Niat Puasa Ramadhan

Niat puasa khusus di malam pertama bulan Ramadhan, yakni dengan mengabungkan 2 niat, baca niat 2 kali.

1. Niat Puasa 1 Bulan Penuh

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ كُلِّهِ هَذِهِ السَّنَة لِلَّهِ تَعَالَى

“Saya niat berpuasa satu bulan Ramadhan penuh, di tahun ini karena Allah Ta’ala.“

2. Niat Puasa Esok Hari

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَة لِلَّهِ تَعَالَى

“Saya niat berpuasa besok di bulan romadhon tahun ini, karena Allah Ta’ala.”

Untuk hari-hari berikutnya niatlah seperti biasa (niat nomor 2).

Penggabungan niat sesuai tuntunan para salaf ini memiliki dua manfaat:

– Kalo kita lupa niat di malam harinya, maka puasa kita tetap sah, karena kita telah berniat mengikuti Imam Malik.

– Apabila ditakdirkan mati di pertengahan bulan Ramadhan, maka akan mendapatkan pahala puasa satu bulan penuh mengikuti pendapat Imam Malik.

Advertisements

Amalan Yang Membuat Allah Senang

Jangan bangga dengan banyak shalat, puasa dan zikir, karena itu belum tentu membuat Allah senang. 

Nabi Musa AS: “Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang? Sembayang kah?”

Allah: “Sholatmu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang. Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.

Nabi Musa AS: “Lalu apa yang membuat hati-Mu senang, Ya Allah?”

Allah: “Sedekah, infaq, zakat serta perbuatan baikmu terhadap sesama. Itulah yang membuat Aku senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, Aku hadir disampingnya. Dan Aku akan mengganti dengan ganjaran 700 kali.” (QS.Al-Baqarah: 261-262)

Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu, maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah.

Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain, maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya.

Ketika Baca Alqur’an Tanpa Tahu Artinya

Ada seorang remaja bertanya kepada kakeknya, “Kakek, apa gunanya aku membaca Al-Qur’an, sementara aku tidak mengerti arti dan maksud dari Al-Qur’an yang kubaca.“

Lalu si kakek menjawabnya dengan tenang, “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku dengan sekeranjang air.“

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tapi semua air yang dibawanya habis sebelum ia sampai di rumah.

Kakeknya berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat.“

Kakek meminta cucunya kembali ke sungai. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong (tanpa air) sebelum sampai di rumah.

Dia berkata kepada kakeknya, “Tidak mungkin bisa membawa sekeranjang air. Aku ingin menggantinya dengan ember.“

“Aku ingin sekeranjang air, bukan dengan ember,“ jawab kakek.

Si anak kembali mencoba, dan berlari lebih cepat lagi. Namun tetap gagal juga. Air tetap habis sebelum ia sampai di rumah. Keranjang itu tetap kosong.

“Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja. Air pasti akan habis di jalan sebelum sampai di rumah.“

Kakek menjawab:

“Mengapa kamu berpikir ini tidak ada gunanya? Coba lihat dan perhatikan baik-baik apa yang terjadi dengan keranjang itu.”

Anak itu memperhatikan keranjangnya, dan ia baru menyadari bahwa keranjangnya yang tadinya kotor berubah menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam.

“Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Al-Qur’an? Boleh jadi kamu tidak mengerti sama sekali. Tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu sadari kamu akan berubah, luar dan dalam. Itulah pekerjaan Allah dalam mengubah kehidupanmu.”

Apa Itu Cinta?

Cinta… 

Adalah Sayyidina ‘Ali, ketika dia berbaring tidur menggantikan Rasulullah SAW di kasurnya, padahal dia tahu bahwa sekelompok orang telah berkumpul untuk membunuh Rasulullah, dia juga tahu bahwa dia mungkin saja tewas di kasur yang sama!

Cinta…

Adalah Bilal, ketika dia tidak lagi mengumandangkan adzan setelah Rasulullah SAW wafat, lalu ketika Bilal mengumandangkan azan lagi atas permintaan Sayyidina ‘Umar saat penaklukan Baitul Maqdis. Tidak pernah tangisan begitu membahana terlihat sebelumnya saat Bilal mengucapkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullaah”.

