Keindahan Rasulullah

Oleh Al Habib Munzir Al Musawa.

Belum pernah dalam kehidupanku, mata ini memandang sesuatu yg lebih indah dari pada wajah Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sayyidina Abu Hurayrah Ra berkata, “Yang mana apabila beliau SAW tertawa, seakan-akan memercikkan cahaya di dinding-dinding rumah kami.”

Sayyid Muhammad bin Alwy Al Malikki berkata, “Rasulullah SAW telah diberi 10 keindahan, namun di dunia ini hanya 1 keindahan yang ditampakkan, sedangkan yang 9 nya akan ditampakkan nanti di akherat.”

Karena jika manusia melihat ke 10 keindahan yg dimiliki Rasulullah SAW, maka tak akan ada rasa sakit yg dirasakan manusia sekalipun ia menyayat wajahnya dengan silet. Karena ia telah terbius dengan seluruh keindahan yg dimiliki oleh Rasulullah SAW.

Ya Rabb, kumpulkan kami di akherat kelak bersama kekasih-Mu Rasulullah SAW, tak ada kebahagiaan terbesar bagi kami umat Nabi Muhammad SAW selain berjumpa dan memandang wajah Rosul-Mu, kekasih-Mu, Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Malaikat membentangkan sayapnya kepada orang yang menuntut ‘Ilmu (hadir majelis), karena Ridho dengan apa yang ia lakukan.”

Dan ketahuilah setiap jengkal di tempat kehadiran majelis ini penuh dengan keluhuran, pengampunan, kebahagiaan, dan kelembutan Allah, serta taufik dan hidayah-Nya. Demikian pula tangga-tangga keluhuran terus teruntai luas bagi yang ingin mendakinya.

Habib Munzir & Biarawati

Sungguh didalam perjalanan tersebut begitu banyak hikmah yang bisa dipetik. Salah satunya adalah kisah berikut ini. Ditengah perjalanan (dalam perjalanan dari Sorong menuju Teminabuan Papua), dalam perjalanan tersebut Habib Munzir dan Tim menggunakan mobil 4×4 bak terbuka, di tengah perjalanan rombongan ini diberhentikan oleh salah seorang biarawati, wanita pimpinan agama non muslim yang berusia di atas 50an, sepertinya ia ingin ikut menumpang mobil, Asri (yg menyupir mobil) menanyakan kepada Habib Munzir, karena mobil ini sudah dicarterkan untuk Habib Munzir dan Tim.

“Habib, apakah ibu biarawati ini boleh dinaikkan?” tanya sopir (Asri) kepada Habib Munzir.

Tanpa pikir panjang lagi Habib Munzir menjawab, “Boleh, tapi mau ditempatkan dimana? Disini sudah tidak ada tempat.”

“Taruh di bak belakang aja bib bersama barang,” kata Asri.

“Hmm tapi saya merasa tidak tega jika ibu itu harus duduk di belakang bersama barang,” jawab Habib Munzir.

“Dia sudah biasa seperti itu kok bib,” jawab Asri.

Mendengar jawaban “sudah biasa” tersebut Habib Munzir kaget dan terkejut, beliau menceritakan, saya kaget dan merasa tercekik mendengarnya, “sudah biasa ??”, “dia sudah biasa seperti itu bib”, seorang biarawati penyeru kepada agama keyakinannya ia ternyata sudah terbiasa untuk berjalan dan duduk di bak bagian belakang dari kampung ke kampung demi berjuang untuk menyebarkan keyakinannya.

Kata Habib Munzir lagi, “Maka tidak salah kalau seandainya agama non muslim yang menjadi maju, karena para dai muslim hanya bersembunyi di kota-kota besar, tidak mau keluar seperti mereka. Maka jangan salahkan mereka jika muslimin semakin mundur, karena para dai nya juga semakin mundur. Dan ketika sopir mengatakan ia sudah terbiasa, maka semakin sakit hati saya, bukan semakin tenang tapi semakin sakit saya mendengarnya.”

