Abu Bakar Assegaf Gresik

Suatu hari Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi berkata:

“Kelak akan ada seorang muridku yang memiliki kekeramatan sama denganku namanya adalah Abu Bakar Assegaf.”

Akhirnya diketahui ternyata beliau adalah Sayyidina Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf wali quthub, asal Gresik.

Dikatakan bahwa maqom (kedudukan) Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf telah mencapai tingkat Shiddiqiyah Kubro. Maqom puncak dimana tidak ada lagi maqom di atasnya kecuali kenabian. Hal itu telah diakui oleh para wali yang hidup sezaman dengan beliau.

Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar berkata:

“Demi fajar dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil. Sungguh Al-Akh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah mutiara keluarga Segaf yang terus menggelinding (maqomnya) bahkan membumbung tinggi menyusul maqom-maqom para aslafnya (leluhurnya).”

Al Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad berkata:

“Sesungguhnya Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang Quthb Al-Ghaust juga sebagai tempat turunnya pandangan (rahmat) Allah SWT.”

Al-Arif Billah Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi pernah berkata di rumah Al-Habib Abu Bakar Assegaf dikala beliau membubuhkan tali ukhuwah antara beliau dengan Al-Habib Abu Bakar Assegaf, pertemuan yang diwarnai dengan derai air mata.

Habib Ali berkata kepada para hadirin ketika itu:

“Habib Abu Bakar ini adalah Raja Lebah (Rajanya para Wali di zamannya). Beliau adalah saudaraku di jalan Allah. Pandanglah beliau, karena memandang beliau adalah Ibadah.”

Al-Habib Husain bin Muhammad al-Haddad berkata:

“Sesungguhnya Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah. Beliau adalah penguasa saat ini, beliau adalah Pemimpin Para Wali di masanya, beliau telah berada pada Maqom As-Syuhud yang mampu menyaksikan (mengetahui) hakekat dari segala sesuatu.”

Di antara ucapan Al Quthb AlHabib Abubakar Assegaf adalah:

“Jika seorang wali meninggal, mereka pasti mengangkat seseorang untuk menggantikannya, mewarisi hal (keadaannya) dan menduduki kedudukannya. Jika pengganti yang terpilih belum memiliki kemampuan itu untuk menerima hal tersebut, mereka menitipkan hal tersebut kepada salah seorang wali sebagai wakil sampai sang pengganti mampu untuk membawa sirr tersebut.

Kadang-kadang Allah mengujinya dengan menggerakkan lisan masyarakat yang mengganggu harga dirinya, mencela dan menyakitinya sehingga keadaannya menjadi sempurna dan menjadi mampu membawa sirr tersebut. Saat itulah mereka berikan warisannya.”

Diriwayatkan bahwa beliau mengalami suatu penyakit yg parah hingga tampak bekas hitam di dada beliau. Hal ini dikarenakan beliau adalah Penyandang Bala’ bagi umat manusia. Beliau berkata, “Apa yang kalian lihat menimpa diriku sebenarnya bukanlah musibah, itu adalah kenikmatan di atas kenikmatan, aku merasakan kesenangan dan kelezatan dengannya. Sedangkan rintihan, keluhan yang kalian dengar dariku hanyalah sesuatu yang manusiawi, pengakuan atas kelemahanku dan kebutuhanku kepada Allah SWT. Sekarang aku menikmati dua kesenangan. Nikmat sabar dan syukur.”

Beliau juga berkata: “Saat aku sakit, Al-Musthofa SAW datang menjengukku dan aku dalam keadaan sadar (yaqodhoh). Aku berpelukan dengan Beliau SAW di tempat ini (sambil menunjuk tempat yang biasa beliau duduki). Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam juga pernah datang ke tempat ini setelah sholat Ashar dan aku dalam keadaan terjaga. Aku sedang duduk di atas sajadah, tiba-tiba Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam datang diapit dua orang lain. Salah seorang di antara mereka berkata, “Kenalkah kau orang ini?”, katanya seraya menunjuk orang yang di tengah. “Tidak,” jawabku. “Beliau adalah kakekmu, Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam,” kata orang itu.

Para auliya’ bersepakat bahwa Maqom Ijtima’ (bertemu) dengan Nabi SAW dalam waktu terjaga, adalah sebuah maqom yang melampaui seluruh maqom yang lain. Hal ini tidak lain adalah buah dari mutaba’ah dzohir batin beliau terhadap sunnah-sunnah Nabi SAW.

Beliau juga pernah berkata, “Aku adalah Ahluddarak, barang siapa yang memohon pertolongan Allah melaluiku, maka dengan izin Allah aku akan membantunya, barang siapa yang berada dalam kesulitan lalu memanggil-manggil namaku maka aku akan segera hadir di sisinya dengan izin Allah.”

