Detik-Detik Wafat Siti Khadijah

Dari Kitab Al Busyro, yang ditulis Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al-Hasani.

Siti Khadijah adalah istri pertama Rasulullah. Orang yang pertama kali beriman kepada Allah dan kenabian Rasulullah. Orang yang sangat berjasa bagi dakwah Rasulullah dan penyebaran agama Islam.

Siti Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadlan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun.

PERMINTAAN TERAKHIR

Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW,

“Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.”

“Jauh dari itu yaa Khadijah. Engkau telah mendukung dakwah Islam sepenuhnya”, jawab Rasulullah.

Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik,

“Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.”

Mendengar itu Rasulullah berkata,

“Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.”

Ummul mukminin, Siti Khadijah pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya istri Beliau itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Beliau dan semua orang yang ada disitu.

KAIN KAFAN DARI ALLAH

Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya,

“Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”

Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan jawab Jibril. Jibril berhenti berkata dan kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, “Kenapa, yaa Jibril?”

“Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan sahut Jibril.”

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah,

“Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha Mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?”

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

Seluruh kekayan Khadijah diserahkan kepada Rasulullah untuk perjuangan agama Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadijah. Tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yang bisa digunakan untuk menutupi jasad Khadijah.

Bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah.

“Ya Allah, ya Ilahi Rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh, Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”

Tiba-tiba Ali berkata, “Aku, Ya Rasulullah!”

PENGORBANAN SITI KHADIJAH SEMASA HIDUP

Dikisahkan, suatu hari ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, Beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasulullah bersabda,

“Wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu.”

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.

Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makananpun tak punya. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Beliau mengambil Fatimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah.

Rasulullah tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah. Beliau pun terjaga.

“Wahai Khadijah Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?” tanya Rasulullah dengan lembut.

“Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?” lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan.” jawab Khadijah.

“Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan. Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.”

Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu karena dua orang yang dicintainya, yaitu istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib telah wafat.

Tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.

Advertisements

Kisah Pelajaran Tauhid Berharga Untuk Anak

Ada anak bernama Adi yang ingin mengikuti study tour ke sebuah kota.

Adi : Yah, ini jadi gak, Adi mau ikut Study Tour?
Ayah : Kamu sudah bilang belum ke Allah?
Adi : Belum, yah.
Ayah : Bilang dulu deh ke Allah, masih ada waktu berapa?
Adi : Sekarang hari Kamis, harus bayar maksimal besok Jum’at, Sabtu mau berangkat.
Ayah : Yasudah, masih ada Maghrib, Isya, sholat malam dan masih ada Subuh di Jum’at pagi, buat doa. Sudah, kamu sholat dulu, doa dulu sama Allah.

Adzan Maghrib pun berkumandang.

Ayah : Ayo kita ke masjid, kita minta sama Allah, supaya kamu nanti bisa berangkat ikut study tour. Harus bayar berapa?
Adi : Rp. 27.000.
Ayah : Ayo kita minta Rp. 27.000.

Setelah selesai sholat Maghrib, si ayah menyuruh Adi berdoa.

Ayah : Kamu berdoa, silahkan! Jangan dalam hati, supaya ayah bisa mengamini.
Adi : “Ya Allah, saya ingin ikut study tour, tapi ini ya Allah, punya ayah pelit banget, Rp. 27.000 aja harus sholat dulu, harus doa dulu, ya itulah mudah-mudahan ayah ngasih.”
Ayah : Huss..doanya langsung ke Allah.
Adi : “Ya Allah, tolong bayarin saya.”
Ayah : Huss..doanya langsung aja, bayarin kek, enggak kek, pokoknya berangkat study tour.
Adi : Yasudah. “Seperti yang dikata ayah ya Allah, Aammiiin.”
Ayah : Aammiiin.

Si Adi diajak lagi sholat Isya, dia doa lagi, ketika si Adi mikir tentang study tour, dibenerin sama ayahnya.

Ayah : Nak, kamu mikirin Allah, jangan mikirin duit.
Adi : Yaaa, tapi ini harus bayar.
Ayah : Tapi itukan kata orang, bukan kata Allah, lihat apa yang yang Allah bilang, kalo Allah bilang “berangkat ya berangkat”, betapa banyak orang yang bisa bayar, gak ikut karena sakit perut, karena ada masalah dengan orang tuanya, karena bis itu mogok, dll. Sudah kamu tidur besok bangun lagi untuk sholat malam.

Dengan nada lembut si ayah menasihati Adi yang gelisah. Dan besok harinya si Adi dipanggil ayahnya.

Ayah : Adi, sini nak! Berapa duit bayarnya?
Adi : Rp 27.000, yah.
Ayah : Sudah, ini ada duit Rp. 27.000.
Adi : Alhamdullillah.
Ayah : Sssttt, sebentar, kamu bayarin temen kamu yang belum bayar study tour!
Adi : Ooohh…trus buat Adi gimana?
Ayah : Urusan Allah.
Adi : Ooohh…urusan Allah.
Ayah : Sudah, nanti juga kamu tau.
Adi : Yasudah, assallamu’alaikum.

Berangkatlah si Adi ke sekolah dan membayarkan uangnya sesuai perintah ayahnya.

Adi : Assallamu’alaikum, Bu! Nih saya mau bayar.
Ibu Guru : Wa’alaikumsallam, nah kebetulan memang kamu termasuk yang belum bayar.
Adi : Tapi ini bukan buat saya, Bu.
Ibu Guru : Lalu buat siapa?
Adi : Siapa temen-temen saya yang belum bayar?
Ibu Guru : Ya ada tu, ada satu anak.
Adi : Yasudah Bu, kata ayah buat dia.

Ibu Guru : Loh, kamu kan belum bayar?
Adi : Tuh dia Bu, saya juga nggak ngerti. Yasudah Bu, ini buat dia (sambil memberikan uangnya).
Ibu Guru : Loh, buat kamu gimana?
Adi : Buat saya kata ayah “urusan Allah”.
Ibu Guru : Hmm..ya tapi, walaupun kamu bayarin orang lain, kamu besok nggak bisa ikut loh.
Adi : Nggak apa apa, bukan kata orang tua bukan kata ibu, tapi kata Allah.
Ibu Guru : Ya, tapi….
Adi : Yasudah Bu, wasallamu’alaikum (si Adi cium tangan lalu pergi).

Setelah membayarkan uangnya atas perintah ayahnya si Adi lapor lagi ke Allah dalam sholat Dhuhanya. “Ya Allah, sudah saya bayarkan sesuai dengan perintah dari ayah. Ya Allah kutitipkan nasibku kepadamu Ya Allah, supaya besok bisa berangkat study tour.”

Si Adi malam sabtu makin gelisah di dalam kamar dan diketaui oleh ayahnya.

Ayah : Nak, tenang, kamu InshaaAllah kalo takdirnya berangkat, pasti berangkat, kalaupun tidak maka itu takdirmu. Sudah sekarang tidur dulu, nak (sambil mematikan lampu dan menutup pintu kamar Adi).

Adi pun tidur tanpa menjawab perkataan ayahnya. Lalu pagi harinya Si Adi ini tidak mandi dan tidak berpakaian sekolah karena dia tau dia tidak akan berangkat.

Ayah : Nak, kamu tidak bakal tau kamu berangkat atau tidak sampai kamu jalan.
Adi : Tapi yah..
Ayah : Nggak ada tapi-tapian, bismilah berangkat!

Lalu berangkatlah si Adi, sebelum berangkat dia diajarkan dzikir oleh ayahnya, dan kata ayah Adi “Kalo sampai, masuk dulu mushola, sholat dhuha dulu, lapor sama Allah bahwa sudah sampai mushola, sudah sampai sekolah, walaupun tidak ikut study tour” melihat si Adi berangkat keluar rumah, ibunya ini sudah menangis.

Ibu : Ini anak terlalu kecil untuk diajarkan tauhid!
Ayah : Nggak apa apa Bu, kita kenalkan Allah kepada Adi dan semoga Allah memberi keajaiban kepada Adi.

Dan benar, seperti yang diucapkan ayahnya “Belum tentu yang punya duit berangkat, dan belum tentu yang nggak punya duit nggak berangkat”.
Lalu diabsenlah satu-satu naik bis. Anak yang kemarin berdoa pagi-siang-sore-malam dan di hari terakhir dia bersedekah, Alhamdullillah tidak berangkat juga. Namun tiba-tiba satu pintu bis terbuka, ada ketua kelas turun.

Teman Adi : MasyaAllah, kok kamu gak ikut?
Adi : Ya begitulah..
Teman Adi : Gitu gimana? Belum bayar ya?
Adi : Ya belum sih..ya begitulah..
Teman Adi : Ooohh..jadi sekarang gak ikut nih?
Adi : Ya begitulah..
Teman Adi : Yasudah, jagain sekolah ya! Assallamu’alaikum!
(dengan perasaan sedih Adi menjawab salam dari ketua kelas)
Adi : Wa’alaikumsallam.

Lalu berangkatlah bis tersebut. semua orang melambaikan tangan termasuk anak yang dibayarin Adi. Setelahnya dia lapor lagi ke Allah dia sholat Dhuha, kali ini dia nangis “Ya Allah, nasibku begini amat ya..”

Setelah selesai sholat dan bersiap memakai sepatu, datang mobil alphard warna hitam ke sekolah, turun seorang ibu dan anaknya.

Ade : Woy, Assallamu’alaikum Adi!
Adi : Loh Ade, waalaikumsallam.
Ade : Udah pada berangkat ya?
Adi : Iya udah pada berangkat.
Ade : Kok kamu gak ikut? Ketinggalan ya?
Adi : Ya begitulah, sebenarnya sih bukan ketinggalan, saya belum bayar. Lalu kamu sendiri kenapa?
Ade : Ya niatnya mau berangkat, eh kok udah ditinggal aja sama bis, soalnya kena macet di jalan. Bentar ya!
Adi : Hah, eh iya..

Si Ade lalu bilang ke ibunya tentang Adi dan..

Ibu Ade : Yuk, kita susul teman-teman kalian, kita naik mobil!
(dengan kagetnya Adi menjawab)
Adi : Subhanallah, naik mobil? Alphard hitam ini?
Ade : Iya, naik!
Adi : AllahuAkbar, hmm bismillah.
(dengan perasaan bercampur aduk, Adi naik dan duduk di dalam mobil tersebut)
Ibu Ade : Yang enak ya dik, duduknya.
Adi : Iya tante.

