Sholawat Cepat Naik Haji

Karena keinginan Yazid yang tampak kuat untuk menunaikan ibadah haji, Kiai Muid kemudian memberikan amalan supaya Yazid dan istri mengamalkan bacaan shalawat yang telah diterima sanadnya dari KH. Ahmad Baedlowie Syamsuri, Brabo, Grobogan, dengan syarat, shalawat ini dibaca satu kali setiap habis shalat Isya’ dan dibaca 40 kali setiap malam Jum’at.

Shalawat itu sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُبَلِّغُنَا بِهَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَزِيَارَةَ حَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ اَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلاَمِ، فِي صِحَّةٍ وَعَافِيَةٍ وَبُلُوْغِ الْمَرَامِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

Sepulang Yazid dari Kiai Muid, ia lalu ditanya oleh sang Ibunda, “Dari mana tadi, Zid?”

“Ini Bu, dari sowan Mbah Muid, mau jual tanah tapi beliau nggak bisa bantu. Aku dikasih amalan shalawat haji,” begitu kira-kira sahut Yazid.

“Oh….lha apa coba aku ikut mengamalkan, barangkali bisa ikut membantu kamu?”

Yazid kemudia turut memberikan. Hingga, ijazah shalawat tersebut diamalkan oleh Yazid, istrinya beserta Sang Ibunda. Justru ibunya yang tidak langsung mendapat ijazah dari Kiai Muid langsung ini, malah yang paling rajin mengamalkan dari pada Yazid sendiri yang tak begitu rajin.

Tidak sampai jeda waktu yang lama, setelah mereka mengamalkan shalawat, Yazid ditakdirkan Allah bertemu dengan kakaknya yang berprofesi sebagai makelar tanah atau bisnis properti.

Ia meminta tolong kakaknya ini untuk dijualkan tanah dengan sebuah ikat janji bahwa yang dibutuhkan Yazid hanya uang 70 juta saja. Selebihnya ia tak mau tahu, silakan kalau mau ambil untung. Untung berapa pun di atas 70 juta, ia serahkan menjadi hak milik sang adik.

Tanah, yang semula ia tawarkan ke berbagai macam orang dengan patokan harga 70 juta tidak kunjung terjual itu sekarang berubah justru laku pada kisaran angka 100 juta melalui tangan kakaknya.

Sesuai dengan janji yang telah ia sampaikan, Yazid tidak berkenan menerima kelebihan dari harga yang ia butuhkan. Bagaimanapun pula, ia sudah mengikat janji. Begitu pula kakaknya, sebagai saudara, ia ikhlas tak menginginkan balasan apapun dalam hal ini. Ia hanya ingin membantu kelancaran cita-cita sang adik yaitu menunaikan rukun Islam ke-5 berupa ibadah haji.

Akhirnya uang sisa dari 70 juta yang ditolak masing-masing kedua belah pihak, oleh sang kakak  mengusulkan bagaimana kalau kelebihan uang 30 juta ini dibuat membiayai sang ibunda menunaikan ibadah haji sekalian. Sehingga akhirnya mereka telah mencapai kata sepakat.

Jadi, karena keberkahan shalawat itu setelah dibaca oleh orang tiga, ketiga orang itu pula dipanggil oleh Allah Ta’ala untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah.

Advertisements

Kisah Pelajaran Tauhid Berharga Untuk Anak

Ada anak bernama Adi yang ingin mengikuti study tour ke sebuah kota.

Adi : Yah, ini jadi gak, Adi mau ikut Study Tour?
Ayah : Kamu sudah bilang belum ke Allah?
Adi : Belum, yah.
Ayah : Bilang dulu deh ke Allah, masih ada waktu berapa?
Adi : Sekarang hari Kamis, harus bayar maksimal besok Jum’at, Sabtu mau berangkat.
Ayah : Yasudah, masih ada Maghrib, Isya, sholat malam dan masih ada Subuh di Jum’at pagi, buat doa. Sudah, kamu sholat dulu, doa dulu sama Allah.

Adzan Maghrib pun berkumandang.

Ayah : Ayo kita ke masjid, kita minta sama Allah, supaya kamu nanti bisa berangkat ikut study tour. Harus bayar berapa?
Adi : Rp. 27.000.
Ayah : Ayo kita minta Rp. 27.000.

Setelah selesai sholat Maghrib, si ayah menyuruh Adi berdoa.

Ayah : Kamu berdoa, silahkan! Jangan dalam hati, supaya ayah bisa mengamini.
Adi : “Ya Allah, saya ingin ikut study tour, tapi ini ya Allah, punya ayah pelit banget, Rp. 27.000 aja harus sholat dulu, harus doa dulu, ya itulah mudah-mudahan ayah ngasih.”
Ayah : Huss..doanya langsung ke Allah.
Adi : “Ya Allah, tolong bayarin saya.”
Ayah : Huss..doanya langsung aja, bayarin kek, enggak kek, pokoknya berangkat study tour.
Adi : Yasudah. “Seperti yang dikata ayah ya Allah, Aammiiin.”
Ayah : Aammiiin.

Si Adi diajak lagi sholat Isya, dia doa lagi, ketika si Adi mikir tentang study tour, dibenerin sama ayahnya.

Ayah : Nak, kamu mikirin Allah, jangan mikirin duit.
Adi : Yaaa, tapi ini harus bayar.
Ayah : Tapi itukan kata orang, bukan kata Allah, lihat apa yang yang Allah bilang, kalo Allah bilang “berangkat ya berangkat”, betapa banyak orang yang bisa bayar, gak ikut karena sakit perut, karena ada masalah dengan orang tuanya, karena bis itu mogok, dll. Sudah kamu tidur besok bangun lagi untuk sholat malam.

Dengan nada lembut si ayah menasihati Adi yang gelisah. Dan besok harinya si Adi dipanggil ayahnya.

Ayah : Adi, sini nak! Berapa duit bayarnya?
Adi : Rp 27.000, yah.
Ayah : Sudah, ini ada duit Rp. 27.000.
Adi : Alhamdullillah.
Ayah : Sssttt, sebentar, kamu bayarin temen kamu yang belum bayar study tour!
Adi : Ooohh…trus buat Adi gimana?
Ayah : Urusan Allah.
Adi : Ooohh…urusan Allah.
Ayah : Sudah, nanti juga kamu tau.
Adi : Yasudah, assallamu’alaikum.

Berangkatlah si Adi ke sekolah dan membayarkan uangnya sesuai perintah ayahnya.

Adi : Assallamu’alaikum, Bu! Nih saya mau bayar.
Ibu Guru : Wa’alaikumsallam, nah kebetulan memang kamu termasuk yang belum bayar.
Adi : Tapi ini bukan buat saya, Bu.
Ibu Guru : Lalu buat siapa?
Adi : Siapa temen-temen saya yang belum bayar?
Ibu Guru : Ya ada tu, ada satu anak.
Adi : Yasudah Bu, kata ayah buat dia.

Ibu Guru : Loh, kamu kan belum bayar?
Adi : Tuh dia Bu, saya juga nggak ngerti. Yasudah Bu, ini buat dia (sambil memberikan uangnya).
Ibu Guru : Loh, buat kamu gimana?
Adi : Buat saya kata ayah “urusan Allah”.
Ibu Guru : Hmm..ya tapi, walaupun kamu bayarin orang lain, kamu besok nggak bisa ikut loh.
Adi : Nggak apa apa, bukan kata orang tua bukan kata ibu, tapi kata Allah.
Ibu Guru : Ya, tapi….
Adi : Yasudah Bu, wasallamu’alaikum (si Adi cium tangan lalu pergi).

Setelah membayarkan uangnya atas perintah ayahnya si Adi lapor lagi ke Allah dalam sholat Dhuhanya. “Ya Allah, sudah saya bayarkan sesuai dengan perintah dari ayah. Ya Allah kutitipkan nasibku kepadamu Ya Allah, supaya besok bisa berangkat study tour.”

Si Adi malam sabtu makin gelisah di dalam kamar dan diketaui oleh ayahnya.

Ayah : Nak, tenang, kamu InshaaAllah kalo takdirnya berangkat, pasti berangkat, kalaupun tidak maka itu takdirmu. Sudah sekarang tidur dulu, nak (sambil mematikan lampu dan menutup pintu kamar Adi).

Adi pun tidur tanpa menjawab perkataan ayahnya. Lalu pagi harinya Si Adi ini tidak mandi dan tidak berpakaian sekolah karena dia tau dia tidak akan berangkat.

