Mengharap Keberkahanmu Kyai

Oleh Habib Muhammad Husein Al Habsyi.

Beredarnya sebuah video yang memperlihatkan santri sedang mengalap berkah cangkir Romo Kyai Maimun Zubair, lalu dikritik seakan yang seperti itu dianggap tidak ada berkahnya. Maka tulisan dibawah ini akan menjawabnya.

Secara harfiah, berkah berarti bertambah dan berkembang. Dalam terminologi bahasa, berkah berarti bertambahnya kebaikan. Jadi tabaruk atau yang biasa kita namakan ngalap berkah adalah mengharap tambahan kebaikan dari Allah dengan perantara ruang, waktu, makhluk hidup dan bahkan benda mati.

Dari pengertian ini kita tahu bahwa tabaruk pada dasarnya adalah salah satu bentuk pengagungan kepada Allah dengan cara mengagungkan sesuatu yang dijadikan Allah sebagai sesuatu yang agung.

Mereka yang menghukumi tabaruk sebagai hal yang dilarang atau bahkan syirik, benar-benar telah mengada-ngada dalam hukum syariat, karena tabaruk adalah salah satu nilai yang diajarkan dalam agama Islam dan bukan hal baru. Generasi sahabat dan para salaf telah menjalani tradisi ini. Dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah, kita bisa melihat bagaimana para sahabat begitu antusias untuk mendapatkan tetesan wudhu Baginda Nabi. Untuk apa kalau bukan untuk mencari berkah dari air yang menyentuh tubuh beliau. Beliau tak pernah sekali pun melarang perbuatan itu. Ini menunjukkan bahwa berkah itu sesungguhnya ada, dan bisa diraih melalui orang-orang yang sangat dekat dengan Allah.

  • Tabarruk para sahabat dengan rambut Rasulullah

Sahabat Anas menceritakan bagaimana para sahabat bertbarruk dengan rambut Rasulullah:

عن أَنَسٍ قال لقد رأيت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالْحَلَّاقُ يَحْلِقُهُ وَأَطَافَ بِهِ أَصْحَابُهُ فما يُرِيدُونَ أَنْ تَقَعَ شَعْرَةٌ إلا في يَدِ رَجُلٍ ، رواه مسلم وكذا رواه احمد والبيهقي في السنن الكبرى

“Aku melihat tukang cukur sedang mencukur Rasulullah dan para sahabat mengitarinya. Tidaklah mereka kehendaki satu helai pun dari rambut beliau terjatuh kecuali telah berada di tangan seseorang.” (HR. Muslim, Ahmad dan Baihaqi)

أَنَّ خَالِدَ بن الْوَلِيدِ فَقَدَ قَلَنْسُوَةً لَهُ يَوْمَ الْيَرْمُوكِ ، فَقَالَ : اطْلُبُوهَا فَلَمْ يَجِدُوها ، فَقَالَ : اطْلُبُوهَا ، فَوَجَدُوهَا فَإِذَا هِي قَلَنْسُوَةٌ خَلَقَةٌ ، فَقَالَ خَالِدٌ : اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَلَقَ رَأْسَهُ ، فَابْتَدَرَ النَّاسُ جَوَانِبَ شَعْرِهِ ، فَسَبَقْتُهُمْ إِلَى نَاصِيَتِهِ فَجَعَلْتُهَا فِي هَذِهِ الْقَلَنْسُوَةِ ، فَلَمْ أَشْهَدْ قِتَالا وَهِيَ مَعِي إِلا رُزِقْتُ النَّصْرَ.

Bahwa Khalid bin Walid kehilangan kopyah ketika peperangan Yarmuk, lalu berkata: “Carilah!” Namun tidak ditemukan, dia meminta untuk mencarinya lagi, dan ternyata didapati berupa kopyah usang, lalu Khalid berkata: “Sewaktu Rasulullah SAW umrah, beliau mencukur rambut kepalanya, maka orang-orang berebut rambut beliau, dan aku bisa mendahului dan mendapat rambut ubun-ubun beliau. Lalu kutaruh rambut itu di kopyah ini. Tidaklah aku menghadiri peperangan dengan membawa kopyah ini kecuali pasti aku menang.“ (HR. Al Hakim dan Thabrani)