Lalu di perjalanan si Adi nangis, berlinang air mata.

Ade : Kenapa kamu? Nggak pernah naik Alphard, ya? (sambil bercanda Ade menghibur Adi)
Adi : Nggak, ayah saya bener, ayah saya bener.
Ade : Memang ayahmu ngomong apa?
Adi : ” Yang punya duit belum tentu berangkat, yang nggak punya duit belum tentu nggak berangkat, dan yang bayar belum tentu berangkat dan yang belum bayar belum tentu juga nggak berangkat”.
Ade : Ooohhh.. (si Ade hanya terdiam bingung dan heran)

Lalu berhentilah mobil tersebut di kilometer 26 dan mampir di sebuah rest area, terlihat ibu Ade dari kejauhan membawa makanan yang banyak dan enak untuk Ade dan Adi. Lalu si Adi meneteskan air mata lagi.

Ade : Walah, nangis lagi, kenapa kamu?
Adi : enggak, saya lagi ngebayangin temen-temen yang bayar Rp. 27000 cuma dapat 1 roti.
Ade : Oohhh.. (Ade masih terheran sambil memakan makanan dari ibunya)

Di sisi lain, tepatnya di rumah Adi.

Ayah : Bu, kalo anak kita pulang di jam 9 pagi ini, berarti dia gagal pergi, tapi semoga dia bertemu Allah.
Ibu : Aamiiin, Pak.

Tetapi siapa sangka si Adi tidak pulang dan pulang jam 7 malam.

Adi : Assallamu’alaikum, Yah, Bu!
Ayah : Waalaikumsallam, wuih..keren, bawa apa itu?
Adi : Ini ada tales, singkong, pisang.
Ayah : Subhanallah anak ayah!

Lalu diceritakanlah perjalanan Adi mulai berangkat sampai pulang kepada ayahnya.

Ayah : Sipp, bagus, akhirnya berangkat kan, besok pagi, berangkat seperti itu lagi ya. Doa, doa, doa. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

*Pelajaran yang diajarkan ayah kepada anaknya bahwa dahulukanlah Allah dari apapun.

Manaqib Sayyidatuna Fathimah Albatuul

Sumber: Fanpage Na’am Qolby Ma’ak

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menentukan sejak dahulu kala untuk memilik sebagian dari hamba-hamba-Nya. Maha Suci Allah yang telah mengangkat kedudukan mereka serta menempatkan mereka dekat disisinya di dunia dan di akhirat. Semoga shalawat dan salam tercurahkan atas kekasih-Nya yang telah dipilih, juga atas keluarga beliau yang suci dan para sahabat-sahabat beliau sebaik-baiknya sahabat, serta atas orang-orang yang berjalan di jalan mereka sampai pada hari ketika kita menjumpai-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Pengampun. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang yang beruntung yang telah dipilih dan didekatkan oleh Allah. Amin.

Sejak lama ada di dalam benakku sesuatu yang mungkin bisa aku berikan kepada istriku, putri-putriku, adik perempuanku, bahkan para saudari-saudari muslimah juga bagi umat Islam secara umum. Yaitu sebuah ” HADIAH “yang mungkin bisa dijadikan sebagai prasasti dan contoh serta qiblat dalam kehidupan mereka, yang mana aku temukan sebaik-baik hadiah yang cocok bagi mereka di zaman seperti ini adalah mengingat kembali sebuah sejarah bidadari yang berbentuk manusia, yaitu:

“Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra Al-Batuul “

Yang mana Allah pilih di antara para wanita-wanita untuk menjadi suri tauladan bagi para wanita-wanita muslimat. Yang mana Beliau Sayyidatuna Fathimah adalah ibu para lelaki-lelaki kesatria yang tangguh.

Ketika aku pelajari sejarah Sayyidatuna Fathimah Al-Batuul serta aku resapi cerita-ceritanya membuat rasa rindu yang terpendam di dalam hatiku tergerakkan sehingga membuat hatiku menangis karna rasa rindu yang ada, juga karena rasa malu dan pilu!

Bahkan di sebagian cerita aku terdiam, tanpa terasa air matapun tak sanggup ku bendung, mengalir di wajah yang penuh dosa ini atas apa-apa yang terjadi dalam kehidupan beliau “Rodhiallahu ‘Anhaa” dalam mempertahankan dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama juga atas akhlaq-akhlaq serta budi pekerti yang luhur dan pengarahan-pengarahan yang berdasarkan asas Islam yang dengannya Nabi SAW di utus.

 

SOSOK BELIAU

Cukup bagi kita untuk mengenal Sayyidatuna Fathimah kalau kita tanya diri kita: Puteri siapakah beliau? Istri siapakah beliau? Ibu siapakah beliau?

Banyak riwayat yang menyebutkan keagungan-keagungan beliau. Di antaranya: Rasullah SAW bersabda: “Fathimah adalah belahan jiwaku siapa yang membuatnya marah maka telah membuatku marah.” (Diriwayatkan oleh Miswar bin Makromah)

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya puteriku Fathimah adalah bidadari yang suci tidak pernah haid.”

Diberi nama Fathimah (dalam Bahasa Arab fathuma-yafthumu berarti memisah atau melepas), karena Allah melepas/meyelamatkan anak cucunya & para pecintanya dari api neraka. Mudah-mudahan dengan sebab mempelajari sejarah beliau kita dimasukan dalam golong orang-orang yg mencintainya. Amin.

Diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya keridhoan / kemurkaan Allah ada pada Fatihmah.”

Rasulullah SAW bersabda: “Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin para pemuda surga dan Fathimah pemimpin para wanita di surga.” (Diriwayatkan oleh Sa’id Al-Khudri)

Diriwayatkan juga, Rosulullah SAW bersabda: “Telah datang padaku malaikat dari langit yang tidak pernah datang padaku meminta ijin untuk ziaroh kepadaku dan memberi kabar gembira bahwa puteriku Fathimah adalah pemimpin para wanita umatku.”

Ketika Allah mengutus para Nabi dari jenis laki-laki dan Allah jadikan dari jenis perempuan yang pertama menerima “risalah” dari Nabi SAW adalah Khadijah binti Khuwailid, kemudian Allah menjadikan siapa yang mengikuti Nabi Muhammad SAW adalah pusat kebaikan dan penyebab kecintaan Allah.

Katakan wahai Muhammad pada umatmu, “Jika kalian cinta kepada Allah ikuti jejakku, maka Allah akan cinta kepada kalian”

Sebagian wanita berkata: ”Bagaimana mencontoh Rasulullah SAW sedangkan sebagian perkara berhubungan khusus dengan wanita, maka wanita tidak bisa sepenuhnya meniru Rasulullah?”

Kita katakan: “Sesungguhnya Allah Swt. telah memuliakan para wanita dengan digolongkan menyerupai Rasulullah SAW apabila menyerupai bid’atuh/bagian dari Nabi Saw yaitu Sayyidatuna Fathimah. Beliau SAW bersabda: “Fathimah bagian dariku yang mana Fathimah tidak akan terpisah dariku.”

Apabila para wanita menyerupai Sayyidatuna Fathimah, maka sesungguhnya mereka telah menyerupai asal sunnah Rasulallah SAW dan mendapat pahala yang agung dari Allah Swt. Fathimah adalah anugerah dari Allah untuk para wanita.

 

AWAL KELAHIRAN & KELUARGANYA

Sayyidatuna Fathimah dilahirkan di rumah yang agung yang berada di Makkah rumah Al-Amiin, Ash-Shaadiq. Ibunya, Khadijah binti Khuwailid, wanita yang agung derajatnya dan mulia budi pekertinya. Dia adalah pemimpin wanita Makkah dalam segi kemuliaan, kewibawaan, serta kehormatan, sedangkan ayahnya siapakah dia?

Dia adalah seorang yang dikenal di kalangan kaum Quraisy Ash-Shaadiq, Al-Amiin, dan pemuda paling pintar, yang paling utama dari segala segi.

Siapa yang melihat wajahnya akan terpaku atas kehaibaannya, siapa yang bergaul dengannya pasti mencintainya. Cahaya kebenaran dan rahmat selalu terpancar dari raut wajahnya.

Saudari Sayyidatuna Fathimah, 3 orang:

1). Sayyidatuna Zainab

2). Sayyidatuna Ruqayyah

3). Sayyidatuna Ummu Kultsum

Sayyidatuna Fathimah anak terakhir dari Sayyidatuna Khadijah. Dilahirkan 5 tahun sebelum diutusnya Rasulullah SAW, di sebuah peristiwa yang agung peristiwa yang bersejarah yang tercatat dalam hati setiap muslim.

Allah ingin agar manusia tidak melupakan kelahiran bayi yg mulia ini sehingga di lahirkan di hari yang mulia. Karena Sayyidatuna Fathimah di lahirkan di hari diperbaruinya Ka’bah “Baitullah”. Karena itu di sini ada rahasia yang agung, Allah menjadikan kelahiran Sayyidatuna Fathimah di hari diperbaruinya “Al-Bait/Ka’bah” karena Fathimah adalah Ummu Ahlil Bait.

Baitullah dibangun bersamaan dengan kelahiran Ummu Ahlil Bait yaitu Fathimah binti Muhammad. Karena akan keluar darinya keturunan dan keluarga Rasulullah SAW di hari ini. Akan tampak jelas Baitullah dan begitu juga telah tampak atau lahir wanita yang akan membawa Ahlul-Baitnya Rasulillah SAW.

Wajah Rasulullah sangat gembira dan berseri-seri bagai rembulan mendengar kelahiran Fathimah walaupun beliau adalah anak perempuan ke-empat. Di mana orang-orang dulu membenci anak perempuan bahkan sebagian dari mereka apabila lahir anak perempuan wajah mereka merah karena marah, benci dan malu. Bahkan mereka menyendiri malu menemui orang. Sebagian besar mereka mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Nabi SAW hidup di gelapnya zaman jahiliyah mendapat anugerah anak perempuan.

 

HIKMAH KELAHIRAN BELIAU

Di gelapnya zaman jahiliyah yang menjadikan wanita bagaikan binatang dan budak hawa nafsu, Rasulullah dikaruniai seorang anak perempuan yang mana akan menjadi “Qiblat” dan “Mahkota” bagi para wanita.