Ayah : Nak, kamu tidak bakal tau kamu berangkat atau tidak sampai kamu jalan.
Adi : Tapi yah..
Ayah : Nggak ada tapi-tapian, bismilah berangkat!

Lalu berangkatlah si Adi, sebelum berangkat dia diajarkan dzikir oleh ayahnya, dan kata ayah Adi “Kalo sampai, masuk dulu mushola, sholat dhuha dulu, lapor sama Allah bahwa sudah sampai mushola, sudah sampai sekolah, walaupun tidak ikut study tour” melihat si Adi berangkat keluar rumah, ibunya ini sudah menangis.

Ibu : Ini anak terlalu kecil untuk diajarkan tauhid!
Ayah : Nggak apa apa Bu, kita kenalkan Allah kepada Adi dan semoga Allah memberi keajaiban kepada Adi.

Dan benar, seperti yang diucapkan ayahnya “Belum tentu yang punya duit berangkat, dan belum tentu yang nggak punya duit nggak berangkat”.
Lalu diabsenlah satu-satu naik bis. Anak yang kemarin berdoa pagi-siang-sore-malam dan di hari terakhir dia bersedekah, Alhamdullillah tidak berangkat juga. Namun tiba-tiba satu pintu bis terbuka, ada ketua kelas turun.

Teman Adi : MasyaAllah, kok kamu gak ikut?
Adi : Ya begitulah..
Teman Adi : Gitu gimana? Belum bayar ya?
Adi : Ya belum sih..ya begitulah..
Teman Adi : Ooohh..jadi sekarang gak ikut nih?
Adi : Ya begitulah..
Teman Adi : Yasudah, jagain sekolah ya! Assallamu’alaikum!
(dengan perasaan sedih Adi menjawab salam dari ketua kelas)
Adi : Wa’alaikumsallam.

Lalu berangkatlah bis tersebut. semua orang melambaikan tangan termasuk anak yang dibayarin Adi. Setelahnya dia lapor lagi ke Allah dia sholat Dhuha, kali ini dia nangis “Ya Allah, nasibku begini amat ya..”

Setelah selesai sholat dan bersiap memakai sepatu, datang mobil alphard warna hitam ke sekolah, turun seorang ibu dan anaknya.

Ade : Woy, Assallamu’alaikum Adi!
Adi : Loh Ade, waalaikumsallam.
Ade : Udah pada berangkat ya?
Adi : Iya udah pada berangkat.
Ade : Kok kamu gak ikut? Ketinggalan ya?
Adi : Ya begitulah, sebenarnya sih bukan ketinggalan, saya belum bayar. Lalu kamu sendiri kenapa?
Ade : Ya niatnya mau berangkat, eh kok udah ditinggal aja sama bis, soalnya kena macet di jalan. Bentar ya!
Adi : Hah, eh iya..

Si Ade lalu bilang ke ibunya tentang Adi dan..

Ibu Ade : Yuk, kita susul teman-teman kalian, kita naik mobil!
(dengan kagetnya Adi menjawab)
Adi : Subhanallah, naik mobil? Alphard hitam ini?
Ade : Iya, naik!
Adi : AllahuAkbar, hmm bismillah.
(dengan perasaan bercampur aduk, Adi naik dan duduk di dalam mobil tersebut)
Ibu Ade : Yang enak ya dik, duduknya.
Adi : Iya tante.

Lalu di perjalanan si Adi nangis, berlinang air mata.

Ade : Kenapa kamu? Nggak pernah naik Alphard, ya? (sambil bercanda Ade menghibur Adi)
Adi : Nggak, ayah saya bener, ayah saya bener.
Ade : Memang ayahmu ngomong apa?
Adi : ” Yang punya duit belum tentu berangkat, yang nggak punya duit belum tentu nggak berangkat, dan yang bayar belum tentu berangkat dan yang belum bayar belum tentu juga nggak berangkat”.
Ade : Ooohhh.. (si Ade hanya terdiam bingung dan heran)

Lalu berhentilah mobil tersebut di kilometer 26 dan mampir di sebuah rest area, terlihat ibu Ade dari kejauhan membawa makanan yang banyak dan enak untuk Ade dan Adi. Lalu si Adi meneteskan air mata lagi.

Ade : Walah, nangis lagi, kenapa kamu?
Adi : enggak, saya lagi ngebayangin temen-temen yang bayar Rp. 27000 cuma dapat 1 roti.
Ade : Oohhh.. (Ade masih terheran sambil memakan makanan dari ibunya)

Di sisi lain, tepatnya di rumah Adi.

Ayah : Bu, kalo anak kita pulang di jam 9 pagi ini, berarti dia gagal pergi, tapi semoga dia bertemu Allah.
Ibu : Aamiiin, Pak.

Tetapi siapa sangka si Adi tidak pulang dan pulang jam 7 malam.

Adi : Assallamu’alaikum, Yah, Bu!
Ayah : Waalaikumsallam, wuih..keren, bawa apa itu?
Adi : Ini ada tales, singkong, pisang.
Ayah : Subhanallah anak ayah!

Lalu diceritakanlah perjalanan Adi mulai berangkat sampai pulang kepada ayahnya.

Ayah : Sipp, bagus, akhirnya berangkat kan, besok pagi, berangkat seperti itu lagi ya. Doa, doa, doa. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

*Pelajaran yang diajarkan ayah kepada anaknya bahwa dahulukanlah Allah dari apapun.

Mati Sebelum Mati

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Fath Ar-Rabbani wal-Faidh Ar-Rahmani. Beliau mengatakan, “Wahai hamba Allah, sadarilah bahwa engkau hanya sebatas diberi harapan. Maka, jauhilah segala sesuatu selain Allah Azza wa Jalla dengan kalbumu sehingga engkau dapat dekat kepadaNya. Matilah engkau sebelum mati. Matilah engkau dari dirimu dan makhluk. Sungguh telah diangkat berbagai hijab dari dirimu dan Allah Azza wa Jalla.”
Seseorang bertanya, “Bagaimana saya harus mati?” Lalu beliau menjawab:

“Matilah dari mengikuti kemauan, hawa nafsu, tabiat dan kebiasaan burukmu, serta matilah dari mengikuti makhluk dan dari berbagai sebab. Tinggalkanlah persekutuan dengan mereka dan berharaplah hanya kepada Allah, tidak selainNya. Hendaklah engkau menjadikan seluruh amalmu hanya karena Allah Azza wa Jalla dan tidak mengharap nikmatNya.
Hendaklah engkau bersikap ridha atas pengaturan, qadha dan tindakanNya. Jika engkau melakukan hal yang demikian, maka hidup dan matimu akan bersamaNya. Kalbumu akan menjadi tentram. Dialah yang membolak-balikkannya sesuai dengan kehendakNya. Kalbumu akan selalu menjadi dekat kepadaNya, selalu terhubung dan bergantung kepadaNya. Engkau akan selalu mengingatNya dan melupakan segala perkara selain DiriNya.
Kunci surga adalah ucapan La ilâha illa Allâh, Muhammadur-Rasûlullâh. Sedangkan esok, kunci surga adalah kefanaan dari dirimu, orang lain, dan segala sesuatu selain Allah, dan dengan selalu menjaga batas-batas syariat.
Kedekatan kepada Allah adalah surga bagi manusia, sedangkan jauh dari Allah adalah neraka untuk mereka. Alangkah indah keadaan seorang mukmin, baik di dunia ataupun di akhirat. Di dunia dia tidak berkeluh-kesah atas keadaaan yang dia alami, setelah dia memahami bahwa Allah meridhainya, dimana pun dia berada cukuplah bagiannya dan ridha dengan bagian itu. Kemanapun dia menghadapkan wajahnya, dia memandang dengan cahaya Allah. Setiap isyaratnya adalah kepadaNya. Setiap kebergantungan adalah kepadaNya. Setiap tawakalnya adalah hanya kepadaNya.
Berhati-hatilah, jika ada seorang di antara engkau merasa bergembira berlebihan karena telah melakukan ketaatan, karena boleh jadi ada rasa takjub ketika dilihat orang lain atau berharap pujiannya.
Barangsiapa di antaramu ingin menyembah Allah, hendaklah memisahkan diri dari makhluk. Sebab, perhatian makhluk pada amal-amal mereka dapat merusaknya. Nabi SAW bersabda, “Engkau mesti ber-uzlah, sebab uzlah adalah ibadah dan bentuk kesungguhan orang-orang shaleh sebelum kalian.”
Engkau mesti beriman, lalu yaqin dan fana dalam wujud Allah, bukan dalam dirimu atau orang lain. Dan, tetaplah menjaga batas-batas syariat dan meridhai Rasulullah SAW. Tidak ada karamah bagi orang yang mengatakan sesuatu selain hal ini. Karena, inilah yang terjadi dalam berbagai shuhuf dan lawh kalam Allah Azza wa Jalla.
Engkau harus selalu bersama Allah; memutuskan diri untuk selalu denganNya dan bergantung kepadaNya. Hal demikian akan mencukupkan dirimu dengan pertolongan (ma’unah) di dunia dan akhirat. Dia akan menjagamu dalam kematian dan kehidupan, menjagamu dalam setiap keadaan. Engkau harus memisahkan yang hitam dari yang putih!”