  • Tabarruk dengan bekas air wudhu’ Rasulullah

Aun bin Abi juhaifah menceritakan dari ayahnya para sahabat yang bertabarruk dengan air sisa wudhu’ Rasulullah:
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي قُبَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ وَرَأَيْتُ بِلَالًا أَخَذَ وَضُوءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ يَبْتَدِرُونَ الْوَضُوءَ فَمَنْ أَصَابَ مِنْهُ شَيْئًا تَمَسَّحَ بِهِ وَمَنْ لَمْ يُصِبْ مِنْهُ شَيْئًا أَخَذَ مِنْ بَلَلِ يَدِ صَاحِبِهِ ، رواه البخاري ومسلم واحمد

“Aku mendatangi Rasulullah sewaktu beliau ada di kubah hamra’ dari Adam, aku juga melihat Bilal membawa air bekas wudhu’ Rasulullah dan orang-orang berebut mendapatkannya. Orang yang mendapatkannya air bekas wudhu’ itu mengusapkannya ke tubuhnya, sedangkan yang tidak mendapatkannya, mengambil dari tangan temannya yang basah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

  • Tabarruk dengan keringat Rasulullah

Dalam hadits lain juga dijelaskan bahwa para sahabat bertabarruk dengan keringat Rasulullah. Berkata Anas bin Malik:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يَدْخُلُ بَيْتَ أُمِّ سُلَيْمٍ فَيَنَامُ على فِرَاشِهَا وَلَيْسَتْ فيه قال فَجَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَامَ على فِرَاشِهَا فَأُتِيَتْ فَقِيلَ لها هذا النبي صلى الله عليه وسلم نَامَ في بَيْتِكِ على فِرَاشِكِ قال فَجَاءَتْ وقد عَرِقَ وَاسْتَنْقَعَ عَرَقُهُ على قِطْعَةِ أَدِيمٍ على الْفِرَاشِ فَفَتَحَتْ عَتِيدَتَهَا فَجَعَلَتْ تُنَشِّفُ ذلك الْعَرَقَ فَتَعْصِرُهُ في قَوَارِيرِهَا فَفَزِعَ النبي صلى الله عليه وسلم فقال ما تَصْنَعِينَ يا أُمَّ سُلَيْمٍ فقالت يا رَسُولَ اللَّهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا قال أَصَبْتِ ، رواه مسلم واحمد

“Rasulullah masuk rumah Umi Sulaim dan tidur di ranjangnya sewaktu Umi Sulaim tidak ada di rumah, lalu di hari yang lain Beliau datang lagi, lalu Umi Sulaim di beri kabar bahwa Rasulullah tidur di rumahnya di ranjangnya. Maka datanglah Umi Sulaim dan mendapati Nabi berkeringat hingga mengumpul di alas ranjang yang terbuat dari kulit, lalu Umi Sulaim membuka kotaknya dan mengelap keringat Nabi lalu memerasnya dan memasukkan keringat beliau ke dalam botol, Nabi pun terbangun: “Apa yang kau perbuat wahai Umi Sulaim”, tanyanya. “Ya Rasulullah, kami mengharapkan berkahnya untuk anak-anak kami,” jawab Umi Sulaim. Rasulullah berkata: “Engkau benar.” (HR. Muslim dan Ahmad)

  • Tabarruk para sahabat dengan cangkir Rasulullah

Hajjaj ibn Hassan berkata: “Kami berada di rumah Anas dan dia membawa sebuah wadah (cangkir Nabi) yang memiliki tiga tambalan besi, dan lingkaran dari besi. Dia (Anas) mengeluarkannya dari sebuah kantong hitam. Dia (Anas) menyuruh agar cangkir itu diisi air dan kami minum air dari situ dan menuangkan sedikit ke atas kepala kami dan juga ke muka kami dan mengirimkan shalawat kepada Nabi .” (HR. Ahmad, dan Ibn Katsir)
Asim berkata: “Aku melihat cangkir itu dan aku minum pula darinya.” (HR. Bukhari)

  • Tabarruk dengan jubah Rasulullah

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Sahihnya Bab alLibaas bahwa Asma binti Abu Bakr RA pernah menunjukkan pada Abdulah, bekas budaknya, jubah Rasulullah yang terbuat dari kain Persia dengan kain leher dari kain brokat, yang lengannya juga dibordir dengan kain brokat seraya berkata: “Ini adalah jubah Rasulullah saw yang disimpan Aisyah RA hingga wafatnya lalu aku menyimpannya. Nabi dulu biasa memakainya, dan kami mencucinya untuk orang yang sakit hingga mereka dapat sembuh karenanya.”

Imam Nawawi mengomentari hadits ini dalam Syarah Sahih Muslim : “Hadits ini adalah bukti dianjurkannya mencari barokah lewat bekas dari orang-orang saleh dan pakaian mereka.”

