7 Rahasia Mendidik Anak

1. Jika melihat anakmu menangis, jangan buang waktu untuk mendiamkannya. Coba tunjuk burung atau awan di atas langit agar ia melihatnya, ia akan terdiam. Karena psikologis manusia saat menangis adalah menunduk.

2. Jika ingin anak-anakmu berhenti bermain, jangan berkata, “Ayo, sudah mainnya, stop sekarang!” Tapi katakan kepada mereka, “Mainnya 5 menit lagi yaaa.” Kemudian ingatkan kembali, “Dua menit lagi yaaa.” Kemudian barulah katakan, “Ayo, waktu main sudah habis.” Mereka akan berhenti bermain.

3. Jika engkau berada di hadapan sekumpulan anak-anak dalam sebuah tempat yang mereka berisik dan gaduh, dan engkau ingin memperingatkan mereka, maka katakanlah, “Ayoo..Siapa yang mau mendengar cerita saya, angkat tangannya.” Salah seorang akan mengangkat tangan, kemudian disusul dengan anak-anak yang lain, dan semuanya akan diam.

4. Katakan kepada anak-anak menjelang tidur, “Ayo tidur sayang, besok pagi kan kita sholat subuh”, maka perhatian mereka akan selalu ke akhirat. Jangan berkata, “Ayo tidur, besok kan sekolah”, akhirnya mereka tidak sholat subuh karena perhatiannya adalah dunia.

5. Nikmati masa kecil anak-anakmu, karena waktu akan berlalu sangat cepat. Kepolosan dan kekanak-kanakan mereka tidak akan lama, ia akan menjadi kenangan. Bermainlah bersama mereka, tertawalah bersama mereka, becandalah bersama mereka. Jadilah anak kecil saat bersama mereka, ajarkan mereka dengan cara yang menyenangkan sambil bermain.

6. Tinggalkan HP sesaat kalau bisa, dan matikan juga TV. Jika ada teman yang menelpon, katakan, “Maaf say, saat ini aku sedang sibuk mendampingi anak-anak.” Semua ini tidak menyebabkan jatuhnya wibawamu atau hilangnya kepribadianmu. Orang yang bijaksana tahu bagaimana cara menyeimbangkan segala sesuatu dan menguasai pendidikan anak.

7. Selain itu, jangan lupa berdoa dan bermohon kepada Allah agar anak-anak kita menjadi perhiasan yang menyenangkan, baik di dunia maupun di akhirat.

Advertisements

Anak Cucu Rasulallah Di Indonesia

Kitab Syamsud Dhahiroh, Kitab Aqidatul Awwam dan berbagai sumber lainnya.

Di artikel pendek ini memuat alur sejarah para ulama garis keturunan Nabiyullah SAW yang berjasa besar dan abadi di tanah negeri NKRI.

Beliau SAW dikaruniai 7 anak 3 laki-laki dan 4 perempuan, yaitu :

1. Qasim

2. Abdullah

3. Ibrahim

4. Zaenab

5. Ruqoyyah

6. Ummu Kultsum

7. Fathimah Azzahra

Setiap keturunan berasal dari ayahnya, namun khusus untuk keturunan Sayyidatuna Fathimah bersambung kepada Rasulullah merekalah keturunan Nabi Muhammad, sebagaimana dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Setiap anak yg dilahirkan ibunya bernasab kepada ayahnya, kecuali anak-anak dari fathimah, akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka.” (HR. Imam Ahmad)

Sayyidatuna Fathimah dikarunia 2 orang putra yaitu Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein, dari kedua cucu Nabi ini melahirkan para anak cucu cucu Rasulullah yang hingga kini kita kenali dengan sebutan Syarif, Syarifah, Sayyid, Sayyidah dan Habib.

Keturunan dari Sayyidina Hasan RA :

Yaitu sering disebut dengan Al-Hasni hanya ada sedikit saja di indonesia.

Keturunan dari Sayyidina Husein RA, Beliau wafat di Karbala, beliau mempunyai 6 orang anak laki-laki dan 3 wanita, yaitu :

1. Ali Akbar

2. Ali Awsat (Ali Zainal ‘Abidin)

3. Ali Ashghar

4. Abdullah

5. Muhammad

6. Jakfar

7. Zainab

8. Sakinah

9 Fathimah

Putra Sayyidina Husein keseluruhannya wafat terkecuali Ali Awsat atau yang biasa dikenal dengan nama Imam Ali Zainal ‘Abidin, mempunyai putra bernama Muhammad Al-Baqir, yang mempunyai putra bernama Ja’far Ash-Shadiq yang menjadi Guru dari pada Imam Hanafi yang kemudian Imam Hanafi ini memiliki murid Imam Maliki, lalu Imam Maliki memiliki murid Imam Syafi’i dan Imam Syafi’i bermuridkan Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali).

Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq dilahirkan pada tahun 80 H riwayat lain menyebutkan 83 H. Meninggal di kota Madinah pada tahun 148 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi.

