Pakaian Lebaran Dari Surga

Diriwayatkan pada masa kecil menjelang lebaran. Al Hasan dan Al Husain AS tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran, sedangkan hari raya sebentar lagi datang. Mereka bertanya kepada ibunya,
“Wahai ummah anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian lebaran kecuali kami, mengapa bunda tidak menghiasi kami?”
Sayyidah Fathimah RA menjawab, “Sesungguhnya baju kalian berada di tukang jahit.”

Ketika malam hari raya tiba, mereka berdua mengulangi pertanyaan yang sama, Sayyidah Fathimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu. Ketika malam tiba, ada yang mengetuk pintu rumah, lalu Sayyidah Fathimah bertanya, “Siapa?” Orang itu menjawab, “Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit, aku datang membawa hadiah pakaian untuk putra-putramu.”

Maka Beliau pun membuka pintu, tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah, lalu diberikan kepada Sayyidah Fathimah RA. Kemudian Beliau membuka bingkisan tersebut, ternyata didalamnya terdapat 2 gamis, 2 celana, 2 mantel, 2 sorban serta 2 pasang sepatu hitam yang semuanya sangat indah. Lalu Sayyidah Fathimah membangunkan kedua putra kesayangannya lalu memakaikan hadiah tersebut kepada mereka.

Kemudian ketika Rasulullah SAW datang dan melihat keduanya sudah dihiasi dari semua hadiah yang terdapat dalam bingkisan tersebut. Kemudian Rasulullah SAW menggendong kedua cucunya dan menciumi mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang. Rasulullah SAW bertanya kepada Sayyidah Fathimah SAW,
“Apakah engkau melihat tukang jahit tersebut?”
Sayyidah Fathimah RA menjawab, “Iya, aku melihatnya.”
Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan penjaga surga.”

Bahkan para penghuni langit dan bumi pun berbahagia jika kedua cucu Rasulullah SAW bahagia.

Advertisements

Jaminan Hutang Dan Mimpi Rasulullah

Syeikh Husna Syarif, seorang ulama besar di Mesir bercerita tentang seorang yang terbelit banyak hutang di tengah kubangan kemiskinannya.

Dulunya dia adalah orang yang sangat kaya raya namun jatuh bangkrut sampai terbelit hutang sana sini. Setiap hari, rumahnya penuh dengan orang yang menagih hutang. Akhirnya ia terpaksa pergi menjumpai seorang saudagar kaya dan meminjam uang sebanyak 500 dinar. 

Saking terkenalnya dia sudah banyak hutang sampai-sampai saudagar ini bertanya,

“Kira-kira kapan anda akan melunasi pinjaman ini?”

“Minggu depan tuan.” Jawabnya singkat.

Ia pun berhasil meminjam hutang lalu pulang dengan 500 dinar di genggamannya. Uang itu segera dia bayarkan kepada orang-orang yang setiap hari datang menagih hutang kepadanya sampai 500 dinar yang ia peroleh itu tidak tersisa sama sekali.

Hari demi hari ia bertambah sulit dan terpuruk kondisi ekonominya hingga tempo pembayaran hutangnya pun tiba. Saudagar mendatangi rumah si miskin dan mengatakan, “Tempo hutang anda telah tiba.”

Dengan suara lirih dia menjawab, “Demi Allah saya sedang tak berhasil mendapatkan apa-apa untuk membayar. Tapi sungguh saya terus berusaha untuk melunasi.”

Saudagar merasa geram lalu mengadukannya ke pengadilan, dan membawanya ke hakim. Di pengadilan, Hakim bertanya, “Mengapa anda tidak membayar hutang anda?”

Dia menjawab, “Demi Allah saya tidak memiliki apa-apa tuan.”

Karena merasa ini adalah kesalahan si miskin maka hakim memvonisnya dengan hukuman penjara sampai ia bisa melunasi hutangnya. Kemudian si miskin bangkit dan berkata, “Wahai tuan Hakim, berilah saya waktu untuk hari ini saja. Saya hendak pulang ke rumah untuk berjumpa keluarga dan mengabarkan hukuman ini sekalian berpamitan dengan mereka, kemudian saya akan langsung kembali untuk menjalani hukuman penjara.”

Hakim, “Bagaimana mungkin, apa jaminannya kau akan kembali besok?”
Lelaki itu terdiam, tapi seolah mendapat ilham di benaknya. “Rasulullah SAW jaminanku, wahai tuan hakim, bersaksilah untukku jika besok aku tidak kembali maka aku bukanlah termasuk umat Rasulullah SAW.”

Sang Hakim tersentak diam, ia sadar betapa bahayanya jaminan itu jika si miskin bohong. Hakim berfikir sejenak lalu memilih untuk percaya demi Rasulullah SAW. Hukuman pun ditunda sampai besok.

Sesampainya di rumah, si miskin mengabarkan kondisinya kepada istrinya bahwa esok akan dipenjara.
Istrinya bertanya, “Kok sekarang engkau bisa bebas?”
“Aku menaruh nama Rasulullah SAW sebagai jaminanku.”
Air hangat menetes dari mata istrinya seraya ia berkata pada suaminya, “Jika nama Rasulullah SAW yang menjadi jaminan bagimu maka mari kita bershalawat.”