Cinta…

Adalah Sayyidina Abu Bakar yang mengatakan, “Saat kami berhijrah, aku heran dengan munculnya susu yang tercampur air, lalu aku berikan susu tersebut kepada Rasulullah, dan aku katakan, ‘Minumlah wahai Rasulullah’.

Abu Bakar mengatakan, “Maka Rasulullah pun minum sehingga hilanglah dahagaku.” (Rasulullah yang minum, Abu Bakar yang hilang dahaganya).

Cinta…

Adalah sahabat Zubair yang mendengar kabar terbunuhnya Rasulullah, lalu dia pun keluar dengan menyeret pedangnya di jalan-jalan kota Makkah, padahal usianya baru 15 tahun. Agar pedangnya menjadi pedang pertama yang terhunus dalam sejarah Islam.

Cinta…

Adalah Rabi’ah bin Ka’b saat Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apa yang kamu butuhkan?” Rabi’ah pun menjawab, “Aku meminta agar aku bisa mendampingimu di surga.”

Cinta…

Adalah Tsauban ketika Rasulullah Saw bertanya kepadanya, “Apa yang membuat warna (wajahmu) berubah?” lalu Tsauban menjawab, “Aku tidak sakit dan terluka, hanya saja jika aku tidak melihatmu aku menjadi sangat merindu kesepian sampai aku bertemu denganmu.”

Cinta… 

Adalah ketika Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq berkata kepada Rasulullah SAW sebelum memasuki gua Tsur, “Demi Allah, janganlah engkau masuk sampai aku masuk terlebih dahulu, jika ada sesuatu di dalam gua ini maka akulah yang terkena bukan engkau.”

Cinta…

Adalah Sayyidina Abu Bakar yang menangisi Rasulullah ketika tampak tanda-tanda telah dekat kewafatannya, lalu Rasulullah menenangkannya, “Janganlah kamu menangis! Jika saja aku boleh menjadikan seseorang kekasih dari golongan manusia, aku pasti menjadikan Abu Bakar kekasihku.”

Ngetes Hati

Kajian Kitab Ihya’ Ulumiddin.
Oleh KH. Maimun Zubair.
 

Salah satu faedah berhubungan dengan masyarakat adalah adanya uji coba terhadap diri pribadi. Hal itu untuk menguji coba hati, akhlaq dan sifat-sifat batin yang tidak akan mungkin terjadi saat sendiri.

Orang yang terkena penyakit kudis, terkadang ia tidak mengetahui dan tidak merasa bahwa ia terkena penyakit kulit itu. Namun saat terkena gesekan dengan kain atau anggota tubuh lain, maka akan keluar nanah dari tubuh yang terkena penyakit kudis itu dan ia akan merasa sakit.

Begitu pula hati yang terkena berbagai penyakit, seperti sombong, mudah marah, iri hati, dengki serta penyakit yang lain, tidak akan terlihat penyakit yang bersemayam dalam hati saat ia sendiri. Namun saat ia berhubungan atau bahkan bergesekan dengan orang lain atau kepentingan orang lain, maka akan tampak isi sebenarnya yang ada dalam hatinya.

Oleh karena itu, orang yang akan membersihkan hatinya hendaknya menguji coba dengan berhubungan dengan orang lain, seperti yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu.

Saat ia merasa sombong, maka ia mengobati kesombongan itu dengan melakukan hal-hal yang dianggap remeh atau sepele pada keramaian, seperti membawa wadah air atau kayu bakar di atas kepala atau punggungnya pada khalayak ramai sehingga dilihat banyak orang.

Hal itu mereka lakukan untuk mengetahui penyakit yang tertanam dalam hatinya, karena penyakit hati dan godaan syetan adalah hal yang samar serta sedikit orang yang waspada terhadap kedua hal itu.

Diceritakan bahwa ada orang sholeh yang mengulangi sholat yang dilakukan selama beberapa tahun, padahal ia selalu melakukannya pada barisan pertama. Pada suatu hari ia tertinggal shalat berjamaah pada barisan pertama, sehingga ia shalat berjamaah pada barisan kedua. Saat itu ia merasa malu dilihat orang karena ia shalat pada barisan kedua.