“Siapa saja wanita yang tidak berqiblatkan Fathimah dan bermahkotakan Fathimah, maka apa yang terjadi di zaman jahiliyah akan terulang. Wanita akan hina dan jadikan budak hawa nafsu.”

Bergembiralah Nabi SAW dengan lahirnya sang buah hati dan berkata kepada Sayyidatuna Khadijah: “Sesungguhnya dia adalah anak yang cantik laksana angin sepoi-sepoi yang indah dan penuh barokah.”

Kemudian Nabi SAW menggendongnya dan menciumnya maka semakin tampaklah kegembiraan Sayyidatuna Khadijah karena Fathimah adalah manusia paling mirip dengan ayahnya. Kemiripan tersebut sebagai penyebab Sayyidatuna Fathimah mendapatkan cinta yang berlebihan dan perhatian khusus.

Rumah tempat dilahirkannya Sayyidatuna Fathimah adalah rumah yang diliputi kemuliaan dan kehormatan yang berasaskan budi pekerti dan ahklaq yang luhur. Di tempat yang luhur dan yang penuh cahaya tumbuhlah sang bunga mawar yang elok nan menawan, yang menjadi harapan setiap wanita.

Rumah tempat dilahirkan Fathimah, adalah rumah tempat turun wahyu. Ketika turun wahyu pertama kali Nabi datang dalam keadaan takut. Berkatalah Sayyidatuna Khadijah: “Wahai Rasulullah jangan takut, sesungguhnya Allah takkan menyia-nyiakanmu karna engkau orang yang suka bersedekah, menyambung tali silaturrahmi, dan selalu membantu orang yang susah. Demi Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakanmu.”

Inilah Nabi SAW yang mana mulai sebelum diangkat menjadi Nabi memiliki sifat-sifat yang mulia dan Sayyidatuna Khadijah yang mana tidak dikenal di Makkah kecuali sebagai wanita yang mulia dan terhormat baik dari segi akhlaq atau budi pekerti. Di rumah tersebutlah anak-anak perempuan Nabi Muhammad SAW terdidik atas bimbingan orang tua yang penuh akhlaq yang mulia dan kasih sayang.

Sebagian ulama’ berkata: “Dilahirkannya Sayyidatuna Fathimah di masa sebelum diutusnya Nabi SAW adalah sebuah ‘Hikmah’ agar Fathimah membantu perjuangan ayahnya dan tumbuh besar bersamaan dengan tumbuh besarnya agama. Sayyidatuna Fathimah menjadi pendamping setia ayahnya, suka dan duka sampai Nabi SAW meninggal.

Sayyidatuna Fathimah adalah jantung hati yang sangat dicintai oleh Nabi SAW dan Sayyidatuna Khadijah. Sampai-sampai Sayyidatuna Khadijah setiap melahirkan mengirimkan anak-anaknya agar disusui, sebagaimana adat orang-orang Quraisy. Kecuali Fathimah, Sayyidatuna Khadijah sendiri yang menyusuinya karena cintanya yang mendalam, karena kemiripanya dengan Rasulillah SAW juga karena Fathimah adalah anak terakhir (paling kecil) sehingga ia mendapatkan perhatian khusus.

 

ARTI NAMA & SEBUTAN BELIAU

Sayyidatuna Fathimah disebut dengan ”Zahro” karena warna kulitnya putih indah bercampur dengan kemerah-merahan. Sebagian mengatakan

Sayyidatuna Fathimah disebut “Zahroh” karena ia menerangi penduduk langit sebagaimana tampak penduduk bumi gemerlapnya bintang yang ada di langit.

Fathimah juga disebut “Al-Batuul atau suci”, karena ia tidak putus dan bersemangat dalam beribadah. Sebagian mengatakan ia disebut

“Al-Batuul” karena tidak ada wanita di zamannya yang menandingi kemuliaan, keagungan, dan derajat Sayyidatuna Fathimah.

Nama-nama Sayyidatuna Fathimah masih banyak lagi, yaitu: Siddiqoh, Mubarokah, At-Tohiroh Az-Zakiyyah, Ar-Rodiyah, Al-Mardiyyah. Juga dipanggil “Ummi Abiha” oleh ayahnya, yang berarti sebagai ibu bagi ayahnya. Mengapa?

Karena sepeninggal ibunya yaitu Sayyidatuna Khadijah, Fathimah selalu membantu Rasulullah SAW dalam segala hal, selalu siap siang dan malam demi kepentingan ayahnya SAW sampai akhir hayat Beliau, selalu dalam khidmat ayahnya, oleh karena itu Sayyidatuna Fatihmah dijuluki “Ummi Abiha”, cukup bagi fathimah julukan tersebut satu kemuliaan dan kedudukan yang tinggi.

 

SAYYIDATUNA FATHIMAH DIMATA AYAHNYA

Sayyidatuna Fathimah adalah paling miripnya manusia dengan Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah: “Tidak pernah aku melihat manusia yang mirip dengan Rasulullah dalam segi diam, bicara, juga dalam berjalan atau cara duduknya seperti Fathimah binti Muhammad. Rasulullah SAW setiap didatangi Fathimah, berdiri dari tempat duduknya dan mencium kening Fathimah dan mendudukkan Fathimah di tempat duduknya. Begitu juga Fathimah jika didatangi Rasulullah SAW.”

Anas bin Malik berkata: “Tidak ada yang mirip dengan Rasulullah SAW seperti Hasan bin ali dan Fathimah binti muhammad”.

Sayyidatuna Aisyah berkata: “Saya tidak pernah melihat seseorang yang paling menyerupai Nabi SAW dalam kata-katanya atau cara bicaranya seperti Fatimah.”

Sayyidatuna Fathimah adalah wanita paling cantik karena serupa dengan makhluk paling tampan. Dan Fathimah memiliki tempat khusus di hati Nabi SAW. Sungguh banyak sekali Nabi SAW memberikan bisyaroh pada Fathimah.

Sayyidina Ali bertanya: “Wahai Rasulullah SAW siapa yang paling engkau cintai, aku atau Fathimah?”

Nabi SAW menjawab: “Fathimah adalah orang yang paling aku cintai sedang engkau lebih mulia darinya.”

Nabi SAW juga bersabda: “Fathimah adalah orang yang paling aku cintai di antara keluarga-keluargaku.”

Sayyidatuna Aisyah pernah ditanya: “Siapakah orang yang paling di cintai oleh Nabi SAW?”

Aisyah menjawab: “Fathimah, dan dari golongan laki-laki yaitu suaminya (Ali bin Abi Tholib).”

Nabi SAW bersabda: “Fathimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya, maka telah menyakitiku. Siapa yang membuat Fathimah gembira, maka telah membuatku gembira. Semua nasab terputus di hari Qiyamat kecuali nasabku.”

Sayyidatuna Fathimah walaupun dalam umur yang masih kecil ia menjadi gambaran dan suri tauladan. Nabi SAW berkata: “Wahai kaum Quraisy, bani Abdul Muttholib, Abas bin Abdul Muttholib, Shofiyyah ‘ammati (bibi) Rasulillah selamatkan dirimu karena aku tidak dapat berbuat apa-apa atas kalian di depan Allah.” Kemudian Nabi menujukan pembicaraan ke Sayyidatuna Fathimah, dan berkata: “Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkan dirimu karena aku tidak dapat berbuat apa-apa di hadapan Allah.” (HR. Bukhori Muslim)

Sebagain orang heran, bagaimana Nabi SAW menujukan pembicaraannya kepada kaum Quraisy, paman-pamannya, juga bibinya, kemudian menujukannya kepada anak kecil yang berusia 7 tahun?

Tidak lain karena Nabi SAW mengetahui kekhususan, keistimewaan dan pengetahuanya yang luas juga karena kecerdasannya dalam meresap ilmu yang diberikan Nabi SAW.

Coba anda renungkan apa yang ada dalam hati Zahro, sedang dia dalam umur yang masih ketika mendengar ayahnya mengkhususkan dalam khithobnya?

Tidak diragukan lagi khitob yang ditujukan ayahnya semakin membuat semangat dan mengerakkan Sayyidatuna Fathimah serta memberi kekuatan yang luar biasa dalam hatinya. Seakan-akan Nabi memberikan amanat yang besar dan mengkhususkan dengan perintahnya.

 

MASA KECIL BELIAU

Di masa kecilnya, Sayyidatuna Fathimah selalu ikut di belakang ayahnya kemana beliau pergi. Mengikuti ayahnya ketika berjalan di jalan-jalan Makkah, karena kaum Quraisy telah menyakiti Nabi SAW bahkan mengirim pengintai untuk mengintai Nabi SAW, Fathimah khawatir dengan keadaan ayahnya. Sayyidatuna Fathimah telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kekerasan yang tidak pantas anak sekecil itu melihatnya.

Para ulama’ berkata bahwa Fathimah tumbuh dengan pertumbuhan yang sangat bagus. Mempersiapkan anak cucu yang ada di rahimnya, dan menumbuhkan sifat keimanan yang kuat. Karena di masa sekecil itu Fathimah menghadapi banyak cobaan yang berat, maka terbentuklah dalam diri Fathimah kepribadian yang kuat dan mandiri, yang mana dengannya memberikan kesiapan atas dirinya untuk mendidik anak-anaknya kelak.

Suatu hari Sayyidatuna Fathimah keluar, yang mana tidak tergambarkan dalam benak kita anak perempuan sekecil ini yang sangat lembut hatinya, rahmat terhadap sesama, seseorang yang penuh rasa kasih sayang, yang terdidik di rumah yang penuh keistimewaan, keluar mengikuti ayahnya menujuh Ka’bah. Ketika Nabi SAW sedang melakukan ibadah, Sayyidatuna Fathimah menunggu ayahnya di sampingnya.

Ketika ayahnya sedang sujud, datang manusia paling celaka yaitu Uqbah bin Abi Mu’ait beserta teman-temannya, mendekati Nabi yang sedang sujud, dan Uqbah menginjakkan kakinya di atas kepala Rasulullah SAW kemudian menarik Nabi dan mencekiknya dengan sangat keras sehingga mata Nabi SAW menonjol keluar.