Dan mereka pun bershalawat kepada Rasulullah SAW dengan rasa cinta dan ketulusan yang mendalam hingga mereka tertidur.

Tiba-tiba dalam tidurnya mereka bermimpi melihat Rasulullah SAW. Beliau memanggil nama si miskin seraya berkata, “Hai fulan jika telah terbit fajar pergilah ke tempat Alim fulan. Sampaikan salamku padanya dan mintalah supaya ia menyelesaikan hutang piutangmu. Jika Alim itu tidak percaya maka sampaikan 2 bukti ini; ‘Katakan padanya bahwa di malam pertama ia sudah membaca shalawat untukku 1000 kali dan di malam terakhir dia telah ragu dalam jumlah bilangan shalawat yang dibacanya. Sampaikan padanya bahwa ia telah menyempurnakan shalawatnya.”

Seketika si miskin terbangun dan terkejut. Tanpa ragu setelah subuh ia pergi menuju rumah sang Alim dan berjumpa dengannya. Tanpa buang waktu si miskin menyampaikan mimpinya, “Wahai tuan, Rasulullah SAW telah menitipkan salam untukmu dan meminta agar engkau sudi menyelesaikan hutang piutangku.”

Alim bertanya, “Apa bukti dari kebenaran mimpimu itu?”

“Kata baginda Nabi, di malam pertama engkau telah bershalawat sebanyak 1000 kali dan di malam kedua anda tertidur dalam keadaan ragu dengan jumlah bilangan shalawat yang telah anda baca. Rasulullah SAW mengatakan bahwa hitungan shalawat anda telah sempurna dan shalawat anda telah diterima olehnya.”

Mendengar itu, Alim itu spontan menangis karena berita gembira shalawatnya diterima Rasulallah SAW. Maka alim tersebut memberi uang 500 dinar dari baitul mal untuk melunasi hutang si miskin dan 2500 dari harta pribadinya untuk si miskin sebagai tanda terima kasih atas berita gembira yang disampaikan.”

Dengan dana itu si miskin langsung bergegas pergi ke Hakim untuk menyelesaikan perkaranya. Sesampainya di pengadilan, si Hakim bangkit dari kursinya menyambut si miskin seakan sudah rindu. Dengan senyum lebar sang Hakim memanggilnya seraya berkata, “Kemarilah, berkat kamu aku mimpi berjumpa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW telah berpesan kepadaku bahwa jika aku menyelesaikan hutangmu maka kelak Rasulullah SAW akan menyelesaikan perkaraku di akhirat. Ini uang 500 dinar untuk lunasi hutang-hutangmu.”

Belum juga Hakim selesai bicara, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk. Ketika dibuka, ternyata saudagar penagih hutang. Dia langsung memeluk si miskin dan menciumnya sembari berucap, “Berkat anda saya mimpi berjumpa Rasulullah. Beliau berkata padaku jika aku merelakan hutangmu maka kelak di hari kiamat, Rasulullah SAW akan merelakan segala tanggunganku dan ini uang 500 dinar hadiah untuk anda dan hutangmu lunas.”

“Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya bersalawat kepada Nabi (Muhammad S.A.W) maka wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya.” (QS. Al Ahzab: 56)

Anak Cucu Rasulallah Di Indonesia

Kitab Syamsud Dhahiroh, Kitab Aqidatul Awwam dan berbagai sumber lainnya.

Di artikel pendek ini memuat alur sejarah para ulama garis keturunan Nabiyullah SAW yang berjasa besar dan abadi di tanah negeri NKRI.

Beliau SAW dikaruniai 7 anak 3 laki-laki dan 4 perempuan, yaitu :

1. Qasim

2. Abdullah

3. Ibrahim

4. Zaenab

5. Ruqoyyah

6. Ummu Kultsum

7. Fathimah Azzahra

Setiap keturunan berasal dari ayahnya, namun khusus untuk keturunan Sayyidatuna Fathimah bersambung kepada Rasulullah merekalah keturunan Nabi Muhammad, sebagaimana dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Setiap anak yg dilahirkan ibunya bernasab kepada ayahnya, kecuali anak-anak dari fathimah, akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka.” (HR. Imam Ahmad)

Sayyidatuna Fathimah dikarunia 2 orang putra yaitu Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein, dari kedua cucu Nabi ini melahirkan para anak cucu cucu Rasulullah yang hingga kini kita kenali dengan sebutan Syarif, Syarifah, Sayyid, Sayyidah dan Habib.

Keturunan dari Sayyidina Hasan RA :

Yaitu sering disebut dengan Al-Hasni hanya ada sedikit saja di indonesia.

Keturunan dari Sayyidina Husein RA, Beliau wafat di Karbala, beliau mempunyai 6 orang anak laki-laki dan 3 wanita, yaitu :

1. Ali Akbar

2. Ali Awsat (Ali Zainal ‘Abidin)

3. Ali Ashghar

4. Abdullah

5. Muhammad

6. Jakfar

7. Zainab

8. Sakinah

9 Fathimah

Putra Sayyidina Husein keseluruhannya wafat terkecuali Ali Awsat atau yang biasa dikenal dengan nama Imam Ali Zainal ‘Abidin, mempunyai putra bernama Muhammad Al-Baqir, yang mempunyai putra bernama Ja’far Ash-Shadiq yang menjadi Guru dari pada Imam Hanafi yang kemudian Imam Hanafi ini memiliki murid Imam Maliki, lalu Imam Maliki memiliki murid Imam Syafi’i dan Imam Syafi’i bermuridkan Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali).

Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq dilahirkan pada tahun 80 H riwayat lain menyebutkan 83 H. Meninggal di kota Madinah pada tahun 148 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi.

Keturunannya yaitu Ali Uraidi yang memiliki putra bernama Muhammad An-Nagieb memiliki putra Isa Arumi dan memiliki putra Ahmad Al-Muhajir. Ahmad bin Isa Al-Muhajir punya dua orang putra yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut, Yaman dan mendapat tiga putra yaitu Alwi, Jadid dan Ismail (Bashriy). Keturunan mereka punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap lestari. Mereka menamakan diri dengan nama sesepuhnya Alwi, yang kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan kaum Sayyid Alawiyin.

Kepindahannya ke Hadramaut disebabkan karena kekuasaan diktator khalifah Bani Abbas yang secara turun-menurun terus memimpin umat Islam, mengakibatkan rasa ketidakpuasan di kalangan rakyat.

Akibat dari kepemimpinan yang diktator, banyak kaum muslim berhijrah, menjauhkan diri dari pusat pemerintahan lalu hijrah dan menetap di Hadramaut, Yaman. Penduduk Yaman khususnya Hadramaut yang mengaku penduduk asli dari qabilah Qahthan, yang awalnya bodoh dan sesat berubah menjadi mengenal ilmu dan berjalan di atas syariat Islam yang sebenarnya. Al-Imam al-Muhajir dan keturunannya berhasil menundukkan masyarakat Hadramaut yang memiliki faham khawarijme dengan akhlak dan pemahaman yang baik.

Para Sayyid Alawiyin menyebarkan dakwah Islamnya di Asia Tenggara melalui dua jalan, pertama hijrah ke India kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke wilayah Asia Tenggara melalui pesisir India.

Diantara yang hijrah ke India adalah Syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota
Kanur dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai wafat.

Lalu Syarif Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Surat dan Ahmadabad. Dia hijrah atas permintaan kakeknya Syarif Syech bin Abdullah Al-Aydrus. Begitu pula keluarga Abdul Malik yang diberi dengan gelar ‘Azhamat Khan’. Dari keluarga inilah asal-muasal keturunan penyebar Islam di Indonesia khususnya di Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Kemudian dari India, mereka melanjutkan dakwahnya ke Indonesia, yaitu melalui daerah pesisir utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh.

Menurut Profesor Dr. Hamka. sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke Indonesia, tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu lalu kepulauan Indonesia dan Filipina. Memang harus diakui banyak jasa-jasa dari mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini.

Penyebar Islam dan pembangun kerajaan Islam di Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam di Mindanau dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam, pernah bangsa Sayyid dari keluarga Jamalullail menjadi raja di Aceh.

Negeri Pontianak pernah diperintah oleh bangsa Sayyid Al-Gadri. Siak oleh keluarga dari bangsa Sayyid Bin Shahab. Perlis (Malaysia) didominasi dan dirajai oleh bangsa dari Sayyid Jamalullail Yang Dipertuan Agung III Malaysia*, Sayyid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tuanku Haji Bujang ialah berasal dari keluarga Al-Aydrus.

Kedudukan para sayyid di negeri ini yang turun-temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri di mana mereka berdiam. Kebanyakan dari mereka menjadi ulama dan ada juga yang berdagang. Mereka datang dari Hadramaut dari keturunan Imam Isa Al-Muhajir dan Al-Faqih Al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal dari mereka ialah dari keluarga As-Segaf, Al-Kaff, Al-Athas, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Bafaqih, Al-Aydrus, Al-Haddad, Bin Smith, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al-Jufri, Bin Shahab, Al-Qadri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, Al-Hadi, Al-Zahir, Basyaiban, Ba’abud, Bin Yahya dan lain-lain.

Orang-orang dari Arab khususnya Hadramaut mulai datang secara masal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir diabad 18, sedangkan kedatangan mereka di pantai Malabar jauh lebih awal. Pemberhentian mereka yang pertama adalah di Aceh.
Dari sana mereka lebih memilih pergi ke Palembang dan Pontianak. Orang-orang Arab mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820 Masehi, dan qabilah-qabilah mereka baru tiba di bagian Timur Nusantara pada kisaran tahun 1870 Masehi.

Pendudukan Singapura oleh Inggris pada tahun 1819 Masehi dan kemajuan besar dalam bidang perdagangan membuat kota itu menggantikan kedudukan Aceh sebagai perhentian pertama dan titik pusat imigrasi bangsa-bangsa Arab. Semenjak pembangunan pelayaran kapal uap di antara Singapura dan Arab, Aceh sudah menjadi tidak penting lagi.

Di pulau Jawa terdapat enam qabilah besar Arab, yaitu di Batavia yang sekarang dikenal dengan nama Jakarta, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Tegal, dan Surabaya. Di Madura hanya ada satu yaitu di Sumenep. Qabilah Arab di Surabaya dianggap sebagai pusat qabilah di pulau Jawa bagian Timur.