Pada saat itu ia baru mengetahui dan sadar bahwa shalat berjamaah yang ia lakukan pada barisan pertama selama beberapa tahun, ternyata tercampur riya dan pamer, hatinya menikmati pandangan manusia atas dirinya serta menikmati anggapan dan i’tikad manusia bahwa ia termasuk golongan orang yang berlomba dan menjadi orang yang terdepan dalam kebaikan.

Dikatakan: Bepergian akan memperlihatkan budi pekerti aslinya. Karena bepergian merupakan salah satu bentuk dari berhubungan dan bercampur dengan manusia.

Halal Buat Kami, Haram Buat Tuan

Kisah dari ulama terkenal di Makkah, Abu Abdurrahman Abdullah Bin Al-Mubarak Al Hanzhali Al Marwazi.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur.

Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka:

“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.

“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”

“Tidak satupun.”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.

“Apa..?” ia menangis dalam mimpinya. 

“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.

“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

“Kok bisa??”

“Itu Kehendak Allah.”

“Siapa orang tersebut?”

“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq Damaskus*

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, di tepi kota.”

Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.

Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh.

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu.

“Betul, siapa tuan?”

“Aku Abdullah bin Mubarak”

Sa’id pun terharu, “Bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”

“Wah saya sendiri tidak tahu!”

“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini!”

Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.

“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar, ‘Labbaika allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka’ (Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu).

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis. Ya Allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat Ka’bah. Izinkan aku datang. Izinkan aku datang ya Allah.

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.

Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji. Saya sudah siap berhaji.”

“Tapi anda batal berangkat haji”

“Benar”

“Apa yang terjadi?”

“Istri saya hamil dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat.

‘Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?’

‘Ya, sayang.’

‘Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku.’

Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :

‘Tidak boleh tuan.’

‘Dijual berapapun akan saya beli.’

‘Makanan itu tidak dijual, tuan.’ katanya sambil berlinang mata.

‘Kenapa?’

Sambil menangis, janda itu berkata, ‘Daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan.’

Dalam hati saya, ‘Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?’

Karena itu saya mendesaknya lagi, ‘Kenapa?’

‘Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak. Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram.’

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

‘Ini masakan untuk mu.’

Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.

‘Pakailah uang ini untukmu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi.’

Ya Allah, disinilah Hajiku.

Ya Allah, disinilah Mekahku.”

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata.

Kisah ini memberi hikmah, bahwa membantu orang disekitar kita bisa jadi sama nilainya dengan pergi Haji di mata Allah

Buat yang akan naik haji atau yang sudah berhaji, ada dua yang tidak kekal dalam diri manusia, yakni masa muda dan kekuatan fisik.

Ada dua juga yang akan bermanfaat bagi semua orang, yakni budi pekerti yang luhur serta jiwa yang ikhlas memaafkan.

Ada dua yang akan mengangkat derajat kemulian manusia, yakni rendah hati dan suka meringankan beban hidup orang lain.

Ada dua yang akan menolak datangnya bencana, yakni sedekah serta menjalin hubungan silaturrahim.

Ternyata Rasulullah Minum Infused Water

Air Nabeez (infused water) merupakan kegemaran Rasulullah. Nabi merendam beberapa butir kurma atau kismis di dalam air matang dalam wadah selama kurang lebih 12 jam.

Ada beberapa hadis yang menyebutkan tentang cara membuat Air Nabeez ini, salah satunya riwayat dari Imam Muslim sebagai berikut :

Dari Aisyah RA dia berkata, “Kami biasa membuat perasan untuk Rasulullah di dalam air minum yang bertali di atasnya, kami membuat rendaman di pagi hari dan meminumnya di sore hari, atau membuat rendaman di sore hari lalu meminumnya di pagi hari.” (H.R. Muslim)

Berbicara mengenai infused water. Orang barat baru sekarang faham dan baru mempopulerkan khasiat infused water ini. Tetapi Nabi Muhammad SAW telah lama melakukan hal ini.

Dari segi kesehatan tubuh, buah kurma telah terbukti berbagai manfaat, diantaranya:

1. Pemberi & pemulih tenaga, inilah sebab mengapa kita disunahkan untuk memakan buah kurma pada saat berbuka puasa.

2. Tinggi kandungan fiber, menghilangkan kolestrol jahat yang terkumpul di dalam tubuh. Sangat bagus dalam meredakaj dan menghilangkan sembelit.

