Keyakinan Dan Amalan

Oleh Hubabah Huda Al Jailani Tarim Yamen (Ummu Islam)

Sesuatu yang dilihat dengan nilai keimanan seseorang. Dengan keyakinan seseorang itu akan ridho dan tidak marah-marah. Dengan keyakinan, maka tak akan ada perasaan syak dan ragu.

Amalkan Ratib Al Haddad. Kerapkan baca wirid sebagai pendinding. Didiklah anak-anak juga dan bacakan untuk mereka . Banyak bertafakkur (merenung), yakni mengaitkan semua kejadian antara langit dan bumi dengan sang pencipta.

Perbanyakkan kalimat Laa ilaha ilallah 2000x sehari secara istiqomah. InsyaAllah akan diberi kekuatan iman. Syaitan akan usaha menghasut kita supaya menghentikannya. Akan tetapi setelah 40 hari istiqomah, kita akan memperoleh kemenangan.

2000× Laa ilaha ilallah bisa diganti Laa ilaha ilallah muhammad rasullullah sollallahu ‘alaihi wassalam 200×.

Lisan

Oleh Ustadzah Ni’mah Barakwan

Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra pernah meletakkan batu ke dalam mulutnya untuk mencegah dari pembicaraan yang tidak berguna. Beliau mengisyaratkan kepada lisannya dan berkata: “Inilah yang memasukkan aku di tempat yang baik atau tempat yang buruk.”

Ketika Sayyidina Abu Bakar Ra wafat, beliau terlihat dalam mimpi salah seorang sahabat. Kemudian di katakan kepada beliau: “Ke tempat mana engkau di masukkan oleh lisanmu?” Sayyidina Abu Bakar RA menjawab: “Aku ucapkan Laa Ilaha Illa Allah dengan tulus, maka ia masukkan aku ke dalam Syurga.” (Syarh Muroqil ‘Ubudiyyah/70)

“Lisan merupakan salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Lisan merupakan anggota badan manusia yang cukup kecil jika dibandingkan anggota badan yang lain. Akan tetapi, ia dapat menyebabkan pemiliknya ditetapkan sebagai penduduk surga atau bahkan dapat menyebabkan pemiliknya dilemparkan ke dalam api neraka.” – Ustadz Husin Nabil

Menyenangkan Sesama Muslim

Oleh Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz

 Beliau mengutip salah satu hadis Nabi SAW, bahwa:

“Membuat gembira seseorang saudara muslimmu itu, saudara seimanmu kau senangkan, kau gembirakan entah dengan makanan entah dengan bantuan atau lainnya walupun hanya dengan senyum dan sapa itu lebih mulia pahalanya daripada dua puluh tahun beri’tikaf di masjidku ini, yaitu Masjid Madinatul Munawwarah Masjidinnabawi.“

Kenapa? Karena Allah menyukai hati hamba yang bersifat baik kepada hamba yang lainnya. Allah paling mencintai hamba yang paling baik, makin baik hamba maka makin cinta Allah kepadanya.

Sikap Kita Pada Pelaku Maksiat

Oleh Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Aljufri 

Jangan memandang sebelah mata orang yang berbuat maksiat. Jangan merasa kita lebih bermartabat dibandingkan dengan mereka. Kita cela perbuatan maksiat mereka, bukan orangnya.

Mereka tidak boleh kita anggap rendah dan tercela, kita juga tidak boleh sombong kepada mereka. Boleh jadi, suatu malam ia dilihat Allah, lalu menjadi seorang wali yang dicinta Allah.

Sementara amalmu yang tidak seberapa, karena engkau sombongkan, dihapus Allah dan engkau jadi tidak punya apa-apa. Bahkan, boleh jadi imanmu dicabut, dan engkau tidak diterima lagi untuk menghadap-Nya.

Nasehat Alhabib Abdulqodir bin Ahmad Bilfaqih

Houl Al Ustadzul Imam Al Qutb Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih & Al Imam Al Hafidz Al Musnid Al Habib Abdulloh bin Abdul Qodil BilFaqih Malang.

  1. Sesungguhnya bukan banyaknya ilmu yang kami cari, tapi hakekatnya yang kami cari adalah akhlaq dan budi pekerti, karena syari’at Islam itu berdasarkan adab dan budi pekerti yang luhur.
  1. Saat kita mencari ilmu, kita bisa mendapatkannya dalam kitab dan buku. Namun saat kita mencari berkah, tidaklah kita mendapatkannya kecuali dengan dekatnya kita kepada orang-orang sholeh. Sedangkan dekat dengan mereka, modalnya dengan hati yang bersih (orang yang mengenal ilmu itu banyak, sedangkan orang yang memiliki berkah itu sedikit, dan orang yang memiliki ilmu dan keberkahan itu lebih sedikit lagi).
  1. Bukan dinamakan hidup bagi seseorang yang tidak mengenal Allah dan Rasul-Nya, serta tidak mengenal ajarannya.
  1. Sebarluaskan ajaran Islam dimanapun engkau berada dengan membawa bekal ilmu.
  1. Budi pekerti adalah bagian dari agama.
  1. Janganlah pernah terlintas dalam hatimu untuk berburuk sangka pada wali-wali Allah.