Qabilah Arab lainnya yang cukup besar berada di Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Bangil, Besuki dan Banyuwangi. Qabilah Arab di Besuki mencakup pula orang Arab yang menetap di kota Panarukan dan Bondowoso.

Qabilah-qabilah Arab Hadramaut khususnya Alawiyin yang berada lokasi pesisir tetap menggunakan nama-nama qabilah mereka, sedangkan Alawiyin yang tidak dapat pindah ke pesisir karena berbagai sebab. Mereka berganti nama dengan nama-nama Jawa, mereka banyak yang berasal dari keluarga Ba’bud, Basyaiban, Bin Yahya dan lainnya.

100 Beautiful Fact of Nabi Muhammad SAW

Imam Shadiq berkata, “Saya tidak ingin seseorang meninggal dunia sementara ia belum mengetahui sebagian perilaku Rasulullah SAW.”

  1. Ketika berjalan, beliau berjalan secara pelan-pelan dan wibawa.
  2. Ketika berjalan, beliau tidak menyeret langkah kakinya.
  3. Pandangan beliau selalu mengarah ke bawah.
  4. Beliau senantiasa mengawali salam kepada siapa saja yang dilihatnya, tidak ada seorangpun yang mendahuluinya dalam mengucapkan salam.
  5. Ketika menjabat tangan seseorang, beliau tidak pernah melepaskannya terlebih dahulu.
  6. Beliau bergaul dengan masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap orang berpikir bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang paling mulia di mata Rasulullah.
  7. Bila memandang seseorang, beliau tidak memandang sinis bak pejabat pemerintah.
  8. Beliau tidak pernah memelototi wajah seseorang.
  9. Beliau senantiasa menggunakan tangan saat mengisyaratkan sesuatu dan tidak pernah mengisyaratkan dengan mata atau alis.
  10. Beliau lebih banyak diam dan baru akan berbicara bila perlu.
  11. Saat bercakap-cakap dengan seseorang, beliau mendengarkan dengan baik.
  12. Senantiasa menghadap kepada orang yang berbicara dengannya.
  13. Tidak pernah berdiri terlebih dahulu selama orang yang duduk bersamanya tidak ingin berdiri.
  14. Tidak akan duduk dan berdiri dalam sebuah pertemuan melainkan dengan mengingat Allah.
  15. Ketika masuk ke dalam sebuah pertemuan, beliau senantiasa duduk di tempat yang akhir dan dekat pintu, bukan di bagian depan.
  16. Tidak menentukan satu tempat khusus untuk dirinya dan bahkan melarangnya.
  17. Tidak pernah bersandar saat di hadapan masyarakat.
  18. Kebanyakan duduknya menghadap kiblat.
  19. Bila di hadapannya terjadi sesuatu yang tidak disukainya, beliau senantiasa mengabaikannya.
  20. Bila seseorang melakukan kesalahan, beliau tidak pernah menyampaikannya kepada orang lain.
  21. Tidak pernah mencela seseorang yang mengalami kesalahan bicara.
  22. Tidak pernah berdebat dan berselisih dengan siapapun.
  23. Tidak pernah memotong pembicaraan orang lain, kecuali bila orang tersebut bicara sia-sia dan batil.
  24. Senantiasa mengulang-ulang jawabanya atas sebuah pertanyaan agar jawabannya tidak membingungkan pendengarnya.
  25. Bila mendengar ucapan yang tidak baik dari seseorang, beliau tidak mengatakan mengapa si fulan berkata demikian, tapi beliau mengatakan, “Bagaimana mungkin sebagian orang mengatakan demikian?”
  26. Banyak bergaul dengan fakir miskin dan makan bersama mereka.
  27. Menerima undangan para abdi dan budak.
  28. Senantiasa menerima hadiah, meski hanya seteguk susu.
  29. Melakukan silaturahmi lebih dari yang lain.
  30. Senantiasa berbuat baik kepada keluarganya tapi tidak melebihkan mereka dari yang lain.
  31. Senantiasa memuji dan mendukung pekerjaan yang baik dan menilai buruk dan melarang perbuatan yang jelek.
  32. Senantiasa menyampaikan hal-hal yang menyebabkan kebaikan agama dan dunia masyarakat kepada mereka dan berkali-kali mengatakan, “Orang-orang yang hadir hendaknya menyampaikan segala yang didengarnya kepada orang-orang yang tidak hadir.”
  33. Senantiasa menerima uzur orang-orang yang punya uzur.
  34. Tidak pernah merendahkan seseorang.
  35. Tidak pernah memaki atau memanggil seseorang dengan gelar yang jelek.
  36. Tidak pernah mengutuk orang-orang sekitar dan keluarganya.
  37. Tidak pernah mencari-cari aib orang lain.
  38. Senantiasa menghindari kejahatan masyarakat, namun tidak pernah menghidar dari mereka dan beliau selalu bersikap baik kepada semua orang.
  39. Tidak pernah mencaci masyarakat dan tidak banyak memuji mereka.
  40. Senantiasa bersabar menghadapi kekurangajaran orang lain dan membalas kejelekan mereka dengan kebaikan.
  41. Selalu menjenguk orang yang sakit, meski tempat tinggalnya dipinggiran Madinah yang sangat jauh.
  42. Senantiasa menanyakan kabar dan keadaan para sahabatnya.
  43. Senantiasa memanggil nama sahabat-sahabatnya dengan panggilan yang terbaik.
  44. Sering bermusyawarah dengan para sahabatnya dan menekankan untuk melakukannya.
