Membuat Anak Agar Rajin Sholat

Anak anda tidak mau sholat? Atau mereka sampai membuat anda capek saat mengingatkan untuk sholat?

Bagaimana membuat anak-anak anda sholat dengan kesadaran mereka sendiri tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan?

Salah seorang akhwat berkisah, “Aku akan menceritakan satu kisah yg terjadi padaku. Saat itu, anak perempuanku duduk di kelas 5 SD. Sholat baginya adalah hal yg sangat berat, sampai-sampai suatu hari aku berkata kepadanya: “Bangun!! Sholat!”, dan aku mengawasinya. Aku melihatnya mengambil sajadah, kemudian melemparkannya ke lantai. Kemudian ia mendatangiku.

Aku bertanya kepadanya, “Apakah kamu sudah sholat?” Ia menjawab, “Sudah.” Kemudian aku menamparnya.  Aku tahu aku salah tetapi kondisinya memang benar-benar sulit, aku menangis. Aku benar-benar marah padanya, aku rendahkan dia dan aku menakut-nakutinya akan siksa Allah. Tapi, ternyata semua kata-kataku itu tidak ada manfaatnya.

Suatu hari, seorang sahabatku bercerita suatu kisah. Suatu ketika ia berkunjung kerumah seorang kerabat dekatnya (seorang yg biasa-biasa saja dari segi agama), tapi ketika datang waktu sholat, semua anak-anaknya langsung bersegera melaksanakan sholat tanpa diperintah.

Ia berkata, “Aku berkata padanya, ‘Bagaimana anak-anakmu bisa sholat dengan kesadaran mereka tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah, aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa sejak jauh sebelum aku menikah aku selalu memanjatkan doa ini, dan sampai saat ini pun aku masih tetap berdoa dengan doa tersebut.’ Setelah aku mendengarkan nasehatnya, aku selalu tanpa henti berdoa dengan doa ini, dalam sujudku, saat sebelum salam, ketika Witir dan di setiap waktu-waktu mustajab. Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, anakku saat ini telah duduk di bangku SMA. Sejak aku memulai berdoa dengan doa itu, anakkulah yg rajin membangunkan kami dan mengingatkan kami untuk sholat. Dan adik-adiknya, Alhamdulillah, mereka semua selalu menjaga sholat. Sampai-sampai saat ibuku berkunjung dan menginap di rumah kami, ia tercengang melihat anak perempuanku bangun pagi, kemudian membangunkan kami satu persatu untuk sholat. Aku tahu anda semua penasaran ingin mengetahui doa apakah itu? Doa ini ada di QS. Ibrahim: 40, yang artinya:

Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat. Ya Robb kami, perkenankanlah doaku.

Ya, doa. Sebagaimana anda semua tahu bahwa doa adalah senjata seorang mukmin.”

11 Kebiasaan Cara Didik Anak Para Salaf Bani ‘Alawi

Oleh Sayyid Muhammad Abdullah Muhammad Alhaddar (Ribat Alhaddar Yemen)

  1. Ibu ketika menyusui sambil membaca Ayat Kursi, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas dan mengulang-ulang bacaan.
  2. Pertama kali yang diajarkan ke anak ketika baru bisa bicara: “Rodiina billahi robba wa bil islami diina wa bil muhammadin nabiyya.” Artinya: Aku ridho Allah sebagai Tuhanku dan Islam agamaku dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rosulku.
  3. Mengajak keluar anak-anak kecil ketika waktu malam yang terakhir (sebelum subuh) ke masjid agar menjadi kebiasaan.
  4. Sebelum memasuki bulan-bulan berkah seperti Ramadhan, mereka mengumpulkan anak-anak mereka dan bertanya kepada mereka, “Apa amalan yg akan kalian kerjakan di bulan yg berkah ini?” Seperti membaca Al Qur’an, dzikir, sedekah, dll.
  5. Mereka mengajari anak-anak mereka niat-niat yang baik sebagaimana mengajari mereka surat Al Fateha.
  6. Mereka mengadakan majelis ilmu di rumah dan berkumpul semua yang di rumah harian atau mingguan, mereka membaca sedikit dari Al Qur’an (tadarus) dan kitab hadist dan fiqih. Mereka menutup majelis dengan doa dan solawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  7. Ketika masuk baligh anak mereka, mereka memberi tahu anaknya kalau sudah Mukallaf dan sekarang dua Malaikat akan mencatat kebaikan dan kejelekan dan menulis ucapan dan perbuatannya, dan hal itu diadakan perayaan yang dihadiri ulama’.
  8. Mereka tidak menunda pernikahan anak-anak mereka setelah baligh, karena khawatir terjerumus kepada kemaksiatan.
  9. Mereka mengajari anak-anak dengan berdoa memohon kepada Allah dalam setiap keadaan, maka apabila anaknya ingin sesuatu dari orangtuanya, mereka berkata kepada anaknya wudhu’lah, sholat 2 rokaat dan mintalah kepada Allah hajat-hajatmu. Setelah Sholat, orangtua memberikan yang anak minta seraya berkata, “Sungguh Allah yang mengabulkan doamu”.
  10. Mereka membagi tugas kepada setiap anak, ada yang tugas belanja ke pasar, ada yang menyapu rumah, ada yang tugas melayani tamu dan mengambil air, dll.
  11. Mereka lebih banyak memperhatikan pembelajaran putri-putri mereka daripada yang laki-laki karena anak perempuan tidak keluar rumah.

