Cara Mudah Menghafal Al Qur’an

Berikut ini adalah delapan hal yang insyaAllah membuat kita merasa nikmat menghafal Al-Qur’an. Tips ini kami dapatkan dari Ustadz Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan. Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.

Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau.

“Ustadz, menghafal di tempat antum tu berapa lama untuk bisa khatam?”

“Seumur hidup”, jawab Ust. Dede santai.

Meski bingung, Ibu itu tanya lagi, “Targetnya, Ustadz?”

“Targetnya husnul khotimah, mati dalam keadaan punya hafalan.”

“Mmm…kalo pencapaiannya, Ustadz?”, Ibu itu terus bertanya.

“Pencapaiannya adalah dekat dengan Allah!”, kata Ust. Deden tegas.

Menggelitik, tapi sarat makna. Prinsip beliau: cepat hafal  itu datangnya dari Allah, ingin cepat hafal (bisa jadi) datangnya dari syaitan.

Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu satu jam per hari khusus untuk Al-Qur’an. Kapanpun itu, yang penting durasi satu jam.

Mau tahu lebih lanjut? Yuk, kita pelajari 8 prinsip dari beliau:

1. MENGHAFAL TIDAK HARUS HAFAL

Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda-beda pada tiap orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs, yang mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya, yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan hanya untuk menghafal.

2. BUKAN UNTUK DIBURU-BURU, BUKAN UNTUK DITUNDA-TUNDA

Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah waktu khusus untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini. Saat dimana kita bercengkrama dengan Allah, satu jam lho. Masa untuk urusan duniawi delapan jam betah? . Inget, satu huruf melahirkan sepuluh pahala bukan?

So, jangan buru-buru. Tapi ingat, juga bukan untuk ditunda-tunda. Habiskan saja durasi menghafal secara pas.

3. MENGHAFAL BUKAN UNTUK KHATAM, TAPI UNTUK SETIA BERSAMA QUR’AN.

Kondisi hati yang tepat dalam menghafal adalah bersyukur, bukan bersabar. Tapi kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar”, ya kan? Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam). Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan sebagai beban. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang? Setialah bersama Al-Qur’an.

4. SENANG DIRINDUKAN AYAT

Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, sebenarnya ayat itu lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya. Bisa jadi ayat itu adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal. Senanglah jadi orang yang dirindukan ayat.

5. MENGHAFAL SESUAP-SESUAP

Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake centong nasi bikin muntah karena terlalu banyak. Menghafal-pun demikian. Jika “’amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “’amma” diulang-ulang. Jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “’anin nabail ‘adzhim” kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

6. FOKUS PADA PERBEDAAN, ABAIKAN PERSAMAAN

“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka jika ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.

7. MENGUTAMAKAN DURASI

Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada durasi, bukan pada jumlah ayat yang akan dihafal. Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan satu jam kita pada Allah. Syukur-syukur bisa lebih dari satu jam. Satu jam itu gak sampe 5% dari total waktu kita dalam sehari loh!

8. PASTIKAN AYATNYA BERTAJWID

Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yang terlanjur kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya). Jangan dibiasakan otodidak dalam hal apapun yang berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.

NOTE:

Setiap point dari 1 – 8 saling terkait.

Semoga bermanfaat, niat kami hanya ingin berbagi. Mungkin ini bisa jadi solusi bagi teman-teman yang merasa tertekan, bosan, bahkan capek dalam menghafal.

Kami yakin ada yang tidak setuju dengan uraian di atas. Pro-kontra hal yang wajar karena setiap kepala punya pikiran dan setiap hati punya perasaan. Oh ya, bagi penghafal pemula jangan lama-lama berkutat dalam mencari metode menghafal yang cocok dan pas. Dewasa ini banyak buku ataupun modul tentang menghafal Al-Qur’an dengan beragam judulnya yang marketable. Percayalah, satu metode itu untuk satu orang. Si A cocok dengan metode X, belum tentu demikian dengan si B, karena si B cocok dengan metode Y. Yakini saja sepenuhnya dalam hati bahwa menghafal itu peneladanan pada sunnah Nabi SAW, bukan pada penerapan suatu metode.

Satu lagi seringkali teman kita menakut-nakuti, “Jangan ngafal. Awas lho, kalo lupa dosa besar”. Hey, yang dosa itu melupakan, bukan lupa. Imam masjidil Harom pernah lupa sehingga dia salah ketika membaca ayat, apakah dia berdosa besar?

Perhitungan Nilai Wanita Terbaik

Al Khawarizmi adalah seorang ahli matematika muslim pertama yang menyatakan:

Jika seorang wanita solehah dan beragama = 1

Jika dia cantik, ditambah 0 pada 1 = 10

Jika dia kaya, tambah lagi 0 = 100

Jika dia dari keluarga baik-baik, tambah lagi 0 = 1000

Tetapi, jika 1 tidak ada, maka yang tersisa hanya 0

313 Pejuang Perang Badar 17 Ramadhan

  1. Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w.
  2. Abu Bakar as-Shiddiq r.a.
  3. Umar bin al-Khattab r.a.
  4. Utsman bin Affan r.a.
  5. Ali bin Abu Tholib r.a.
  6. Talhah bin ‘Ubaidillah r.a.
  7. Bilal bin Rabbah r.a.
  8. Hamzah bin Abdul Muttolib r.a.
  9. Abdullah bin Jahsyi r.a.
  10. Al-Zubair bin al-Awwam r.a.
  11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim r.a.
  12. Abdur Rahman bin ‘Auf r.a.
  13. Abdullah bin Mas’ud r.a.
  14. Sa’ad bin Abi Waqqas r.a.
  15. Abu Kabsyah al-Faris r.a.
  16. Anasah al-Habsyi r.a.
  17. Zaid bin Harithah al-Kalbi r.a.
  18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi r.a.
  19. Abu Marthad al-Ghanawi r.a.
  20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
  21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
  22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
  23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib r.a.
  24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah r.a.
  25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) r.a.
  26. Salim (maula Abu Huzaifah) r.a.
  27. Sinan bin Muhsin r.a.
  28. ‘Ukasyah bin Muhsin r.a.
  29. Sinan bin Abi Sinan r.a.
  30. Abu Sinan bin Muhsin r.a.
  31. Syuja’ bin Wahab r.a.
  32. ‘Utbah bin Wahab r.a.
  33. Yazid bin Ruqais r.a.
  34. Muhriz bin Nadhlah r.a.
  35. Rabi’ah bin Aksam r.a.
  36. Thaqfu bin Amir r.a.
  37. Malik bin Amir r.a.
  38. Mudlij bin Amir r.a.
  39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i r.a.
  40. ‘Utbah bin Ghazwan r.a.
  41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) r.a.
  42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi r.a.
  43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) r.a.
  44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah r.a.
  45. Umair bin Abi Waqqas r.a.
  46. Al-Miqdad bin ‘Amru r.a.
  47. Mas’ud bin Rabi’ah r.a.
  48. Zus Syimalain Amru bin Amru r.a.
  49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi r.a.
  50. Amir bin Fuhairah r.a.
  51. Suhaib bin Sinan r.a.
  52. Abu Salamah bin Abdul Asad r.a.
  53. Syammas bin Uthman r.a.
  54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a.
  55. Ammar bin Yasir r.a.
  56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i r.a.
  57. Zaid bin al-Khattab r.a.
  58. Amru bin Suraqah r.a.
  59. Abdullah bin Suraqah r.a.
  60. Sa’id bin Zaid bin Amru r.a.
  61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) r.a.
  62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi r.a.
  63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
  64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
  65. Amir bin Rabi’ah r.a.
  66. Amir bin al-Bukair r.a.
  67. Aqil bin al-Bukair r.a.
  68. Khalid bin al-Bukair r.a.
  69. Iyas bin al-Bukair r.a.
  70. Uthman bin Maz’un r.a.
  71. Qudamah bin Maz’un r.a.
  72. Abdullah bin Maz’un r.a.
  73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un r.a.
  74. Ma’mar bin al-Harith r.a.
  75. Khunais bin Huzafah r.a.
  76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm r.a.
  77. Abdullah bin Makhramah r.a.
  78. Abdullah bin Suhail bin Amru r.a.
  79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah r.a.
  80. Hatib bin Amru r.a.
  81. Umair bin Auf r.a.
  82. Sa’ad bin Khaulah r.a.
  83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah r.a.
  84. Amru bin al-Harith r.a.
  85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah r.a.
  86. Safwan bin Wahab r.a.
  87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah r.a.
  88. Sa’ad bin Muaz r.a.
  89. Amru bin Muaz r.a.
  90. Al-Harith bin Aus r.a.
  91. Al-Harith bin Anas r.a.
  92. Sa’ad bin Zaid bin Malik r.a.
  93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi r.a.
  94. ‘Ubbad bin Waqsyi r.a.
  95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi r.a.
  96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz r.a.
  97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi r.a.
  98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj r.a.
  99. Salamah bin Aslam bin Harisy r.a.
  100. Abul Haitham bin al-Tayyihan r.a.
  101. ‘Ubaid bin Tayyihan r.a.
  102. Abdullah bin Sahl r.a.
  103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid r.a.
  104. Ubaid bin Aus r.a.
  105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd r.a.
  106. Mu’attib bin ‘Ubaid r.a.
  107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi r.a.
  108. Mas’ud bin Sa’ad r.a.
  109. Abu Absi Jabr bin Amru r.a.
  110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi r.a.
  111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah r.a.
  112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail r.a.
  113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid r.a.
  114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar r.a.
  115. Sahl bin Hunaif bin Wahib r.a.
  116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir r.a.
  117. Mubasyir bin Abdul Munzir r.a.
  118. Rifa’ah bin Abdul Munzir r.a.
  119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man r.a.
  120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy r.a.
  121. Rafi’ bin Anjadah r.a.
  122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid r.a.
  123. Tha’labah bin Hatib r.a.
  124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah r.a.
  125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi r.a.
  126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi r.a.
  127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi r.a.
  128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi r.a.
  129. Asim bin Adi al-Ba’lawi r.a.
  130. Jubr bin ‘Atik r.a.
  131. Malik bin Numailah al-Muzani r.a.
  132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi r.a.
  133. Abdullah bin Jubair r.a.
  134. Asim bin Qais bin Thabit r.a.
  135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
  136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
  137. Salim bin Amir bin Thabit r.a.
  138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah r.a.
  139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man r.a.
  140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah r.a.
  141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah r.a.
  142. Sa’ad bin Khaithamah r.a.
  143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah r.a.
  144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) r.a.
  145. Al-Harith bin Arfajah r.a.
  146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair r.a.
  147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru r.a.
  148. Abdullah bin Rawahah r.a.
  149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah r.a.
  150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
  151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
  152. Subai bin Qais bin ‘Isyah r.a.
  153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah r.a.
  154. Abdullah bin Abbas r.a.
  155. Yazid bin al-Harith bin Qais r.a.
  156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah r.a.
  157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah r.a.
  158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah r.a.
  159. Sufyan bin Bisyr bin Amru r.a.
  160. Tamim bin Ya’ar bin Qais r.a.
  161. Abdullah bin Umair r.a.
  162. Zaid bin al-Marini bin Qais r.a.
  163. Abdullah bin ‘Urfutah r.a.
  164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais r.a.
  165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai r.a.
  166. Aus bin Khauli bin Abdullah r.a.
  167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru r.a.
  168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah r.a.
  169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid r.a.
  170. Amir bin Salamah r.a.
  171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad r.a.
  172. Amir bin al-Bukair r.a.
  173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah r.a.
  174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan r.a.
  175. ‘Ubadah bin al-Somit r.a.
  176. Aus bin al-Somit r.a.
  177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah r.a.
  178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus r.a.
  179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah r.a.
  180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam r.a.
  181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam r.a.
  182. Amru bin Iyas r.a.
  183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru r.a.
  184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy r.a.
  185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
  186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
  187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid r.a.
  188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah r.a.
  189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais r.a.
  190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah r.a.
  191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan r.a.
  192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus r.a.
  193. Ka’ab bin Humar al-Juhani r.a.
  194. Dhamrah bin Amru r.a.
  195. Ziyad bin Amru r.a.
  196. Basbas bin Amru r.a.
  197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi r.a.
  198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru r.a.
  199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh r.a.
  200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh r.a.
  201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) r.a.
  202. Abdullah bin Amru bin Haram r.a.
  203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
  204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
  205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh r.a.
  206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid r.a.
  207. Hubaib bin Aswad r.a.
  208. Thabit bin al-Jiz’i r.a.
  209. Umair bin al-Harith bin Labdah r.a.
  210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur r.a.
  211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ r.a.
  212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ r.a.
  213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais r.a.
  214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr r.a.
  215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr r.a.
  216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
  217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
  218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr r.a.
  219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr r.a.
  220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah r.a.
  221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid r.a.
  222. Sawad bin Razni bin Zaid r.a.
  223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
  224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
  225. Abdullah bin Abdi Manaf r.a.
  226. Jab