3. Pemberi zat besi yang sangat bagus.

4. Kaya akan pottassium, penting dalam menjaga jantung & menstabilkan tekanan darah.

Khasiat air nabeez:

Air Nabeez adalah minuman beralkali, yang mampu menolong membuang kelebihan asam pada perut dan memulihkan sistem pencernaan tubuh. Juga membantu badan untuk menyingkirkan toksin yang berbahaya dalam tubuh (detox).

Disebabkan Air Nabeez tinggi akan kadar fiber, ia mampu membantu proses pencernaan yang baik & meningkatkan / menajamkan fikiran agar kita tidak mudah lupa.

Cara membuat Air Nabeez:

Rendamlah beberapa butir kurma atau kismis (sebaiknya dalam bilangan ganjil) ke dalam air masak di dalam segelas air / wadah tertutup rapat. Disarankan dibuat pada waktu sore menjelang malam. Keesokkan paginya (8-12 jam setelah perendaman), air rendaman baru boleh diminum & buah kurma hasil rendaman yang telah lembut ikut dimakan dalam sekali telan.

Kurma yang baik digunakan untuk membuat Air Nabeez adalah kurma ajwa, boleh juga kurma lainnya.

Air Nabeez bertahan 1 hingga 2 hari dalam lemari es. Tetapi dilarang meminum air rendaman kurma / kismis yang sudah memasuki lebih dari 3 hari, karena akan terjadi proses fermentasi, yang menjadikan air rendaman tersebut menjadi arak, dan hukumnya haram untuk diminum.

5 Keinginan, 5 Tips

Ada 5 perkara, kita semua pasti inginkan serta berusaha untuk mendapatkannya:

1. Wajah yang menarik

2. Uang yang banyak

3. Sehat dan kuat

4. Anak-anak yang patuh dan sukses

5. Tidur nyenyak tanpa obat penenang

 

Hal itu mudah kita peroleh, hanya butuh waktu 15 menit saja. Bagaimana caranya?

Rasulullah SAW bersabda:

1. Siapa yang tinggalkan Shalat Subuh, maka wajahnya tak akan ada cahaya

2. Siapa yang tinggalkan Shalat Dzuhur, niscaya tak ada keberkahan dalam rezekinya

3. Siapa yang tinggalkan Shalat Ashar, niscaya tak ada kekuatan dalam jasadnya

4. Siapa yang tinggalkan Shalat Maghrib, niscaya tak ada buah hasil yang boleh di petik dari anak-anaknya

5. Siapa yang tinggalkan Shalat Isya, tak ada kenyamanan dalam tidurnya

Tahu kenapa kalimat Laa ilaaha illallaah tidak sampai menggerakkan bibir jika diucapkan?

Sebab ini adalah Rahmat dari Allah kepada kita supaya jika maut menghampiri dengan mudah ia menyebutkan kalimat itu.

Cara Mudah Menghafal Al Qur’an

Berikut ini adalah delapan hal yang insyaAllah membuat kita merasa nikmat menghafal Al-Qur’an. Tips ini kami dapatkan dari Ustadz Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan. Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.

Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau.

“Ustadz, menghafal di tempat antum tu berapa lama untuk bisa khatam?”

“Seumur hidup”, jawab Ust. Dede santai.

Meski bingung, Ibu itu tanya lagi, “Targetnya, Ustadz?”

“Targetnya husnul khotimah, mati dalam keadaan punya hafalan.”

“Mmm…kalo pencapaiannya, Ustadz?”, Ibu itu terus bertanya.

“Pencapaiannya adalah dekat dengan Allah!”, kata Ust. Deden tegas.

Menggelitik, tapi sarat makna. Prinsip beliau: cepat hafal  itu datangnya dari Allah, ingin cepat hafal (bisa jadi) datangnya dari syaitan.

Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu satu jam per hari khusus untuk Al-Qur’an. Kapanpun itu, yang penting durasi satu jam.

Mau tahu lebih lanjut? Yuk, kita pelajari 8 prinsip dari beliau:

1. MENGHAFAL TIDAK HARUS HAFAL

Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda-beda pada tiap orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs, yang mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya, yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan hanya untuk menghafal.