Fadilah Mendoakan Ahli Kubur

Oleh Habib Novel Alaydrus.

Mengirim Al-Fatihah pada ahli kubur pada saat lewat kuburan bisa menjadikan kita punya hubungan dengan mereka. Pada saat kita meninggal, mereka akan menyambut dan mengenali kita, apalagi jika kita sering kirim Al-Fatihah pada waliyullah, agar kita mendapat syafaat/pertolongannya, salah satu contohnya adalah terbebas dari pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir.

Jika tidak hafal doa saat lewat kuburan, bacalah Al-Fatihah dengan niat untuk semua arwah muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat yang ada di kuburan ini. Fadhilahnya kita akan mendapatkan ampunan sebanyak seluruh ahli kubur muslimin. 

Ada seorang sholeh yang setiap malam Jum‘at ke makam dan mendoakan para ahli kubur. Suatu hari ia absen karena ada halangan, malamnya ia langsung bermimpi bertemu ribuan orang mengucap berterima kasih padanya. Ternyata orang-orang itu adalah para ahli kubur yang setiap minggunya ia doakan, yang mendatangi orang sholeh tersebut untuk mencari tahu kenapa ia tidak datang pada malam Jum’at tersebut.

4 Hal Yang Jangan Ditunda

Oleh Habib Novel Al-Aydrus.

Ada 3 hal yang tidak boleh ditunda, yaitu:

  1. Mengerjakan amal soleh. Jangan tunggu waktu luang. Kalo ditunda, nanti ujung-ujungnya tidak akan dikerjakan. Misalnya: menunda pakai hijab, menunda memaafkan orang, menunda sedekah, dll.
  2. Menikahkan anak gadis. Orang tua dan anak hendaknya minta sama Allah agar dikaruniakan jodoh yang membahagiakan dunia dan akhirat. Jangan ngoyo/muluk-muluk minta yang sholeh, ganteng, kaya, pintar dan menyenangkan, karena banyak yang minta seperti itu tapi stok terbatas, karena belum tentu kita pantas mendapatkannya.
  3. Membayar hutang. Jika ingin berhutang niatkan akan membayar hutang tersebut, Allah akan menjamin rezekinya untuk membayar hutang-hutangnya, tapi jangan sampai mau kaya dengan berhutang. Jika rezeki kita mandek, bisa jadi mandeknya karena hutang-hutang kita yang belum terbayar, atau pas kita ada uang tapi tidak langsung dibayar.
  4. Menguburkan jenazah. Jika yang meninggal orang baik, segera dikubur agar cepat dimuliakan di alam kubur. Kalau jenazah tersebut orangnya buruk, segera dikubur agar jangan sampai kita terkena dampak buruknya juga. Tapi bukan berarti kita ngomongin kejelekan jenazah tersebut, tetap berhusnudzon dengan mereka, bahwa semua jenazah muslim insyaallah husnul khotimah. Sunnah Rasulullah: sebutkan kebaikan orang yang meninggal.

8 Jenis Rezeki

Oleh Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc.

Yang kerja keras belum tentu mendapat banyak.

Yang kerja sedikit belum tentu mendapat sedikit.

Karena sesungguhnya sifat Rezeki adalah mengejar, bukan dikejar.

Rezeki akan mendatangi, bahkan akan mengejar,

hanya kepada orang yang pantas didatangi.

Maka, pantaskan dan patutkan diri untuk pantas di datangi, atau bahkan dikejar rezeki.

Inilah hakikat ikhtiar.

Setiap dari kita telah ditetapkan rezekinya sendiri-sendiri.

Karena ikhtiar adalah kuasa manusia, namun rezeki adalah kuasa Allah Azza Wajalla.

Dan manusia tidak akan dimatikan, hingga ketetapan rezekinya telah ia terima, seluruhnya.

Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk harta.

Ada yang diluaskan dalam bentuk kesehatan.

Ada yang diluaskan dalam bentuk ketenangan dan keamanan.

Ada yang diluaskan dalam kemudahan menerima ilmu.

Ada yang diluaskan dalam bentuk keluarga dan anak keturunan yang shalih.

Ada yang dimudahkan dalam amalan dan ibadahnya.

Dan yang paling indah, adalah diteguhkan dalam hidayah Islam.

Hakikat Rezeki bukanlah hanya harta, rezeki adalah seluruh rahmat Allah Ta’ala.

8 JENIS REZEKI:

  1. Rezeki Yang Telah Dijamin

‎وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud:6)

2. Rezeki Karena Usaha

‎وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya.” (QS. An-Najm:39)

3. Rezeki Karena Bersyukur

‎لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim:7)

4. Rezeki Tak Terduga

‎وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا( ) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq:2-3)

5. Rezeki Karena Istighfar

‎فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ( ) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا

“Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan memperbanyak harta.” (QS. Nuh:10-11)

6. Rezeki Karena Menikah

‎وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya. (QS. An-Nur:32)

7. Rezeki Karena Anak

‎وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” (QS. Al-Israa’:31)

8. Rezeki Karena Sedekah

‎مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

“Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah:245)

 

22 Wasiat Habib Abdullah Bin Alwi Alhaddad

1. Apabila kalian ingin agar anak-anak kalian menjadi anak yang cerdas dalam berfikir (tangkas), maka lazimkan agar banyak bergerak.

2. Apabila kalian ingin agar mereka menjadi anak yang sehat maka lazimkan agar bangun akhir malam.

3. Apabila kalian ingin agar mereka bercahaya hatinya dan pemahamannya terbuka, maka lazimkan agar sedikit makan dan rasa lapar.

4. Apabila kalian ingin agar mereka berakhlaq bagus maka lazimkan untuk berteman dengan teman yang bagus serta kalian jaga dari teman-teman yang jahat.

5. Apabila kalian ingin agar mereka memiliki rasa kasih sayang, maka lazimkan mereka untuk mencari ilmu di selain kampungnya dan carikanlah guru selain kalian.

6. Apabila kalian ingin agar mereka menjadi anak yang shaleh, maka jangan kalian agungkan urusan dunia di hadapan mereka.

7. Apabila kalian ingin agar mereka menjadi waliyullah dan selalu dalam hidayah, maka lazimkan mereka untuk makan makanan halal, serta kalian jaga dengan sungguh-sungguh dari perkara syubhat.

8. Apabila kalian ingin agar mereka mempunyai sifat dari sifat-sifatnya orang mulia, maka pilihlah baginya ibu dari keluarga yang mulia.

9. Apabila kalian ingin agar mereka menghormati dan memuliakan kalian, maka jangan banyak berkata kasar yang memberatkan mereka dan jangan banyak berkata lembut yang membuat mereka meremehkannya. Akan tetapi berkatalah kepada mereka seperlunya saja.

10. Apabila kalian ingin agar urusan mereka selau dipegang oleh Allah, maka jangan memperbanyak lemah lembut/kasihan kepada mereka.

11. Apabila kalian ingin agar mereka selalu beruntung dalam urusan agama dan dunianya, maka wajib untuk kalian selalu ikhlas dalam segala amal dan jauhilah perkara haram dan syubhat.

12. Apabila kalian ingin agar mereka menjadi pemberani, maka lazimkan kepada mereka untuk dermawan.

13. Apabila kalian ingin agar mereka bebas dari sifat-sifat munafik, maka lazimkan mereka untuk shalat berjamaah di masjid pada awal waktu.

14. Apabila kalian ingin agar mereka selalu khusyuk dan takut kepada Allah Swt., maka lazimkanlah kepada mereka al-Quran di waktu sahur.

15. Apabila kalian ingin agar mereka dijaga dari setiap bencana, maka lazimkan mereka untuk beristighfar di waktu sahur (sebelum Shubuh).