ir bin Abdullah bin Riab r.a.

  1. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man r.a.
  2. An-Nu’man bin Yasar r.a.
  3. Abu al-Munzir Yazid bin Amir r.a.
  4. Qutbah bin Amir bin Hadidah r.a.
  5. Sulaim bin Amru bin Hadidah r.a.
  6. Antarah (maula Qutbah bin Amir) r.a.
  7. Abbas bin Amir bin Adi r.a.
  8. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad r.a.
  9. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais r.a.
  10. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah r.a.
  11. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus r.a.
  12. Qais bin Mihshan bin Khalid r.a.
  13. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid r.a.
  14. Jubair bin Iyas bin Khalid r.a.
  15. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman r.a.
  16. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah r.a.
  17. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid r.a.
  18. As’ad bin Yazid bin al-Fakih r.a.
  19. Al-Fakih bin Bisyr r.a.
  20. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah r.a.
  21. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
  22. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
  23. Mas’ud bin Qais bin Khaladah r.a.
  24. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
  25. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
  26. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan r.a.
  27. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah r.a.
  28. Khalid bin Qais bin al-Ajalan r.a.
  29. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid r.a.
  30. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir r.a.
  31. Khalifah bin Adi bin Amru r.a.
  32. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan r.a.
  33. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari r.a.
  34. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man r.a.
  35. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid r.a.
  36. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza r.a.
  37. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru r.a.
  38. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani r.a.
  39. Mas’ud bin Aus bin Zaid r.a.
  40. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid r.a.
  41. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid r.a.
  42. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
  43. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
  44. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
  45. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah r.a.
  46. Abdullah bin Qais bin Khalid r.a.
  47. Wadi’ah bin Amru al-Juhani r.a.
  48. Ishmah al-Asyja’i r.a.
  49. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi r.a.
  50. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man r.a.
  51. Tha’labah bin Amru bin Mihshan r.a.
  52. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru r.a.
  53. Ubai bin Ka’ab bin Qais r.a.
  54. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais r.a.
  55. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram r.a.
  56. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit r.a.
  57. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl r.a.
  58. Abu Syeikh Ubai bin Thabit r.a.
  59. Harithah bin Suraqah bin al-Harith r.a.
  60. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi r.a.
  61. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik r.a.
  62. Abu Salit bin Usairah bin Amru r.a.
  63. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik r.a.
  64. Amir bin Umaiyyah bin Zaid r.a.
  65. Muhriz bin Amir bin Malik r.a.
  66. Sawad bin Ghaziyyah r.a.
  67. Abu Zaid Qais bin Sakan r.a.
  68. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim r.a.
  69. Sulaim bin Milhan r.a.
  70. Haram bin Milhan r.a.
  71. Qais bin Abi Sha’sha’ah r.a.
  72. Abdullah bin Ka’ab bin Amru r.a.
  73. ‘Ishmah al-Asadi r.a.
  74. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik r.a.
  75. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah r.a.
  76. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah r.a.
  77. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud r.a.
  78. Al-Dhahhak bin Abdi Amru r.a.
  79. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah r.a.
  80. Jabir bin Khalid bin Mas’ud r.a.
  81. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal r.a.
  82. Ka’ab bin Zaid bin Qais r.a.
  83. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi r.a.
  84. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan r.a.
  85. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah r.a.
  86. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj r.a.
  87. Oleh bin Syuqrat r.a. (khadam Nabi s.a.w.)