Nasehat Luqman Al Hakim

Satu-satunya manusia yang bukan Nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur’an adalah Luqman Al Hakim. Kenapa? Tak lain adalah karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hidup:

“Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran & kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang pulalah ketulusan & kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir.

“Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar & menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya & menikmatinya.”

“Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan (pesta berlebihan). Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.”

“Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku jg sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.”

“Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.”

“Anakku, aku sudah mengalami penderitaan & bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang.”

“Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para Nabi. Kalimat itu adalah:

  1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik
  2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu
  3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu
  4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu
  5. Ingatlah Allah selalu
  6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu
  7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain
  8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu”

Peran Ibu Mempengaruhi Kesuksesan Anak

 

Jika kau menjadi seorang ibu, jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya.

Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.

Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain. Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.

Jika kau menjadi seorang ibu, jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.

Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.

Jika kau menjadi seorang ibu, jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya.

Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya :

“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaan-Mu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna”.

Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i.

Jika kau menjadi seorang ibu, jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman.

Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. Ia berkata pada anaknya, “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram”.

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah Imam Masjidil haram”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi Imam Masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.

Jika kau menjadi seorang ibu, jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses. Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu, seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu.

Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri. Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia. Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.

Cara Mendoakan Anak

Oleh Ustadzah Halimah Alaydrus

  1. Jangan mendoakan buruk pada anak, seperti mengeluarkan sumpah serapah. Bila anak berlaku yang tidak kita inginkan, cukup bilang: “Allah yah dik” = semoga engkau mendapat hidayah.
  1. Doakan selalu anak untuk hal-hal yang baik. Karena doa orang tua itu mustajab.
  1. Dikisahkan ada seorang ibu yang sedang mengandung anaknya, jika berdoa: “Ya Allah jika anak yang dikandung ini membawa kemudharatan, maka kembalikan lagi dia pada-Mu”. Dan jika pada saat lahir anak tersebut meninggal, maka orang tersebut walau bersedih, tapi tetap berkata “Alhamdulilah ‘ala kuli hal”.
  1. Titipkan anak kita pada Allah sebagai sebaik-baiknya penjagaan. Dengan cara:
    • Setiap anak akan pergi keluar rumah, biasakan agar dia membaca doa: “Bismillahi Amantu billah tawakaltu allallah laa haula wa laa quata illa billahil ‘aliyyil adzim”.
    • Kemudian orang tua berdoa: “Istauda’ tukallah” (untuk anak laki-laki) atau “Istauda’ tukillah” (untuk anak perempuan) = aku menitipkanmu pada Allah.
    • Anak menjawab: “Qobiltul wada’ah” = saya terima penitipan itu.
    • Cium anak di kening, tengah-tengah dua belah mata, dan sebaliknya dari anak ke orang tua.
  1. Ritual yang biasa dicontohkan oleh Ustadzah Halimah dari ayahnya, yaitu Sebelum berangkat sekolah, ayahnya meletakkan tangannya diubun-ubun Ustadzah Halimah dan berdoa: “Barokallahu fik”, lalu meniup ubun-ubunnya 3x. Agar senantiasa jadi anak yang selalu beruntung, pintar & selamat.

Pemilihan Nama Anak

Oleh Ustadzah Halimah Alaydrus.

Baguskanlah nama-nama anakmu dengan arti yang baik, agar membawa sugesti yang baik pada anak tersebut dan karena akan dipanggil nama mereka di hari akhir. Dan saat kita panggil mereka, kita sedang mendoakan dia.