Dalam kitab yang sama Imam Nawawi menulis setidaknya11 kali anjuran untuk mencari berkah dari bekas orang orang saleh. Ini adalah dalil akurat bahwa tabarruk tidak terbatas pada masa hidup Rasulullah dan dianjurkan bertabarruk dengan orang-orang saleh.

Advertisements

Niat Puasa Ramadhan

Niat puasa khusus di malam pertama bulan Ramadhan, yakni dengan mengabungkan 2 niat, baca niat 2 kali.

1. Niat Puasa 1 Bulan Penuh

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ كُلِّهِ هَذِهِ السَّنَة لِلَّهِ تَعَالَى

“Saya niat berpuasa satu bulan Ramadhan penuh, di tahun ini karena Allah Ta’ala.“

2. Niat Puasa Esok Hari

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَة لِلَّهِ تَعَالَى

“Saya niat berpuasa besok di bulan romadhon tahun ini, karena Allah Ta’ala.”

Untuk hari-hari berikutnya niatlah seperti biasa (niat nomor 2).

Penggabungan niat sesuai tuntunan para salaf ini memiliki dua manfaat:

– Kalo kita lupa niat di malam harinya, maka puasa kita tetap sah, karena kita telah berniat mengikuti Imam Malik.

– Apabila ditakdirkan mati di pertengahan bulan Ramadhan, maka akan mendapatkan pahala puasa satu bulan penuh mengikuti pendapat Imam Malik.

Amalan Yang Membuat Allah Senang

Jangan bangga dengan banyak shalat, puasa dan zikir, karena itu belum tentu membuat Allah senang. 

Nabi Musa AS: “Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang? Sembayang kah?”

Allah: “Sholatmu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang. Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.

Nabi Musa AS: “Lalu apa yang membuat hati-Mu senang, Ya Allah?”

Allah: “Sedekah, infaq, zakat serta perbuatan baikmu terhadap sesama. Itulah yang membuat Aku senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, Aku hadir disampingnya. Dan Aku akan mengganti dengan ganjaran 700 kali.” (QS.Al-Baqarah: 261-262)

Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu, maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah.

Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain, maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya.

Ngetes Hati

Kajian Kitab Ihya’ Ulumiddin.
Oleh KH. Maimun Zubair.
 

Salah satu faedah berhubungan dengan masyarakat adalah adanya uji coba terhadap diri pribadi. Hal itu untuk menguji coba hati, akhlaq dan sifat-sifat batin yang tidak akan mungkin terjadi saat sendiri.

Orang yang terkena penyakit kudis, terkadang ia tidak mengetahui dan tidak merasa bahwa ia terkena penyakit kulit itu. Namun saat terkena gesekan dengan kain atau anggota tubuh lain, maka akan keluar nanah dari tubuh yang terkena penyakit kudis itu dan ia akan merasa sakit.

Begitu pula hati yang terkena berbagai penyakit, seperti sombong, mudah marah, iri hati, dengki serta penyakit yang lain, tidak akan terlihat penyakit yang bersemayam dalam hati saat ia sendiri. Namun saat ia berhubungan atau bahkan bergesekan dengan orang lain atau kepentingan orang lain, maka akan tampak isi sebenarnya yang ada dalam hatinya.

Oleh karena itu, orang yang akan membersihkan hatinya hendaknya menguji coba dengan berhubungan dengan orang lain, seperti yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu.

Saat ia merasa sombong, maka ia mengobati kesombongan itu dengan melakukan hal-hal yang dianggap remeh atau sepele pada keramaian, seperti membawa wadah air atau kayu bakar di atas kepala atau punggungnya pada khalayak ramai sehingga dilihat banyak orang.

Hal itu mereka lakukan untuk mengetahui penyakit yang tertanam dalam hatinya, karena penyakit hati dan godaan syetan adalah hal yang samar serta sedikit orang yang waspada terhadap kedua hal itu.

Diceritakan bahwa ada orang sholeh yang mengulangi sholat yang dilakukan selama beberapa tahun, padahal ia selalu melakukannya pada barisan pertama. Pada suatu hari ia tertinggal shalat berjamaah pada barisan pertama, sehingga ia shalat berjamaah pada barisan kedua. Saat itu ia merasa malu dilihat orang karena ia shalat pada barisan kedua.