Kamus Arab #4

Percakapan

Apa kabar (lelaki) – Kaifa haluka? ( كيف حالكَ )

Apa kabar (perempuan) – Kaifa haluki? ( كيف حالكِ )

Siapa namamu (lelaki) – Masmuka? ( ما اسمكَ )

Siapa namamu (perempuan) – Masmuki? ( ما اسمكِ )

Saya tinggal di – Askunu fii ( أسكن في )

Umur saya – Umri ( عمري )

Saya seorang murid (lelaki) – Ana tilmiidzun ( انا تلميذ )

Saya seorang murid (perempuan) – Ana tilmiidzah ( انا تلميذة )

Maafkan saya – Lau samatha ( لَو سمحتَ )

Saya minta maaf sangat – Asiif jiddan ( آسف جداً )

Kita jumpa besok – Naltaqi ghodan ( نلتقي غداً )

Semoga berjumpa lagi – Ilal liqo’ ( الى اللقاء )

Silahkan – Tafaddhol (تفضل )

Saya tak tahu – Laa adrii ( لا أدري )

Tidak masalah – Maa fii musykilah ( مافي مشكلة )

Tiada di hatiku selain Allah – Maa fii qolbi ghoirullah ( مافي قلبي غير الله )

Sesungguhnya aku takutkan Allah – Inni akhafullah (إني أخاف الله)

 

 

Kamus Arab #3

Kata Ganti Nama

Saya – Ana ( أنا )

Kami – Nahnu ( نحنُ )

Kamu (lelaki) – Anta ( أنتَ )

Kamu (perempuan) – Anti ( أنتِ )

Kalian (ramai) – Antum ( أنتم )

Dia (lelaki 1 orang) – Huwa ( هُوَ )

Dia (perempuan 1 orang) – Hiya ( هِيَ )

Dia (lelaki/perempuan 2 orang) – Huma ( هماَ )

Dia (lelaki 3 orang lebih) – Hum ( هُمْ )

Dia (perempuan 3 orang lebih) – Hunna ( هنَّ )

Mereka – Hum ( هُمْ )

Saudara lelaki – Akhi ( أخ )

Saudara perempuan – Ukhti ( اخت )

Suami – Zauj ( زوج )

Isteri – Zaujah ( زوجة )

 

Kata Sifat

Panjang – Thowiil ( طويل )

Pendek – Qosir ( قصير )

Rendah – Hofiidh ( خفيض )

Gemuk – Samiin ( سمين )

Kurus – Nahiif ( نحيف )

Cantik – Jamiilah ( جميلة )

Buruk – Qobih ( قبيح )

Bersih – Nadhziif ( نظيف )

Malas – Kaslaan ( كسلان )

Hari – Yaum ( يوم )

Minggu – Usbu’ ( أسبوع )

Bulan – Syahr ( شهر )

Tahun – Sanah ( سنة )

 

Kata Kerja

Saya makan – A’kul ( أاكل )

Saya minum – Asyrob ( أشرب )

Saya berbicara – Atakallam ( أتكلم )

Saya belajar – Ata’allam ( أتعلم )

Saya membaca – Aqro ( أقرا )

Saya menulis – Aktub ( أكتب )

Saya memegang – Amsik ( أمسك )

Saya mengerjakan – A’mal ( أعمل )

Saya memakai – Albas ( ألبس )

 

Kata Objek

Jalan – Thoriiq ( طريق )

Rumah – Bait ( بيت )

Pensil – Mirsam ( مِرسم )

Puplen – Qolam ( قلم )

Papan tulis – Sabbuuroh ( سبورة )

Pemadam – Mimsahat ( ممسحة )

Lampu – Mishbaah ( مصباح )

 

Kamus Arab #2

Ungkapan

Terima kasih – Syukron (شكرًا )

Sama-sama – ‘Afwan ( عفواً )

Saya minta maaf – Asif ( آسف )

Baiklah – Hasanan ( حسناً )

Mungkin – Rubbama (ربما )

Awas! – Intabih ( انتبِه )

Berhati-hatilah – Ihzar ( احذر )

Jangan lupa – Laa Tansa ( لا تنسىٰ )

 

Ucapan

Selamat pagi – Sobaahul khoir ( صباح الخير )

Ucapan balas sobahul khair – Sobahannur ( صباح النور )

Selamat tengah hari – Thobat masauk ( طابت مساؤك )

Selamat malam – Laila sa’idah ( ليلة سعيدة )

Semoga mimpi indah – Ahlam sa’idah ( احلام سعيدة )

Semoga berjaya – Bitaufiq wannajah ( بالتوفيق والنجاح )

Salam perkenalan – Salam ukhuwah ( سلام اخوة )

Semoga Allah membalas jasa kamu (laki-laki) – Jazakallah khoiran ( جزاك الله خيرا )

Semoga Allah membalas jasa kamu (perempuan) – Jazakillah khoiran

Semoga Allah membalas jasa kalian – Jazakumullah khoiran

Semoga Allah membalas jasa kamu dengan kebaikan yang banyak (lelaki) – Jazakallah khoiran katsiiro

