya akhlak beliau dalam menyampaikan nasehat. Beliau bisa saja meluruskanku langsung saat melintasi majelisku. Tapi itu tidak dilakukannya demi menjaga wibawaku di hadapan murid-muridku.

Beliau juga rela menunggu hingga larut malam agar tidak ada orang lain yang mengetahui kesalahanku. Bahkan beliau berbicara dengan suara yang sangat pelan dan berjingkat saat berjalan, agar tidak ada anggota keluargaku yang terjaga. Lagi-lagi demi menjaga wibawaku sebagai imam dan teladan bagi keluargaku.

Pelajaran Dalam Masalah Cinta

Rasulullah SAW pernah duduk bersama para shahabatnya dan menanyai mereka dimulai dari Sayyidina Abu Bakr RA,

Rasulallah SAW: “Apa yang engkau cintai dari dunia ini?”

Abu Bakr RA: “Yang saya cintai dari dunia ini ada tiga; Duduk di hadapanmu SAW, Melihatmu SAW dan Menginfaqkan hartaku untukmu SAW.”

Rasulallah SAW: “Dan engkau wahai Umar, apa yang kamu cintai dari dunia ini?”

Umar RA: “Yang saya cintai dari dunia ini ada tiga; Mengajak kepada kebenaran walaupun secara sembunyi-sembunyi, Mencegah kemungkaran walaupun secara terang-terangan dan Mengatakan yang haq (benar) walaupun itu pahit.”

Rasulallah SAW: “Dan engkau wahai Utsman, apa yang kamu cintai dari dunia ini?”

Utsman RA: “Yang saya cintai dari dunia ini ada tiga; Memberi makan, Menyebarkan salam dan Shalat di malam hari di saat manusia tidur”

Rasulallah SAW: “Dan engkau wahai Ali, apa yang kamu cintai dari dunia ini?”

Ali RA: “Yang saya cintai dari dunia ada tiga; Memuliakan tamu, Berpuasa di musim panas dan Membunuh musuh dengan pedang.”

Kemudian Nabi SAW menanyai Abu Dzar Al-Ghifary, “Apa yang kamu cintai di dunia ini?”

Abu Dzar Al-Ghifary: “Yang saya cintai di dunia ini ada tiga hal; Rasa lapar, Sakit dan Mati.”

Rasulallah SAW: “Mengapa?”

Abu Dzar Al-Ghifary: “Saya mencintai rasa lapar agar hatiku menjadi lembut, saya mencintai sakit agar dosaku berkurang dan saya mencintai mati agar aku dapat bertemu dengan Rabbku.”

Rasulallah SAW: “Aku telah dijadikan mencintai tiga hal dari dunia kalian ini; Wangi-wangian (parfum), Wanita (kasih sayangnya) dan Dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.”

Dan pada waktu itu turun Jibril AS dan mengucapkan salam kepada mereka dan berkata,

“Dan saya mencintai tiga hal dari dunia kalian; Menyampaikan risalah (pesan), Menunaikan amanah dan Mencintai orang-orang miskin.”

Kemudian ia naik ke langit dan turun kembali dan berkata:

“Allah azza wa jalla mengucapkan salam kepada kalian dan mengatakan, sesungguhnya Ia mencintai tiga hal dari dunia kalian; Lidah yang senantiasa berdzikir, Hati yang khusyuk dan Jasad (tubuh) yang sabar atas musibah. Maha Suci Allah dan Segala Puji BagiNya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung.”

Bosan Hidup

Jama’ah: “Ustadz, kenapa kok saya ngerasa bosen ya dengan hidup saya yang gini-gini terus? Ga ada variasinya Tadz, ga ada nikmatnya. Hidup saya hambar pak Ustadz. Apalagi masalah saya itu ituu aja. Bosen saya Ustadz. Pengen bahagia tapi kok sulit ya, Tadz?”

Ustadz: “Ooow..itu tho..Mungkin saat ini Allah juga lagi bosen sama ibu.”

Jama’ah: “Allah bosen sama saya? Gimana maksudnya tuh Ustadz?”

Ustadz: “Mungkin Allah ‘capek’ nyari ibu tapi ga pernah ketemu.

✏Dicari diantara ahli dhuha, ibu ga ada.

✏Diantara ahli tahajud juga ga ada.

✏Diantara ahli puasa sunnah, ibu juga ga ada.

✏Diantara ahli sedekah, ibu juga ga keliatan.

✏Diantara ahli Quran, ibu juga ga ada di sana.

✏Diantara ahli haji, tabungan pun ibu belum punya.

✏Diantara ahli masjid, ibu jarang.

✏Diantara orang-orang khusyuk sholatnya, ibu juga ga ada.

✏Bahkan ibu dicariin diantara mereka yg ahli menutup aurat, tetep juga ga ketemu.

Trus Alloh mesti mau nyari ibu kemana lagi, Bu?”