Kemudian datang Sayyiduna Abu Bakar dengan berlari, berusaha mencegah ini, menarik ini, menahan ini. Sedangkan Fathimah hanya bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri yang diiringi air mata dan berdoa. Kemudian Uqbah dan teman-temannya berpindah memukuli dan menyiksa Sayyiduna Abu Bakar. Sayyidatuna Fathimah bergegas menolong ayahnya dan membawa pulang.

Pulang dalam keadaan menangis dan penuh kesedihan dalam hati Sayyidatuna Fatimah. Anak sekecil itu menyaksikan ayahnya dianiaya orang-orang Quraisy. Di mana seharusnya mereka berbuat baik, karena ayahnya adalah orang yang terkenal pemurah, jujur, yang selalu diperbincangkan kejujuranya. Dialah orang yang menyelesaikan pertikaian Quraisy dalam meletakkan Hajar Aswad, dan menyelamatkan Quraisy dari perpecahan, permusuhan dan pembunuhan.

Tapi, sekarang apa balasan mereka? Apa kehendak mereka? Apa yang mereka mau sehingga berbuat seperti ini? Nabi SAW tidak pernah bergaul kecuali dengan mahabbah.

 

KESABARAN DALAM MENGHADAPI KAUM KAFIR QURAISY

Sayyidatuna Fatimah mengemban derita yang mendalam di masa

pertumbuhannya. Di masa kecil yang seharusnya tidak mengenal kecuali kasih sayang, kelembutan dan kegembiraan. Akan tetapi Sayyidatuna Fatimah hidup dengan penderitaan ini dan mulai merasakan kesedihan atas ayahnya SAW.

Maka kembali Nabi SAW ke rumahnya duduk didampingi Sayyidatuna Fatimah, yang hanya bisa membisu dan menatap wajah ayahnya dengan air mata yg terus mengalir atas apa yang telah menimpa ayahnya.

Kemudian Sayyidatuna Khadijah menghampiri Nabi SAW dengan penuh kasih sayang, merawat, membersikan dan mengusap bekas darah dan memar yang ada di wajah Rasulullah SAW akibat pukulan-pukulan orang Quraisy. Tanpa disadari Sayyidatuna Khadijah meneteskan air mata dan bertanya atas apa yang terjadi, Nabi pun menceritakannya.

Suatu hari Rasulullah SAW keluar dan Sayyidatuna Fatimah mengikuti di belakangnya. Menuju ke Ka’bah kemudian Nabi melakukan sholat dan Fatimah duduk di sampaing ayahnya. Sedangkan di samping Ka’bah orang-orang Quraisy sedang berkumpul. Tiba-tiba datang salah satu dari mereka membawa bungkusan yang berisi kotoran dan darah onta yang baru melahirkan yang sangat bau dan menjijikkan, mendekati Nabi SAW dan menuangkannya di punggung, leher serta kepala Nabi SAW.

Mereka menertawakan Rasulullah SAW bergembira, menari-nari sambil bertepuk tangan. Bahkan ada yang sampai jatuh terlentang karena terlalu kuat tertawa. Rasulullah SAW tetap khusyuk dalam sujudnya. Sayyidatuna Fatimah menangis dan menghampiri ayahnya.

Dalam keadaan menangis Sayyidatuna Fatimah menghampiri ayahnya, sambil membersihkan kotoran-kotoran yang ada di pundak ayahnya seraya berdoa atas orang kafir. Kemudian Nabi SAW bangun dalam keadaan marah dan berdoa, “Ya Allah, celakakanlah Utbah bin Abi Mu’it, celakakanlah Hisam bin Hakam, celakakanlah Utbah.”

Maka Demi Allah tidak disebut nama mereka kecuali terbunuh di perang badar. Maka pulang Nabi SAW sedangkan air mata Sayyidatuna Fatimah terus mengalir. Ketika sampai dirumah Sayyidatuna membersikan kepala ayahnya dan mencuci baju ayahnya dalam keadaan menangis. Maka Nabi SAW berkata, “Wahai jantung hatiku Fathimah janganlah kau menangis karena Allah selalu menjaga ayahmu.”

Suatu hari Sayyidatuna Fathimah keluar dan menemukan kaum Quraisy sedang merencanakan sesuatu, sepertinya kali ini mereka menginginkan hal yang besar, bukan meletakkan kotoran akan tetapi mereka merencanakan sesuatu yang dahsyat. Meraka memikirkan bagaimana membunuh Nabi SAW. Ketika mendengar kabar ini, maka Sayyidatuna Fatimah berlari dengan cepat.

Dengan cepat Sayyidatuna Fatimah berlari menuju Ka’bah dan memeluk ayahnya sedang wajah Sayyidatuna Fatimah pucat dengan penuh rasa cemas. Nabi SAW bertanya: “Apa yang telah terjadi wahai anakku?”

Sayyidatuna Fatimah menjawab: “Wahai ayahku mereka merencanakan sesuatu dan akan membunuhmu. Aku takut terjadi sesuatu atasmu.”

Maka Nabi SAW berkata: “Tenanglah wahai anakku sesunggahnya Allah selalu menjaga ayahmu.”

Nabi SAW berkata: “Berdirilah bersamaku.” Maka Sayyidatuna Fatimah berdiri bersama ayahnya, keluar dari Ka’bah dengan hati yang teguh. Sedangkan orang Quraisy bersiap-siap menghadang Nabi SAW. Nabi menghadap mereka dengan berdoa dan lewat di depan mereka dengan penuh haibah/wibawa.

Orang-orang Quraisy terdiam seribu bahasa dan hanya melihat Nabi SAW melintas di depan mereka. Hati dan pikiran Sayyidatuna Fatimah tenang, Sayyidatuna Fatimah yakin bahwa ayahnya dalam lindungan dan penjagaan Allah SWT. Yakin bahwa Allah tidak menyerahkan ayahnya pada orang-orang kafir kecuali atas musibah yang mengangkat ayahnya ke martabat dan derajat yang tinggi.

Yang sangat disesalkan oleh Rasulullah SAW bahwa ujian dan gangguan yang diterima muncul dari orang terdekat sendiri, yaitu Abu Lahab (paman Nabi SAW) dan istrinya Ummu Jamil. Setiap hari Sayyidatuna Fatimah menemukan duri-duri dan kotoran di depan pintu rumahnya, dan Nabi SAW tetap sabar membersihkannya, tidak berbicara.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Sayyidatuna Fatimah melihat ayahnya tetap sabar dan berusaha untuk sabar, ayahnya selalu bermujahada/berusaha dan bersyukur. Yang mana tidak keluar dari lisannya kecuali kata-kata yang baik, juga tidak menyimpan dalam hati kecuali hal-hal yang baik. Sayyidatuna Fatimah mengambil pelajaran yang sangat berharga yaitu “Ar-Rahmah” dari Rasulullah SAW.

Kemudian Quraisy melibatkan keluarga Nabi SAW dalam permusuhannya, tetapi Nabi SAW tetap melindungi keluarganya dari gangguan Quraisy. Ummu Jamil (istri Abu Lahab) berkata: “Wahai kedua anakku kepalaku dan kepala kalian haram bersetuhan jika kalian tetap bersama anak-anak Muhammad.”

Utsbah dan Utaibah anak Abu Lahab menikah dengan Rugayyah dan Ummu Kultsum putri Nabi SAW.

Maka Utsbah dan Utaibah menceraikan Ruqayyah dan Ummu Kulsum. Di tengah panasnya terik matahari kedua putri Nabi SAW tersebut berjalan meninggalkan rumah suaminya. Perempuan yang masih muda dan cantik kembali ke rumah ayahnya dengan hati yang penuh luka dan kesedihan.

 

KISAH HIJRAH KE HABASYAH

Bayangkan, bagaimana keadaan seorang anak perempuan yang baru saja melaksanakan pernikahan, dan merasakan manisnya kasih sayang dan kegembiraan harus merasakan pedihnya dan pahitnya perceraian?  Apa salah mereka? Apa dosa mereka? Mereka tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Akan tetapi karena keras kepala, kebencian dan kebodohan, maka kembalilah Ruqoayyah dan Ummu Kulsum dengan hati penuh kekecewaan.

Fathimah menyambut kakak-kakaknya dengan aliran air mata. Bayangkan, apa yang terlintas di benak Fatimah? Mereka pergi dengan kegembiraan di malam pengantin, dan kembali dengan penuh kesedihan dan kekecewaan. Fathimah dan kedua kakaknya duduk di kamar saling menangis dan berbagi rasa.

Sedangkan Zainab telah menikah dengan Abul As bin Robi’. Orang-orang kafir Quraisy terus menekan dan memaksa Abul Ash agar menceraikan putri Nabi Muhammad SAW, yaitu Zainab. Akan tetapi Abul Ash tidak menghiraukan perkataan Quraisy karena Abul Ash sangat mencintai Zainab, dan Zainab pun sangat mencintainya.

Ketika umur Sayyidatuna Fathimah 10 tahun, datang perintah untuk

hijrah ke negeri Habasya. Karena keadaan muslimin di Makkah sangat

memprihatinkan atas gangguan-gangguan orang Quraisy. Di satu sisi,

Rasulullah SAW telah menikahkan purtrinya Ruqayyah dengan Sayyiduna Utsman.

Sayyiduna Utsman adalah orang pertama yang hijrah dalam Islam ke negeri Habasya berserta istrinya Ruqayyah. Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Utsman adalah orang yang pertama kali hijrah dengan keluarganya setelah Luth AS.” Ruqayyah mendapatkan kedudukan yang mulia ini (sebagai orang yang pertama hijrah dalam Islam).

Kita lihat bagaimana Nabi SAW meneguhkan keluarganya. Yang mana keluarga beliau selalu terdepan dalam ujian dan cobaan, selalu terdepan dalam perkara-perkata yang sulit. Putri beliau adalah wanita yang pertama kali hijrah (menempuh perjalanan yang penuh kesulitan di tengah terik matahari dan melewati gurun pasir yang penuh rintangan).

Kalau kita cermati, kita temukan dalam sejarah Islam keluarga beliaulah yang pertama kali mengorbankan diri mereka demi Allah dan agama ini. Sayyidina Utsman dan Ruqayyah kembali dari Habasya saat turunnya wahyu “Surat An-Najm” dan mengira bahwa orang Quraisy telah masuk Islam.