Keturunannya yaitu Ali Uraidi yang memiliki putra bernama Muhammad An-Nagieb memiliki putra Isa Arumi dan memiliki putra Ahmad Al-Muhajir. Ahmad bin Isa Al-Muhajir punya dua orang putra yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut, Yaman dan mendapat tiga putra yaitu Alwi, Jadid dan Ismail (Bashriy). Keturunan mereka punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap lestari. Mereka menamakan diri dengan nama sesepuhnya Alwi, yang kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan kaum Sayyid Alawiyin.

Kepindahannya ke Hadramaut disebabkan karena kekuasaan diktator khalifah Bani Abbas yang secara turun-menurun terus memimpin umat Islam, mengakibatkan rasa ketidakpuasan di kalangan rakyat.

Akibat dari kepemimpinan yang diktator, banyak kaum muslim berhijrah, menjauhkan diri dari pusat pemerintahan lalu hijrah dan menetap di Hadramaut, Yaman. Penduduk Yaman khususnya Hadramaut yang mengaku penduduk asli dari qabilah Qahthan, yang awalnya bodoh dan sesat berubah menjadi mengenal ilmu dan berjalan di atas syariat Islam yang sebenarnya. Al-Imam al-Muhajir dan keturunannya berhasil menundukkan masyarakat Hadramaut yang memiliki faham khawarijme dengan akhlak dan pemahaman yang baik.

Para Sayyid Alawiyin menyebarkan dakwah Islamnya di Asia Tenggara melalui dua jalan, pertama hijrah ke India kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke wilayah Asia Tenggara melalui pesisir India.

Diantara yang hijrah ke India adalah Syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota
Kanur dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai wafat.

Lalu Syarif Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Surat dan Ahmadabad. Dia hijrah atas permintaan kakeknya Syarif Syech bin Abdullah Al-Aydrus. Begitu pula keluarga Abdul Malik yang diberi dengan gelar ‘Azhamat Khan’. Dari keluarga inilah asal-muasal keturunan penyebar Islam di Indonesia khususnya di Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Kemudian dari India, mereka melanjutkan dakwahnya ke Indonesia, yaitu melalui daerah pesisir utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh.

Menurut Profesor Dr. Hamka. sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke Indonesia, tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu lalu kepulauan Indonesia dan Filipina. Memang harus diakui banyak jasa-jasa dari mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini.

Penyebar Islam dan pembangun kerajaan Islam di Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam di Mindanau dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam, pernah bangsa Sayyid dari keluarga Jamalullail menjadi raja di Aceh.

Negeri Pontianak pernah diperintah oleh bangsa Sayyid Al-Gadri. Siak oleh keluarga dari bangsa Sayyid Bin Shahab. Perlis (Malaysia) didominasi dan dirajai oleh bangsa dari Sayyid Jamalullail Yang Dipertuan Agung III Malaysia*, Sayyid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tuanku Haji Bujang ialah berasal dari keluarga Al-Aydrus.

Kedudukan para sayyid di negeri ini yang turun-temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri di mana mereka berdiam. Kebanyakan dari mereka menjadi ulama dan ada juga yang berdagang. Mereka datang dari Hadramaut dari keturunan Imam Isa Al-Muhajir dan Al-Faqih Al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal dari mereka ialah dari keluarga As-Segaf, Al-Kaff, Al-Athas, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Bafaqih, Al-Aydrus, Al-Haddad, Bin Smith, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al-Jufri, Bin Shahab, Al-Qadri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, Al-Hadi, Al-Zahir, Basyaiban, Ba’abud, Bin Yahya dan lain-lain.

Orang-orang dari Arab khususnya Hadramaut mulai datang secara masal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir diabad 18, sedangkan kedatangan mereka di pantai Malabar jauh lebih awal. Pemberhentian mereka yang pertama adalah di Aceh.
Dari sana mereka lebih memilih pergi ke Palembang dan Pontianak. Orang-orang Arab mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820 Masehi, dan qabilah-qabilah mereka baru tiba di bagian Timur Nusantara pada kisaran tahun 1870 Masehi.

Pendudukan Singapura oleh Inggris pada tahun 1819 Masehi dan kemajuan besar dalam bidang perdagangan membuat kota itu menggantikan kedudukan Aceh sebagai perhentian pertama dan titik pusat imigrasi bangsa-bangsa Arab. Semenjak pembangunan pelayaran kapal uap di antara Singapura dan Arab, Aceh sudah menjadi tidak penting lagi.

Di pulau Jawa terdapat enam qabilah besar Arab, yaitu di Batavia yang sekarang dikenal dengan nama Jakarta, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Tegal, dan Surabaya. Di Madura hanya ada satu yaitu di Sumenep. Qabilah Arab di Surabaya dianggap sebagai pusat qabilah di pulau Jawa bagian Timur.