16. Apabila kalian ingin agar mereka kaya (kaya hati), tercapai segala cita-cita dan dijaga dari segala bencana, maka lazimkanlah mereka agar selau membaca shalawat kepada Nabi SAW dengan cara dibaca waktu malam 92 kali dan siang 92 kali, yakni shalawat Thibbil Qulub:
“Allaahumma sholli ‘alaa sayyidinaa muhammadin thibbil quluubi wadawaa-ihaa wanuuril abshoori wadhiyaa-ihaa wa‘aafiyatil abdaani wasyifaa-ihaa wa‘alaa aalihi washohbihi wasallim.”

17. Apabila kalian ingin agar mereka mendapatkan husnul khatimah ketika meninggal, maka lazimkan mereka membaca 41 kali dzikir yang dibaca di antara shalat Qabliyah Shubuh dan shalat Shubuh:
“Yaa Hayyu Yaa Qayyuumu Laa Ilaaha Illa Anta.”

18. Apabila kalian ingin agar mereka panjang umur, maka bersedekahlah untuk mereka, dan ajarkan kepada mereka hal tersebut agar mereka mengerjakannya setelah kalian.

19. Apabila kalian ingin agar mereka menjadi kuat dan penyabar, maka jauhkan mereka dari kampung halaman untuk menziarahi orang-orang shaleh yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal untuk mendapatkan keberkahan dari mereka.

20. Apabila kalian ingin agar mereka selalu berprasangka baik kepada orang-orang pilihan Allah, dan jauh dari berprasangka buruk, maka larang mereka untuk duduk dengan orang-orang bodoh yang tidak peduli dengan perkara agama mereka.

21. Apabila kalian ingin agar mereka menjadi seorang pemimpin kaum (orang terpandang), maka jauhkan mereka dari orang-orang bodoh yang tidak peduli dengan perkara agama mereka.

22. Apabila kalian menghendaki mereka menjadi pemuka agama (tokoh agama dan masyarakat), maka cegahlah mereka dari pada berkumpul atau bergaul dengan perempuan dan orang tua dan lazimkan bagi mereka berkata benar atau jujur serta tawadhu’ (merendah).

Manaqib Sayyidatuna Fathimah Albatuul

Sumber: Fanpage Na’am Qolby Ma’ak

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menentukan sejak dahulu kala untuk memilik sebagian dari hamba-hamba-Nya. Maha Suci Allah yang telah mengangkat kedudukan mereka serta menempatkan mereka dekat disisinya di dunia dan di akhirat. Semoga shalawat dan salam tercurahkan atas kekasih-Nya yang telah dipilih, juga atas keluarga beliau yang suci dan para sahabat-sahabat beliau sebaik-baiknya sahabat, serta atas orang-orang yang berjalan di jalan mereka sampai pada hari ketika kita menjumpai-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Pengampun. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang yang beruntung yang telah dipilih dan didekatkan oleh Allah. Amin.

Sejak lama ada di dalam benakku sesuatu yang mungkin bisa aku berikan kepada istriku, putri-putriku, adik perempuanku, bahkan para saudari-saudari muslimah juga bagi umat Islam secara umum. Yaitu sebuah ” HADIAH “yang mungkin bisa dijadikan sebagai prasasti dan contoh serta qiblat dalam kehidupan mereka, yang mana aku temukan sebaik-baik hadiah yang cocok bagi mereka di zaman seperti ini adalah mengingat kembali sebuah sejarah bidadari yang berbentuk manusia, yaitu:

“Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra Al-Batuul “

Yang mana Allah pilih di antara para wanita-wanita untuk menjadi suri tauladan bagi para wanita-wanita muslimat. Yang mana Beliau Sayyidatuna Fathimah adalah ibu para lelaki-lelaki kesatria yang tangguh.

Ketika aku pelajari sejarah Sayyidatuna Fathimah Al-Batuul serta aku resapi cerita-ceritanya membuat rasa rindu yang terpendam di dalam hatiku tergerakkan sehingga membuat hatiku menangis karna rasa rindu yang ada, juga karena rasa malu dan pilu!

Bahkan di sebagian cerita aku terdiam, tanpa terasa air matapun tak sanggup ku bendung, mengalir di wajah yang penuh dosa ini atas apa-apa yang terjadi dalam kehidupan beliau “Rodhiallahu ‘Anhaa” dalam mempertahankan dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama juga atas akhlaq-akhlaq serta budi pekerti yang luhur dan pengarahan-pengarahan yang berdasarkan asas Islam yang dengannya Nabi SAW di utus.

 

SOSOK BELIAU

Cukup bagi kita untuk mengenal Sayyidatuna Fathimah kalau kita tanya diri kita: Puteri siapakah beliau? Istri siapakah beliau? Ibu siapakah beliau?

Banyak riwayat yang menyebutkan keagungan-keagungan beliau. Di antaranya: Rasullah SAW bersabda: “Fathimah adalah belahan jiwaku siapa yang membuatnya marah maka telah membuatku marah.” (Diriwayatkan oleh Miswar bin Makromah)

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya puteriku Fathimah adalah bidadari yang suci tidak pernah haid.”

Diberi nama Fathimah (dalam Bahasa Arab fathuma-yafthumu berarti memisah atau melepas), karena Allah melepas/meyelamatkan anak cucunya & para pecintanya dari api neraka. Mudah-mudahan dengan sebab mempelajari sejarah beliau kita dimasukan dalam golong orang-orang yg mencintainya. Amin.

Diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya keridhoan / kemurkaan Allah ada pada Fatihmah.”

Rasulullah SAW bersabda: “Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin para pemuda surga dan Fathimah pemimpin para wanita di surga.” (Diriwayatkan oleh Sa’id Al-Khudri)

Diriwayatkan juga, Rosulullah SAW bersabda: “Telah datang padaku malaikat dari langit yang tidak pernah datang padaku meminta ijin untuk ziaroh kepadaku dan memberi kabar gembira bahwa puteriku Fathimah adalah pemimpin para wanita umatku.”

Ketika Allah mengutus para Nabi dari jenis laki-laki dan Allah jadikan dari jenis perempuan yang pertama menerima “risalah” dari Nabi SAW adalah Khadijah binti Khuwailid, kemudian Allah menjadikan siapa yang mengikuti Nabi Muhammad SAW adalah pusat kebaikan dan penyebab kecintaan Allah.

Katakan wahai Muhammad pada umatmu, “Jika kalian cinta kepada Allah ikuti jejakku, maka Allah akan cinta kepada kalian”

Sebagian wanita berkata: ”Bagaimana mencontoh Rasulullah SAW sedangkan sebagian perkara berhubungan khusus dengan wanita, maka wanita tidak bisa sepenuhnya meniru Rasulullah?”

Kita katakan: “Sesungguhnya Allah Swt. telah memuliakan para wanita dengan digolongkan menyerupai Rasulullah SAW apabila menyerupai bid’atuh/bagian dari Nabi Saw yaitu Sayyidatuna Fathimah. Beliau SAW bersabda: “Fathimah bagian dariku yang mana Fathimah tidak akan terpisah dariku.”

Apabila para wanita menyerupai Sayyidatuna Fathimah, maka sesungguhnya mereka telah menyerupai asal sunnah Rasulallah SAW dan mendapat pahala yang agung dari Allah Swt. Fathimah adalah anugerah dari Allah untuk para wanita.

 

AWAL KELAHIRAN & KELUARGANYA

Sayyidatuna Fathimah dilahirkan di rumah yang agung yang berada di Makkah rumah Al-Amiin, Ash-Shaadiq. Ibunya, Khadijah binti Khuwailid, wanita yang agung derajatnya dan mulia budi pekertinya. Dia adalah pemimpin wanita Makkah dalam segi kemuliaan, kewibawaan, serta kehormatan, sedangkan ayahnya siapakah dia?

Dia adalah seorang yang dikenal di kalangan kaum Quraisy Ash-Shaadiq, Al-Amiin, dan pemuda paling pintar, yang paling utama dari segala segi.

Siapa yang melihat wajahnya akan terpaku atas kehaibaannya, siapa yang bergaul dengannya pasti mencintainya. Cahaya kebenaran dan rahmat selalu terpancar dari raut wajahnya.

Saudari Sayyidatuna Fathimah, 3 orang:

1). Sayyidatuna Zainab

2). Sayyidatuna Ruqayyah

3). Sayyidatuna Ummu Kultsum

Sayyidatuna Fathimah anak terakhir dari Sayyidatuna Khadijah. Dilahirkan 5 tahun sebelum diutusnya Rasulullah SAW, di sebuah peristiwa yang agung peristiwa yang bersejarah yang tercatat dalam hati setiap muslim.