Syuhada

Oleh Alhabib Abdullah Bilfaqih

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rejeki.” (QS. Ali ‘Imran: 169)

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya diantara hamba Allah ada sekelompok manusia yang bukan Nabi dan bukan Syuhada’. Mereka dikelilingi oleh para Nabi dan Syuhada’ di hari kiamat karena kedudukannya di sisi Allah.”

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kabarkan kami siapa mereka?”

Rasulullah SAW menjawab: “Mereka adalah kaum yang saling mencintai dengan ruh Allah (ulama menafsiri: Al-Qur’an) tanpa hubungan keluarga antara mereka dan tanpa uang yang diberikan pada mereka. Demi Allah, sungguh wajah mereka adalah cahaya dan mereka di atas cahaya. Mereka tidak takut saat manusia ketakutan. Mereka tidak susah saat semua manusia diterpa kesusahan.”

Lalu Rasulullah SAW membaca: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (HR. Abu Dawud No. 3527 dari Umar bin Khattab)

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus: 62-64)

“Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi seorang wali maka Aku mengizinkan berperang. Tidak ada seorang hamba yang mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku tiada berhenti mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangan yang dipukulnya, langkah kakinya. Dan jika ia meminta, maka sungguh Aku kabulkan, dan jika ia berlindung kepada-Ku, niscaya Aku lindungi.” (HR. Al-Bukhari) 

Pemilihan Nama Anak

Oleh Ustadzah Halimah Alaydrus.

Baguskanlah nama-nama anakmu dengan arti yang baik, agar membawa sugesti yang baik pada anak tersebut dan karena akan dipanggil nama mereka di hari akhir. Dan saat kita panggil mereka, kita sedang mendoakan dia.

Memberi nama anak karena 2 alasan:

  1. Tafaulan / Sugesti

Memberi nama yang diharapkan menjadi sesuai artinya.

Contohnya:

Faiz = seseorang yang beruntung

Faizah = perempuan yang beruntung

Abdullah = hamba Allah

  1. Tabarukan / Cari Berkah

Memberi nama seperti orang-orang sholeh/baik sebelum kita, agar sama baik seperti mereka. Mengambil berkah dari namanya. Tidak peduli apa artinya yang penting sama sifat dan nasibnya dengan orang sholeh tersebut.

Contohnya:

Fatimah

Abu Bakar

Uwais Al Qorni

Cara memanggil nama anak.

Jika sudah memberi nama anak yang baik, jangan panggil dia dengan nama buruk atau tidak berarti.

Contohnya:

Abdullah, malah dipanggil Dul

Muhammad, malah dipanggil Mamat

Khodijah, malah dipanggil Ijah

Sidah (dari saida – siddi – sidah = tuan putri = wanita terhormat), malah dipanggil Ida

Budaya orang arab malah memanjangkan nama panggilan, bukan memendekannya, dan menjadi lebih bagus.

Contohnya:

Muhammadd dipanggil Hamudi = Muhammad kecilku

Halimah dipanggil Halumi = Halimah kecilku

Fatimah dipanggil Fatimu = Fatimah kecilku

Khodijah dipanggil Khoduji

Nur dipanggil Nuairi

Aisyah dipanggil Aisyuni, kalau Rosulullah memanggilnya Yaa Aisy = wahai hidupku (dilihat dari artinya)

Banyak Hadist sekitar menamakan anak, antara lain yang terkenal:

  1. Berilah nama anak laki-lakimu seperti namaku dan jangan kau pukul dia. Artinya agar mengingat Rasulullah
  2. Sebaik-baik nama disisi Allah adalah Abdullah & Abdurrahman (untuk laki-laki)

Sunnah kasih nama sesudah lahir. Sebaik-baiknya pada hari ke 7 dihitung sejak hari lahiran, bukan 7 hari setelah lahir. Misalnya lahir di Selasa, maka Aqiqah dan pemberian nama anak di hari Senin.

Aqiqah adalah sembelih hewan kurban sebagai tanda wujud syukur pada Allah atas karunia yang diberikan, hukumnya sunnah mu’akad, dilakukan setelah lahiran jika mampu, kalau belum mampu bisa ditunda hingga mampu.

Pilih kambing umur 2 tahun, tidak cacat, jantan/betina. Jauh lebih baik beri makan orang dalam bentuk masakan dibanding membagikan daging mentah, sebaiknya kambing dimasak yang manis-manis, seperti semur, kambing kecap, dll.