Pada saat itu ia baru mengetahui dan sadar bahwa shalat berjamaah yang ia lakukan pada barisan pertama selama beberapa tahun, ternyata tercampur riya dan pamer, hatinya menikmati pandangan manusia atas dirinya serta menikmati anggapan dan i’tikad manusia bahwa ia termasuk golongan orang yang berlomba dan menjadi orang yang terdepan dalam kebaikan.

Dikatakan: Bepergian akan memperlihatkan budi pekerti aslinya. Karena bepergian merupakan salah satu bentuk dari berhubungan dan bercampur dengan manusia.

5 Keinginan, 5 Tips

Ada 5 perkara, kita semua pasti inginkan serta berusaha untuk mendapatkannya:

1. Wajah yang menarik

2. Uang yang banyak

3. Sehat dan kuat

4. Anak-anak yang patuh dan sukses

5. Tidur nyenyak tanpa obat penenang

 

Hal itu mudah kita peroleh, hanya butuh waktu 15 menit saja. Bagaimana caranya?

Rasulullah SAW bersabda:

1. Siapa yang tinggalkan Shalat Subuh, maka wajahnya tak akan ada cahaya

2. Siapa yang tinggalkan Shalat Dzuhur, niscaya tak ada keberkahan dalam rezekinya

3. Siapa yang tinggalkan Shalat Ashar, niscaya tak ada kekuatan dalam jasadnya

4. Siapa yang tinggalkan Shalat Maghrib, niscaya tak ada buah hasil yang boleh di petik dari anak-anaknya

5. Siapa yang tinggalkan Shalat Isya, tak ada kenyamanan dalam tidurnya

Tahu kenapa kalimat Laa ilaaha illallaah tidak sampai menggerakkan bibir jika diucapkan?

Sebab ini adalah Rahmat dari Allah kepada kita supaya jika maut menghampiri dengan mudah ia menyebutkan kalimat itu.

Cara Mudah Menghafal Al Qur’an

Berikut ini adalah delapan hal yang insyaAllah membuat kita merasa nikmat menghafal Al-Qur’an. Tips ini kami dapatkan dari Ustadz Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan. Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.

Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau.

“Ustadz, menghafal di tempat antum tu berapa lama untuk bisa khatam?”

“Seumur hidup”, jawab Ust. Dede santai.

Meski bingung, Ibu itu tanya lagi, “Targetnya, Ustadz?”

“Targetnya husnul khotimah, mati dalam keadaan punya hafalan.”

“Mmm…kalo pencapaiannya, Ustadz?”, Ibu itu terus bertanya.

“Pencapaiannya adalah dekat dengan Allah!”, kata Ust. Deden tegas.

Menggelitik, tapi sarat makna. Prinsip beliau: cepat hafal  itu datangnya dari Allah, ingin cepat hafal (bisa jadi) datangnya dari syaitan.

Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu satu jam per hari khusus untuk Al-Qur’an. Kapanpun itu, yang penting durasi satu jam.

Mau tahu lebih lanjut? Yuk, kita pelajari 8 prinsip dari beliau:

1. MENGHAFAL TIDAK HARUS HAFAL

Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda-beda pada tiap orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs, yang mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya, yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan hanya untuk menghafal.

2. BUKAN UNTUK DIBURU-BURU, BUKAN UNTUK DITUNDA-TUNDA

Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah waktu khusus untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini. Saat dimana kita bercengkrama dengan Allah, satu jam lho. Masa untuk urusan duniawi delapan jam betah? . Inget, satu huruf melahirkan sepuluh pahala bukan?

So, jangan buru-buru. Tapi ingat, juga bukan untuk ditunda-tunda. Habiskan saja durasi menghafal secara pas.

3. MENGHAFAL BUKAN UNTUK KHATAM, TAPI UNTUK SETIA BERSAMA QUR’AN.

Kondisi hati yang tepat dalam menghafal adalah bersyukur, bukan bersabar. Tapi kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar”, ya kan? Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam). Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan sebagai beban. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang? Setialah bersama Al-Qur’an.

4. SENANG DIRINDUKAN AYAT

Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, sebenarnya ayat itu lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya. Bisa jadi ayat itu adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal. Senanglah jadi orang yang dirindukan ayat.

5. MENGHAFAL SESUAP-SESUAP

Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake centong nasi bikin muntah karena terlalu banyak. Menghafal-pun demikian. Jika “’amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “’amma” diulang-ulang. Jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “’anin nabail ‘adzhim” kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

6. FOKUS PADA PERBEDAAN, ABAIKAN PERSAMAAN

“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka jika ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.