Allah ingin agar manusia tidak melupakan kelahiran bayi yg mulia ini sehingga di lahirkan di hari yang mulia. Karena Sayyidatuna Fathimah di lahirkan di hari diperbaruinya Ka’bah “Baitullah”. Karena itu di sini ada rahasia yang agung, Allah menjadikan kelahiran Sayyidatuna Fathimah di hari diperbaruinya “Al-Bait/Ka’bah” karena Fathimah adalah Ummu Ahlil Bait.

Baitullah dibangun bersamaan dengan kelahiran Ummu Ahlil Bait yaitu Fathimah binti Muhammad. Karena akan keluar darinya keturunan dan keluarga Rasulullah SAW di hari ini. Akan tampak jelas Baitullah dan begitu juga telah tampak atau lahir wanita yang akan membawa Ahlul-Baitnya Rasulillah SAW.

Wajah Rasulullah sangat gembira dan berseri-seri bagai rembulan mendengar kelahiran Fathimah walaupun beliau adalah anak perempuan ke-empat. Di mana orang-orang dulu membenci anak perempuan bahkan sebagian dari mereka apabila lahir anak perempuan wajah mereka merah karena marah, benci dan malu. Bahkan mereka menyendiri malu menemui orang. Sebagian besar mereka mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Nabi SAW hidup di gelapnya zaman jahiliyah mendapat anugerah anak perempuan.

 

HIKMAH KELAHIRAN BELIAU

Di gelapnya zaman jahiliyah yang menjadikan wanita bagaikan binatang dan budak hawa nafsu, Rasulullah dikaruniai seorang anak perempuan yang mana akan menjadi “Qiblat” dan “Mahkota” bagi para wanita.

“Siapa saja wanita yang tidak berqiblatkan Fathimah dan bermahkotakan Fathimah, maka apa yang terjadi di zaman jahiliyah akan terulang. Wanita akan hina dan jadikan budak hawa nafsu.”

Bergembiralah Nabi SAW dengan lahirnya sang buah hati dan berkata kepada Sayyidatuna Khadijah: “Sesungguhnya dia adalah anak yang cantik laksana angin sepoi-sepoi yang indah dan penuh barokah.”

Kemudian Nabi SAW menggendongnya dan menciumnya maka semakin tampaklah kegembiraan Sayyidatuna Khadijah karena Fathimah adalah manusia paling mirip dengan ayahnya. Kemiripan tersebut sebagai penyebab Sayyidatuna Fathimah mendapatkan cinta yang berlebihan dan perhatian khusus.

Rumah tempat dilahirkannya Sayyidatuna Fathimah adalah rumah yang diliputi kemuliaan dan kehormatan yang berasaskan budi pekerti dan ahklaq yang luhur. Di tempat yang luhur dan yang penuh cahaya tumbuhlah sang bunga mawar yang elok nan menawan, yang menjadi harapan setiap wanita.

Rumah tempat dilahirkan Fathimah, adalah rumah tempat turun wahyu. Ketika turun wahyu pertama kali Nabi datang dalam keadaan takut. Berkatalah Sayyidatuna Khadijah: “Wahai Rasulullah jangan takut, sesungguhnya Allah takkan menyia-nyiakanmu karna engkau orang yang suka bersedekah, menyambung tali silaturrahmi, dan selalu membantu orang yang susah. Demi Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakanmu.”

Inilah Nabi SAW yang mana mulai sebelum diangkat menjadi Nabi memiliki sifat-sifat yang mulia dan Sayyidatuna Khadijah yang mana tidak dikenal di Makkah kecuali sebagai wanita yang mulia dan terhormat baik dari segi akhlaq atau budi pekerti. Di rumah tersebutlah anak-anak perempuan Nabi Muhammad SAW terdidik atas bimbingan orang tua yang penuh akhlaq yang mulia dan kasih sayang.

Sebagian ulama’ berkata: “Dilahirkannya Sayyidatuna Fathimah di masa sebelum diutusnya Nabi SAW adalah sebuah ‘Hikmah’ agar Fathimah membantu perjuangan ayahnya dan tumbuh besar bersamaan dengan tumbuh besarnya agama. Sayyidatuna Fathimah menjadi pendamping setia ayahnya, suka dan duka sampai Nabi SAW meninggal.

Sayyidatuna Fathimah adalah jantung hati yang sangat dicintai oleh Nabi SAW dan Sayyidatuna Khadijah. Sampai-sampai Sayyidatuna Khadijah setiap melahirkan mengirimkan anak-anaknya agar disusui, sebagaimana adat orang-orang Quraisy. Kecuali Fathimah, Sayyidatuna Khadijah sendiri yang menyusuinya karena cintanya yang mendalam, karena kemiripanya dengan Rasulillah SAW juga karena Fathimah adalah anak terakhir (paling kecil) sehingga ia mendapatkan perhatian khusus.

 

ARTI NAMA & SEBUTAN BELIAU

Sayyidatuna Fathimah disebut dengan ”Zahro” karena warna kulitnya putih indah bercampur dengan kemerah-merahan. Sebagian mengatakan

Sayyidatuna Fathimah disebut “Zahroh” karena ia menerangi penduduk langit sebagaimana tampak penduduk bumi gemerlapnya bintang yang ada di langit.

Fathimah juga disebut “Al-Batuul atau suci”, karena ia tidak putus dan bersemangat dalam beribadah. Sebagian mengatakan ia disebut

“Al-Batuul” karena tidak ada wanita di zamannya yang menandingi kemuliaan, keagungan, dan derajat Sayyidatuna Fathimah.

Nama-nama Sayyidatuna Fathimah masih banyak lagi, yaitu: Siddiqoh, Mubarokah, At-Tohiroh Az-Zakiyyah, Ar-Rodiyah, Al-Mardiyyah. Juga dipanggil “Ummi Abiha” oleh ayahnya, yang berarti sebagai ibu bagi ayahnya. Mengapa?

Karena sepeninggal ibunya yaitu Sayyidatuna Khadijah, Fathimah selalu membantu Rasulullah SAW dalam segala hal, selalu siap siang dan malam demi kepentingan ayahnya SAW sampai akhir hayat Beliau, selalu dalam khidmat ayahnya, oleh karena itu Sayyidatuna Fatihmah dijuluki “Ummi Abiha”, cukup bagi fathimah julukan tersebut satu kemuliaan dan kedudukan yang tinggi.

 

SAYYIDATUNA FATHIMAH DIMATA AYAHNYA

Sayyidatuna Fathimah adalah paling miripnya manusia dengan Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah: “Tidak pernah aku melihat manusia yang mirip dengan Rasulullah dalam segi diam, bicara, juga dalam berjalan atau cara duduknya seperti Fathimah binti Muhammad. Rasulullah SAW setiap didatangi Fathimah, berdiri dari tempat duduknya dan mencium kening Fathimah dan mendudukkan Fathimah di tempat duduknya. Begitu juga Fathimah jika didatangi Rasulullah SAW.”

Anas bin Malik berkata: “Tidak ada yang mirip dengan Rasulullah SAW seperti Hasan bin ali dan Fathimah binti muhammad”.

Sayyidatuna Aisyah berkata: “Saya tidak pernah melihat seseorang yang paling menyerupai Nabi SAW dalam kata-katanya atau cara bicaranya seperti Fatimah.”

Sayyidatuna Fathimah adalah wanita paling cantik karena serupa dengan makhluk paling tampan. Dan Fathimah memiliki tempat khusus di hati Nabi SAW. Sungguh banyak sekali Nabi SAW memberikan bisyaroh pada Fathimah.

Sayyidina Ali bertanya: “Wahai Rasulullah SAW siapa yang paling engkau cintai, aku atau Fathimah?”

Nabi SAW menjawab: “Fathimah adalah orang yang paling aku cintai sedang engkau lebih mulia darinya.”

Nabi SAW juga bersabda: “Fathimah adalah orang yang paling aku cintai di antara keluarga-keluargaku.”

Sayyidatuna Aisyah pernah ditanya: “Siapakah orang yang paling di cintai oleh Nabi SAW?”

Aisyah menjawab: “Fathimah, dan dari golongan laki-laki yaitu suaminya (Ali bin Abi Tholib).”

Nabi SAW bersabda: “Fathimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya, maka telah menyakitiku. Siapa yang membuat Fathimah gembira, maka telah membuatku gembira. Semua nasab terputus di hari Qiyamat kecuali nasabku.”