Sayyidatuna Fatimah gembira setelah lama berpisah dengan seorang kakak tercinta. Sayyidatuna Fatimah menyambut dengan gembira dan berpelukan. Kemudian mereka kembali untuk kedua kalinya ke Habasya setelah terbukti bahwa kabar ke Islam Quraisy adalah dusta.

 

KETEGARAN BELIAU

Masih tetap rumah/keluarga yang mulia ini dalam keadaan seperti ini.

Yang ini pergi, yang ini datang. Yang ini menikah, yang ini diceraikan.

Cobaan demi cobaan silih berganti, akan tetapi Rasulullah SAW laksana gunung yang kekar tidak bergerak sedikitpun, pantang menyerah dan selalu sabar. Dimana tidak berlalu waktu atau hari melainkan dikorbankan demi agama ini.

Betapa seringnya Sayyidatuna Fatimah tidak tidur malam menjaga dan melayani ibunya. Tampak suatu prilaku yang sangat mulia dan indah dari akhlaq fathimah yang bersumber dari seorang ibu. Suatu pelajaran yang seharusnya dan seandainya para wanita di zaman sekarang ini mempelajarinya, suatu akhlaq yang dapat mengangkat ke derajat yang tinggi.

Sayyidatuna Fatihmah setia mendampingi dan duduk di samping ibunya yang dalam keadaan tidak dapat bergerak dan berbicara. Kemudian datang Rasulullah SAW, merasa dengan kedatangan Rasulullah SAW Sayyidatuna Khadijah dengan sekuat tenaga menahan segala rasa sakit. Berdiri dengan semangat dan menampakkan ketegarannya di depan Rasulullah SAW.

Sayyidatuna Khadijah berusaha menutupi rasa sakitnya sehingga tidak menambah beban Rasulullah SAW. Sayyidatuna Fatimah melihat kejadian yang sangat menakjubkan dan begitu indah. Terdapat pelajaran yang sangat berharga, melihat ikatan “cinta” yang agung, yang luar biasa, dan murni.

Sebuah rasa dan pengorbanan “cinta” yang tidak mengetahui rasa ini baik langit ataupun bumi.

 

KISAH PEMBOIKOTAN

Subhanallah, seorang istri mencintai suaminya sampai ke derajat yang sangat tinggi ini. Sebuah cinta yang menimbulkan rasa tidak ridho jika suaminya melihat apa yang terjadi atasnya, sedangkan ia dalam keadaan sakit yang sangat parah. Tidak ingin menambah beban kesedian suaminya, tidak ingin suaminya sedih atasnya. Sungguh ini pelajaran yg berharga bagi para wanita.

Sayyidatuna Fatimah bertumbuh semakin dewasa, masa kecilnya berlalu dalam pemboikotan 13, 14, 15, berlalu dalam kesusahan dan derita dalam pemboikotan yg penuh kesengsaraan . Suatu hari datang Bilal bin Rabbah ke tempat pemboikotan dengan sembunyi-sembunyi membawa sepotong roti yang disimpan di ketiaknya agar tidak terlihat oleh orang kafir Quraisy. Bilal mendekati Rasulullah SAW dan memberikan sepotong roti ke Rasulullah SAW.

Rasulullah Saw pun menghampiri dan menyuapi Fatimah, kemudian menyuapi Ummi Kultsum, juga Sayyidatuna Khadijah dengan penuh kasih sayang. Keadaan demi keadaan dalam penuh kesusahan telah dilalui oleh keluarga yang sangat suci, keluarga yang dicintai Allah. Akhirnya, selesailah pemboikotan ini, selesai dengan sebab mu’jizat yang agung.

Rasulullah SAW telah memberi kabar bahwa isi dari surat penjanjian yang dholim itu telah dimakan oleh rayap kecuali bagian yang tertulis nama Allah (surat tersebut berada di dalam kotak yang terkunci dan diletakkan di dalam Ka’bah). Maka selesailah pemboikotan tersebut, akan tetapi peristiwa pemboikotan itu berdampak sangat buruk.

 

TAHUN KESEDIHAN

Selang beberapa hari datang kabar yang sangat menyedihkan yaitu kabar meninggalnya Abi Thalib. Sementara Abi Thalib adalah orang yang selalu mencegah dan menahan gangguan-gangguan orang kafir Quraisy dengan memanfaatkan kedudukankanya, kewibawaannya, pengaruhnya, kekayaannya, juga umurnya yang di tuakan, berusaha dengan segala macam cara.

Ketika Abi Thalib meninggal, orang kafir Quraisy tertawa dengan gembira, semakin parah gangguan dan siksaan yang diterima oleh Rasululah SAW. Anak-anak kecil serta budak-budak orang Quraisy mencaci, menghina, dan mempermainkan Nabi SAW dengan melempari batu, mereka juga menuangkan debu di kepala Rasulullah SAW.

Sesampainya di rumah masih banyak debu yang berada di kepala Rasulullah SAW. Sayyidatuna Fatimah mendekati ayahnya dan membersikan debu yang mengotori kepala sang ayah, tanpa terasa air mata pun membasahi wajahnya. Fatihmah ingin menahan tangisan hatinya, akan tetapi ia tak mampu menahan air matanya. Fathimah terus membersikan kepala ayahnya dan Fathimah terus menangis, menangis, dan menangis.

Nabi SAW menoleh dan berkata: “Wahai putriku, janganlah engkau menangis karena Allah akan menampakkan agama ini. Tidak ada tempat yang terbuat dari batu atau tanah atau kayu (keseluruh tempat), kecuali agama ayahmu akan masuk, baik menjadikan mereka mulia atau menjadikan mereka hina.”

Beginilah keadaan mereka terus dalam keadaan jihad dengan kesabaran. Hari pun terus berlalu kesehatan Sayyidatuna Khadijah semakin melemah, penyakitnya semakin parah. Sayyidatuna Fatihmah dan Ummu Kulstum setia mendampingi ibunya, dan duduk disampingnya. Rintihan rasa sakit terdengar dari bibir Sayyidatuna Khadijah, dan air matanya pun tak sanggup menutupi rasa sakitnya.

Air mata Sayyidatuna Fatimah pun membasahi pipinya, akan tetapi beliau dengan cepat mengusap air matanya karena tak ingin (takut) kesedihan diketahui ibunya. Sayyidatuna Fatimah dan Ummu Kultsum merasakan sebuah rasa sedih di dalam hati mereka atas apa yang di lihatnya bahwa ini adalah ibunya yang penuh kasih sayang dan penuh perhatian. Seseorang yang sangat dicintai oleh ayahnya. Rasulullah SAW tidak merasa sedih kecuali atas apa-apa yang menimpa Sayyidatuna Khadijah, dan Sayyidatuna Fatimah mengetahui hal itu. Jika telah pergi ibunya, siapakah yang akan menggantikan ibunya? Tidakkah cukup kesedian ini?

Tidakkah cukup kepedihan ini setelah pergi Abi Thalib, sedangkan dia adalah orang paling lembut dan sekarang ibunya harus pergi juga. Sayyidatuna Khadijah dan kedua anaknya saling berbincang-bincang dan memberi wasiat: “Wahai Fatimah, Wahai Ummu Kultsum. Aku merasa ajalku telah tiba.”

Sayyidatuna Khadijah terus memberikan wasiat-wasiatnya dan di antaranya yang terpenting dan sangat ditekankan adalah mewasiatkan untuk menjaga dan memperhatikan ayahnya.

Kesehatan Sayyidatuna Khadijah semakin melemah dan ajalnya pun sudah sangat dekat. Rasulullah SAW datang menghampiri Sayyidatuna Khadijah, seorang istri yang paling dicintainya.

Dia adalah wanita yang telah berkorban deminya, dia adalah wanita yang lemah lembut yang menyelimutinya dengan penuh kasih sayang, dan membenarkannya ketika turun wahyu. Dia adalah wanita yang selalu penuh perhatian, wanita yang memberikan bekal makanan ketika Nabi di Gua Hira. Dia adalah wanita yang menghibur Nabi ketika semua orang lari, wanita yang mempercayai ketika semua orang mendustakan. Wanita yang menolong ketika semua orang menghina dan memusuhi.

Dialah “Khadijah” yang Allah pilih untuk menemani kekasih-Nya. Ketika Rasulullah datang, mata Sayyidatuna Khadijah berkaca-kaca yang diiringi tetesan air mata yang memancarkan suatu pandangan yang penuh kasih sayang, suatu pandangan sebagai pengantar perpisahan mereka.

Kemudian Rasulullah Saw. duduk di dekat Sayyidatuna Khadijah, dengan perlahan meletakkan kepala Sayyidatuna Khadijah di pangkuannya, sedangkan di samping kamar Sayyidatuna Fatimah menangis melihat semua ini dan Ummu Kultsum berusaha meredahkan tangisan adiknya (Fatimah) yang masih kecil.

Sayyidatuna Fatimah menangis karena perpisahan dengan Sayyidatuna Khadijah bukanlah hal yang remeh. Jika seorang putri yang masih kecil ketika ditinggal ibunya bersedih sekali atau dua kali. Akan tetapi perpisahan dengan Sayyidatuna Khadijah bukanlah perpisahan dengan seorang ibu yang biasa, karena ini adalah kepergian seorang :

-Wanita muslimat yang pertama

-Wanita yang menjadi pelindung Islam

-Wanita yang sangat dicintai Rasulullah

Ketika Sayyidatuna Khadijah sedang dalam pangkuan Rasulullah Saw., datang sebuah kabar gembira. Rasulullah Saw. “Wahai Khadijah, sesungguhnya jibril datang menyampaikan salam dari Allah atasmu,

Sayyidatuna Khadijah menjawab : “Allahussalam Waminhussalam

Kemudian Nabi Saw. berkata “Wahai Khadijah sesungguhnya Allah Swt. telah memberimu kabar gembira dengan sebuah rumah yang sangat megah disurga, yang tidak terdapat di dalamnya kesusahan ataupun kesulitan sedikitpun.”

Mendengar hal tersebut bercampurlah rasa gembira dan sedih meliputi dua gadis yang cantik ini (Fatimah dan Ummu Kultsum) sebuah rasa yang aneh dan menakjubkan. Di saat mereka berdua dalam keadaan yang menggembiran dan menyenangkan atas kedudukan yang didapatkan oleh ibunya, kedudukan yang tidak dicapai seorangpun (mendapat salam dari Allah Swt.), bersamaan dengan adanya rasa gembira ini, goresan rasa pedih dan rasa sakit yang sangat mendalam bercampur atas perpisahan yang sangat berat bagi mereka. Akan tetapi ini semua adalah takdir dari Allah Swt..