Semoga Allah memuliakan amalan kamu – Adzhoma allahu ajrok (  عظّم الله أجرك )

Semoga Allah menyembuhkan kamu (lelaki) – Syafakallah ( شفاك الله )

Semoga Allah menyembuhkan kamu (perempuan) – Syafakillah (شفاكِ الله)

Saya sayang kamu (lelaki) – Uhibbuka ( أحبكَ )

Saya sayang kamu (perempuan) – Uhibbuki ( أحبكِ )

Persahabatan karena Allah – Ukhwahfillah ( اخوة في الله )

Persaudaraan karena Allah selama-lamanya – ukhwahfillah abadan abada ( اخوة في الله أبداً ابدا )

 

 

Ternyata Jendral Sudirman Pakai Jimat

Jenderal Sudirman belum pernah ditangkap penjajah Belanda & PKI karena Pakai ‘Jimat’.

Pemerhati Komunisme, KH. Muh Jazir mengungkapkan bahwa diantara para pejuang dan pahlawan nasional yang belum pernah ditangkap oleh penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI atau kelompok Komunis pada zaman revolusioner adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Bahkan beberapa kali para petinggi penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI mengeluarkan keputusan dan mengerahkan pasukan untuk menangkap Jenderal Sudirman hingga terkepung, mereka tidak juga bisa menangkap Jenderal Sudirman.

Hal ini dikatakan KH. Jazir saat menjadi pemateri dalam tabligh akbar “Mencerdaskan Umat dari Bahaya Komunis,” di Masjid Jami’ Wedi Klaten pada Ahad (31/5/2015) malam.

Dengan fenomena tersebut, orang-orang yang memanggul Jenderal Sudirman, seperti Suparjo Rustam, Tjokro Pranolo sampai kaget dan terheran-heran. Sebab, pada saat itu Jenderal Sudirman sedang dalam kondisi sakit.

“Bahkan pada waktu Jenderal Sudirman dikepung oleh tentara Inggris di sekitar Jambu (Temanggung –red) dan Ambarawa (Magelang –red), di situ kan ada sebuah pegunungan dan Jenderal Sudirman beserta pasukannya ada di tengah-tengah, tapi nyatanya Jenderal Sudirman bisa lolos dari pengepungan,” ungkap KH. Jazir.

Aktivis senior di Kota Yogyakarta ini menambahkan, hingga pada suatu saat, para pejuang yang setia mendampingi Jenderal Sudirman dan yang memanggung pria yang disebut oleh pasukannya dengan nama “Mas Kyai” itu bertanya, “jimat” apa yang dipakai oleh Jenderal Sudirman.

Bahkan sampai herannya, Suparjo Roestam dan yang lainnya yang memanggul Jenderal Sudirman ini bertanya, “Sebenarnya jimat apa yang dipakai Mas Kyai ini sehingga selalu lolos dan tidak bisa ditangkap oleh Belanda dan PKI?”

Lalu dengan senyum kecil, Jenderal Sudirman menjawab, “Iya, saya memang pakai jimat,” ujarnya. “Dan jimat saya yang pertama adalah, saya berperang selalu dalam kondisi berwudhu.”

Jadi yang pertama Jenderal Sudirman itu selalu bersuci sebelum memulai peperangan. Makanya, kalau kita menyusuri jejak perjuangan dan pemberhentian pasukan Jenderal Sudirman, disitu kita akan mendapati adanya sebuah Padasan (semacam gentong atau tempat air yang terbuat dari tanah liat –red), dan padasan itu fungsinya adalah untuk berwudhu Jenderal Sudirman,” jelas KH. Jazir.

“Kemudian yang kedua, jimatku adalah selalu Shalat di awal waktu”.

“Jadi dalam kondisi apapun, meskipun sedang pecah perang, Jenderal Sudirman tidak pernah meninggalkan sholat wajib diawal waktu,” imbuhnya.

“Dan yang ketiga, jimatku adalah aku mencintai rakyatku sepenuh hatiku”.

“Bahkan jika Jenderal Sudirman membawa perbekalan makanan disaat perang, lalu singgah di suatu tempat, maka para pasukannya itu disuruh memberikan makanan itu kepada warga terlebih dahulu,” ucapnya.

Itulah ‘jimat’ Panglima Besar Jendral Sudirman. Tokoh yg tawadhu’ (rendah hati), gigih & pantang menyerah dalam menjaga NKRI.

Orang Indonesia Diistimewakan Menziarahi Makam Imam Bukhari?

Kisah ini diceritakan oleh Tim Ekspedisi salah satu perusahaan minyak di Indonesia pada saat singgah di Kota Samarkand (Uzbekistan) sekitar tahun 2011.

Ceritanya Tim Ekspedisi Indonesia mengunjungi Samarkand. Memang di kota ini tidak ada yang bercitra atau memiliki nama jalan atau tempat yang bernuansa Indonesia, tapi bukan berarti Indonesia tidak dikenal disini. Justru Indonesia begitu dikenal dan dihormati di Samarkand.

Tim Ekspedisi Indonesia berniat untuk mengunjungi sebuah masjid yang di dalamnya terdapat makam Imam Besar Bukhari. Namun ketika mereka datang, waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan malam waktu setempat, dan masjid telah gelap. Namun mereka telah terlanjur disambut oleh pengurus masjid tersebut dan mempersilahkan mereka masuk. Lampu-lampu masjid pun dinyalakan kembali.