Sayyidatuna Fathimah walaupun dalam umur yang masih kecil ia menjadi gambaran dan suri tauladan. Nabi SAW berkata: “Wahai kaum Quraisy, bani Abdul Muttholib, Abas bin Abdul Muttholib, Shofiyyah ‘ammati (bibi) Rasulillah selamatkan dirimu karena aku tidak dapat berbuat apa-apa atas kalian di depan Allah.” Kemudian Nabi menujukan pembicaraan ke Sayyidatuna Fathimah, dan berkata: “Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkan dirimu karena aku tidak dapat berbuat apa-apa di hadapan Allah.” (HR. Bukhori Muslim)

Sebagain orang heran, bagaimana Nabi SAW menujukan pembicaraannya kepada kaum Quraisy, paman-pamannya, juga bibinya, kemudian menujukannya kepada anak kecil yang berusia 7 tahun?

Tidak lain karena Nabi SAW mengetahui kekhususan, keistimewaan dan pengetahuanya yang luas juga karena kecerdasannya dalam meresap ilmu yang diberikan Nabi SAW.

Coba anda renungkan apa yang ada dalam hati Zahro, sedang dia dalam umur yang masih ketika mendengar ayahnya mengkhususkan dalam khithobnya?

Tidak diragukan lagi khitob yang ditujukan ayahnya semakin membuat semangat dan mengerakkan Sayyidatuna Fathimah serta memberi kekuatan yang luar biasa dalam hatinya. Seakan-akan Nabi memberikan amanat yang besar dan mengkhususkan dengan perintahnya.

 

MASA KECIL BELIAU

Di masa kecilnya, Sayyidatuna Fathimah selalu ikut di belakang ayahnya kemana beliau pergi. Mengikuti ayahnya ketika berjalan di jalan-jalan Makkah, karena kaum Quraisy telah menyakiti Nabi SAW bahkan mengirim pengintai untuk mengintai Nabi SAW, Fathimah khawatir dengan keadaan ayahnya. Sayyidatuna Fathimah telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kekerasan yang tidak pantas anak sekecil itu melihatnya.

Para ulama’ berkata bahwa Fathimah tumbuh dengan pertumbuhan yang sangat bagus. Mempersiapkan anak cucu yang ada di rahimnya, dan menumbuhkan sifat keimanan yang kuat. Karena di masa sekecil itu Fathimah menghadapi banyak cobaan yang berat, maka terbentuklah dalam diri Fathimah kepribadian yang kuat dan mandiri, yang mana dengannya memberikan kesiapan atas dirinya untuk mendidik anak-anaknya kelak.

Suatu hari Sayyidatuna Fathimah keluar, yang mana tidak tergambarkan dalam benak kita anak perempuan sekecil ini yang sangat lembut hatinya, rahmat terhadap sesama, seseorang yang penuh rasa kasih sayang, yang terdidik di rumah yang penuh keistimewaan, keluar mengikuti ayahnya menujuh Ka’bah. Ketika Nabi SAW sedang melakukan ibadah, Sayyidatuna Fathimah menunggu ayahnya di sampingnya.

Ketika ayahnya sedang sujud, datang manusia paling celaka yaitu Uqbah bin Abi Mu’ait beserta teman-temannya, mendekati Nabi yang sedang sujud, dan Uqbah menginjakkan kakinya di atas kepala Rasulullah SAW kemudian menarik Nabi dan mencekiknya dengan sangat keras sehingga mata Nabi SAW menonjol keluar.

Kemudian datang Sayyiduna Abu Bakar dengan berlari, berusaha mencegah ini, menarik ini, menahan ini. Sedangkan Fathimah hanya bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri yang diiringi air mata dan berdoa. Kemudian Uqbah dan teman-temannya berpindah memukuli dan menyiksa Sayyiduna Abu Bakar. Sayyidatuna Fathimah bergegas menolong ayahnya dan membawa pulang.

Pulang dalam keadaan menangis dan penuh kesedihan dalam hati Sayyidatuna Fatimah. Anak sekecil itu menyaksikan ayahnya dianiaya orang-orang Quraisy. Di mana seharusnya mereka berbuat baik, karena ayahnya adalah orang yang terkenal pemurah, jujur, yang selalu diperbincangkan kejujuranya. Dialah orang yang menyelesaikan pertikaian Quraisy dalam meletakkan Hajar Aswad, dan menyelamatkan Quraisy dari perpecahan, permusuhan dan pembunuhan.

Tapi, sekarang apa balasan mereka? Apa kehendak mereka? Apa yang mereka mau sehingga berbuat seperti ini? Nabi SAW tidak pernah bergaul kecuali dengan mahabbah.

 

KESABARAN DALAM MENGHADAPI KAUM KAFIR QURAISY

Sayyidatuna Fatimah mengemban derita yang mendalam di masa

pertumbuhannya. Di masa kecil yang seharusnya tidak mengenal kecuali kasih sayang, kelembutan dan kegembiraan. Akan tetapi Sayyidatuna Fatimah hidup dengan penderitaan ini dan mulai merasakan kesedihan atas ayahnya SAW.

Maka kembali Nabi SAW ke rumahnya duduk didampingi Sayyidatuna Fatimah, yang hanya bisa membisu dan menatap wajah ayahnya dengan air mata yg terus mengalir atas apa yang telah menimpa ayahnya.

Kemudian Sayyidatuna Khadijah menghampiri Nabi SAW dengan penuh kasih sayang, merawat, membersikan dan mengusap bekas darah dan memar yang ada di wajah Rasulullah SAW akibat pukulan-pukulan orang Quraisy. Tanpa disadari Sayyidatuna Khadijah meneteskan air mata dan bertanya atas apa yang terjadi, Nabi pun menceritakannya.

Suatu hari Rasulullah SAW keluar dan Sayyidatuna Fatimah mengikuti di belakangnya. Menuju ke Ka’bah kemudian Nabi melakukan sholat dan Fatimah duduk di sampaing ayahnya. Sedangkan di samping Ka’bah orang-orang Quraisy sedang berkumpul. Tiba-tiba datang salah satu dari mereka membawa bungkusan yang berisi kotoran dan darah onta yang baru melahirkan yang sangat bau dan menjijikkan, mendekati Nabi SAW dan menuangkannya di punggung, leher serta kepala Nabi SAW.

Mereka menertawakan Rasulullah SAW bergembira, menari-nari sambil bertepuk tangan. Bahkan ada yang sampai jatuh terlentang karena terlalu kuat tertawa. Rasulullah SAW tetap khusyuk dalam sujudnya. Sayyidatuna Fatimah menangis dan menghampiri ayahnya.

Dalam keadaan menangis Sayyidatuna Fatimah menghampiri ayahnya, sambil membersihkan kotoran-kotoran yang ada di pundak ayahnya seraya berdoa atas orang kafir. Kemudian Nabi SAW bangun dalam keadaan marah dan berdoa, “Ya Allah, celakakanlah Utbah bin Abi Mu’it, celakakanlah Hisam bin Hakam, celakakanlah Utbah.”

Maka Demi Allah tidak disebut nama mereka kecuali terbunuh di perang badar. Maka pulang Nabi SAW sedangkan air mata Sayyidatuna Fatimah terus mengalir. Ketika sampai dirumah Sayyidatuna membersikan kepala ayahnya dan mencuci baju ayahnya dalam keadaan menangis. Maka Nabi SAW berkata, “Wahai jantung hatiku Fathimah janganlah kau menangis karena Allah selalu menjaga ayahmu.”

Suatu hari Sayyidatuna Fathimah keluar dan menemukan kaum Quraisy sedang merencanakan sesuatu, sepertinya kali ini mereka menginginkan hal yang besar, bukan meletakkan kotoran akan tetapi mereka merencanakan sesuatu yang dahsyat. Meraka memikirkan bagaimana membunuh Nabi SAW. Ketika mendengar kabar ini, maka Sayyidatuna Fatimah berlari dengan cepat.

Dengan cepat Sayyidatuna Fatimah berlari menuju Ka’bah dan memeluk ayahnya sedang wajah Sayyidatuna Fatimah pucat dengan penuh rasa cemas. Nabi SAW bertanya: “Apa yang telah terjadi wahai anakku?”

Sayyidatuna Fatimah menjawab: “Wahai ayahku mereka merencanakan sesuatu dan akan membunuhmu. Aku takut terjadi sesuatu atasmu.”

Maka Nabi SAW berkata: “Tenanglah wahai anakku sesunggahnya Allah selalu menjaga ayahmu.”

Nabi SAW berkata: “Berdirilah bersamaku.” Maka Sayyidatuna Fatimah berdiri bersama ayahnya, keluar dari Ka’bah dengan hati yang teguh. Sedangkan orang Quraisy bersiap-siap menghadang Nabi SAW. Nabi menghadap mereka dengan berdoa dan lewat di depan mereka dengan penuh haibah/wibawa.