Qabilah Arab lainnya yang cukup besar berada di Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Bangil, Besuki dan Banyuwangi. Qabilah Arab di Besuki mencakup pula orang Arab yang menetap di kota Panarukan dan Bondowoso.

Qabilah-qabilah Arab Hadramaut khususnya Alawiyin yang berada lokasi pesisir tetap menggunakan nama-nama qabilah mereka, sedangkan Alawiyin yang tidak dapat pindah ke pesisir karena berbagai sebab. Mereka berganti nama dengan nama-nama Jawa, mereka banyak yang berasal dari keluarga Ba’bud, Basyaiban, Bin Yahya dan lainnya.

Ternyata Rasulullah Minum Infused Water

Air Nabeez (infused water) merupakan kegemaran Rasulullah. Nabi merendam beberapa butir kurma atau kismis di dalam air matang dalam wadah selama kurang lebih 12 jam.

Ada beberapa hadis yang menyebutkan tentang cara membuat Air Nabeez ini, salah satunya riwayat dari Imam Muslim sebagai berikut :

Dari Aisyah RA dia berkata, “Kami biasa membuat perasan untuk Rasulullah di dalam air minum yang bertali di atasnya, kami membuat rendaman di pagi hari dan meminumnya di sore hari, atau membuat rendaman di sore hari lalu meminumnya di pagi hari.” (H.R. Muslim)

Berbicara mengenai infused water. Orang barat baru sekarang faham dan baru mempopulerkan khasiat infused water ini. Tetapi Nabi Muhammad SAW telah lama melakukan hal ini.

Dari segi kesehatan tubuh, buah kurma telah terbukti berbagai manfaat, diantaranya:

1. Pemberi & pemulih tenaga, inilah sebab mengapa kita disunahkan untuk memakan buah kurma pada saat berbuka puasa.

2. Tinggi kandungan fiber, menghilangkan kolestrol jahat yang terkumpul di dalam tubuh. Sangat bagus dalam meredakaj dan menghilangkan sembelit.

3. Pemberi zat besi yang sangat bagus.

4. Kaya akan pottassium, penting dalam menjaga jantung & menstabilkan tekanan darah.

Khasiat air nabeez:

Air Nabeez adalah minuman beralkali, yang mampu menolong membuang kelebihan asam pada perut dan memulihkan sistem pencernaan tubuh. Juga membantu badan untuk menyingkirkan toksin yang berbahaya dalam tubuh (detox).

Disebabkan Air Nabeez tinggi akan kadar fiber, ia mampu membantu proses pencernaan yang baik & meningkatkan / menajamkan fikiran agar kita tidak mudah lupa.

Cara membuat Air Nabeez:

Rendamlah beberapa butir kurma atau kismis (sebaiknya dalam bilangan ganjil) ke dalam air masak di dalam segelas air / wadah tertutup rapat. Disarankan dibuat pada waktu sore menjelang malam. Keesokkan paginya (8-12 jam setelah perendaman), air rendaman baru boleh diminum & buah kurma hasil rendaman yang telah lembut ikut dimakan dalam sekali telan.

Kurma yang baik digunakan untuk membuat Air Nabeez adalah kurma ajwa, boleh juga kurma lainnya.

Air Nabeez bertahan 1 hingga 2 hari dalam lemari es. Tetapi dilarang meminum air rendaman kurma / kismis yang sudah memasuki lebih dari 3 hari, karena akan terjadi proses fermentasi, yang menjadikan air rendaman tersebut menjadi arak, dan hukumnya haram untuk diminum.

Cara Mudah Menghafal Al Qur’an

Berikut ini adalah delapan hal yang insyaAllah membuat kita merasa nikmat menghafal Al-Qur’an. Tips ini kami dapatkan dari Ustadz Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan. Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.

Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau.

“Ustadz, menghafal di tempat antum tu berapa lama untuk bisa khatam?”

“Seumur hidup”, jawab Ust. Dede santai.

Meski bingung, Ibu itu tanya lagi, “Targetnya, Ustadz?”

“Targetnya husnul khotimah, mati dalam keadaan punya hafalan.”

“Mmm…kalo pencapaiannya, Ustadz?”, Ibu itu terus bertanya.

“Pencapaiannya adalah dekat dengan Allah!”, kata Ust. Deden tegas.

Menggelitik, tapi sarat makna. Prinsip beliau: cepat hafal  itu datangnya dari Allah, ingin cepat hafal (bisa jadi) datangnya dari syaitan.

Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu satu jam per hari khusus untuk Al-Qur’an. Kapanpun itu, yang penting durasi satu jam.

Mau tahu lebih lanjut? Yuk, kita pelajari 8 prinsip dari beliau:

1. MENGHAFAL TIDAK HARUS HAFAL

Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda-beda pada tiap orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs, yang mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya, yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan hanya untuk menghafal.

2. BUKAN UNTUK DIBURU-BURU, BUKAN UNTUK DITUNDA-TUNDA

Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah waktu khusus untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini. Saat dimana kita bercengkrama dengan Allah, satu jam lho. Masa untuk urusan duniawi delapan jam betah? . Inget, satu huruf melahirkan sepuluh pahala bukan?