Sunnah aqiqah: gundul licin baik bayi perempuan maupun laki-laki. Lalu rambut ditimbang dan sedekah dengan emas seberat timbangan rambut bayi, misalnya berat rambut 2 gram x Rp 500.000/gram emas = Rp 1.000.000 ialah total yang disedekahkan, jika tidak mampu hargakan berat timbangan rambut dengan perak.

Yang Wajib Dilakukan Pada Bayi Baru Lahir

Oleh Ustadzah Halimah Alaydrus.

  1. Menjelang melahirkan, bacakan surat Al Baqarah pada ruang persalinan & ruang setelah melahirkan, agar dijaga Allah dan tidak ada setan yang masuk dalam ruangan tersebut. Ini juga berlaku untuk dibacakan di rumah, bacaan tersebut berlaku hingga 3 hari, jadi dibacakan 3 hari sekali.
  2. Kumandangkan adzan di telinga kanan, iqomat di telinga kiri.
  3. Bacakan surat Al Kafirun & Al Ikhlas di telinga kanan, agar ditetapkan iman Islam sampai mati.
  4. Bacakan surat Al Qadr di telinga kanan, agar bukan menjadi pezina. Nomor 2-4 yang melakukan harus bapaknya sendiri, jika bapaknya tidak ada, harus laki-laki yang membacakan.
  5. Bacakan surat Ali Imran: 36 (jika laki-laki diganti “hu” pada akhiran tanda baca “h”), agar dijaga dari Ummu Sibyan = pemimpin syaitan yang mengganggu anak kecil. Biasanya Ummu Sibyan mengganggu anak kecil ketika orang tuanya melakukan ibadah sehingga tidak fokus dan menghentikan ibadahnya.

6 Nasehat Habib Umar Bin Hafidz

Sebelum kita membaca nasehat beliau, alangkah mulianya jika kita menghadiahkan sebuah bacaan Al Fatihah kepada beliau, semoga beliau senantiasa diberi kesehatan, umur yang berkah dan istiqomah berdakwah di jalan Allah SWT. Al Fatihah.

Berikut kami kutipkan kumpulan nasehat beliau saat hadir di Gedung Bustanul ‘Asyiqin Solo pada acara Majelis Muwasholah Bainal Ulama’il Muslimin beberapa waktu yang lalu.

  1. Carilah guru yang bisa “membawamu” kepada Allah SWT. Guru tidak sekedar menjadi Mudarris, namun juga sebagai Murobbi, yang bisa mengantarkan kita kepada Allah SWT. Hilang berbagai hijabmu dengan Allah SWT, tebal kema’rifatanmu, sebagaimana para sahabat yang memandang wajah teragung Baginda Nabi Muhammad SAW.
  1. Ciri ulama’ akhirat salah satunya ialah mereka yang mau memelajari kitab-kitab karangan Imam Al Ghozali, Imam Al Haddad, dan Imam Abdul Wahhab Asy Sya’roni. Sebaliknya, ulama’ dunia adalah mereka yang menolak untuk memelajari kitab-kitab ketiga Imam besar itu.
  1. Tazkiyyatun nafs itu sangat diperlukan untuk keselamatan kita dalam beragama. Hanya orang-orang ikhlas dalam bergama sajalah yg diselamatkan Allah SWT dari berbagai kesesatan.
  1. Sadarlah, kalian semua dimandatkan oleh Allah SWT untuk berdakwah, mengajak orang-orang untuk beriman dan menaati Allah SWT. Apalagi gunanya ilmu kalian jika setelah kalian dapatkan tidak untuk berdakwah mengajak orang-orang kembali kepada Allah SWT? Jangan main-main, tugas dakwah itu benar-benar dipikulkan Allah SWT kepada kalian. Tentunya jika kalian sadar, kalian akan lebih bersemangat berdakwah, karena “sedang mendapat tugas agung nan mulia dari Allah SWT”.
  1. Sesungguhnya para syetan ingin menghalangi kalian dari memelajari ilmu agama, dengan membisikkan provokasi takut miskin. Sebaliknya, para syetan mengajak kalian dengan janji-janji manis untuk meninggalkan ilmu agama dengan lebih memilih ilmu dunia agar kaya. Tolaklah bisikan bodoh itu, atau penyesalan abadi akan menimpamu. Rizqi sudah ditentukan. Dunia ini sementara dan akhirat kekal abadi.
  1. Jadikan kamar rumah kalian terhubung dengan kamarnya Rasulullah SAW. Juga jadikan rumah kalian sebagai panggungnya Rasulullah SAW, jangan jadikan rumah kalian sebagai panggung hiburan musuh-musuhnya Allah SWT.