Orang-orang Quraisy terdiam seribu bahasa dan hanya melihat Nabi SAW melintas di depan mereka. Hati dan pikiran Sayyidatuna Fatimah tenang, Sayyidatuna Fatimah yakin bahwa ayahnya dalam lindungan dan penjagaan Allah SWT. Yakin bahwa Allah tidak menyerahkan ayahnya pada orang-orang kafir kecuali atas musibah yang mengangkat ayahnya ke martabat dan derajat yang tinggi.

Yang sangat disesalkan oleh Rasulullah SAW bahwa ujian dan gangguan yang diterima muncul dari orang terdekat sendiri, yaitu Abu Lahab (paman Nabi SAW) dan istrinya Ummu Jamil. Setiap hari Sayyidatuna Fatimah menemukan duri-duri dan kotoran di depan pintu rumahnya, dan Nabi SAW tetap sabar membersihkannya, tidak berbicara.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Sayyidatuna Fatimah melihat ayahnya tetap sabar dan berusaha untuk sabar, ayahnya selalu bermujahada/berusaha dan bersyukur. Yang mana tidak keluar dari lisannya kecuali kata-kata yang baik, juga tidak menyimpan dalam hati kecuali hal-hal yang baik. Sayyidatuna Fatimah mengambil pelajaran yang sangat berharga yaitu “Ar-Rahmah” dari Rasulullah SAW.

Kemudian Quraisy melibatkan keluarga Nabi SAW dalam permusuhannya, tetapi Nabi SAW tetap melindungi keluarganya dari gangguan Quraisy. Ummu Jamil (istri Abu Lahab) berkata: “Wahai kedua anakku kepalaku dan kepala kalian haram bersetuhan jika kalian tetap bersama anak-anak Muhammad.”

Utsbah dan Utaibah anak Abu Lahab menikah dengan Rugayyah dan Ummu Kultsum putri Nabi SAW.

Maka Utsbah dan Utaibah menceraikan Ruqayyah dan Ummu Kulsum. Di tengah panasnya terik matahari kedua putri Nabi SAW tersebut berjalan meninggalkan rumah suaminya. Perempuan yang masih muda dan cantik kembali ke rumah ayahnya dengan hati yang penuh luka dan kesedihan.

 

KISAH HIJRAH KE HABASYAH

Bayangkan, bagaimana keadaan seorang anak perempuan yang baru saja melaksanakan pernikahan, dan merasakan manisnya kasih sayang dan kegembiraan harus merasakan pedihnya dan pahitnya perceraian?  Apa salah mereka? Apa dosa mereka? Mereka tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Akan tetapi karena keras kepala, kebencian dan kebodohan, maka kembalilah Ruqoayyah dan Ummu Kulsum dengan hati penuh kekecewaan.

Fathimah menyambut kakak-kakaknya dengan aliran air mata. Bayangkan, apa yang terlintas di benak Fatimah? Mereka pergi dengan kegembiraan di malam pengantin, dan kembali dengan penuh kesedihan dan kekecewaan. Fathimah dan kedua kakaknya duduk di kamar saling menangis dan berbagi rasa.

Sedangkan Zainab telah menikah dengan Abul As bin Robi’. Orang-orang kafir Quraisy terus menekan dan memaksa Abul Ash agar menceraikan putri Nabi Muhammad SAW, yaitu Zainab. Akan tetapi Abul Ash tidak menghiraukan perkataan Quraisy karena Abul Ash sangat mencintai Zainab, dan Zainab pun sangat mencintainya.

Ketika umur Sayyidatuna Fathimah 10 tahun, datang perintah untuk

hijrah ke negeri Habasya. Karena keadaan muslimin di Makkah sangat

memprihatinkan atas gangguan-gangguan orang Quraisy. Di satu sisi,

Rasulullah SAW telah menikahkan purtrinya Ruqayyah dengan Sayyiduna Utsman.

Sayyiduna Utsman adalah orang pertama yang hijrah dalam Islam ke negeri Habasya berserta istrinya Ruqayyah. Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Utsman adalah orang yang pertama kali hijrah dengan keluarganya setelah Luth AS.” Ruqayyah mendapatkan kedudukan yang mulia ini (sebagai orang yang pertama hijrah dalam Islam).

Kita lihat bagaimana Nabi SAW meneguhkan keluarganya. Yang mana keluarga beliau selalu terdepan dalam ujian dan cobaan, selalu terdepan dalam perkara-perkata yang sulit. Putri beliau adalah wanita yang pertama kali hijrah (menempuh perjalanan yang penuh kesulitan di tengah terik matahari dan melewati gurun pasir yang penuh rintangan).

Kalau kita cermati, kita temukan dalam sejarah Islam keluarga beliaulah yang pertama kali mengorbankan diri mereka demi Allah dan agama ini. Sayyidina Utsman dan Ruqayyah kembali dari Habasya saat turunnya wahyu “Surat An-Najm” dan mengira bahwa orang Quraisy telah masuk Islam.

Sayyidatuna Fatimah gembira setelah lama berpisah dengan seorang kakak tercinta. Sayyidatuna Fatimah menyambut dengan gembira dan berpelukan. Kemudian mereka kembali untuk kedua kalinya ke Habasya setelah terbukti bahwa kabar ke Islam Quraisy adalah dusta.

 

KETEGARAN BELIAU

Masih tetap rumah/keluarga yang mulia ini dalam keadaan seperti ini.

Yang ini pergi, yang ini datang. Yang ini menikah, yang ini diceraikan.

Cobaan demi cobaan silih berganti, akan tetapi Rasulullah SAW laksana gunung yang kekar tidak bergerak sedikitpun, pantang menyerah dan selalu sabar. Dimana tidak berlalu waktu atau hari melainkan dikorbankan demi agama ini.

Betapa seringnya Sayyidatuna Fatimah tidak tidur malam menjaga dan melayani ibunya. Tampak suatu prilaku yang sangat mulia dan indah dari akhlaq fathimah yang bersumber dari seorang ibu. Suatu pelajaran yang seharusnya dan seandainya para wanita di zaman sekarang ini mempelajarinya, suatu akhlaq yang dapat mengangkat ke derajat yang tinggi.

Sayyidatuna Fatihmah setia mendampingi dan duduk di samping ibunya yang dalam keadaan tidak dapat bergerak dan berbicara. Kemudian datang Rasulullah SAW, merasa dengan kedatangan Rasulullah SAW Sayyidatuna Khadijah dengan sekuat tenaga menahan segala rasa sakit. Berdiri dengan semangat dan menampakkan ketegarannya di depan Rasulullah SAW.

Sayyidatuna Khadijah berusaha menutupi rasa sakitnya sehingga tidak menambah beban Rasulullah SAW. Sayyidatuna Fatimah melihat kejadian yang sangat menakjubkan dan begitu indah. Terdapat pelajaran yang sangat berharga, melihat ikatan “cinta” yang agung, yang luar biasa, dan murni.

Sebuah rasa dan pengorbanan “cinta” yang tidak mengetahui rasa ini baik langit ataupun bumi.

 

KISAH PEMBOIKOTAN

Subhanallah, seorang istri mencintai suaminya sampai ke derajat yang sangat tinggi ini. Sebuah cinta yang menimbulkan rasa tidak ridho jika suaminya melihat apa yang terjadi atasnya, sedangkan ia dalam keadaan sakit yang sangat parah. Tidak ingin menambah beban kesedian suaminya, tidak ingin suaminya sedih atasnya. Sungguh ini pelajaran yg berharga bagi para wanita.

Sayyidatuna Fatimah bertumbuh semakin dewasa, masa kecilnya berlalu dalam pemboikotan 13, 14, 15, berlalu dalam kesusahan dan derita dalam pemboikotan yg penuh kesengsaraan . Suatu hari datang Bilal bin Rabbah ke tempat pemboikotan dengan sembunyi-sembunyi membawa sepotong roti yang disimpan di ketiaknya agar tidak terlihat oleh orang kafir Quraisy. Bilal mendekati Rasulullah SAW dan memberikan sepotong roti ke Rasulullah SAW.

Rasulullah Saw pun menghampiri dan menyuapi Fatimah, kemudian menyuapi Ummi Kultsum, juga Sayyidatuna Khadijah dengan penuh kasih sayang. Keadaan demi keadaan dalam penuh kesusahan telah dilalui oleh keluarga yang sangat suci, keluarga yang dicintai Allah. Akhirnya, selesailah pemboikotan ini, selesai dengan sebab mu’jizat yang agung.