Maka Sayyidatuna Khadijahpun meninggal di pangkuan Rasulullah Saw. dinamakan tahun ini dengan tahun kesedihan (‘Aamul Huzn). Rasulullah Saw. kehilangan pamanya yang selalu menjadi penolongnya dan kehilangan istri tercinta yang selalu menjadi penghibur hati dan meringankan beban Rasulullah Saw.. ]

Kepergian istri dan paman beliau Saw. menjadikan cobaan yang beliau terima begitu berat, segala macam ujian dan cobaan terus bertubi-tubi dan silih berganti menimpa Rasulullah Saw..

Seluruh orang kafir Quraisy menjadi gembira dan senang menyakiti Rasulullah Saw.. Mulai dari budak-budak, orang dewasa, anak-anak kecil maupun besar, laki-laki juga perempuan.Mereka semua menjadikan Rasulullah Saw. sebagai tempat cacian dan ejekan. Mereka tetap keras kepala tidak menerima ajakan Nabi Saw..

Rasulullah Saw. tetap sabar dan terus berusaha.. berusaha.. dan berusaha.. Menghampiri setiap tempat-tempat keramaian. Ke sana dan ke sini, menuju ke perbatasan untuk menghadang setiap orang yang menuju ke Makkah. Tapi mereka tetap keras kepala dan terus menyakiti Rasulullah Saw.. Melihat hal ini, Rasulullah Saw. mengalihkan tujuan untuk menuju kota Tha’if. Beliau bergegas dan kedua putri beliau Fatimahdan Ummu Kultsum mengantarkan sang ayah untuk melepas kepergiannya berdakwah.

Sepenggal Kisah Di Bawah Langit Turky

Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhory dari Mudzakkiraat Sultan Murad IV.

Di dalam buku hariannya Sulthon Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kekalutan yang luar biasa, ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya.

Sultan berkata kepada kepala pengawal, “Mari kita keluar sejenak”. Diantara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan dimalam hari dengan cara menyamar.

Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka disebuah lorong yang sangat sempit. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah.

Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun setiap orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya.

Sultanpun memanggil mereka, mereka tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan. Mereka bertanya, “Apa yang kau inginkan? Sultan menjawab, “Mengapa orang ini meningal, tapi tidak ada satu pun diantara kalian yang mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Dimana keluarganya?” Mereka berkata, “Orang ini Zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina”. Sultan menimpali, “Tapi, bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam? Ayo angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya”. Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya.

Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.

Dalam tangisnya sang istri berucap, “Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang sholeh”. Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget, “Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah, sementara orang-orang mengatakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya?”

Sang istri menjawab, “Sudah kuduga pasti akan begini. Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu di bawa ke rumah, lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata, “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin”.

Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata, “Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi”. Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku, “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam”.

Orang-orang pun hanya menyaksikannya selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir.

Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku, “Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu”. Ia hanya tertawa dan berkata, “Jangan takut, bila aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya”.

Maka Sultan Murad pun menangis dan berkata, “Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, mensholatinya dan menguburkannya”.

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para Ulama, para Masyaikh dan seluruh masyarakat.

Tidak Sepatutnya Merasa Lebih Dari Yang Lain

Di tengah perjalanan malamnya, Al-Imam Abu Yazid al-Busthami bertemu dengan seekor anjing. Dengan sigap, diangkatlah gamisnya, dengan maksud agar tidak terkena najisnya.

Spontan anjing tersebut berhenti & memandang Abu Yazid. Atas kuasa Allah, Abu Yazid mendengar anjing tersebut berbicara, kepadanya, “Wahai Yazid, tubuhku ini kering, tidak akan menimbulkan najis kepadamu. Jika pun terkena najisku, engkau tinggal membasuhnya 7x, dengan air dan tanah. Maka najisku akan hilang, namun jika engkau angkat gamismu, karena berbaju manusia, merasa lebih mulia & menganggap aku hina, maka najis di dalam hatimu, tidak akan mampu terhapus, walau kau bersihkan dengan air dari 7 samudera.”

Abu Yazid terkejut mendengar perkataan anjing tersebut. Dia menunduk malu, dan segera meminta maaf kepada si anjing. Diajaknya anjing tersebut bersahabat & mengikuti perjalanannya, namun anjing tersebut menolak. Kemudian anjing itu berkata, “Engkau tak mungkin bersahabat & berjalan dengan aku, karena orang-orang yang memuliakanmu, akan mencemooh kamu & melempari aku dengan batu. Aku juga tidak tahu mengapa, mereka menganggap aku hina, padahal aku telah berserah diri, kepada pencipta-Ku atas wujud ini. Lihatlah, tidak ada yang aku bawa, bahkan sepotong tulang sebagai bekalku saja tidak. Sementara engkau masih membawa bekal sekantong gandum.” Kemudian anjing tersebut berlalu.

Dari jauh Abu Yazid memandangi anjing tersebut, berjalan meninggalkannya. Tidak terasa air mata Abu Yazid menetes, dan ia berkata dalam hati, “Ya Rabb, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-Mu saja, aku merasa tidak pantas. Bagaimana aku bisa pantas berjalan dengan-Mu? Ampunilah aku. Sucikanlah najis di dalam qalbuku ini.”

Jangan pernah merasa lebih baik, mulia dan terhormat pada ciptaan Allah, karena Allah melihat hatimu, bukan penampilanmu.

Pakaian Lebaran Dari Surga

Diriwayatkan pada masa kecil menjelang lebaran. Al Hasan dan Al Husain AS tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran, sedangkan hari raya sebentar lagi datang. Mereka bertanya kepada ibunya,
“Wahai ummah anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian lebaran kecuali kami, mengapa bunda tidak menghiasi kami?”
Sayyidah Fathimah RA menjawab, “Sesungguhnya baju kalian berada di tukang jahit.”

Ketika malam hari raya tiba, mereka berdua mengulangi pertanyaan yang sama, Sayyidah Fathimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu. Ketika malam tiba, ada yang mengetuk pintu rumah, lalu Sayyidah Fathimah bertanya, “Siapa?” Orang itu menjawab, “Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit, aku datang membawa hadiah pakaian untuk putra-putramu.”

Maka Beliau pun membuka pintu, tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah, lalu diberikan kepada Sayyidah Fathimah RA. Kemudian Beliau membuka bingkisan tersebut, ternyata didalamnya terdapat 2 gamis, 2 celana, 2 mantel, 2 sorban serta 2 pasang sepatu hitam yang semuanya sangat indah. Lalu Sayyidah Fathimah membangunkan kedua putra kesayangannya lalu memakaikan hadiah tersebut kepada mereka.

Kemudian ketika Rasulullah SAW datang dan melihat keduanya sudah dihiasi dari semua hadiah yang terdapat dalam bingkisan tersebut. Kemudian Rasulullah SAW menggendong kedua cucunya dan menciumi mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang. Rasulullah SAW bertanya kepada Sayyidah Fathimah SAW,
“Apakah engkau melihat tukang jahit tersebut?”
Sayyidah Fathimah RA menjawab, “Iya, aku melihatnya.”
Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan penjaga surga.”

Bahkan para penghuni langit dan bumi pun berbahagia jika kedua cucu Rasulullah SAW bahagia.

Kecintaan Ba Misbah Pada Ahlul Bait

Kecintaan dan Penghormatan Ba Misbah Sebuah Kisah Begitu Mencintai Dzurriyah Rasulullah SAW.

Suatu hari Sayidina Abdullah bin Syeikh Alaydrus duduk mengobrol dengan para sahabatnya. Tiba-tiba beliau bertanya, “Adakah dermawan yang lebih murah hati daripada aku?” Dua kali pertanyaan ini diajukan, tetapi semua diam, tidak ada seorang pun yang berani menjawab. Namun, kemudian ada salah seorang dari mereka berkata,

“Ya sayyidiy, ada yang lebih murah hati daripada engkau.”

“Siapa dia?”

“Dia tak begitu dikenal.”

“Kau harus memberitahukan siapa orang itu. Tak ada alasan untuk menyembunyikannya dariku.”

“Dia adalah seorang lelaki lemah bernama Ba Misbah, tinggal di Kholif. Dia lebih murah hati daripada engkau.”

“Apa pekerjaan laki-laki ini?”

“Hanya pelantun adzan di masjid”

Setelah hari malam, Habib Abdullah menyamar sebagai wanita, lalu pergi
ke rumah Ba Misbah di Kholif. Sesampainya di sana, beliau mengetuk pintu rumah
Ba Misbah.

“Siapa…?” tanya Ba Misbah.

“Aku seorang syarifah alawiyah. Aku butuh sesuatu darimu.”

Dengan perasaan senang, ia segera keluar menemui beliau.

“Selamat datang wahai Syarifah, segala puji syukur bagi Allah yang telah memilih kami untuk memenuhi kebutuhanmu”, katanya setelah membuka pintu. Malam itu kebetulan adalah malam Idul Adha. “Ya Sayyidatiy, apakah kebutuhanmu, mintalah semua yang kau butuhkan. Hamba akan patuh kepadamu”, kata Ba Misbah.

“Aku adalah seorang syarifah yang miskin. Anakku banyak. Aku tidak memiliki ayah, saudara maupun suami. Besok hari raya, tapi kami tak memiliki apa-apa.”

“Marhaba…Permintaan yang mudah bagi pelayanmu ini. Lalu apa yang kau inginkan?”

“Aku butuh makanan dan beras.”

“Siap!” ia lalu memberikan dua karung makanan dan dua karung beras.

Habib Abdullah tidak membawa barang itu pulang ke rumah, tapi beliau pergi ke belakang rumah Ba Misbah, lalu meletakkan makanan dan beras tersebut di sana. Beliau menunggu hingga Ba Misbah naik ke tingkat paling atas dari rumahnya. Setelah merasa yakin bahwa Ba Misbah telah tidur, beliau kembali ke rumah Ba Misbah, mengetuk pintunya.

“Siapa?” tanya Ba Misbah.

“Hababahmu, Syarifah yang tadi datang ke sini. Aku masih ada kebutuhan yang lupa kusampaikan kepadamu.”