So, jangan buru-buru. Tapi ingat, juga bukan untuk ditunda-tunda. Habiskan saja durasi menghafal secara pas.

3. MENGHAFAL BUKAN UNTUK KHATAM, TAPI UNTUK SETIA BERSAMA QUR’AN.

Kondisi hati yang tepat dalam menghafal adalah bersyukur, bukan bersabar. Tapi kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar”, ya kan? Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam). Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan sebagai beban. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang? Setialah bersama Al-Qur’an.

4. SENANG DIRINDUKAN AYAT

Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, sebenarnya ayat itu lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya. Bisa jadi ayat itu adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal. Senanglah jadi orang yang dirindukan ayat.

5. MENGHAFAL SESUAP-SESUAP

Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake centong nasi bikin muntah karena terlalu banyak. Menghafal-pun demikian. Jika “’amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “’amma” diulang-ulang. Jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “’anin nabail ‘adzhim” kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

6. FOKUS PADA PERBEDAAN, ABAIKAN PERSAMAAN

“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka jika ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.

7. MENGUTAMAKAN DURASI

Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada durasi, bukan pada jumlah ayat yang akan dihafal. Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan satu jam kita pada Allah. Syukur-syukur bisa lebih dari satu jam. Satu jam itu gak sampe 5% dari total waktu kita dalam sehari loh!

8. PASTIKAN AYATNYA BERTAJWID

Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yang terlanjur kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya). Jangan dibiasakan otodidak dalam hal apapun yang berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.

NOTE:

Setiap point dari 1 – 8 saling terkait.

Semoga bermanfaat, niat kami hanya ingin berbagi. Mungkin ini bisa jadi solusi bagi teman-teman yang merasa tertekan, bosan, bahkan capek dalam menghafal.

Kami yakin ada yang tidak setuju dengan uraian di atas. Pro-kontra hal yang wajar karena setiap kepala punya pikiran dan setiap hati punya perasaan. Oh ya, bagi penghafal pemula jangan lama-lama berkutat dalam mencari metode menghafal yang cocok dan pas. Dewasa ini banyak buku ataupun modul tentang menghafal Al-Qur’an dengan beragam judulnya yang marketable. Percayalah, satu metode itu untuk satu orang. Si A cocok dengan metode X, belum tentu demikian dengan si B, karena si B cocok dengan metode Y. Yakini saja sepenuhnya dalam hati bahwa menghafal itu peneladanan pada sunnah Nabi SAW, bukan pada penerapan suatu metode.

Satu lagi seringkali teman kita menakut-nakuti, “Jangan ngafal. Awas lho, kalo lupa dosa besar”. Hey, yang dosa itu melupakan, bukan lupa. Imam masjidil Harom pernah lupa sehingga dia salah ketika membaca ayat, apakah dia berdosa besar?

Perhitungan Nilai Wanita Terbaik

Al Khawarizmi adalah seorang ahli matematika muslim pertama yang menyatakan:

Jika seorang wanita solehah dan beragama = 1

Jika dia cantik, ditambah 0 pada 1 = 10

Jika dia kaya, tambah lagi 0 = 100

Jika dia dari keluarga baik-baik, tambah lagi 0 = 1000

Tetapi, jika 1 tidak ada, maka yang tersisa hanya 0

313 Pejuang Perang Badar 17 Ramadhan

  1. Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w.
  2. Abu Bakar as-Shiddiq r.a.
  3. Umar bin al-Khattab r.a.
  4. Utsman bin Affan r.a.
  5. Ali bin Abu Tholib r.a.
  6. Talhah bin ‘Ubaidillah r.a.
  7. Bilal bin Rabbah r.a.
  8. Hamzah bin Abdul Muttolib r.a.
  9. Abdullah bin Jahsyi r.a.
  10. Al-Zubair bin al-Awwam r.a.
  11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim r.a.
  12. Abdur Rahman bin ‘Auf r.a.
  13. Abdullah bin Mas’ud r.a.
  14. Sa’ad bin Abi Waqqas r.a.
  15. Abu Kabsyah al-Faris r.a.
  16. Anasah al-Habsyi r.a.
  17. Zaid bin Harithah al-Kalbi r.a.
  18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi r.a.
  19. Abu Marthad al-Ghanawi r.a.
  20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
  21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
  22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
  23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib r.a.
  24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah r.a.
  25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) r.a.
  26. Salim (maula Abu Huzaifah) r.a.
  27. Sinan bin Muhsin r.a.
  28. ‘Ukasyah bin Muhsin r.a.
  29. Sinan bin Abi Sinan r.a.
  30. Abu Sinan bin Muhsin r.a.
  31. Syuja’ bin Wahab r.a.
  32. ‘Utbah bin Wahab r.a.
  33. Yazid bin Ruqais r.a.
  34. Muhriz bin Nadhlah r.a.
  35. Rabi’ah bin Aksam r.a.
  36. Thaqfu bin Amir r.a.
  37. Malik bin Amir r.a.
  38. Mudlij bin Amir r.a.
  39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i r.a.
  40. ‘Utbah bin Ghazwan r.a.
  41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) r.a.
  42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi r.a.
  43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) r.a.
  44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah r.a.
  45. Umair bin Abi Waqqas r.a.
  46. Al-Miqdad bin ‘Amru r.a.
  47. Mas’ud bin Rabi’ah r.a.
  48. Zus Syimalain Amru bin Amru r.a.
  49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi r.a.
  50. Amir bin Fuhairah r.a.
  51. Suhaib bin Sinan r.a.
  52. Abu Salamah bin Abdul Asad r.a.
  53. Syammas bin Uthman r.a.
  54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a.
  55. Ammar bin Yasir r.a.
  56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i r.a.
  57. Zaid bin al-Khattab r.a.
  58. Amru bin Suraqah r.a.
  59. Abdullah bin Suraqah r.a.
  60. Sa’id bin Zaid bin Amru r.a.
  61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) r.a.
  62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi r.a.
  63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
  64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
  65. Amir bin Rabi’ah r.a.
  66. Amir bin al-Bukair r.a.
  67. Aqil bin al-Bukair r.a.
  68. Khalid bin al-Bukair r.a.
  69. Iyas bin al-Bukair r.a.
  70. Uthman bin Maz’un r.a.
  71. Qudamah bin Maz’un r.a.
  72. Abdullah bin Maz’un r.a.
  73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un r.a.
  74. Ma’mar bin al-Harith r.a.
  75. Khunais bin Huzafah r.a.
  76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm r.a.
  77. Abdullah bin Makhramah r.a.
  78. Abdullah bin Suhail bin Amru r.a.
  79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah r.a.
  80. Hatib bin Amru r.a.
  81. Umair bin Auf r.a.
  82. Sa’ad bin Khaulah r.a.
  83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah r.a.
  84. Amru bin al-Harith r.a.
  85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah r.a.
  86. Safwan bin Wahab r.a.
  87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah r.a.
  88. Sa’ad bin Muaz r.a.
  89. Amru bin Muaz r.a.
  90. Al-Harith bin Aus r.a.
  91. Al-Harith bin Anas r.a.
  92. Sa’ad bin Zaid bin Malik r.a.
  93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi r.a.
  94. ‘Ubbad bin Waqsyi r.a.
  95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi r.a.
  96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz r.a.
  97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi r.a.
  98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj r.a.
  99. Salamah bin Aslam bin Harisy r.a.
  100. Abul Haitham bin al-Tayyihan r.a.
  101. ‘Ubaid bin Tayyihan r.a.
  102. Abdullah bin Sahl r.a.
  103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid r.a.
  104. Ubaid bin Aus r.a.
  105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd r.a.
  106. Mu’attib bin ‘Ubaid r.a.
  107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi r.a.
  108. Mas’ud bin Sa’ad r.a.
  109. Abu Absi Jabr bin Amru r.a.
  110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi r.a.
  111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah r.a.
  112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail r.a.
  113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid r.a.
  114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar r.a.
  115. Sahl bin Hunaif bin Wahib r.a.
  116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir r.a.
  117. Mubasyir bin Abdul Munzir r.a.
  118. Rifa’ah bin Abdul Munzir r.a.
  119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man r.a.
  120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy r.a.
  121. Rafi’ bin Anjadah r.a.
  122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid r.a.
  123. Tha’labah bin Hatib r.a.
  124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah r.a.
  125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi r.a.
  126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi r.a.
  127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi r.a.
  128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi r.a.
  129. Asim bin Adi al-Ba’lawi r.a.
  130. Jubr bin ‘Atik r.a.
  131. Malik bin Numailah al-Muzani r.a.
  132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi r.a.
  133. Abdullah bin Jubair r.a.
  134. Asim bin Qais bin Thabit r.a.
  135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
  136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
  137. Salim bin Amir bin Thabit r.a.
  138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah r.a.
  139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man r.a.
  140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah r.a.
  141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah r.a.
  142. Sa’ad bin Khaithamah r.a.
  143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah r.a.
  144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) r.a.
  145. Al-Harith bin Arfajah r.a.
  146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair r.a.
  147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru r.a.
  148. Abdullah bin Rawahah r.a.
  149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah r.a.
  150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
  151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
  152. Subai bin Qais bin ‘Isyah r.a.
  153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah r.a.
  154. Abdullah bin Abbas r.a.
  155. Yazid bin al-Harith bin Qais r.a.
  156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah r.a.
  157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah r.a.
  158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah r.a.
  159. Sufyan bin Bisyr bin Amru r.a.
  160. Tamim bin Ya’ar bin Qais r.a.
  161. Abdullah bin Umair r.a.
  162. Zaid bin al-Marini bin Qais r.a.
  163. Abdullah bin ‘Urfutah r.a.
  164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais r.a.
  165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai r.a.
  166. Aus bin Khauli bin Abdullah r.a.
  167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru r.a.
  168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah r.a.
  169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid r.a.
  170. Amir bin Salamah r.a.
  171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad r.a.
  172. Amir bin al-Bukair r.a.
  173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah r.a.
  174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan r.a.
  175. ‘Ubadah bin al-Somit r.a.
  176. Aus bin al-Somit r.a.
  177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah r.a.
  178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus r.a.
  179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah r.a.
  180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam r.a.
  181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam r.a.
  182. Amru bin Iyas r.a.
  183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru r.a.
  184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy r.a.
  185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
  186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
  187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid r.a.
  188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah r.a.
  189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais r.a.
  190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah r.a.
  191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan r.a.
  192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus r.a.
  193. Ka’ab bin Humar al-Juhani r.a.
  194. Dhamrah bin Amru r.a.
  195. Ziyad bin Amru r.a.
  196. Basbas bin Amru r.a.
  197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi r.a.
  198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru r.a.
  199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh r.a.
  200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh r.a.
  201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) r.a.
  202. Abdullah bin Amru bin Haram r.a.
  203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
  204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
  205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh r.a.
  206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid r.a.
  207. Hubaib bin Aswad r.a.
  208. Thabit bin al-Jiz’i r.a.
  209. Umair bin al-Harith bin Labdah r.a.
  210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur r.a.
  211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ r.a.
  212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ r.a.
  213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais r.a.
  214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr r.a.
  215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr r.a.
  216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
  217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
  218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr r.a.
  219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr r.a.
  220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah r.a.
  221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid r.a.
  222. Sawad bin Razni bin Zaid r.a.
  223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
  224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
  225. Abdullah bin Abdi Manaf r.a.
  226. Jab