Jama’ah : “????? *Tear* “

Uwais Al Qarni

Uwais Al Qarni seorang yang miskin hidup di jaman Rasulullah. Ia sangat mencintai Rasulullah namun belum pernah bertemu dengan Beliau SAW, ia rela mengurusi ibunya yang renta karena baktinya kepadanya. Dia dikaruniakan Allah SWT untuk bisa memberi syafaat pada mereka yang berbakti pada kedua orang tuanya, serta memberi syafaat pada orang yang mendoakan beliau (mengirim Al Fatihah), dan menceritakan kepada orang kisah beliau.

Ibnu Hajar

Adalah ia seorang yang bernama Ibnu Hajar. Tidak pernah duduk di Majelis Taklim hanya melayani jamaah, bersih-bersih, tapi setelah gurunya meninggal beliau lah yang menggantikan karena khidmat dan keberkahan ilmu yg diberikan gurunya.

7 Keajaiban Dunia

Seorang guru memberikan tugas kepada siswanya untuk menuliskan 7 Keajaiban Dunia.

Tepat sebelum kelas usai siang itu, semua siswa diminta untuk mengumpulkan tugas mereka. Seorang gadis kecil yang paling pendiam di kelas itu, mengumpulkan tugasnya paling akhir dengan ragu-ragu. Tidak ada seorangpun yang memperhatikan hal itu.

Malamnya sang guru memeriksa tugas itu, sebagian besar siswa menulis demikian.

Tujuh Keajaiban Dunia:

  1. Piramida
  2. Taj Mahal
  3. Tembok Besar Cina
  4. Menara Pisa
  5. Kuil Angkor
  6. Menara Eiffel
  7. Kuil Parthenon

Lembar demi lembar memuat hal yang hampir sama. Beberapa perbedaan hanya terdapat pada urutan penulisan daftar tersebut. Tapi guru itu terus memeriksa sampai lembar yang paling akhir. Tapi saat memeriksa lembar yang paling akhir itu, sang guru terdiam. Lembar terakhir itu milik si gadis kecil pendiam. Isinya seperti ini.

Tujuh Keajaiban Dunia:

  1. Bisa Melihat
  2. Bisa Mendengar
  3. Bisa Menyentuh
  4. Bisa Disayangi
  5. Bisa Merasakan
  6. Bisa Tertawa
  7. Bisa Mencintai

Setelah duduk diam beberapa saat, sang guru menutup lembaran tugas siswanya. Kemudian menundukkan kepalanya berdoa, mengucap syukur untuk gadis kecil pendiam di kelasnya yang telah mengajarkannya sebuah pelajaran hebat, yaitu: “Tidak perlu mencari sampai ke ujung bumi untuk menemukan keajaiban.”

Keajaiban itu ada di sekeliling kita untuk kita miliki dan tak lupa untuk kita syukuri. Coba renungkan:

Ketika kita hidup di gunung, merindukan pantai.

Ketika kita hidup di pantai, merindukan gunung.

Kalau kemarau, kita bertanya kapan hujan?

Di musim hujan, kita bertanya kapan kemarau?

Diam di rumah, berkeinginan untuk keluar.

Setelah keluar, berkeinginan untuk pulang.

Waktu sunyi, mencari keramaian.

Waktu ramai, ingin cari ketenangan.

Ketika bujang, mengeluh keinginan untuk menikah.

Sudah berkeluarga, mengeluh belum miliki anak.

Setelah ada anak, mengeluh biaya hidup.

Ternyata, sesuatu nampak indah karena belum kita miliki. Bilakah kebahagiaan akan diperoleh kalau kita sentiasa memikirkan apa yang belum ada, tapi mengabaikan apa yang sudah kita miliki?

Jadilah pribadi yang selalu bersyukur dengan rahmat dan nikmat yang sudah kita miliki.

Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutup bumi yang luas ini? Sedangkan menutup telapak tangan saja pun sudah begitu sukar.

Tapi, kalau daun kecil ini melekat di mata kita, maka tertutuplah bumi dengan daun.

Begitu juga bila hati ditutupi fikiran buruk sekecil apapun, maka kita akan melihat keburukan di mana-mana, bumi ini sekalipun akan nampak buruk. Jadi, janganlah menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun yang kecil. Janganlah menutup hati kita dengan sebuah fikiran buruk, walaupun cuma seujung kuku.

Syukuri apa yang sudah kita miliki, sebagai modal untuk memuliakan-Nya.

Karena hidup adalah waktu yang diberikan dan amanah yang dipertanggungjawabkan.

Bersyukurlah atas nafas yang masih kita miliki.

Bersyukur atas keluarga yang kita miliki.

Bersyukur atas pekerjaan yang kita miliki.

Bersyukur atas kesehatan yang kita miliki.

Bersyukur atas rahmat dan nikmat yang kita miliki.

Bersyukur dan senantiasa bersyukur di dalam segala hal.

Semoga kita mendapat manfaat dan senantiasa bersyukur.

Bersyukur atas nafas yg masih diberikan oleh-Nya hari ini.