  45. Senantiasa duduk melingkar bersama para sahabatnya, sehingga bila ada orang yang baru datang, ia tidak bisa membedakan di antara mereka yang manakah Rasulullah.
  46. Akrab dan dekat dengan para sahabatnya.
  47. Beliau adalah orang yang paling setia dalam menepati janji.
  48. Senantiasa memberikan sesuatu kepada fakir miskin dengan tangannya sendiri dan tidak pernah mewakilkannya kepada orang lain.
  49. Bila sedang dalam shalat ada orang datang, beliau memendekkan shalatnya.
  50. Bila sedang shalat ada anak kecil menangis, beliau memendekkan shalatnya.
  51. Orang yang paling mulia di sisi beliau adalah orang yang paling banyak berbuat baik kepada orang lain.
  52. Tidak ada seorangpun yang putus asa dari Rasulullah Saw. Beliau selalu mengatakan, “Sampaikan kebutuhan orang yang tidak bisa menyampaikan kebutuhannya kepada saya!”
  53. Bila ada seseorang membutuhkan sesuatu kepada beliau, Rasulullah SAW pasti memenuhinya bila mampu, namun bila tidak mampu beliau menjawabnya dengan ucapan atau janji yang baik.
  54. Tidak pernah menolak permintaan seseorang, kecuali permintaan untuk maksiat.
  55. Beliau sangat menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak.
  56. Rasulullah Saw sangat menjaga perasaan orang-orang asing.
  57. Beliau selalu menarik perhatian orang-orang jahat dan membuat mereka cenderung kepadanya dengan cara berbuat baik kepada mereka.
  58. Beliau senantiasa tersenyum sementara pada saat yang sama beliau sangat takut kepada Allah.
  59. Saat gembira, Rasulullah SAW memejamkan kedua matanya dan tidak banyak menunjukkan kegembiraannya.
  60. Tertawanya kebanyakan berupa senyuman dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak.
  61. Beliau banyak bercanda namun tidak pernah mengeluarkan ucapan sia-sia atau batil karena bercanda.
  62. Rasulullah SAW mengubah nama yang jelek dengan nama yang baik.
  63. Kesabarannya mendahului kemarahannya.
  64. Tidak sedih dan marah karena kehilangan dunia.
  65. Saat marah karena Allah, tidak seoranpun yang akan mengenalnya.
  66. Rasulullah SAW tidak pernah membalas dendam karena dirinya sendiri melainkan bila kebenaran terinjak-injak.
  67. Tidak ada sifat yang paling dibenci oleh Rasulullah selain bohong.
  68. Dalam kondisi senang atau susah tidak lain hanya menyebut nama Allah.
  69. Beliau tidak pernah menyimpan Dirham maupun Dinar.
  70. Dalam hal makanan dan pakaian tidak melebihi yang dimiliki oleh para pembantunya.
  71. Duduk dan makan di atas tanah.
  72. Tidur di atas tanah.
  73. Menjahit sendiri pakaian dan sandalnya.
  74. Memerah susu dan mengikat sendiri kaki ontanya.
  75. Kendaraan apa saja yang siap untuknya, Rasulullah pasti mengendarainya dan tidak ada beda baginya.
  76. Kemana saja pergi, beliau selalu beralaskan abanya sendiri.
  77. Baju beliau lebih banyak berwarna putih.
  78. Bila memakai baju baru, maka baju sebelumnya pasti diberikan kepada fakir miskin.
  79. Baju kebesarannya khusus dipakai untuk hari Jumat.
  80. Ketika memakai baju dan sandal, beliau memulainya dari sebelah kanan.
  81. Beliau menilai makruh rambut yang awut-awutan.
  82. Senantiasa berbau harum dan kebanyakan pengeluarannya untuk minyak wangi.
  83. Senantiasa dalam kondisi memiliki wudu dan setiap mengambil wudu pasti bersiwak/menyikat giginya.
  84. Cahaya mata beliau adalah shalat. Beliau merasa menemukan ketenangan dan ketentraman saat shalat.
  85. Beliau senantiasa berpuasa pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan.
  86. Tidak pernah mencaci nikmat sama sekali.
  87. Menganggap besar nikmat Allah yang sedikit.
  88. Tidak pernah memuji makanan dan tidak juga mencelanya.
  89. Memakan makanan apa saja yang dihidangkan kepadanya.
  90. Di depan hidangan makanan, beliau senantiasa makan makanan yang ada di depannya.
  91. Di depan hidangan makanan, beliau yang paling duluan hadir dan paling akhir meninggalkannya.
  92. Tidak akan makan sebelum lapar dan akan berhenti dari makan sebelum kenyang.
  93. Tidak pernah makan dua model makanan.
  94. Ketika makan tidak pernah sendawa.
  95. Sebisa mungkin beliau tidak makan sendirian.
  96. Mencuci kedua tangan setelah selesai makan kemudian mengusapkannya ke wajah.
  97. Ketika minum, beliau meneguknya sebanyak 3 kali. Awalnya baca Bismillah dan akhirnya baca Alhamdulillah.
  98. Rasulullah lebih memiliki rasa malu daripada gadis-gadis pingitan.
  99. Bila ingin masuk rumah, beliau meminta izin sampai tiga kali.
  100. Waktu di dalam rumah, beliau bagi menjadi tiga bagian: satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarga dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Sedangkan waktu untuk dirinya sendiri beliau bagi dengan masyarakat.