ir bin Abdullah bin Riab r.a.

  1. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man r.a.
  2. An-Nu’man bin Yasar r.a.
  3. Abu al-Munzir Yazid bin Amir r.a.
  4. Qutbah bin Amir bin Hadidah r.a.
  5. Sulaim bin Amru bin Hadidah r.a.
  6. Antarah (maula Qutbah bin Amir) r.a.
  7. Abbas bin Amir bin Adi r.a.
  8. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad r.a.
  9. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais r.a.
  10. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah r.a.
  11. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus r.a.
  12. Qais bin Mihshan bin Khalid r.a.
  13. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid r.a.
  14. Jubair bin Iyas bin Khalid r.a.
  15. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman r.a.
  16. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah r.a.
  17. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid r.a.
  18. As’ad bin Yazid bin al-Fakih r.a.
  19. Al-Fakih bin Bisyr r.a.
  20. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah r.a.
  21. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
  22. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
  23. Mas’ud bin Qais bin Khaladah r.a.
  24. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
  25. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
  26. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan r.a.
  27. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah r.a.
  28. Khalid bin Qais bin al-Ajalan r.a.
  29. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid r.a.
  30. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir r.a.
  31. Khalifah bin Adi bin Amru r.a.
  32. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan r.a.
  33. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari r.a.
  34. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man r.a.
  35. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid r.a.
  36. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza r.a.
  37. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru r.a.
  38. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani r.a.
  39. Mas’ud bin Aus bin Zaid r.a.
  40. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid r.a.
  41. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid r.a.
  42. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
  43. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
  44. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
  45. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah r.a.
  46. Abdullah bin Qais bin Khalid r.a.
  47. Wadi’ah bin Amru al-Juhani r.a.
  48. Ishmah al-Asyja’i r.a.
  49. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi r.a.
  50. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man r.a.
  51. Tha’labah bin Amru bin Mihshan r.a.
  52. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru r.a.
  53. Ubai bin Ka’ab bin Qais r.a.
  54. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais r.a.
  55. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram r.a.
  56. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit r.a.
  57. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl r.a.
  58. Abu Syeikh Ubai bin Thabit r.a.
  59. Harithah bin Suraqah bin al-Harith r.a.
  60. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi r.a.
  61. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik r.a.
  62. Abu Salit bin Usairah bin Amru r.a.
  63. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik r.a.
  64. Amir bin Umaiyyah bin Zaid r.a.
  65. Muhriz bin Amir bin Malik r.a.
  66. Sawad bin Ghaziyyah r.a.
  67. Abu Zaid Qais bin Sakan r.a.
  68. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim r.a.
  69. Sulaim bin Milhan r.a.
  70. Haram bin Milhan r.a.
  71. Qais bin Abi Sha’sha’ah r.a.
  72. Abdullah bin Ka’ab bin Amru r.a.
  73. ‘Ishmah al-Asadi r.a.
  74. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik r.a.
  75. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah r.a.
  76. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah r.a.
  77. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud r.a.
  78. Al-Dhahhak bin Abdi Amru r.a.
  79. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah r.a.
  80. Jabir bin Khalid bin Mas’ud r.a.
  81. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal r.a.
  82. Ka’ab bin Zaid bin Qais r.a.
  83. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi r.a.
  84. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan r.a.
  85. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah r.a.
  86. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj r.a.
  87. Oleh bin Syuqrat r.a. (khadam Nabi s.a.w.)

Kamus Arab #4

Percakapan

Apa kabar (lelaki) – Kaifa haluka? ( كيف حالكَ )

Apa kabar (perempuan) – Kaifa haluki? ( كيف حالكِ )

Siapa namamu (lelaki) – Masmuka? ( ما اسمكَ )

Siapa namamu (perempuan) – Masmuki? ( ما اسمكِ )

Saya tinggal di – Askunu fii ( أسكن في )

Umur saya – Umri ( عمري )

Saya seorang murid (lelaki) – Ana tilmiidzun ( انا تلميذ )

Saya seorang murid (perempuan) – Ana tilmiidzah ( انا تلميذة )

Maafkan saya – Lau samatha ( لَو سمحتَ )

Saya minta maaf sangat – Asiif jiddan ( آسف جداً )

Kita jumpa besok – Naltaqi ghodan ( نلتقي غداً )

Semoga berjumpa lagi – Ilal liqo’ ( الى اللقاء )

Silahkan – Tafaddhol (تفضل )

Saya tak tahu – Laa adrii ( لا أدري )

Tidak masalah – Maa fii musykilah ( مافي مشكلة )

Tiada di hatiku selain Allah – Maa fii qolbi ghoirullah ( مافي قلبي غير الله )

Sesungguhnya aku takutkan Allah – Inni akhafullah (إني أخاف الله)

 

 

Kamus Arab #3

Kata Ganti Nama

Saya – Ana ( أنا )

Kami – Nahnu ( نحنُ )

Kamu (lelaki) – Anta ( أنتَ )

Kamu (perempuan) – Anti ( أنتِ )

Kalian (ramai) – Antum ( أنتم )

Dia (lelaki 1 orang) – Huwa ( هُوَ )

Dia (perempuan 1 orang) – Hiya ( هِيَ )

Dia (lelaki/perempuan 2 orang) – Huma ( هماَ )

Dia (lelaki 3 orang lebih) – Hum ( هُمْ )

Dia (perempuan 3 orang lebih) – Hunna ( هنَّ )

Mereka – Hum ( هُمْ )

Saudara lelaki – Akhi ( أخ )

Saudara perempuan – Ukhti ( اخت )

Suami – Zauj ( زوج )

Isteri – Zaujah ( زوجة )

 

Kata Sifat

Panjang – Thowiil ( طويل )

Pendek – Qosir ( قصير )

Rendah – Hofiidh ( خفيض )

Gemuk – Samiin ( سمين )

Kurus – Nahiif ( نحيف )

Cantik – Jamiilah ( جميلة )

Buruk – Qobih ( قبيح )

Bersih – Nadhziif ( نظيف )

Malas – Kaslaan ( كسلان )

Hari – Yaum ( يوم )

Minggu – Usbu’ ( أسبوع )

Bulan – Syahr ( شهر )

Tahun – Sanah ( سنة )

 

Kata Kerja

Saya makan – A’kul ( أاكل )

Saya minum – Asyrob ( أشرب )

Saya berbicara – Atakallam ( أتكلم )

Saya belajar – Ata’allam ( أتعلم )

Saya membaca – Aqro ( أقرا )

Saya menulis – Aktub ( أكتب )

Saya memegang – Amsik ( أمسك )

Saya mengerjakan – A’mal ( أعمل )

Saya memakai – Albas ( ألبس )

 

Kata Objek

Jalan – Thoriiq ( طريق )

Rumah – Bait ( بيت )

Pensil – Mirsam ( مِرسم )

Puplen – Qolam ( قلم )

Papan tulis – Sabbuuroh ( سبورة )

Pemadam – Mimsahat ( ممسحة )

Lampu – Mishbaah ( مصباح )

 

Kamus Arab #2

Ungkapan

Terima kasih – Syukron (شكرًا )

Sama-sama – ‘Afwan ( عفواً )

Saya minta maaf – Asif ( آسف )

Baiklah – Hasanan ( حسناً )

Mungkin – Rubbama (ربما )

Awas! – Intabih ( انتبِه )

Berhati-hatilah – Ihzar ( احذر )

Jangan lupa – Laa Tansa ( لا تنسىٰ )

 

Ucapan

Selamat pagi – Sobaahul khoir ( صباح الخير )

Ucapan balas sobahul khair – Sobahannur ( صباح النور )

Selamat tengah hari – Thobat masauk ( طابت مساؤك )

Selamat malam – Laila sa’idah ( ليلة سعيدة )

Semoga mimpi indah – Ahlam sa’idah ( احلام سعيدة )