7. MENGUTAMAKAN DURASI

Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada durasi, bukan pada jumlah ayat yang akan dihafal. Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan satu jam kita pada Allah. Syukur-syukur bisa lebih dari satu jam. Satu jam itu gak sampe 5% dari total waktu kita dalam sehari loh!

8. PASTIKAN AYATNYA BERTAJWID

Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yang terlanjur kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya). Jangan dibiasakan otodidak dalam hal apapun yang berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.

NOTE:

Setiap point dari 1 – 8 saling terkait.

Semoga bermanfaat, niat kami hanya ingin berbagi. Mungkin ini bisa jadi solusi bagi teman-teman yang merasa tertekan, bosan, bahkan capek dalam menghafal.

Kami yakin ada yang tidak setuju dengan uraian di atas. Pro-kontra hal yang wajar karena setiap kepala punya pikiran dan setiap hati punya perasaan. Oh ya, bagi penghafal pemula jangan lama-lama berkutat dalam mencari metode menghafal yang cocok dan pas. Dewasa ini banyak buku ataupun modul tentang menghafal Al-Qur’an dengan beragam judulnya yang marketable. Percayalah, satu metode itu untuk satu orang. Si A cocok dengan metode X, belum tentu demikian dengan si B, karena si B cocok dengan metode Y. Yakini saja sepenuhnya dalam hati bahwa menghafal itu peneladanan pada sunnah Nabi SAW, bukan pada penerapan suatu metode.

Satu lagi seringkali teman kita menakut-nakuti, “Jangan ngafal. Awas lho, kalo lupa dosa besar”. Hey, yang dosa itu melupakan, bukan lupa. Imam masjidil Harom pernah lupa sehingga dia salah ketika membaca ayat, apakah dia berdosa besar?

4 Hal Yang Disembunyikan Allah

Oleh Habib Novel bin Muhammad Alaydrus.

Kalam Al-Imam Ja’far As-Shodiq RA:

Allah menyembunyikan empat hal di dalam empat hal:

1. Allah menyembunyikan ridho-Nya di dalam ketaatan, maka jangan engkau remehkan amal kebaikan sekecil apa pun itu. Karena siapa tahu, Allah memberikan ridho-Nya karena amal tersebut.

2. Allah menyembunyikan murka-Nya di dalam dosa kemaksiatan, maka jangan engkau remehkan kemaksiatan sekecil apa pun. Karena siapa tahu, Allah akan murka kepadamu karena kemaksiatan tersebut.

3. Allah menyembunyikan pengabulan doa di dalam lisan hamba-Nya, maka jangan remehkan doa dari siapa pun doa itu berasal. Karena engkau tidak tahu, dari lisan siapa Allah akan menjawab doa dan permohonanmu.

4. Allah menyembunyikan wali-Nya di dalam diri hamba-Nya, maka jangan kau remehkan setiap orang yang kau temui. Karena siapa tahu, dia adalah salah satu wali Allah yang mulia.

Membuat Anak Agar Rajin Sholat

Anak anda tidak mau sholat? Atau mereka sampai membuat anda capek saat mengingatkan untuk sholat?

Bagaimana membuat anak-anak anda sholat dengan kesadaran mereka sendiri tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan?

Salah seorang akhwat berkisah, “Aku akan menceritakan satu kisah yg terjadi padaku. Saat itu, anak perempuanku duduk di kelas 5 SD. Sholat baginya adalah hal yg sangat berat, sampai-sampai suatu hari aku berkata kepadanya: “Bangun!! Sholat!”, dan aku mengawasinya. Aku melihatnya mengambil sajadah, kemudian melemparkannya ke lantai. Kemudian ia mendatangiku.

Aku bertanya kepadanya, “Apakah kamu sudah sholat?” Ia menjawab, “Sudah.” Kemudian aku menamparnya.  Aku tahu aku salah tetapi kondisinya memang benar-benar sulit, aku menangis. Aku benar-benar marah padanya, aku rendahkan dia dan aku menakut-nakutinya akan siksa Allah. Tapi, ternyata semua kata-kataku itu tidak ada manfaatnya.

Suatu hari, seorang sahabatku bercerita suatu kisah. Suatu ketika ia berkunjung kerumah seorang kerabat dekatnya (seorang yg biasa-biasa saja dari segi agama), tapi ketika datang waktu sholat, semua anak-anaknya langsung bersegera melaksanakan sholat tanpa diperintah.