Keindahan Rasulullah

Oleh Al Habib Munzir Al Musawa.

Belum pernah dalam kehidupanku, mata ini memandang sesuatu yg lebih indah dari pada wajah Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sayyidina Abu Hurayrah Ra berkata, “Yang mana apabila beliau SAW tertawa, seakan-akan memercikkan cahaya di dinding-dinding rumah kami.”

Sayyid Muhammad bin Alwy Al Malikki berkata, “Rasulullah SAW telah diberi 10 keindahan, namun di dunia ini hanya 1 keindahan yang ditampakkan, sedangkan yang 9 nya akan ditampakkan nanti di akherat.”

Karena jika manusia melihat ke 10 keindahan yg dimiliki Rasulullah SAW, maka tak akan ada rasa sakit yg dirasakan manusia sekalipun ia menyayat wajahnya dengan silet. Karena ia telah terbius dengan seluruh keindahan yg dimiliki oleh Rasulullah SAW.

Ya Rabb, kumpulkan kami di akherat kelak bersama kekasih-Mu Rasulullah SAW, tak ada kebahagiaan terbesar bagi kami umat Nabi Muhammad SAW selain berjumpa dan memandang wajah Rosul-Mu, kekasih-Mu, Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Malaikat membentangkan sayapnya kepada orang yang menuntut ‘Ilmu (hadir majelis), karena Ridho dengan apa yang ia lakukan.”

Dan ketahuilah setiap jengkal di tempat kehadiran majelis ini penuh dengan keluhuran, pengampunan, kebahagiaan, dan kelembutan Allah, serta taufik dan hidayah-Nya. Demikian pula tangga-tangga keluhuran terus teruntai luas bagi yang ingin mendakinya.

Tabarukan Air Wudhu Rasulullah

Oleh Habib Umar bin Hafidz.

Pernah Sayyidinna Bilal datang membawa air untuk Nabi ﷺ melakukan wudhu’. Sayyidinna Bilal menuangkan air untuk Nabi Muhammad ﷺ sekaligus menadah untuk mengumpulkan air yang mengalir dari tubuh Nabi Muhammad ﷺ yang diberkati itu dalam sebuah wadah lain.

Kemudian ia akan pergi dan membawa air bekas wudhu’ ini untuk dibagikan kepada para sahabat, yang berebutan dan nyaris bertengkar agar bisa mendapatkan bagian meski sedikit dari air itu. Ada yang membasuh kepala, wajah atau dada mereka dengan air itu, bahkan ada yang meminumnya. Mereka yang tidak menerima bagian dari air itu akan menyeka atau menempelkan kulit mereka pada para sahabat yang dapat bagian air.

Ini adalah ‘pemahaman para sahabat’, di masa keemasan dan kaum terbaik dalam sepanjang sejarah Islam, mereka tahu arti dari barokah. Di tengah-tengah mereka ada yang terbesar dari semua tauladan sehingga mereka tidak membutuhkan orang lain untuk memperbaiki pemahaman mereka, takkan ada yang berkata bahwa itu syirik, atau bid’ah atau ribut bertanya mana dalilnya.

*Tabarukan = Mencari berkah dengan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan sumber yang membawa kebaikan, tetap dalam syari’at.

Mengenal Istri-Istri Nabi Muhammad SAW

Ummul Mukminim berarti ibu para mukmin, adalah sebutan untuk para istri Rasulullah SAW untuk menghormati Beliau SAW, umat tidak bisa menikahi istri Rasulullah selainnya, karena tidak mungkin seorang anak menikahi ibunya sendiri, haram hukumnya.

 

  1. Khadijah binti Khuwailid

Sebutan: Ath Thahirah = Wanita yang suci

Status: 2x Janda

Usia dinikahi: 40 tahun

Usia Rasul: 25 tahun

Anak: 1) Qasim (meninggal saat masih bayi), 2) Abdullah (meninggal di usia 2 tahun), 3) Zainab, 4) Ruqayyah, 5) Ummu Kaltsum, 6) Fatimah

Kondisinya: Pengusaha sukses, keturunan bangsawan, memiliki 4 anak dari pernikahan sebelumnya

Alasan dinikahi: Petunjuk Allah, karena dia adalah wanita pertama yang memeluk Islam, dan mendukung dakwah Nabi SAW dengan segala apa yang ia miliki, baik waktu, tenaga, pikiran, harta dan dirinya.