Memilih Majelis Di Waktu Serentak

Oleh Habib Ali bin Abdurrahman Al-Jufri.

Majlis ilmu adalah majlis yang barakah. Akan tetapi, apa terjadi jika ada dua majlis yang berlangsung serentak? Ada satu kisah, tentang dua majlis ilmu yang berlangsung secara serentak. Seorang penuntut ilmu. Seorang pemuda yang di dalam dilema. Hatinya di dalam keraguan. Ada dua majlis yang berlangsung.

Dia melihat yang satu majlis ilmu belajar Al-Quran dan Hadith. Dan majlis ilmu yang satu lagi juga belajar Al-Quran dan Hadith. Majlis yang mana dia harus pergi. Kemudian dia pergi berjumpa sahabatnya yang soleh untuk meminta pendapat dan pertolongan majlis mana yang harus dia pergi.

Sahabatnya yang soleh tadi berkata; “Mari sahabat, kita pergi ke dua majlis itu.” Setelah tiba di majlis ilmu yang pertama, mereka masuk dan kemudian mereka berdiri. Tujuan sahabat itu berbuat demikian karena ingin mengetahui majlis mana yang patut diikuti. Mereka pun berdiri di depan jamaah saat Sheikh sedang mengajar.

Sheikh melihat mereka, dan kemudian berkata dengan nada keras, “Kenapa kamu berdiri?!” Sahabat yang soleh tadi menjawab, “Aku tidak mau duduk di dalam majlis kamu ini.” Kemudian Sheikh berkata, “Kenapa kamu tidak mau duduk?!” Sahabat yang soleh tadi menjawab, “Aku tidak puas hati dengan kamu.”

Kemudian Sheikh menjawab, “Aku lagi sangat-sangat tidak puas hati dengan kamu. Keluar kamu syaitan, jangan kamu merusakkan majlis ini!” Sahabat soleh tadi berkata kepada sahabatnya, “Wahai sahabat, mari kita keluar sebelum kita dipukul beramai-ramai.”

Setelah itu, mereka pergi ke majlis ilmu yang kedua. Mereka pun berdiri. Dilihat oleh Sheikh yang sedang mengajar. Kemudian Sheikh berkata dengan nada lembut, “Wahai pemuda, kenapa kamu berdua tidak mau duduk?” Sahabat yang soleh tadi berkata, “Aku tidak mau duduk di dalam majlis kamu.”

Kemudian Sheikh bertanya, “Kenapa wahai pemuda?” Masih dengan nada yang lembut. Sahabat yang soleh tadi menjawab, “Aku tidak puas hati dengan kamu, Sheikh.” Sheikh terkejut lalu menutup wajahnya. Tiba-tiba mengalir air mata membasahi pipinya.

Sheikh kemudian berkata, “Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Ya Allah, aku mohon taubat dan keampunan-Mu. Ya Allah, ampunkanlah aku. Sesungguhnya mungkin Allah telah membukakan aib diriku ini kepadanya.” Kemudian Sheikh terus menangis.

Sahabat yang soleh tadi berkata kepada sahabatnya, “Wahai sahabat, sekarang majlis mana yang kamu ingin duduki? Majlis yang tadi atau disini?” Jawab sahabatnya, “Mestilah disini. Ciri-ciri orang soleh itu jelas terzahir pada akhlaknya.”

Jika kamu lihat ada dua kelompok. Satu kelompok mereka menyatakan mereka di jalan kebenaran. Dan satu lagi kelompok mereka menyatakan mereka juga di dalam jalan kebenaran. Maka, kamu lihatlah pada akhlak mereka itu.

Dimana adanya akhlak yang mulia, disitu adanya agama. Dimana adanya akhlak, disitu adanya ilmu. Tidak mungkin agama itu tanpa akhlak yang mulia. Tidak mungkin orang soleh itu dipandang soleh tanpa padanya akhlak yang mulia. Kita jangan lihat pada orang lain. Lihatlah ciri-ciri tersebut di dalam diri kita. Untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah. 

Oleh Ustadzah Halimah Alaydrus.

Jika ada majelis ilmu dan majelis dzikir di waktu yg sama, mana yg harus dihadiri, sedangkan keduanya sama-sama dipimpin oleh orang sholeh?

Maka hadirilah di tempat dimana hatimu sedang memerlukan apa dan yang menyenangkan hatimu. Apakah ilmu-ilmu yg makin mendekatkanmu pada Allah ataukah hatimu memerlukan mengingat Allah dengan menyebut-nyebut nama-Nya. Benarkanlah niat sebelum melakukan pekerjaan dan pasanglah niat bersamaan dengan awal pekerjaan. Jika niat itu langgeng hingga akhir amal tersebut, maka engkau akan memperoleh pahala yang sempurna di akhirat nanti.