Ijazah beliau:

Dalam acara rutinan rauhah 3 Jumadal Ula, 1355 H. Pada acara rauhah di Kediama beliau di Gresik, al Habib Abu Bakar bin Muhammad assegaf menuntun orang-orang yang hadir di acara tersebut dengan kalimat jalalah berikut ini:

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَوْجُودْ فِيْ كُلِّ زَمَانْ

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْبُودْ فِيْ كُلِّ مَكَانْ

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَذْكُورْ بِكُلِّ لِسَانْ

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْرُوفْ بِاْلاِحْسَانْ

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْن

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْأَمَانْ اَلْأَمَانْ مِنْ زَوَالِ الْاِيْمَانْ

وَمِنْ فِتْنَةِ الشَّيْطَانْ، يَا قَدِيْمَ الْاِحْسَانْ

كَمْ لَكَ عَلَيْنَا مِنْ إِحْسَانْ،

اِحْسَانُكَ الْقَدِيمْ ,يَا حَنَّانْ يَا مَنَّانْ،

يَا رَحِيمُ يَا رَحْمَانْ, يَا غَفُورُ يَا غَفَّارْ، اِغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا

وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينْ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

Setelah beliau menuntun hadirin dengan dzikir di atas beliau bercerita, ”Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang sholeh, dia adalah al-Qodhi Abdullah al-Baghdadiy . Dia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah SAW di dalam mimpi dan beliau terlihat pucat sekali lalu aku berkata kepada Rasulullah SAW, “Kenapa engkau wahai Nabi, wajah engkau pucat sekali ?” Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Di malam ini telah meninggal 1.500 orang dari ummatku, dua dari mereka meninggal dalam keadaan iman dan sisanya meninggal tanpa membawa iman (su’ul khotimah).” Aku berkata lagi kepada Rasulullah SAW, “Lalu apa kiat-kiat dari engkau untuk orang-orang yang bermaksiat agar mereka meninggal dengan membawa iman?” Rasulullah SAW berkata, “Ambilah kertas ini dan baca shalallahu a’laihi wa sallam, siapa orang membacanya dan membawanya lalu dia memindah dari satu tempat ke tempat yang lain (menyebarkan dan mengajarkan), maka termasuk dari golonganku dan akan meninggal dalam keadaan membawa iman, akan tetapi siapa orang yang telah mendengarkannya dan dia tidak membacanya, tidak menyebarkannya maka dia lepas dari aku dan akupun lepas darinya.” Seketika itu aku langsung terbangun dari tidurku dan aku lihat kertas tersebut yang telah ada di genggamanku, ternyata di dalamnya berisi tulisan yang penuh barokah , tulisan tersebut adalah:

بسم الله الرحمن الرحيم

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَوْجُودْ فِيْ كُلِّ زَمَانْ

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْبُودْ فِيْ كُلِّ مَكَانْ

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَذْكُورْ بِكُلِّ لِسَانْ

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْرُوفْ بِاْلاِحْسَانْ

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْن

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْأَمَانْ اَلْأَمَانْ مِنْ زَوَالِ الْاِيْمَانْ

وَمِنْ فِتْنَةِ الشَّيْطَانْ، يَا قَدِيْمَ الْاِحْسَانْ

كَمْ لَكَ عَلَيْنَا مِنْ إِحْسَانْ،

اِحْسَانُكَ الْقَدِيمْ ,يَا حَنَّانْ يَا مَنَّانْ،

يَا رَحِيمُ يَا رَحْمَانْ, يَا غَفُورُ يَا غَفَّارْ، اِغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا

وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينْ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

Berkah beliau semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang husnul khotimah dan kelak dikumpulkan bersama sayyidi ahlil jannah Rasulullah SAW. Amin.

Advertisements

7 Makam Waliyullah Di Jakarta

  1. Al Hawi Condet: Habib Abdul Qodir bin Muhammad Alhaddad, Habib Muhsin bin Muhammad, Habib Ali bin Husein Alattas, Habib Muhammad bin Ahmad Alhaddad, Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, Habib Zein bin Abdullah Alaydrus, Habib Umar bin Muhammad bin Hud Alattas, Hubabah Nur bin Muhsin Alattas
  2. Kalibata: Habib Ahmad bin Alwi Alhaddad (Habib Kuncung), Habib Abdullah Syami’ bin Husein Alattas
  3. Empang Bogor: Habib Abdullah bin Muhsin Alattas (Habib Empang), muridnya: Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad
  4. Tanjung Priok: Habib Hasan bin  Muhammad Alhaddad (Mbah Priok)
  5. Luar Batang: Habib Husein bin Abubakar Alaydrus, muridnya: Haji Abdul Qodir
  6. Kampung Bandan: Habib Abdurrahman bin Alwi Asy-Syathri, Habib Ali bin Abdurrahman Ba’alawi, Habib Muhammad bin Umar Alqudsi
  7. Kwitang: Habib Muhammad bin Ali Alhabsyi
  8. Cikini: Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi

Tidak Sepatutnya Merasa Lebih Dari Yang Lain

Di tengah perjalanan malamnya, Al-Imam Abu Yazid al-Busthami bertemu dengan seekor anjing. Dengan sigap, diangkatlah gamisnya, dengan maksud agar tidak terkena najisnya.