“Selamat datang Sayyidatiy, puji syukur bagi Allah yang telah memilih aku untuk memenuhi kebutuhanmu. Ini sebuah nikmat yang agung.” Ia segera menemui Habib Abdullah dengan perasaan senang dan bahagia. “Ya Sayyidatiy, mintalah apa yang kau perlukan, aku adalah abdimu, milikmu”, katanya setelah membuka pintu.

“Aku lupa, kami berempat di rumah tidak memiliki pakaian. Aku butuh pakaian.”

“Siap!” ia lalu mengambilkan 4 pakaian yang telah dicelup dan bergambar. Pakaian-pakaian itu berkualitas tinggi, dan pakaian terbaik bagi wanita zaman itu adalah yang bergambar.

Habib Abdullah membawa pakaian tersebut ke belakang rumah Ba Misbah dan meletakkannya di tempat yang sama. Beliau mulai takjub dengan kebaikan akhlak Ba
Misbah. Sebab, meski diganggu di malam hari, ia tidak merasa susah dan jengkel. Setelah merasa yakin bahwa Ba Misbah telah tidur pulas, Habib Abdullah kembali ke rumah Ba Misbah untuk yang ke tiga kalinya. Beliau mengetuk pintu rumahnya. Ba Misbah segera bangun dan bertanya,

“Siapakah yang di luar?”

“Hababahmu, syarifah yang tadi datang ke sini. Aku lupa, masih ada satu
kebutuhan lagi yang belum kusampaikan kepadamu.”

“Selamat datang,segala puji bagi Allah yang telah memilihku untuk memenuhi kebutuhanmu”, Ba Misbah segera keluar menemui Habib Abdullah dengan perasaan lebih senang dan bahagia dari sebelumya. Ia membukakan pintu seakan-akan Habib Abdullah baru pertama kali datang ke rumahnya. “Ya Sayyidatiy, wahai penyejuk hatiku, mintalah apa yang engkau butuhkan, pelayanmu ini akan selalu patuh. Apa gerangan kebutuhamu sekarang?”

“Aku butuh minyak zaitun, minyak samin, korma dan asidah.”

“Marhaba, setiap kali kau butuh sesuatu mintalah kepadaku”, Ba Misbah segera mengambilkan satu kantong minyak zaitun, satu kantong minyak samin, satu wadah korma. “Ya sayyidatiy, ambillah barang-barang ini. Maafkan aku telah meyusahkanmu lantaran engkau lupa menyebutkan semua kebutuhanmu. Jika masih ada yang terlupa, kembalilah kemari. Kedatanganmu ke rumahku ini merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah padaku.”

Habib Abdullah mengambil semua pemberiannya, lalu pergi ke belakang rumah Ba Misbah. Habib Abdullah takjub melihat kebaikan akhlak Ba Misbah dan mukanya tidak berubah. Beberapa saat kemudian, setelah beliau yakin bahwa Ba Misbah telah tidur pulas, beliau kembali mengetuk pintu rumahnya. Beliau ingin melihat sifat buruknya, atau perubahan wajah Ba Misbah.

Ba misbah segera bangun dari tidurnya dan bertanya,”Siapa itu?”

“Hababahmu, syarifah yang tadi datang ke sini. Masih ada keperluanku yang terlupakan. Cepatlah kemari.”

Ba Misbah segera keluar dengan perasaan senang dan bahagia, seakan-akan baru pertama kali syarifah itu mengetuk pintu rumahnya. “Selamat datang sayyidatiy, penyejuk hatiku. Segala puji bagi Allah yang telah mengistimewakanku dengan
bolak-baliknya engkau ke rumahku. Mintalah apa yang kau butuhkan. Aku adalah
abdi dan pelayanmu. Dan memenuhi semua kebutuhanmu adalah puncak cita-citaku.”

“Masih ada kebutuhan yang terlupakan olehku.”

“Apa itu? Semua yang engkau butuhkan akan kusediakan. Jika tidak ada di sini, aku akan menjual diriku untuk membeli barang yang kau butuhkan.”

“Aku butuh daging untuk hari raya besok. Besok hari raya, tapi kami tidak memiliki sesuatu pun.”

“Demi Allah, di rumah pelayanmu ini tidak ada sesuatu pun kecuali satu kepala kambing untuk hari raya anak-anaknya”, kata Ba Misbah sambil memegang janggutnya, “Akan tetapi tidaklah benar jika anak-anak orang yang kopiahnya bau ini menikmati hari raya, sementara anak cucu Rasulullah SAW tidak berhari raya. Ambillah kepala kambing ini dan berhari rayalah dengan anak-anakmu.”

Habib Abdullah membawa kepala kambing itu dan kembali meletakkannya di belakang rumah Ba Misbah. Habib Abdullah terheran-heran menyaksikan akhlak Ba Misbah. Beliau berkata dalam hatinya, “Hanya seorang arifbillah saja yang akhlaknya seperti ini. Laki-laki ini sedikit pun tidak melihat basyariah seseorang.”

Habib Abdullah diam di sana beberapa saat. Setelah merasa yakin bahwa Ba Misbah telah tidur pulas, ia segera kembali ke rumah Ba Misbah untuk yang ke lima kalinya. Beliau ingin melihat sedikit saja perubahan dari sikap Ba Misbah, walaupun hanya sekedar perubahan raut wajah. Beliau kembali mengetuk pintu rumah Ba Misbah.

“Siapa itu?”

“Hababahmu, syarifah yang tadi datang ke sini. Aku teringat satu lagi kebutuhanku.”

“Selamat datang wahai cucu Rasulullah. Kenikmatan apa gerangan yang
diberikan Allah kepadaku di malam ini? Segala puji syukur bagi-Nya.” Ia segera keluar dengan perasaan senang dan bahagia seakan-akan baru pertama kali syarifah tersebut datang ke rumahnya. “Selamat datang Ya sayyidatiy, dan penyejuk hatiku.
Mintalah semua yang kau butuhkan. Aku adalah abdi dan pelayanmu. Aku patuh kepadamu.”

“Aku butuh kayu.”

“Marhaba.” Ia memanggil pembantunya, meminta kayu. “Wahai hababahku, wahai pelipur hatiku, inilah kayu yang kau butuhkan. Setiap kali kau ingat suatu kebutuhan, kembalilah ke sini. Sebab, melayanimu merupakan salah satu pendekatan diri yang paling baik kepada Allah.”

Habib Abdullah membawa kayu itu, lalu meletakkannya di tempat yang sama. Beliau kagum menyaksikan kebaikan akhlak Ba Misbah dan kelapangan hatinya. Tak sehelai rambut pun bergerak, tak sedikit pun raut wajah berubah. Beliau duduk sejenak hingga benar-benar yakin bahwa Ba Misbah telah pulas dalam tidurnya. Beliau kembali mengetuk pintu rumahnya untuk yang ke enam kali. Dalam hati, beliau berkata, “Mungkin kali ini raut wajahnya akan berubah, atau ia akan mulai menghina dan berkata kasar.”

Ba Misbah segera bangun dan bertanya, “Siapa yang mengetuk pintu?”

“Hababahmu, syarifah yang tadi ke sini. Masih ada satu kebutuhanku yang baru kuingat sekarang.”

“Marhaba…Wahai hababahku, tuanku dan penyejuk hatiku.” Ba Misbah keluar dengan perasaan lebih senang dan bahagia dari sebelumnya. Sekan-akan baru pertama kalinya syarifah itu mengetuk pintu rumahnya. “Alhamdulillaah, kenikmatan agung apa yang sedang diberikan Allah kepadaku ini. Aku tidak berhak menerima kenikmatan ini. Mintalah apa yang kau butuhkan. Wahai sayyidatiy, setiap kali kau ingat sesuatu, datanglah ke sini. Aku adalah abdi dan pelayanmu. Aku akan patuh kepadamu.”

“Aku butuh seseorang untuk membawakan semua yang kau berikan kepadaku. Lihatlah, semua yang kau berikan kuletakkan di belakang rumahmu. Aku tidak kuat membawanya ke rumahku.”

“Beres! Kami akan mengantarkan barang-barang itu ke mana pun engkau suka” Ia kemudian membangunkan isteri, anak dan pembantunya. Mereka semua kemudian diperintahkannya membawa barang-barang syarifah tadi. “Ya sayyidatiy, jalanlah lebih dahulu, agar kami dapat mengikutimu”, kata Ba Misbah.

Habib Abdullah berjalan di depan mereka. Ketika sampai di Nuwaidiroh, Habib Abdullah berhenti dan berkata, “Wah, aku datang bukan dari rumahku, dan aku tidak kenal jalan ini, kecuali kalau aku memulai lagi dari rumah kalian. Mari kita kembali.”

“Marhaba.”

Mereka semua kembali ke rumah Ba Misbah. Setelah sampai di sana, Habib Abdullah berkata, “Sekarang aku ingat jalan menuju rumahku. Inilah jalannya. “Jalanlah di muka, agar kami dapat mengikutimu.” Beliau berjalan di depan, dan mereka semua mengikutinya. Sesampainya di Nuwaidiroh, beliau berhenti. “Aku kehilangan arah lagi. Apakah gerangan yang terjadi? Aku tidak dapat mengingat jalan menuju rumahku, kecuali jika kita mulai lagi dari rumah kalian. Mari kita balik ke sana.”

Mereka pun dengan senang hati kembali ke rumah Ba Misbah. Habib Abdullah telah menguji Ba Misbah sampai pada puncaknya. Beliau ingin melihat lelaki itu marah, namun sedikit pun sikapnya tidak berubah hingga Habib Abdullah sendiri merasa kelelahan. Fajar mulai menyingsing, Habib Abdullah berkata kepada mereka, “Sekarang telah masuk waktu fajar. Bukalah pintu rumah kalian, aku ingin menunaikan salat Subuh di rumah kalian.”

“Selamat datang. Salatmu di rumah ini adalah nikmat terbesar bagi kami. Setiap kali kau meminta sesuatu kepada pembantumu ini, ia akan menyediakannya untukmu. Meskipun kau minta semua yang ada di rumahnya, ia akan memberikannya kepadamu. Dan engkau sesungguhnya telah bermurah hati kepada kami, karena telah mengistimewakan aku untuk memenuhi kebutuhanmu.”