 

  1. Aisyah binti Abu Bakr

Sebutan: Ash Shiddiqah = Wanita yang jujur, Al Habibah = Istri Nabi

Status: Gadis

Usia dinikahi: 11 tahun (tetapi tinggal serumah dengan Nabi setelah usia 19 tahun)

Usia Rasul: 52 tahun

Kondisinya: Cantik, cerdas, putri Abu Bakar Ash-Shiddiq

Alasan dinikahi: Petunjuk Allah (lewat mimpinya 3 malam berturut-turut), untuk mempererat hubungan sahabat (Abu Bakar)

Hikmah: Rasulullah mengajarkan tentang kewanitaan kepada Aisyah agar disampaikan kepada para umatnya kelak. Aisyah banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah yang disampaikan pada umat

 

  1. Saudah binti Zum’ah

Status: Janda

Usia dinikahi: 70 tahun

Usia Rasul: 52 tahun

Kondisinya: Wanita kulit hitam, janda dari sahabat Nabi yang menjadi perisai Nabi saat perang, memiliki 12 anak dari pernikahan sebelumnya

Alasan dinikahi: Menjaga keimanan Saudah dari gangguan kaum musyrikin

 

  1. Zainab binti Jahsy

Nama asli: Barrah

Sebutan: Al Awwahah = Wanita yang khusyu’ dan rendah diri

Status: Janda

Usia dinikahi: 45 tahun

Usia Rasul: 56 tahun

Kondisinya: Mantan istri Zaid bin Haritsah (budak yang diangkat Nabi sebagai anak)

Alasan dinikahi: Perintah Allah bahwa pernikahan harus sekufu, Zainab adalah mantan istri anak angkatnya Rasulullah

Hikmah: Menginformasikan bahwa anak angkat tidak bisa dijadikan anak kandung secara nasab. Maka istrinya tetap bukan mahrom untuk ayah angkatnya, jadi boleh dinikahi setelah berpisah dari pasangannya

 

  1. Ummu Salamah

Nama asli: Hindun binti Abu Umamah

Sebutan: Ash Shabirah = Wanita yang sabar, Al Muhtashibah = Yang mengharap pahala

Status: Janda

Usia dinikahi: 62 tahun

Usia Rasul: 56 tahun

Kondisinya: Putri bibi Nabi (sepupu), seorang janda yang bijaksana, pandai berpidato dan mengajar

Alasan dinikahi: Perintah Allah untuk membantu dakwah Nabi

 

  1. Ummu Habibah

Nama Asli: Ramlah binti Abu Sufyan

Status: Janda

Usia dinikahi: 47 tahun

Usia Rasul: 57 tahun

Kondisinya: Mantan istri Ubaidillah bin Jahsy, cerai karena suaminya pindah agama menjadi Nashrani

Alasan dinikahi: Menjaga keimanan Ummu Habibah agar tidak murtad

 

  1. Juwairiyah binti Harits

Nama asli: Barrah, Rasulullah mengganti namanya menjadi Juwairiyah

Sebutan: Al Hulwah = Wanita yang manis, Al Malahah = Wanita yang cantik

Status: Janda

Usia dinikahi: 65 tahun

Usia Rasul: 57 tahun

Kondisinya: Cantik, tawanan perang, tidak memiliki sanak saudara, memiliki 17 anak dari pernikahan yang pertama

Alasan dinikahi: Petunjuk Allah untuk memerdekakan perbudakan dan pembebasan dari tawanan perang dan menjaga ketauhidan

 

  1. Shaffiyah binti Huyayi

Sebutan: Al Aqilah Bani Nadhir = Wanita cerdas Bani Nadhir

Status: 2x Janda

Usia dinikahi: 53 tahun

Usia Rasul: 58 tahun

Kondisinya: Wanita tawanan perang, wanita muslimah dari kalangan Yahudi Bani Nadhir, memiliki 10 anak dari pernikahan sebelumnya

Alasan dinikahi: Menjaga keimanan Shafiyyah dari boikot orang Yahudi

 

  1. Maimunah binti Harits

Nama asli: Barrah, Rasulullah mengganti namanya menjadi Maimunah

Status: Janda

Usia dinikahi: 63 tahun

Usia Rasul: 58 tahun

Kondisinya: Mantan istri Abu Ruham bin Abdul Uzza

Alasan dinikahi: Istri Rasulullah dari kalangan Yahudi Bani Kinanah, menikah dengan Rasulullah adalah untuk menjaga dan mengembangkan dakwah di kalangan Bani Nadhir

 

  1. Zainab binti Khuzaimah

Sebutan: Ummul Masakin = Ibunda orang miskin

Status: Janda

Usia dinikahi: 50 tahun

Usia Rasul: 58 tahun

Kondisinya: Seorang janda yang banyak memelihara anak yatim dan orang yang lemah di rumahnya

Alasan dinikahi: Petunjuk Allah untuk bersama-sama menyantuni anak yatim dan orang lemah

Hikmah: Orang yang memelihara anak yatim seperti ibu jari dan jari tengah (Sabda Rasulallah)

 

  1. Mariyah Al Qibtiyah

Anak: Ibrahim (meninggal di usia 2 tahun)

Status: Gadis

Usia dinikahi: 25 tahun

Usia Rasul: 59 tahun

Kondisinya: Seorang budak Yahudi muslim yang dihadiahkan oleh Raja Muqauqis dari Mesir