Rasulullah SAW telah memberi kabar bahwa isi dari surat penjanjian yang dholim itu telah dimakan oleh rayap kecuali bagian yang tertulis nama Allah (surat tersebut berada di dalam kotak yang terkunci dan diletakkan di dalam Ka’bah). Maka selesailah pemboikotan tersebut, akan tetapi peristiwa pemboikotan itu berdampak sangat buruk.

 

TAHUN KESEDIHAN

Selang beberapa hari datang kabar yang sangat menyedihkan yaitu kabar meninggalnya Abi Thalib. Sementara Abi Thalib adalah orang yang selalu mencegah dan menahan gangguan-gangguan orang kafir Quraisy dengan memanfaatkan kedudukankanya, kewibawaannya, pengaruhnya, kekayaannya, juga umurnya yang di tuakan, berusaha dengan segala macam cara.

Ketika Abi Thalib meninggal, orang kafir Quraisy tertawa dengan gembira, semakin parah gangguan dan siksaan yang diterima oleh Rasululah SAW. Anak-anak kecil serta budak-budak orang Quraisy mencaci, menghina, dan mempermainkan Nabi SAW dengan melempari batu, mereka juga menuangkan debu di kepala Rasulullah SAW.

Sesampainya di rumah masih banyak debu yang berada di kepala Rasulullah SAW. Sayyidatuna Fatimah mendekati ayahnya dan membersikan debu yang mengotori kepala sang ayah, tanpa terasa air mata pun membasahi wajahnya. Fatihmah ingin menahan tangisan hatinya, akan tetapi ia tak mampu menahan air matanya. Fathimah terus membersikan kepala ayahnya dan Fathimah terus menangis, menangis, dan menangis.

Nabi SAW menoleh dan berkata: “Wahai putriku, janganlah engkau menangis karena Allah akan menampakkan agama ini. Tidak ada tempat yang terbuat dari batu atau tanah atau kayu (keseluruh tempat), kecuali agama ayahmu akan masuk, baik menjadikan mereka mulia atau menjadikan mereka hina.”

Beginilah keadaan mereka terus dalam keadaan jihad dengan kesabaran. Hari pun terus berlalu kesehatan Sayyidatuna Khadijah semakin melemah, penyakitnya semakin parah. Sayyidatuna Fatihmah dan Ummu Kulstum setia mendampingi ibunya, dan duduk disampingnya. Rintihan rasa sakit terdengar dari bibir Sayyidatuna Khadijah, dan air matanya pun tak sanggup menutupi rasa sakitnya.

Air mata Sayyidatuna Fatimah pun membasahi pipinya, akan tetapi beliau dengan cepat mengusap air matanya karena tak ingin (takut) kesedihan diketahui ibunya. Sayyidatuna Fatimah dan Ummu Kultsum merasakan sebuah rasa sedih di dalam hati mereka atas apa yang di lihatnya bahwa ini adalah ibunya yang penuh kasih sayang dan penuh perhatian. Seseorang yang sangat dicintai oleh ayahnya. Rasulullah SAW tidak merasa sedih kecuali atas apa-apa yang menimpa Sayyidatuna Khadijah, dan Sayyidatuna Fatimah mengetahui hal itu. Jika telah pergi ibunya, siapakah yang akan menggantikan ibunya? Tidakkah cukup kesedian ini?

Tidakkah cukup kepedihan ini setelah pergi Abi Thalib, sedangkan dia adalah orang paling lembut dan sekarang ibunya harus pergi juga. Sayyidatuna Khadijah dan kedua anaknya saling berbincang-bincang dan memberi wasiat: “Wahai Fatimah, Wahai Ummu Kultsum. Aku merasa ajalku telah tiba.”

Sayyidatuna Khadijah terus memberikan wasiat-wasiatnya dan di antaranya yang terpenting dan sangat ditekankan adalah mewasiatkan untuk menjaga dan memperhatikan ayahnya.

Kesehatan Sayyidatuna Khadijah semakin melemah dan ajalnya pun sudah sangat dekat. Rasulullah SAW datang menghampiri Sayyidatuna Khadijah, seorang istri yang paling dicintainya.

Dia adalah wanita yang telah berkorban deminya, dia adalah wanita yang lemah lembut yang menyelimutinya dengan penuh kasih sayang, dan membenarkannya ketika turun wahyu. Dia adalah wanita yang selalu penuh perhatian, wanita yang memberikan bekal makanan ketika Nabi di Gua Hira. Dia adalah wanita yang menghibur Nabi ketika semua orang lari, wanita yang mempercayai ketika semua orang mendustakan. Wanita yang menolong ketika semua orang menghina dan memusuhi.

Dialah “Khadijah” yang Allah pilih untuk menemani kekasih-Nya. Ketika Rasulullah datang, mata Sayyidatuna Khadijah berkaca-kaca yang diiringi tetesan air mata yang memancarkan suatu pandangan yang penuh kasih sayang, suatu pandangan sebagai pengantar perpisahan mereka.

Kemudian Rasulullah Saw. duduk di dekat Sayyidatuna Khadijah, dengan perlahan meletakkan kepala Sayyidatuna Khadijah di pangkuannya, sedangkan di samping kamar Sayyidatuna Fatimah menangis melihat semua ini dan Ummu Kultsum berusaha meredahkan tangisan adiknya (Fatimah) yang masih kecil.

Sayyidatuna Fatimah menangis karena perpisahan dengan Sayyidatuna Khadijah bukanlah hal yang remeh. Jika seorang putri yang masih kecil ketika ditinggal ibunya bersedih sekali atau dua kali. Akan tetapi perpisahan dengan Sayyidatuna Khadijah bukanlah perpisahan dengan seorang ibu yang biasa, karena ini adalah kepergian seorang :

-Wanita muslimat yang pertama

-Wanita yang menjadi pelindung Islam

-Wanita yang sangat dicintai Rasulullah

Ketika Sayyidatuna Khadijah sedang dalam pangkuan Rasulullah Saw., datang sebuah kabar gembira. Rasulullah Saw. “Wahai Khadijah, sesungguhnya jibril datang menyampaikan salam dari Allah atasmu,

Sayyidatuna Khadijah menjawab : “Allahussalam Waminhussalam

Kemudian Nabi Saw. berkata “Wahai Khadijah sesungguhnya Allah Swt. telah memberimu kabar gembira dengan sebuah rumah yang sangat megah disurga, yang tidak terdapat di dalamnya kesusahan ataupun kesulitan sedikitpun.”

Mendengar hal tersebut bercampurlah rasa gembira dan sedih meliputi dua gadis yang cantik ini (Fatimah dan Ummu Kultsum) sebuah rasa yang aneh dan menakjubkan. Di saat mereka berdua dalam keadaan yang menggembiran dan menyenangkan atas kedudukan yang didapatkan oleh ibunya, kedudukan yang tidak dicapai seorangpun (mendapat salam dari Allah Swt.), bersamaan dengan adanya rasa gembira ini, goresan rasa pedih dan rasa sakit yang sangat mendalam bercampur atas perpisahan yang sangat berat bagi mereka. Akan tetapi ini semua adalah takdir dari Allah Swt..

Maka Sayyidatuna Khadijahpun meninggal di pangkuan Rasulullah Saw. dinamakan tahun ini dengan tahun kesedihan (‘Aamul Huzn). Rasulullah Saw. kehilangan pamanya yang selalu menjadi penolongnya dan kehilangan istri tercinta yang selalu menjadi penghibur hati dan meringankan beban Rasulullah Saw.. ]

Kepergian istri dan paman beliau Saw. menjadikan cobaan yang beliau terima begitu berat, segala macam ujian dan cobaan terus bertubi-tubi dan silih berganti menimpa Rasulullah Saw..

Seluruh orang kafir Quraisy menjadi gembira dan senang menyakiti Rasulullah Saw.. Mulai dari budak-budak, orang dewasa, anak-anak kecil maupun besar, laki-laki juga perempuan.Mereka semua menjadikan Rasulullah Saw. sebagai tempat cacian dan ejekan. Mereka tetap keras kepala tidak menerima ajakan Nabi Saw..

Rasulullah Saw. tetap sabar dan terus berusaha.. berusaha.. dan berusaha.. Menghampiri setiap tempat-tempat keramaian. Ke sana dan ke sini, menuju ke perbatasan untuk menghadang setiap orang yang menuju ke Makkah. Tapi mereka tetap keras kepala dan terus menyakiti Rasulullah Saw.. Melihat hal ini, Rasulullah Saw. mengalihkan tujuan untuk menuju kota Tha’if. Beliau bergegas dan kedua putri beliau Fatimahdan Ummu Kultsum mengantarkan sang ayah untuk melepas kepergiannya berdakwah.