Tim Ekspedisi Indonesia begitu terpukau dengan interior masjid yang begitu megah. Namun masih tersiratkan dalam hati mereka, mengapa pengurus masjid itu begitu berkenan mempersilahkan orang-orang Indonesia ini untuk masuk masjid untuk berziarah, padahal waktu telah gelap, dan lampu-lampu masjid telah dimatikan.

Setelah itu, Tim Ekspedisi Indonesia ini kemudian dipersilahkan menuju ruang bawah tanah untuk menziarahi makam Imam Bukhari Rahimahullah. Ziarah pun berlangsung. Setelah itu, mereka berbincang dengan pengurus masjid tersebut, dan menanyakan hal yang tadi menjadi pertanyaan mereka.

Mendengar jawaban dan penjabaran si pengurus masjid, Tim Ekspedisi Indonesia ini sangat kaget. Ternyata, si pengurus masjid dan kebanyakan umat Muslim di Uzbekistan sangat hormat kepada orang-orang Indonesia.

Dalam situs lain, seorang teman menceritakan betapa ramah orang-orang Muslim di Uzbekistan pada orang-orang Indonesia. Makam Imam Bukhari selalu ditutup untuk umum, namun bila ada orang Indonesia datang untuk berziarah, dengan senang hati mereka akan mempersilahkannya untuk masuk ke ruangan tempat makam Imam Bukhari berada. Dan ini ada sebab historinya.

Ternyata, masjid yang saat ini mereka kunjungi, dibangun adalah berkat saran dan permintaan Presiden Soekarno kepada Nikita Khrushchev, penguasa tertinggi Uni Soviet kala itu, yakni tahun 1961. Dan memang saat itu Uzbekistan masih masuk dalam wilayah negara Uni Soviet. Bukan hanya itu yang membuat masyarakat Muslim Uzbekistan begitu hormat pada orang-orang Indonesia, hal yang paling dikenang adalah ternyata Presiden Bung Karno-lah yang telah menyelamatkan keberadaan makam Imam Besar Bukhari.

Kisahnya seperti ini, pada tahun 1961 pemimpin partai Komunis Uni Soviet sekaligus penguasa tertinggi Uni Soviet, yang tadi kami sebutkan di atas yakni Nikita Sergeyevich Khrushchev mengundang Bung Karno untuk datang ke Moskow. Sepertinya Khrushchev ingin menunjukkan pada Amerika bahwa Indonesia berdiri di belakang Uni Soviet. Karena bukan orang lugu, Bung Karno tidak mau begitu saja datang ke Moskow. Bung Karno tahu kalau Indonesia terjebak, yang paling rugi dan menderita adalah rakyat Indonesia. Bung Karno tidak mau membawa Indonesia pada situasi yang tidak menguntungkan. Bung Karno juga tidak mau Indonesia dipermainkan negara manapun.

Kemudian Bung Karno mengajukan syarat untuk memenuhi undangan Khrushchev. Kira-kira Bung Karno berkata seperti ini, “Saya mau datang ke Moskow dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi, tidak boleh tidak.” Kemudian Khrushchev balik bertanya, “Apa syarat yang Paduka Presiden ajukan?” Bung Karno menjawab, “Temukan makam Imam Bukhari, saya sangat ingin menziarahinya.”

Jelas saja Khrushchev terheran-heran. Siapa pula itu Imam Bukhari. Dasar orang Indonesia, mungkin begitu sungutnya dalam hati. Tanpa buang waktu, Khrushchev segera memerintahkan pasukan elitnya untuk menemukan makam yang dimaksud. Entah berapa lama waktunya yang diperlukan anak buah Khrushchev untuk menemukan makam tersebut, yang pasti hasilnya nihil. Khrushchev kembali menghubungi Bung Karno, “Maaf Paduka Presiden, kami tidak menemukan makam orang yang Paduka cari. Apa Anda berkenan mengganti syarat Anda?” Bung Karno tersenyum sinis. “Kalau tidak ditemukan ya sudah. Saya urungkan niat untuk ke negara Anda.”

Kalimat singkat Bung Karno ini membuat kuping Khrushchev panas memerah. Khrushchev balik kanan dan memerintahkan orang-orang nomor satunya untuk memecahkan masalah ini.

Akhirnya, setelah bolak-balik sana-sini, serta mengumpulkan informasi dari orang -orang tua Muslim di sekitar Samarkand, anak buah Khrushchev berhasil menemukan makam Imam Besar kelahiran kota Bukhari tahun 810 Masehi itu. Makamnya dalam kondisi rusak tak terawat.

Imam Bukhari yang memiliki jasa yang begitu besar bagi agama dan umat Islam itu dimakamkan di Samarkand pada tahun 870 Masehi. Khrushchev pun meminta agar makam itu dibersihkan dan dipugar sebaik mungkin. Selesai renovasi Khrushchev kembali menghubungi Bung Karno.

Intinya misi pencarian makam Imam Bukhari telah berhasil. Sambil tersenyum Bung Karno mengatakan, “Baik, saya akan datang ke negara Anda.” Setelah dari Moskow, Bung Karno tiba di kota Samarkand pada tanggal 12 Juni 1961. Sehari sebelumnya puluhan ribu orang menyambut kehadiran Pemimpin Besar Revolusi Indonesia ini di kota Tashkent.