Alasan dinikahi: Menikahi untuk memerdekakan dari kebudakan dan menjaga keimanan Mariyah

 

  1. Hafshah binti Umar

Sebutan: Ash Shawamah, Al Qawwamah

Status: Janda

Usia dinikahi: 35 tahun

Usia Rasul: 61 tahun

Kondisi: Putri sabahat Umar bin Khattab, janda dari Khunais bin Huzafah yang meninggal karena perang Uhud

Alasan dinikahi: Petunjuk Allah untuk mempererat hubungan persahabatan antara Rasul & Sayyidina Umar

Hikmah: Hafsah adalah wanita pertama yang hafal Al Qur’an, dinikahi oleh Rasulullah agar bisa menjaga keotentikan Al Qur’an

 

Fakta & Hikmah Pernikahan Rasulullah:

  1. Rasulullah tidak pernah menikah dengan wanita lain hingga setelah Sayyidah Khodijah meninggal.
  2. Pernikahan-pernikahan Rasulullah itu adalah mengandung hikmah dan sebagai pelajaran-pelajaran dilihat dari siapa yang dinikahi dan kondisinya.
  3. Allah tidak memberi keturunan pada Istri lainnya selain Sayyidah Khodijah.
  4. Keturunan Rosulullah hanya dari 1 istri, sehingga tidak membingungkan garis keturunannya sampai hari akhir kelak.
  5. Allah menjaga Kerasulan Nabi Muhammad dengan tidak membesarkan anak laki-laki beliau.
  6. Anak bayi 2-3 yang meninggal saat masih kecil adalah jaminan Surga untuk orangtuanya.

Hidup Sehat Ala Rasulullah SAW

Mandi Pagi

Mandi pagi sebelum subuh atau sekurang-kurangnya 1 jam sebelum matahari naik. Air sejuk yang meresap ke dalam badan bisa mengurangkan lemak yang terkumpul. Kita bisa lihat orang yang mandi pagi kebanyakan badannya tidak gemuk.

Minum Air Sejuk

Rasulullah SAW mengamalkan minum segelas air sejuk setiap pagi setelah bangun tidur, bukan air es atau hangat, agar terhindar dari penyakit dan menambah imun.

Sujud 1 Menit

Waktu sholat Subuh disunatkan kita bertafakur, yaitu sujud sekurang-kurangnya semenit selepas membaca doa, agar mengelak dari sakit pening atau migrain. Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yang tidak dipenuhi darah. Hanya dengan bersujud maka darah baru akan mengalir ke ruang tersebut.

Cara Makan

Dalam kitab juga ada melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. Nabi SAW pernah mencegah kita makan ikan bersama ayam. Dikhawatirkan akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh saintis yang menemukan dimana dalam badan ayam mengandungi ion+ve, manakala dalam ikan mengandung ion-ve, jika dalam suapan ayam bercampur dengan ikan maka terjadi tindak balas biokimia yang terhasil yang bisa merusak usus kita. Orang yahudi suka memakan ikan tanpa bercampur dengan  makanan bercampur ayam.

Nabi SAW juga mengajar kita makan dengan tangan kanan dan bila habis hendaklah menjilat jari. Begitu juga ahli sains telah menemukan bahwa Enzyme = sejenis alat percerna makanan, tanpanya makanan tidak terurai, banyak terkandung di celah jari, yaitu 10 kali lipat terdapat dalam air liur.

Disunnahkan duduk ketika makan dan minum, karena posisi tubuh otomatis membagi perut menjadi 3 (udara, makanan, dan air). Jangan lupa berdoa sebelum dan sesudah makan.

Cara Tidur

Tidur Rasulullah SAW ada 3 waktu:

  1. Diawal malam
  2. Diseperenam akhir malam (antara 02.25 – 04.30), bangun ketika waktu subuh. Beliau SAW tidur lagi setelah tengah malam, tidak bablas sampai subuh.
  3. Dipertengahan siang (Qailulah)

Tidur dengan badan miring ke kanan. Disunnahkan untuk berwudhu, kalau bisa sholat 2 rakaat, berdoa, berdzkir, menutup aurat dan mematikan lampu, karena kondisi gelap akan membuat relax tubuh kita.

Cara Beristinja

Buang air besar dan kecil dengan cara duduk dengan badan condong ke kiri (paha menekan perut bagian kiri), baik wanita maupun pria. Posisi duduk akan menguras habis air kencing yang tersisa dengan berdehem 3 kali, mengurut, dan membasuhnya dengan bersih.

Jangan lupa berdoa sebelum masuk dan keluar kamar mandi, serta disunnahkan untuk menutupi kepala dengan sesuatu (shower cap/handuk kecil) dan memakai alas kaki.

Keimanan Sempurna

Rasulallah SAW bersabda:

“Tidak beriman dengan keimanan yang sempurna salah seorang diantara kamu, sampai aku menjadi orang yang paling dia cintai daripada ayahnya, anaknya dan seluruh manusia.”

Matahari Hari Jum’at

Rasulallah SAW bersabda:

“Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam AS diciptakan, dan pada hari itu pula Ia dikeluarkan dari surga, dan tidak akan bangkit hari kiamat melainkan pada hari Jum’at.”