Memberi nama anak karena 2 alasan:

  1. Tafaulan / Sugesti

Memberi nama yang diharapkan menjadi sesuai artinya.

Contohnya:

Faiz = seseorang yang beruntung

Faizah = perempuan yang beruntung

Abdullah = hamba Allah

  1. Tabarukan / Cari Berkah

Memberi nama seperti orang-orang sholeh/baik sebelum kita, agar sama baik seperti mereka. Mengambil berkah dari namanya. Tidak peduli apa artinya yang penting sama sifat dan nasibnya dengan orang sholeh tersebut.

Contohnya:

Fatimah

Abu Bakar

Uwais Al Qorni

Cara memanggil nama anak.

Jika sudah memberi nama anak yang baik, jangan panggil dia dengan nama buruk atau tidak berarti.

Contohnya:

Abdullah, malah dipanggil Dul

Muhammad, malah dipanggil Mamat

Khodijah, malah dipanggil Ijah

Sidah (dari saida – siddi – sidah = tuan putri = wanita terhormat), malah dipanggil Ida

Budaya orang arab malah memanjangkan nama panggilan, bukan memendekannya, dan menjadi lebih bagus.

Contohnya:

Muhammadd dipanggil Hamudi = Muhammad kecilku

Halimah dipanggil Halumi = Halimah kecilku

Fatimah dipanggil Fatimu = Fatimah kecilku

Khodijah dipanggil Khoduji

Nur dipanggil Nuairi

Aisyah dipanggil Aisyuni, kalau Rosulullah memanggilnya Yaa Aisy = wahai hidupku (dilihat dari artinya)

Banyak Hadist sekitar menamakan anak, antara lain yang terkenal:

  1. Berilah nama anak laki-lakimu seperti namaku dan jangan kau pukul dia. Artinya agar mengingat Rasulullah
  2. Sebaik-baik nama disisi Allah adalah Abdullah & Abdurrahman (untuk laki-laki)

Sunnah kasih nama sesudah lahir. Sebaik-baiknya pada hari ke 7 dihitung sejak hari lahiran, bukan 7 hari setelah lahir. Misalnya lahir di Selasa, maka Aqiqah dan pemberian nama anak di hari Senin.

Aqiqah adalah sembelih hewan kurban sebagai tanda wujud syukur pada Allah atas karunia yang diberikan, hukumnya sunnah mu’akad, dilakukan setelah lahiran jika mampu, kalau belum mampu bisa ditunda hingga mampu.

Pilih kambing umur 2 tahun, tidak cacat, jantan/betina. Jauh lebih baik beri makan orang dalam bentuk masakan dibanding membagikan daging mentah, sebaiknya kambing dimasak yang manis-manis, seperti semur, kambing kecap, dll.

Sunnah aqiqah: gundul licin baik bayi perempuan maupun laki-laki. Lalu rambut ditimbang dan sedekah dengan emas seberat timbangan rambut bayi, misalnya berat rambut 2 gram x Rp 500.000/gram emas = Rp 1.000.000 ialah total yang disedekahkan, jika tidak mampu hargakan berat timbangan rambut dengan perak.

Yang Wajib Dilakukan Pada Bayi Baru Lahir

Oleh Ustadzah Halimah Alaydrus.

  1. Menjelang melahirkan, bacakan surat Al Baqarah pada ruang persalinan & ruang setelah melahirkan, agar dijaga Allah dan tidak ada setan yang masuk dalam ruangan tersebut. Ini juga berlaku untuk dibacakan di rumah, bacaan tersebut berlaku hingga 3 hari, jadi dibacakan 3 hari sekali.
  2. Kumandangkan adzan di telinga kanan, iqomat di telinga kiri.
  3. Bacakan surat Al Kafirun & Al Ikhlas di telinga kanan, agar ditetapkan iman Islam sampai mati.
  4. Bacakan surat Al Qadr di telinga kanan, agar bukan menjadi pezina. Nomor 2-4 yang melakukan harus bapaknya sendiri, jika bapaknya tidak ada, harus laki-laki yang membacakan.
  5. Bacakan surat Ali Imran: 36 (jika laki-laki diganti “hu” pada akhiran tanda baca “h”), agar dijaga dari Ummu Sibyan = pemimpin syaitan yang mengganggu anak kecil. Biasanya Ummu Sibyan mengganggu anak kecil ketika orang tuanya melakukan ibadah sehingga tidak fokus dan menghentikan ibadahnya.