Kini kita semua mengetahui betapa luar biasa peran seorang Bung Karno. Tidak saja dia banyak berjasa di dalam negeri, namun di lingkup internasional pun dia punya peran yang tidak main-main. Kita juga ingat sepak terjang beliau dalam mengadakan Konferensi Asia Afrika, dan ketika beliau menggagas Gerakan Non Blok. Kita bisa mengambil banyak keteladanan dari sosok Presiden pertama Republik Indonesia sekaligus salah satu founding father bangsa ini. Doa dan cinta tulus kami untukmu Bapak. Semoga akan muncul pemimpin-pemimpin bangsa hebat seperti Bung Karno!

 

10 Cara Jitu Untuk Menolak Ajakan Pacaran

Ada beberapa akhwat yang berani berkata “NO” bahkan sebelum sang lelaki berani melangkahkan kaki. Iman mereka begitu menghujam bumi. Bahkan angin cinta monyet pun tak mampu menggoyah keyakinan mereka. Tapi ada juga akhwat yang maju-mundur. Ini adalah tipikal akhwat yang sempat berfikir “Aduh, terima gak ya? Dia kan sholeh, ganteng lagi!”. Pacaran itu haram, karena pacaran itu mendekati zina.

 

LEVEL SOFT

  1. Katakan: “Saya bukan akhwat yang mencari jodoh dengan pacaran.”

Jujur aja. Dalam Islam jodoh tidak dicari lewat pacaran. Jodoh dicari lewat perkenalan dan komitmen untuk membangun rumah tangga. Cara mengetahui komitmen adalah saling terbuka satu sama lain. Kalau cocok lanjut, kalau tidak cocok maka tak perlu berkomunikasi lebih jauh. Banyak saudara kita yang menamainya ta’aruf.

  1. Katakan: “Saya diminta orang tua untuk tidak berpacaran.”

Nah, kalau jurus yang ini melibatkan kekuatan orang tua. Siapa tahu si tersangka adalah orang yang menghormati orang tua. Dengan menjelaskan keinginan orang tua dan ekspektasinya selama sekolah diharap hal itu akan menyurutkan langkah si cowok dan malu mendekati akhwat yang taat pada orang tua.

  1. Katakan: “ Saya manusia lemah, pacaran hanya akan membuatmu semakin lemah.”

Ini menggunakan trik psikologi. Namanya rendah hati. Kebanyakan lelaki mencari pacar hanya untuk kesenangan atau mengejar gengsi. Sampaikan bahwa kita tidak butuh gengsi. Sebagai makhluk yang lemah, kita bisa jadi menyusahkan orang lain, Apalagi dengan pacaran. Status gak jelas, makin nambah susah aja deh. Gunakan 3 jurus di atas untuk lelaki penembak yang rada alim. Berdoalah agar dia mengurungkan niatnya dan kembali ke jalan yang benar.

 

LEVEL MEDIUM

Bagaimana dengan tukang tembak yang terus maju? Biasanya lelaki ini sulit menyerah dan akan mencari-cari alasan yang bisa mematahkan ketiga argumen di atas. Jurus gombal gembel dipakai untuk memuluskan langkah. Jika iya, lanjutlah dengan menggunakan gaya menolak level medium.

  1. Katakan: “Saya lebih mencintai Allah. Dan Allah benci jika saya mendekati Zina. Lupakan berpacaran dengan saya.”

Ini menunjukkan jati diri kamu sebagai akhwat yang taat pada Allah sekaligus membenci kemunkaran. Beri penekanan bahwa pacaran itu adalah sesuatu yang amat Allah benci. Aktivitasnya sangat Allah tidak sukai, begitupun para pelakunya. Pacaran hanya akan membawa pada kemaksiatan dan kesia-siaan.

  1. Katakan; “Pacaran adalah budaya barat. Itu tidak ada dalam Islam.”

Rasulullah SAW pernah bersabda, bahwa barangsiapa yang mengikuti ritual suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut. Pacaran bukanlah budaya Islam. Dia budaya barat yang mengagungkan kebebasan tanpa ada aturan mengikat. Coba direnungi. Pacaran ada aturannya gak? Gak ada. Jadi, sampaikan padanya bahwa kamu gak suka melakukan sesuatu yang tidak ada aturan di dalamnya.

  1. Katakan: “Pacaran berbeda dengan menikah. Menikah itu berkomitmen membangun rumah tangga. Pacaran tidak ada komitmen apa-apa selain setia.”

Semua kegiatan kita haruslah jelas mau dibawa kemana. Coba tanyakan tersangka. Dia mau bawa kegiatan pacaran ke arah mana. Kalau jawabannya “Ya, kita jalani aja”, berarti kalau pacaran membawa ke kemaksiatan maka aturannya “Ya, kita jalani aja”.

 

LEVEL HARD

Gunakan cara ini kalau memang tersangka itu sudah terkena virus Gila Cinta (Buta Mata Hati). Sesuatu yang keterlaluan harus dicegah dengan tegas.

  1. Katakan: “Kita ini udah temenan baik, kalau saya bilang enggak ya enggak. Kalo maksa, mending gak temenan sekalian.”

Ini namanya AKPER alias Akhwat Perkasa. Pasang muka judes biar dramatis. Berteman dengan lawan jenis itu seperti main samurai. Bagus kalau dijaga batas-batasnya. Mematikan kalau dipakai seenaknya. Daripada resiko mending gak usah temenan sekalian. Anggap aja kenalan ketemu di facebook. Gak lebih deket dari itu.

  1. Katakan: “Pacaran itu mendekati zina. Zina itu haram, mendekatinya juga haram.”

Sampaikan pemahaman tentang zina dan terlarangnya manusia mendekati zina. Pacaran itu awalnya hanya bicara-becanda. Setelah itu bicara-becanda-berdua. Setelah itu bicara-bercanda-berdua-berdekatan. Setelah itu bicara-becanda-berdua-berdekatan-berpegangan. Setelah itu bicara-becanda-berdua-berdekatan-berpegangan-berpelukan. Setelah itu bicara-becanda-berdua-berdekatan-berpegangan-berpelukan-berciuman. Setelah itu bicara-bercanda-berdua-berdekatan-berpegangan-berpelukan-berciuman-buka-bukaan. Lalu fatalnya adalah bicara-bercanda-berdua-berdekatan-berpegangan-berpelukan-berciuman-buka-bukaan-berzina.

  1. Katakan: “Mana ada pacaran membawa pelakunya ke surga? Semua yang pacaran kalau mati di tengah jalan pasti masuk neraka!”

Renungi deh hadits ini: “Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya.” (HR. At Tabrani & Baihaqi)

 

LEVEL BONUS : COUNTER ATTACK

Khusus level 10 ini dianjurkan untuk ditolak dan jadi temen biasa aja ya. Justru ajakan dia harus “diluruskan”. Caranya? Ajak dia untuk menikahimu.

  1. Katakan: “Kamu gak gentle banget sih? Kalau berani datangi orang tuaku dan nikahi aku. Halalin atau Tinggalin!”

Ini baru namanya solusi islami jika antar lawan jenis memiliki riak-riak cinta. Jadikan ia berkah dengan melakukan sunnahnya: menikah! Lihat wajahnya ketika kamu mengatakan itu. Jika wajahnya takut dan kaget, berarti dia hanya mau main-main sama kamu. Gak ada keseriusan. Gak usah diladenin lagi lelaki seperti itu. Menikah yang jelas jelas membawa pelakunya ke surga malah takut, sementara pacaran yang menggiring pelakunya ke neraka dia malah berani.

Selamat Mencoba! 🙂

Sang Komponis Lagu Indonesia

h-mutaharHabib Muhammad Husein Muthahar tidak hanya dikenal sebagai penyelamat bendera pusaka dan pendiri Paskibraka saja tetapi beliau juga seorang komponis lagu Indonesia yang hebat.

Habib yang dikenal dengan nama H. Muthahar ini telah menghasilkan ratusan lagu Indonesia, seperti lagu nasional Hari Merdeka, Hymne Syukur, Hymne Pramuka, Dirgayahu Indonesiaku, juga lagu anak-anak seperti Gembira, Tepuk Tangan Silang-Silang, Mari Tepuk, dan lain-lain.

Lagu Hari Merdeka dan Hymne Syukur adalah salah satu lagu fenomenal yang diciptakan oleh Habib Muhammad Husein Muthahar. Terkait penciptaan lagu Hari Merdeka, ada satu cerita yang menarik.

Ternyata inspirasi lagu Hari Merdeka ini muncul secara tiba-tiba saat beliau sedang berada di toilet salah satu hotel di Yogyakarta. Bagi seorang komponis, setiap inspirasi tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Beliau pun cepat-cepat meminta bantuan Pak Hoegeng Imam Santoso (Kapolri pada 1968 –1971). Saat itu Pak Hoegeng belum menjadi Kapolri. Sang Habib menyuruh Pak Hoegeng untuk mengambilkan kertas dan bolpoin.

Berkat bantuan Pak Hoegeng, akhirnya jadilah sebuah lagu yang kemudian diberi judul “Hari Merdeka”. Sebuah lagu yang sangat fenomenal dan sangat terkenal yang banyak dinyanyikan oleh bangsa Indonesia, bahkan anak-anak pun sangat hafal dan pandai menyanyikannya.

Berikut lirik lagu Hari Merdeka ciptaan Habib Muhammad Husein Muthahar:

Tujuh belas agustus tahun empat lima

Itulah hari kemerdekaan kita

Hari merdeka nusa dan bangsa

Hari lahirnya bangsa Indonesia

Merdeka

 

Sekali merdeka tetap merdeka

Selama hayat masih di kandung badan

Kita tetap setia tetap sedia

Mempertahankan Indonesia

Kita tetap setia tetap sedia

Membela negara kita

 

Selain “Hari Merdeka”, lagu berikut juga menjadi karya fenomenal beliau. Judulnya “Syukur”. Lagu ini tercipta setelah menyaksikan banyak warga Semarang, kota kelahirannya, bisa bertahan hidup dengan hanya memakan bekicot. Berikut lirik lagunya:

Dari yakinku teguh

Hati ikhlasku penuh

Akan karuniamu

Tanah air pusaka

Indonesia merdeka

Syukur aku sembahkan

Kehadiratmu Tuhan

Habib Muhammad Husein Muthahar meninggal dunia di Jakarta pada usia hampir 88 tahun, pada 9 Juni 2004 akibat sakit tua. Semestinya beliau berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dengan upacara kenegaraan sebagaimana penghargaan yang lazim diberikan kepada para pahlawan. Tetapi, beliau tidak menginginkan itu. Sesuai dengan wasiat beliau, pada 9 Juni 2004 beliau dimakamkan sebagai rakyat biasa di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut Jakarta Selatan dengan tata cara Islam.