2. BUKAN UNTUK DIBURU-BURU, BUKAN UNTUK DITUNDA-TUNDA

Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah waktu khusus untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini. Saat dimana kita bercengkrama dengan Allah, satu jam lho. Masa untuk urusan duniawi delapan jam betah? . Inget, satu huruf melahirkan sepuluh pahala bukan?

So, jangan buru-buru. Tapi ingat, juga bukan untuk ditunda-tunda. Habiskan saja durasi menghafal secara pas.

3. MENGHAFAL BUKAN UNTUK KHATAM, TAPI UNTUK SETIA BERSAMA QUR’AN.

Kondisi hati yang tepat dalam menghafal adalah bersyukur, bukan bersabar. Tapi kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar”, ya kan? Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam). Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan sebagai beban. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang? Setialah bersama Al-Qur’an.

4. SENANG DIRINDUKAN AYAT

Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, sebenarnya ayat itu lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya. Bisa jadi ayat itu adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal. Senanglah jadi orang yang dirindukan ayat.

5. MENGHAFAL SESUAP-SESUAP

Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake centong nasi bikin muntah karena terlalu banyak. Menghafal-pun demikian. Jika “’amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “’amma” diulang-ulang. Jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “’anin nabail ‘adzhim” kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

6. FOKUS PADA PERBEDAAN, ABAIKAN PERSAMAAN

“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka jika ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.

7. MENGUTAMAKAN DURASI

Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada durasi, bukan pada jumlah ayat yang akan dihafal. Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan satu jam kita pada Allah. Syukur-syukur bisa lebih dari satu jam. Satu jam itu gak sampe 5% dari total waktu kita dalam sehari loh!

8. PASTIKAN AYATNYA BERTAJWID

Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yang terlanjur kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya). Jangan dibiasakan otodidak dalam hal apapun yang berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.

NOTE:

Setiap point dari 1 – 8 saling terkait.

Semoga bermanfaat, niat kami hanya ingin berbagi. Mungkin ini bisa jadi solusi bagi teman-teman yang merasa tertekan, bosan, bahkan capek dalam menghafal.

Kami yakin ada yang tidak setuju dengan uraian di atas. Pro-kontra hal yang wajar karena setiap kepala punya pikiran dan setiap hati punya perasaan. Oh ya, bagi penghafal pemula jangan lama-lama berkutat dalam mencari metode menghafal yang cocok dan pas. Dewasa ini banyak buku ataupun modul tentang menghafal Al-Qur’an dengan beragam judulnya yang marketable. Percayalah, satu metode itu untuk satu orang. Si A cocok dengan metode X, belum tentu demikian dengan si B, karena si B cocok dengan metode Y. Yakini saja sepenuhnya dalam hati bahwa menghafal itu peneladanan pada sunnah Nabi SAW, bukan pada penerapan suatu metode.

Satu lagi seringkali teman kita menakut-nakuti, “Jangan ngafal. Awas lho, kalo lupa dosa besar”. Hey, yang dosa itu melupakan, bukan lupa. Imam masjidil Harom pernah lupa sehingga dia salah ketika membaca ayat, apakah dia berdosa besar?

Dibalik Ketidaktahuan Manusia

Nabi Nuh AS belum tahu banjir akan datang ketika ia membuat kapal dan ditertawai kaumnya.

Nabi Ibrahim AS belum tahu akan tersedia domba ketika pisau nyaris memenggal buah hatinya.

Nabi Musa AS belum tahu laut terbelah saat dia diperintah memukulkan tongkatnya.

Yang mereka tahu adalah bahwa mereka harus patuh pada perintah Allah dan tanpa berhenti berharap yang terbaik.

Ternyata dibalik ketidaktahuan kita, Allah telah menyiapkan kejutan!

Seringkali Allah berkehendak di detik-detik terakhir dalam pengharapan dan ketaatan hamba-hambaNya.

Jangan kita berkecil hati saat spertinya belum ada jawaban doa. Karena kadang Allah mencintai kita dengan cara-cara yang kita tidak duga dan kita tidak suka.

Allah memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Lakukan bagianmu saja, dan biarkan Allah mengerjakan bagianNya.