Ia berkata, “Aku berkata padanya, ‘Bagaimana anak-anakmu bisa sholat dengan kesadaran mereka tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah, aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa sejak jauh sebelum aku menikah aku selalu memanjatkan doa ini, dan sampai saat ini pun aku masih tetap berdoa dengan doa tersebut.’ Setelah aku mendengarkan nasehatnya, aku selalu tanpa henti berdoa dengan doa ini, dalam sujudku, saat sebelum salam, ketika Witir dan di setiap waktu-waktu mustajab. Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, anakku saat ini telah duduk di bangku SMA. Sejak aku memulai berdoa dengan doa itu, anakkulah yg rajin membangunkan kami dan mengingatkan kami untuk sholat. Dan adik-adiknya, Alhamdulillah, mereka semua selalu menjaga sholat. Sampai-sampai saat ibuku berkunjung dan menginap di rumah kami, ia tercengang melihat anak perempuanku bangun pagi, kemudian membangunkan kami satu persatu untuk sholat. Aku tahu anda semua penasaran ingin mengetahui doa apakah itu? Doa ini ada di QS. Ibrahim: 40, yang artinya:

Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat. Ya Robb kami, perkenankanlah doaku.

Ya, doa. Sebagaimana anda semua tahu bahwa doa adalah senjata seorang mukmin.”

11 Kebiasaan Cara Didik Anak Para Salaf Bani ‘Alawi

Oleh Sayyid Muhammad Abdullah Muhammad Alhaddar (Ribat Alhaddar Yemen)

  1. Ibu ketika menyusui sambil membaca Ayat Kursi, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas dan mengulang-ulang bacaan.
  2. Pertama kali yang diajarkan ke anak ketika baru bisa bicara: “Rodiina billahi robba wa bil islami diina wa bil muhammadin nabiyya.” Artinya: Aku ridho Allah sebagai Tuhanku dan Islam agamaku dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rosulku.
  3. Mengajak keluar anak-anak kecil ketika waktu malam yang terakhir (sebelum subuh) ke masjid agar menjadi kebiasaan.
  4. Sebelum memasuki bulan-bulan berkah seperti Ramadhan, mereka mengumpulkan anak-anak mereka dan bertanya kepada mereka, “Apa amalan yg akan kalian kerjakan di bulan yg berkah ini?” Seperti membaca Al Qur’an, dzikir, sedekah, dll.
  5. Mereka mengajari anak-anak mereka niat-niat yang baik sebagaimana mengajari mereka surat Al Fateha.
  6. Mereka mengadakan majelis ilmu di rumah dan berkumpul semua yang di rumah harian atau mingguan, mereka membaca sedikit dari Al Qur’an (tadarus) dan kitab hadist dan fiqih. Mereka menutup majelis dengan doa dan solawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  7. Ketika masuk baligh anak mereka, mereka memberi tahu anaknya kalau sudah Mukallaf dan sekarang dua Malaikat akan mencatat kebaikan dan kejelekan dan menulis ucapan dan perbuatannya, dan hal itu diadakan perayaan yang dihadiri ulama’.
  8. Mereka tidak menunda pernikahan anak-anak mereka setelah baligh, karena khawatir terjerumus kepada kemaksiatan.
  9. Mereka mengajari anak-anak dengan berdoa memohon kepada Allah dalam setiap keadaan, maka apabila anaknya ingin sesuatu dari orangtuanya, mereka berkata kepada anaknya wudhu’lah, sholat 2 rokaat dan mintalah kepada Allah hajat-hajatmu. Setelah Sholat, orangtua memberikan yang anak minta seraya berkata, “Sungguh Allah yang mengabulkan doamu”.
  10. Mereka membagi tugas kepada setiap anak, ada yang tugas belanja ke pasar, ada yang menyapu rumah, ada yang tugas melayani tamu dan mengambil air, dll.
  11. Mereka lebih banyak memperhatikan pembelajaran putri-putri mereka daripada yang laki-laki karena anak perempuan tidak keluar rumah.

Nasehat Luqman Al Hakim

Satu-satunya manusia yang bukan Nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur’an adalah Luqman Al Hakim. Kenapa? Tak lain adalah karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hidup:

“Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran & kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang pulalah ketulusan & kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir.

“Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar & menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya & menikmatinya.”

“Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan (pesta berlebihan). Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.”

“Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku jg sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.”

“Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.”

“Anakku, aku sudah mengalami penderitaan & bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang.”

“Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para Nabi. Kalimat itu adalah:

  1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik
  2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu
  3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu
  4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu
  5. Ingatlah Allah selalu
  6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu
  7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain
  8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu”