5 Keinginan, 5 Tips

Ada 5 perkara, kita semua pasti inginkan serta berusaha untuk mendapatkannya:

1. Wajah yang menarik

2. Uang yang banyak

3. Sehat dan kuat

4. Anak-anak yang patuh dan sukses

5. Tidur nyenyak tanpa obat penenang

 

Hal itu mudah kita peroleh, hanya butuh waktu 15 menit saja. Bagaimana caranya?

Rasulullah SAW bersabda:

1. Siapa yang tinggalkan Shalat Subuh, maka wajahnya tak akan ada cahaya

2. Siapa yang tinggalkan Shalat Dzuhur, niscaya tak ada keberkahan dalam rezekinya

3. Siapa yang tinggalkan Shalat Ashar, niscaya tak ada kekuatan dalam jasadnya

4. Siapa yang tinggalkan Shalat Maghrib, niscaya tak ada buah hasil yang boleh di petik dari anak-anaknya

5. Siapa yang tinggalkan Shalat Isya, tak ada kenyamanan dalam tidurnya

Tahu kenapa kalimat Laa ilaaha illallaah tidak sampai menggerakkan bibir jika diucapkan?

Sebab ini adalah Rahmat dari Allah kepada kita supaya jika maut menghampiri dengan mudah ia menyebutkan kalimat itu.

Cara Mudah Menghafal Al Qur’an

Berikut ini adalah delapan hal yang insyaAllah membuat kita merasa nikmat menghafal Al-Qur’an. Tips ini kami dapatkan dari Ustadz Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan. Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.

Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau.

“Ustadz, menghafal di tempat antum tu berapa lama untuk bisa khatam?”

“Seumur hidup”, jawab Ust. Dede santai.

Meski bingung, Ibu itu tanya lagi, “Targetnya, Ustadz?”

“Targetnya husnul khotimah, mati dalam keadaan punya hafalan.”

“Mmm…kalo pencapaiannya, Ustadz?”, Ibu itu terus bertanya.

“Pencapaiannya adalah dekat dengan Allah!”, kata Ust. Deden tegas.

Menggelitik, tapi sarat makna. Prinsip beliau: cepat hafal  itu datangnya dari Allah, ingin cepat hafal (bisa jadi) datangnya dari syaitan.

Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu satu jam per hari khusus untuk Al-Qur’an. Kapanpun itu, yang penting durasi satu jam.

Mau tahu lebih lanjut? Yuk, kita pelajari 8 prinsip dari beliau:

1. MENGHAFAL TIDAK HARUS HAFAL

Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda-beda pada tiap orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs, yang mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya, yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan hanya untuk menghafal.

2. BUKAN UNTUK DIBURU-BURU, BUKAN UNTUK DITUNDA-TUNDA

Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah waktu khusus untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini. Saat dimana kita bercengkrama dengan Allah, satu jam lho. Masa untuk urusan duniawi delapan jam betah? . Inget, satu huruf melahirkan sepuluh pahala bukan?

So, jangan buru-buru. Tapi ingat, juga bukan untuk ditunda-tunda. Habiskan saja durasi menghafal secara pas.

3. MENGHAFAL BUKAN UNTUK KHATAM, TAPI UNTUK SETIA BERSAMA QUR’AN.

Kondisi hati yang tepat dalam menghafal adalah bersyukur, bukan bersabar. Tapi kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar”, ya kan? Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam). Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan sebagai beban. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang? Setialah bersama Al-Qur’an.

4. SENANG DIRINDUKAN AYAT

Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, sebenarnya ayat itu lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya. Bisa jadi ayat itu adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal. Senanglah jadi orang yang dirindukan ayat.

5. MENGHAFAL SESUAP-SESUAP

Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake centong nasi bikin muntah karena terlalu banyak. Menghafal-pun demikian. Jika “’amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “’amma” diulang-ulang. Jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “’anin nabail ‘adzhim” kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

6. FOKUS PADA PERBEDAAN, ABAIKAN PERSAMAAN

“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka jika ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.

7. MENGUTAMAKAN DURASI

Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada durasi, bukan pada jumlah ayat yang akan dihafal. Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan satu jam kita pada Allah. Syukur-syukur bisa lebih dari satu jam. Satu jam itu gak sampe 5% dari total waktu kita dalam sehari loh!

8. PASTIKAN AYATNYA BERTAJWID

Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yang terlanjur kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya). Jangan dibiasakan otodidak dalam hal apapun yang berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.

NOTE:

Setiap point dari 1 – 8 saling terkait.

Semoga bermanfaat, niat kami hanya ingin berbagi. Mungkin ini bisa jadi solusi bagi teman-teman yang merasa tertekan, bosan, bahkan capek dalam menghafal.

Kami yakin ada yang tidak setuju dengan uraian di atas. Pro-kontra hal yang wajar karena setiap kepala punya pikiran dan setiap hati punya perasaan. Oh ya, bagi penghafal pemula jangan lama-lama berkutat dalam mencari metode menghafal yang cocok dan pas. Dewasa ini banyak buku ataupun modul tentang menghafal Al-Qur’an dengan beragam judulnya yang marketable. Percayalah, satu metode itu untuk satu orang. Si A cocok dengan metode X, belum tentu demikian dengan si B, karena si B cocok dengan metode Y. Yakini saja sepenuhnya dalam hati bahwa menghafal itu peneladanan pada sunnah Nabi SAW, bukan pada penerapan suatu metode.

Satu lagi seringkali teman kita menakut-nakuti, “Jangan ngafal. Awas lho, kalo lupa dosa besar”. Hey, yang dosa itu melupakan, bukan lupa. Imam masjidil Harom pernah lupa sehingga dia salah ketika membaca ayat, apakah dia berdosa besar?

4 Hal Yang Disembunyikan Allah

Oleh Habib Novel bin Muhammad Alaydrus.

Kalam Al-Imam Ja’far As-Shodiq RA:

Allah menyembunyikan empat hal di dalam empat hal:

1. Allah menyembunyikan ridho-Nya di dalam ketaatan, maka jangan engkau remehkan amal kebaikan sekecil apa pun itu. Karena siapa tahu, Allah memberikan ridho-Nya karena amal tersebut.

2. Allah menyembunyikan murka-Nya di dalam dosa kemaksiatan, maka jangan engkau remehkan kemaksiatan sekecil apa pun. Karena siapa tahu, Allah akan murka kepadamu karena kemaksiatan tersebut.

3. Allah menyembunyikan pengabulan doa di dalam lisan hamba-Nya, maka jangan remehkan doa dari siapa pun doa itu berasal. Karena engkau tidak tahu, dari lisan siapa Allah akan menjawab doa dan permohonanmu.

4. Allah menyembunyikan wali-Nya di dalam diri hamba-Nya, maka jangan kau remehkan setiap orang yang kau temui. Karena siapa tahu, dia adalah salah satu wali Allah yang mulia.

Membuat Anak Agar Rajin Sholat

Anak anda tidak mau sholat? Atau mereka sampai membuat anda capek saat mengingatkan untuk sholat?

Bagaimana membuat anak-anak anda sholat dengan kesadaran mereka sendiri tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan?

Salah seorang akhwat berkisah, “Aku akan menceritakan satu kisah yg terjadi padaku. Saat itu, anak perempuanku duduk di kelas 5 SD. Sholat baginya adalah hal yg sangat berat, sampai-sampai suatu hari aku berkata kepadanya: “Bangun!! Sholat!”, dan aku mengawasinya. Aku melihatnya mengambil sajadah, kemudian melemparkannya ke lantai. Kemudian ia mendatangiku.

Aku bertanya kepadanya, “Apakah kamu sudah sholat?” Ia menjawab, “Sudah.” Kemudian aku menamparnya.  Aku tahu aku salah tetapi kondisinya memang benar-benar sulit, aku menangis. Aku benar-benar marah padanya, aku rendahkan dia dan aku menakut-nakutinya akan siksa Allah. Tapi, ternyata semua kata-kataku itu tidak ada manfaatnya.

Suatu hari, seorang sahabatku bercerita suatu kisah. Suatu ketika ia berkunjung kerumah seorang kerabat dekatnya (seorang yg biasa-biasa saja dari segi agama), tapi ketika datang waktu sholat, semua anak-anaknya langsung bersegera melaksanakan sholat tanpa diperintah.

Ia berkata, “Aku berkata padanya, ‘Bagaimana anak-anakmu bisa sholat dengan kesadaran mereka tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah, aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa sejak jauh sebelum aku menikah aku selalu memanjatkan doa ini, dan sampai saat ini pun aku masih tetap berdoa dengan doa tersebut.’ Setelah aku mendengarkan nasehatnya, aku selalu tanpa henti berdoa dengan doa ini, dalam sujudku, saat sebelum salam, ketika Witir dan di setiap waktu-waktu mustajab. Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, anakku saat ini telah duduk di bangku SMA. Sejak aku memulai berdoa dengan doa itu, anakkulah yg rajin membangunkan kami dan mengingatkan kami untuk sholat. Dan adik-adiknya, Alhamdulillah, mereka semua selalu menjaga sholat. Sampai-sampai saat ibuku berkunjung dan menginap di rumah kami, ia tercengang melihat anak perempuanku bangun pagi, kemudian membangunkan kami satu persatu untuk sholat. Aku tahu anda semua penasaran ingin mengetahui doa apakah itu? Doa ini ada di QS. Ibrahim: 40, yang artinya:

Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat. Ya Robb kami, perkenankanlah doaku.

Ya, doa. Sebagaimana anda semua tahu bahwa doa adalah senjata seorang mukmin.”

11 Kebiasaan Cara Didik Anak Para Salaf Bani ‘Alawi

Oleh Sayyid Muhammad Abdullah Muhammad Alhaddar (Ribat Alhaddar Yemen)

  1. Ibu ketika menyusui sambil membaca Ayat Kursi, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas dan mengulang-ulang bacaan.
  2. Pertama kali yang diajarkan ke anak ketika baru bisa bicara: “Rodiina billahi robba wa bil islami diina wa bil muhammadin nabiyya.” Artinya: Aku ridho Allah sebagai Tuhanku dan Islam agamaku dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rosulku.
  3. Mengajak keluar anak-anak kecil ketika waktu malam yang terakhir (sebelum subuh) ke masjid agar menjadi kebiasaan.
  4. Sebelum memasuki bulan-bulan berkah seperti Ramadhan, mereka mengumpulkan anak-anak mereka dan bertanya kepada mereka, “Apa amalan yg akan kalian kerjakan di bulan yg berkah ini?” Seperti membaca Al Qur’an, dzikir, sedekah, dll.
  5. Mereka mengajari anak-anak mereka niat-niat yang baik sebagaimana mengajari mereka surat Al Fateha.
  6. Mereka mengadakan majelis ilmu di rumah dan berkumpul semua yang di rumah harian atau mingguan, mereka membaca sedikit dari Al Qur’an (tadarus) dan kitab hadist dan fiqih. Mereka menutup majelis dengan doa dan solawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  7. Ketika masuk baligh anak mereka, mereka memberi tahu anaknya kalau sudah Mukallaf dan sekarang dua Malaikat akan mencatat kebaikan dan kejelekan dan menulis ucapan dan perbuatannya, dan hal itu diadakan perayaan yang dihadiri ulama’.
  8. Mereka tidak menunda pernikahan anak-anak mereka setelah baligh, karena khawatir terjerumus kepada kemaksiatan.
  9. Mereka mengajari anak-anak dengan berdoa memohon kepada Allah dalam setiap keadaan, maka apabila anaknya ingin sesuatu dari orangtuanya, mereka berkata kepada anaknya wudhu’lah, sholat 2 rokaat dan mintalah kepada Allah hajat-hajatmu. Setelah Sholat, orangtua memberikan yang anak minta seraya berkata, “Sungguh Allah yang mengabulkan doamu”.
  10. Mereka membagi tugas kepada setiap anak, ada yang tugas belanja ke pasar, ada yang menyapu rumah, ada yang tugas melayani tamu dan mengambil air, dll.
  11. Mereka lebih banyak memperhatikan pembelajaran putri-putri mereka daripada yang laki-laki karena anak perempuan tidak keluar rumah.

Nasehat Luqman Al Hakim

Satu-satunya manusia yang bukan Nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur’an adalah Luqman Al Hakim. Kenapa? Tak lain adalah karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hidup:

“Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran & kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang pulalah ketulusan & kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir.

“Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar & menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya & menikmatinya.”

“Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan (pesta berlebihan). Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.”

“Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku jg sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.”

“Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.”

“Anakku, aku sudah mengalami penderitaan & bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang.”

“Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para Nabi. Kalimat itu adalah:

  1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik
  2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu
  3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu
  4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu
  5. Ingatlah Allah selalu
  6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu
  7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain
  8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu”

Rahasia Kebahagiaan

Oleh Syech Asy Syinqithi

Wejangan Syech Asy Syinqithi pada anaknya:

Wahai ananda, ulangi terus membaca Alquran, jangan sampai melupakannya. Pada hari kiamat kelak akan ada acara penghargaan yang tidak sama dengan acara-acara di dunia. Oleh karena itu jangan sampai salah, padahal sudah disampaikan kepadamu “Bacalah, naiklah dan tartilkanlah.. ”

Duduklah bersama ulama dengan akalmu.

Duduklah bersama pemimpin dengan ilmumu.

Duduklah bersama teman dengan etikamu.

Duduklah bersama keluarga dengan kelembutanmu.

Duduklah bersama orang bodoh dengan kemurahan hatimu.

Jadilah teman Allah dengan mengingat-Nya.

Jadilah teman bagi dirimu sendiri dengan nasihatmu‎.

‎Tidak usah bersedih jika di dunia tidak ada yang menghargai kebaikanmu, karena di langit ada yang mengapresiasinya.

Kehidupan kita itu ibarat bunga mawar, disamping memiliki keindahan yang membuat kita bahagia, juga memiliki duri yang membuat kita tersakiti‎.

‎Apa yang ditetapkan bagimu niscaya akan mendatangimu, meskipun kamu tidak ada daya.

Sebaliknya apa yang bukan milikmu, kamu tidak akan mampu meraihnya dengan kekuatanmu.

Tidak seorangpun yang memliki sifat sempurna selain Allah, oleh karena itu berhentilah dari menggali aib orang lain.

Kesadaran itu pada akal, bukan pada usia. Umur hanyalah bilangan harimu, sedangkan akal adalah hasil pemahaman dan kerelaanmu terhadap kehidupanmu.

Berlemah lembutlah ketika bicara dengan orang lain, setiap orang merasakan derita hidupnya masing-masing, sedangkan kamu tidak mengetahuinya.

Peran Ibu Mempengaruhi Kesuksesan Anak

 

Jika kau menjadi seorang ibu, jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya.

Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.

Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain. Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.

Jika kau menjadi seorang ibu, jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.

Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.

Jika kau menjadi seorang ibu, jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya.

Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya :

“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaan-Mu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna”.

Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i.

Jika kau menjadi seorang ibu, jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman.

Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. Ia berkata pada anaknya, “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram”.

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah Imam Masjidil haram”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi Imam Masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.

Jika kau menjadi seorang ibu, jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses. Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu, seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu.

Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri. Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia. Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.

Cara Bersalaman Dan Cium Tangan

Oleh Ustadzah Halimah Alaydrus

1. Cara bersalaman yang benar:

  • Bagian pangkal dari jempol dan telunjuk, antara 2 orang yang bersalaman, harus menyatu. Karena disana terletak urat yang sampai ke hati.
  • Bersalaman adalah hal yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Karena “Salaman kalian akan menghilangkan kekesalan”.
  • Kemudian letakkan telapak tangan yang bersalaman tadi ke bibir lalu hati/dada.
  • Tidak berlaku untuk salaman yang bukan mahromnya.

2. Letakkan telapak atas tangan yang akan dicium ke bibir kita. Bukan ke jidat, bukan ke pipi, bukan pula ke hidung.

Cara Mendoakan Anak

Oleh Ustadzah Halimah Alaydrus

  1. Jangan mendoakan buruk pada anak, seperti mengeluarkan sumpah serapah. Bila anak berlaku yang tidak kita inginkan, cukup bilang: “Allah yah dik” = semoga engkau mendapat hidayah.
  1. Doakan selalu anak untuk hal-hal yang baik. Karena doa orang tua itu mustajab.
  1. Dikisahkan ada seorang ibu yang sedang mengandung anaknya, jika berdoa: “Ya Allah jika anak yang dikandung ini membawa kemudharatan, maka kembalikan lagi dia pada-Mu”. Dan jika pada saat lahir anak tersebut meninggal, maka orang tersebut walau bersedih, tapi tetap berkata “Alhamdulilah ‘ala kuli hal”.
  1. Titipkan anak kita pada Allah sebagai sebaik-baiknya penjagaan. Dengan cara:
    • Setiap anak akan pergi keluar rumah, biasakan agar dia membaca doa: “Bismillahi Amantu billah tawakaltu allallah laa haula wa laa quata illa billahil ‘aliyyil adzim”.
    • Kemudian orang tua berdoa: “Istauda’ tukallah” (untuk anak laki-laki) atau “Istauda’ tukillah” (untuk anak perempuan) = aku menitipkanmu pada Allah.
    • Anak menjawab: “Qobiltul wada’ah” = saya terima penitipan itu.
    • Cium anak di kening, tengah-tengah dua belah mata, dan sebaliknya dari anak ke orang tua.
  1. Ritual yang biasa dicontohkan oleh Ustadzah Halimah dari ayahnya, yaitu Sebelum berangkat sekolah, ayahnya meletakkan tangannya diubun-ubun Ustadzah Halimah dan berdoa: “Barokallahu fik”, lalu meniup ubun-ubunnya 3x. Agar senantiasa jadi anak yang selalu beruntung, pintar & selamat.