Dan Ibu biarawati tersebut pun naik di bak belakang mobil 4×4 yang dipakai, satu tempat bersama barang. Perjalanan pun diteruskan, 1 jam perjalanan terasa rintik rintik gerimis mulai turun. Melihat itu Habib Munzir menjadi gelisah, risau, tak tenang, ia terpikir kepada ibu biarawati yang sedang duduk di bak belakang.

Kata Habib Munzir, “Hati saya terasa tercekik, sungguh! Walaupun ia adalah seorang non muslim, tapi bagaimanapun ia adalah seorang wanita yg usianya cukup tua, duduk di bak terbuka di belakang dengan terpaan hujan, ia seorang pemuka dan guru agama non muslim, ia sangat tabah dalam berdakwah membela agamanya dengan semangat juang yg luar biasa, ia berjalan dari kampung ke kampung, terus mengajar dengan sukarela sepanjang hidupnya, mengabdi pada agamanya, sampai rela duduk di bak belakang mobil, dalam keadaan hujan dan panas, ia wanita, sudah cukup lanjut usia, demikian tabahnya dai non muslim ini, hati saya seperti tercabik cabik, saya malu, malu sekali.”

Hujan pun turun semakin deras, Habib Munzir semakin gelisah. Beliau sudah tak tahan lagi, semakin risau dengan keadaan ibu biarawati tersebut. “Berhenti Asri, berhenti..!” kata Habib Munzir seketika sambil memegang tangan Asri. Asri pun menghentikan mobil. “Ada apa bib?” tanya Asri.

“Saya mau pindah ke belakang bak menggantikan posisi ibu itu, biar ibu itu duduk didalam sini menggantikan tempat saya duduk,” jawab Habib Munzir.

Mendengar itu Asri menjadi kaget dan tentu saja menolak. “Itu tidak mungkin Habib, Tidak mungkin Habib turun dan pindah ke bak belakang! Habib sudah carter mobil saya, lagipula ini sedang hujan, Habib.” Habib Munzir menjawab, “Dia seorang wanita yang lebih tua dari saya meskipun ia beda agama, Rasulullah SAW menghormati yang lebih tua.”

Habib Munzir tetap bersikeras memaksa, akhirnya mau tidak mau Asri yang menyupir mobil pun pasrah menuruti. Habib Munzir melarang mereka, “Yang lainnya tetap dalam posisinya, cukup satu orang yang menemani saya di bak belakang, sudah ada satu orang penjaga barang kok di belakang.”

Dan mereka pun sangat bersempit sempit 4 orang di kursi belakang. Tapi Ibu itu ternyata tak mau pindah ia tetap mau duduk di bak saja, ia seakan merasa tahu diri bahwa dirinya menumpang, ia merasa malu dan haru.

“Kalau Ibu tidak mau turun dan masuk kedalam maka saya tidak akan mau naik ke mobil,” jawab Habib Munzir. Mau tidak mau akhirnya ibu itupun masuk ke dalam mobil. Habib Munzir duduk di bak belakang di temani KH. Ahmad Baihaqi. Di saat itu hujan turun semakin deras membasai tubuh Habib Munzir yang duduk di bak terbuka. Habib Munzir membuka sorban dan kacamatanya, cuma pakai peci. Habib Munzir menangis, bukan menangis karena keadaannya, tapi menangis karena faktor biarawati tadi.

Kata Habib Munzir, “Saya menangis, memikirkan, betapa kuat dan tabahnya biarawati itu, betapa malunya saya karena saya dimanjakan di Jakarta, sekedar turun dari mobil dan naik ke mimbar, sedangkan mereka, para dai non muslim di wilayah pedalaman, terus berdakwah, maka siapa yang akan terjun kesana jika kita para da’i muslim hanya duduk di kota-kota besar?”

Dalam derasnya hujan itu mobil kembali berhenti. Bang Ipul (Saeful Zahri) turun dan meminta agar Habib Munzir masuk kedalam menggantikan tempatnya, tapi Habib Munzir menolak. “Saya sudah duduk dan malas berdiri lagi, kalau mau ganti saja KH. Ahmad Baihaqi kedepan, tapi saya tidak mau pindah.”

Maka demikian bergantian beberapa waktu terus 4 personil bergantian pindah ke belakang, namun Habib Munzir tetap tak ingin beranjak dari bak, hanya yang lain saja bergantian.