Ba Misbah lalu membuka pintu rumahnya. Setelah memasuki rumah, Habib Abdullah membuka cadar yang menutupi wajahnya dan berkata kepada Ba Misbah, “Sungguh beruntung kamu, sungguh beruntung, kuucapkan selamat atas akhlakmu yang luhur ini. Demi Allah, kau seorang dermawan sejati, lebih murah hati dariku. Aku bukanlah seorang wanita. Aku adalah Abdullah bin Syeikh Alaydrus. Tidak ada seorang manusia pun akan mampu berperilaku dengan akhlak yang luhur ini.”

Air mata Habib Abdullah menetes di pipi, ia berkata, “Selamat…selamat…selamat… Maafkanlah aku. Semoga Allah menambah apa yang telah Ia berikan kepadamu, dan menjadikan budi pekerti kita seperti budi pekertimu.” Setelah berpamitan, Habib Abdullah lalu pergi sambil memuji dan mendoakannya.

Pada keesokan subuh Baa Misbah keluar hendak melantunkan adzan, dan terlihat dua orang berpakaian serba putih penuh kemilau cahaya di pintu masjid, maka Baa Misbah bertanya..
“Siapakah saudara berdua?”
“Kami musafir dan ingin singgah sholat.”
“Marhabaa..marilah kita masuk, karena aku akan mengumandangkan adzan.”

Mereka pun masuk ke dalam masjid, setelah adzan maka di tunggulah para jama’ah tidak ada yang datang, seolah warga kampung terlelap dalam tidur, sehingga kedua musafir mengatakan, “Apakah tidak masuk waktu tasryik jika engkau tetap menunggu warga, sedangkan kami adalah cukup untuk sholat bersamamu? Maka Baa Misbah pun melantunkan iqomat, dan salah satu musafir menjadi imam sholat, setelah selesai sholat musafir yang duduk di belakang imam berkata,

“Wahai hamba Allah, tahukah engkau siapa yang menjadi imam kita?
“Siapakah dia wahai hamba Allah?”
“Dia adalah Rosulillah dan aku adalah Bilal Ibnu Rabbah.”

Seketika Baa Misbah terkejut dan pucat wajahnya, beliau langsung menciumi wajah dan sekujur tubuh Rosulillah sambil terisak isak menunjukkan kerinduan yang selama ini tidak pernah terwujudkan. Maka rosulillah berkata, “Wahai Ba Misbah aku mendatangimu karena kecintaanmu pada anak cucuku, maka aku dan Bilal akan mendatangimu kembali di saat akhir ajalmu.” Kemudian kedua musafir yang tidak lain adalah Baginda Mustofa dan Bilal Ibnu Rabbah keluar masjid.

Darimana Rasul-Rasul Berasal?

USIA PARA RASUL

Sahabat Nabi Yang Gagal Miskin

Suatu ketika Rasulullah SAW berkata, Abdurrahman bin Auf RA akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.

Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf RA pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. Abdurrahman bin Auf RA pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur, Alhamdulillah, kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf.

Sahabat gembira, Abdurrahman bin Auf RA pun gembira. Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku. Abdurrahman bin Auf RA gembira juga, sebab berharap jatuh miskin!

Abdurrahman bin Auf RA merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, karena sudah miskin. Namun, Subhanallah, rencana Allah itu memang yang terbaik.

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk. Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular dan obat yang bisa menyembuhkannya adalah kurma busuk!

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf RA dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Allahuakbar, orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah: “Wahai manusia, di langit ada rezeki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian.” (QS. Adz Dzariat:22)

Jadi, yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk? Allah SWT lah yang Memberi Rezeki.

Ibroh dari kisah ini sangat spesial buat kita, sebab ini membuat kita harus yakin bahwa rezeki itu totally dari Allah, bukan hanya karena usaha kita itu sudah cukup bagus atau produk kita yang terbaik yang akan memberi kita omzet yang banyak. Kadang-kadang, keyakinan dalam hati kita itu yang belum cukup kuat dan bulat.

Jaminan Hutang Dan Mimpi Rasulullah

Syeikh Husna Syarif, seorang ulama besar di Mesir bercerita tentang seorang yang terbelit banyak hutang di tengah kubangan kemiskinannya.

Dulunya dia adalah orang yang sangat kaya raya namun jatuh bangkrut sampai terbelit hutang sana sini. Setiap hari, rumahnya penuh dengan orang yang menagih hutang. Akhirnya ia terpaksa pergi menjumpai seorang saudagar kaya dan meminjam uang sebanyak 500 dinar. 

Saking terkenalnya dia sudah banyak hutang sampai-sampai saudagar ini bertanya,

“Kira-kira kapan anda akan melunasi pinjaman ini?”

“Minggu depan tuan.” Jawabnya singkat.

Ia pun berhasil meminjam hutang lalu pulang dengan 500 dinar di genggamannya. Uang itu segera dia bayarkan kepada orang-orang yang setiap hari datang menagih hutang kepadanya sampai 500 dinar yang ia peroleh itu tidak tersisa sama sekali.

Hari demi hari ia bertambah sulit dan terpuruk kondisi ekonominya hingga tempo pembayaran hutangnya pun tiba. Saudagar mendatangi rumah si miskin dan mengatakan, “Tempo hutang anda telah tiba.”

Dengan suara lirih dia menjawab, “Demi Allah saya sedang tak berhasil mendapatkan apa-apa untuk membayar. Tapi sungguh saya terus berusaha untuk melunasi.”

Saudagar merasa geram lalu mengadukannya ke pengadilan, dan membawanya ke hakim. Di pengadilan, Hakim bertanya, “Mengapa anda tidak membayar hutang anda?”

Dia menjawab, “Demi Allah saya tidak memiliki apa-apa tuan.”

Karena merasa ini adalah kesalahan si miskin maka hakim memvonisnya dengan hukuman penjara sampai ia bisa melunasi hutangnya. Kemudian si miskin bangkit dan berkata, “Wahai tuan Hakim, berilah saya waktu untuk hari ini saja. Saya hendak pulang ke rumah untuk berjumpa keluarga dan mengabarkan hukuman ini sekalian berpamitan dengan mereka, kemudian saya akan langsung kembali untuk menjalani hukuman penjara.”

Hakim, “Bagaimana mungkin, apa jaminannya kau akan kembali besok?”
Lelaki itu terdiam, tapi seolah mendapat ilham di benaknya. “Rasulullah SAW jaminanku, wahai tuan hakim, bersaksilah untukku jika besok aku tidak kembali maka aku bukanlah termasuk umat Rasulullah SAW.”

Sang Hakim tersentak diam, ia sadar betapa bahayanya jaminan itu jika si miskin bohong. Hakim berfikir sejenak lalu memilih untuk percaya demi Rasulullah SAW. Hukuman pun ditunda sampai besok.

Sesampainya di rumah, si miskin mengabarkan kondisinya kepada istrinya bahwa esok akan dipenjara.
Istrinya bertanya, “Kok sekarang engkau bisa bebas?”
“Aku menaruh nama Rasulullah SAW sebagai jaminanku.”
Air hangat menetes dari mata istrinya seraya ia berkata pada suaminya, “Jika nama Rasulullah SAW yang menjadi jaminan bagimu maka mari kita bershalawat.”

Dan mereka pun bershalawat kepada Rasulullah SAW dengan rasa cinta dan ketulusan yang mendalam hingga mereka tertidur.

Tiba-tiba dalam tidurnya mereka bermimpi melihat Rasulullah SAW. Beliau memanggil nama si miskin seraya berkata, “Hai fulan jika telah terbit fajar pergilah ke tempat Alim fulan. Sampaikan salamku padanya dan mintalah supaya ia menyelesaikan hutang piutangmu. Jika Alim itu tidak percaya maka sampaikan 2 bukti ini; ‘Katakan padanya bahwa di malam pertama ia sudah membaca shalawat untukku 1000 kali dan di malam terakhir dia telah ragu dalam jumlah bilangan shalawat yang dibacanya. Sampaikan padanya bahwa ia telah menyempurnakan shalawatnya.”

Seketika si miskin terbangun dan terkejut. Tanpa ragu setelah subuh ia pergi menuju rumah sang Alim dan berjumpa dengannya. Tanpa buang waktu si miskin menyampaikan mimpinya, “Wahai tuan, Rasulullah SAW telah menitipkan salam untukmu dan meminta agar engkau sudi menyelesaikan hutang piutangku.”

Alim bertanya, “Apa bukti dari kebenaran mimpimu itu?”

“Kata baginda Nabi, di malam pertama engkau telah bershalawat sebanyak 1000 kali dan di malam kedua anda tertidur dalam keadaan ragu dengan jumlah bilangan shalawat yang telah anda baca. Rasulullah SAW mengatakan bahwa hitungan shalawat anda telah sempurna dan shalawat anda telah diterima olehnya.”

Mendengar itu, Alim itu spontan menangis karena berita gembira shalawatnya diterima Rasulallah SAW. Maka alim tersebut memberi uang 500 dinar dari baitul mal untuk melunasi hutang si miskin dan 2500 dari harta pribadinya untuk si miskin sebagai tanda terima kasih atas berita gembira yang disampaikan.”

Dengan dana itu si miskin langsung bergegas pergi ke Hakim untuk menyelesaikan perkaranya. Sesampainya di pengadilan, si Hakim bangkit dari kursinya menyambut si miskin seakan sudah rindu. Dengan senyum lebar sang Hakim memanggilnya seraya berkata, “Kemarilah, berkat kamu aku mimpi berjumpa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW telah berpesan kepadaku bahwa jika aku menyelesaikan hutangmu maka kelak Rasulullah SAW akan menyelesaikan perkaraku di akhirat. Ini uang 500 dinar untuk lunasi hutang-hutangmu.”

Belum juga Hakim selesai bicara, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk. Ketika dibuka, ternyata saudagar penagih hutang. Dia langsung memeluk si miskin dan menciumnya sembari berucap, “Berkat anda saya mimpi berjumpa Rasulullah. Beliau berkata padaku jika aku merelakan hutangmu maka kelak di hari kiamat, Rasulullah SAW akan merelakan segala tanggunganku dan ini uang 500 dinar hadiah untuk anda dan hutangmu lunas.”

“Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya bersalawat kepada Nabi (Muhammad S.A.W) maka wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya.” (QS. Al Ahzab: 56)