Semoga berjaya – Bitaufiq wannajah ( بالتوفيق والنجاح )

Salam perkenalan – Salam ukhuwah ( سلام اخوة )

Semoga Allah membalas jasa kamu (laki-laki) – Jazakallah khoiran ( جزاك الله خيرا )

Semoga Allah membalas jasa kamu (perempuan) – Jazakillah khoiran

Semoga Allah membalas jasa kalian – Jazakumullah khoiran

Semoga Allah membalas jasa kamu dengan kebaikan yang banyak (lelaki) – Jazakallah khoiran katsiiro

Semoga Allah memuliakan amalan kamu – Adzhoma allahu ajrok (  عظّم الله أجرك )

Semoga Allah menyembuhkan kamu (lelaki) – Syafakallah ( شفاك الله )

Semoga Allah menyembuhkan kamu (perempuan) – Syafakillah (شفاكِ الله)

Saya sayang kamu (lelaki) – Uhibbuka ( أحبكَ )

Saya sayang kamu (perempuan) – Uhibbuki ( أحبكِ )

Persahabatan karena Allah – Ukhwahfillah ( اخوة في الله )

Persaudaraan karena Allah selama-lamanya – ukhwahfillah abadan abada ( اخوة في الله أبداً ابدا )

 

 

Ternyata Jendral Sudirman Pakai Jimat

Jenderal Sudirman belum pernah ditangkap penjajah Belanda & PKI karena Pakai ‘Jimat’.

Pemerhati Komunisme, KH. Muh Jazir mengungkapkan bahwa diantara para pejuang dan pahlawan nasional yang belum pernah ditangkap oleh penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI atau kelompok Komunis pada zaman revolusioner adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Bahkan beberapa kali para petinggi penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI mengeluarkan keputusan dan mengerahkan pasukan untuk menangkap Jenderal Sudirman hingga terkepung, mereka tidak juga bisa menangkap Jenderal Sudirman.

Hal ini dikatakan KH. Jazir saat menjadi pemateri dalam tabligh akbar “Mencerdaskan Umat dari Bahaya Komunis,” di Masjid Jami’ Wedi Klaten pada Ahad (31/5/2015) malam.

Dengan fenomena tersebut, orang-orang yang memanggul Jenderal Sudirman, seperti Suparjo Rustam, Tjokro Pranolo sampai kaget dan terheran-heran. Sebab, pada saat itu Jenderal Sudirman sedang dalam kondisi sakit.

“Bahkan pada waktu Jenderal Sudirman dikepung oleh tentara Inggris di sekitar Jambu (Temanggung –red) dan Ambarawa (Magelang –red), di situ kan ada sebuah pegunungan dan Jenderal Sudirman beserta pasukannya ada di tengah-tengah, tapi nyatanya Jenderal Sudirman bisa lolos dari pengepungan,” ungkap KH. Jazir.

Aktivis senior di Kota Yogyakarta ini menambahkan, hingga pada suatu saat, para pejuang yang setia mendampingi Jenderal Sudirman dan yang memanggung pria yang disebut oleh pasukannya dengan nama “Mas Kyai” itu bertanya, “jimat” apa yang dipakai oleh Jenderal Sudirman.

Bahkan sampai herannya, Suparjo Roestam dan yang lainnya yang memanggul Jenderal Sudirman ini bertanya, “Sebenarnya jimat apa yang dipakai Mas Kyai ini sehingga selalu lolos dan tidak bisa ditangkap oleh Belanda dan PKI?”

Lalu dengan senyum kecil, Jenderal Sudirman menjawab, “Iya, saya memang pakai jimat,” ujarnya. “Dan jimat saya yang pertama adalah, saya berperang selalu dalam kondisi berwudhu.”

Jadi yang pertama Jenderal Sudirman itu selalu bersuci sebelum memulai peperangan. Makanya, kalau kita menyusuri jejak perjuangan dan pemberhentian pasukan Jenderal Sudirman, disitu kita akan mendapati adanya sebuah Padasan (semacam gentong atau tempat air yang terbuat dari tanah liat –red), dan padasan itu fungsinya adalah untuk berwudhu Jenderal Sudirman,” jelas KH. Jazir.

“Kemudian yang kedua, jimatku adalah selalu Shalat di awal waktu”.

“Jadi dalam kondisi apapun, meskipun sedang pecah perang, Jenderal Sudirman tidak pernah meninggalkan sholat wajib diawal waktu,” imbuhnya.

“Dan yang ketiga, jimatku adalah aku mencintai rakyatku sepenuh hatiku”.

“Bahkan jika Jenderal Sudirman membawa perbekalan makanan disaat perang, lalu singgah di suatu tempat, maka para pasukannya itu disuruh memberikan makanan itu kepada warga terlebih dahulu,” ucapnya.

Itulah ‘jimat’ Panglima Besar Jendral Sudirman. Tokoh yg tawadhu’ (rendah hati), gigih & pantang menyerah dalam menjaga NKRI.