Spontan anjing tersebut berhenti & memandang Abu Yazid. Atas kuasa Allah, Abu Yazid mendengar anjing tersebut berbicara, kepadanya, “Wahai Yazid, tubuhku ini kering, tidak akan menimbulkan najis kepadamu. Jika pun terkena najisku, engkau tinggal membasuhnya 7x, dengan air dan tanah. Maka najisku akan hilang, namun jika engkau angkat gamismu, karena berbaju manusia, merasa lebih mulia & menganggap aku hina, maka najis di dalam hatimu, tidak akan mampu terhapus, walau kau bersihkan dengan air dari 7 samudera.”

Abu Yazid terkejut mendengar perkataan anjing tersebut. Dia menunduk malu, dan segera meminta maaf kepada si anjing. Diajaknya anjing tersebut bersahabat & mengikuti perjalanannya, namun anjing tersebut menolak. Kemudian anjing itu berkata, “Engkau tak mungkin bersahabat & berjalan dengan aku, karena orang-orang yang memuliakanmu, akan mencemooh kamu & melempari aku dengan batu. Aku juga tidak tahu mengapa, mereka menganggap aku hina, padahal aku telah berserah diri, kepada pencipta-Ku atas wujud ini. Lihatlah, tidak ada yang aku bawa, bahkan sepotong tulang sebagai bekalku saja tidak. Sementara engkau masih membawa bekal sekantong gandum.” Kemudian anjing tersebut berlalu.

Dari jauh Abu Yazid memandangi anjing tersebut, berjalan meninggalkannya. Tidak terasa air mata Abu Yazid menetes, dan ia berkata dalam hati, “Ya Rabb, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-Mu saja, aku merasa tidak pantas. Bagaimana aku bisa pantas berjalan dengan-Mu? Ampunilah aku. Sucikanlah najis di dalam qalbuku ini.”

Jangan pernah merasa lebih baik, mulia dan terhormat pada ciptaan Allah, karena Allah melihat hatimu, bukan penampilanmu.

313 Pejuang Perang Badar 17 Ramadhan

  1. Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w.
  2. Abu Bakar as-Shiddiq r.a.
  3. Umar bin al-Khattab r.a.
  4. Utsman bin Affan r.a.
  5. Ali bin Abu Tholib r.a.
  6. Talhah bin ‘Ubaidillah r.a.
  7. Bilal bin Rabbah r.a.
  8. Hamzah bin Abdul Muttolib r.a.
  9. Abdullah bin Jahsyi r.a.
  10. Al-Zubair bin al-Awwam r.a.
  11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim r.a.
  12. Abdur Rahman bin ‘Auf r.a.
  13. Abdullah bin Mas’ud r.a.
  14. Sa’ad bin Abi Waqqas r.a.
  15. Abu Kabsyah al-Faris r.a.
  16. Anasah al-Habsyi r.a.
  17. Zaid bin Harithah al-Kalbi r.a.
  18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi r.a.
  19. Abu Marthad al-Ghanawi r.a.
  20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
  21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
  22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
  23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib r.a.
  24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah r.a.
  25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) r.a.
  26. Salim (maula Abu Huzaifah) r.a.
  27. Sinan bin Muhsin r.a.
  28. ‘Ukasyah bin Muhsin r.a.
  29. Sinan bin Abi Sinan r.a.
  30. Abu Sinan bin Muhsin r.a.
  31. Syuja’ bin Wahab r.a.
  32. ‘Utbah bin Wahab r.a.
  33. Yazid bin Ruqais r.a.
  34. Muhriz bin Nadhlah r.a.
  35. Rabi’ah bin Aksam r.a.
  36. Thaqfu bin Amir r.a.
  37. Malik bin Amir r.a.
  38. Mudlij bin Amir r.a.
  39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i r.a.
  40. ‘Utbah bin Ghazwan r.a.
  41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) r.a.
  42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi r.a.
  43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) r.a.
  44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah r.a.
  45. Umair bin Abi Waqqas r.a.
  46. Al-Miqdad bin ‘Amru r.a.
  47. Mas’ud bin Rabi’ah r.a.
  48. Zus Syimalain Amru bin Amru r.a.
  49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi r.a.
  50. Amir bin Fuhairah r.a.
  51. Suhaib bin Sinan r.a.
  52. Abu Salamah bin Abdul Asad r.a.
  53. Syammas bin Uthman r.a.
  54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a.
  55. Ammar bin Yasir r.a.
  56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i r.a.
  57. Zaid bin al-Khattab r.a.
  58. Amru bin Suraqah r.a.
  59. Abdullah bin Suraqah r.a.
  60. Sa’id bin Zaid bin Amru r.a.
  61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) r.a.
  62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi r.a.
  63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
  64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
  65. Amir bin Rabi’ah r.a.
  66. Amir bin al-Bukair r.a.
  67. Aqil bin al-Bukair r.a.
  68. Khalid bin al-Bukair r.a.
  69. Iyas bin al-Bukair r.a.
  70. Uthman bin Maz’un r.a.
  71. Qudamah bin Maz’un r.a.
  72. Abdullah bin Maz’un r.a.
  73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un r.a.
  74. Ma’mar bin al-Harith r.a.
  75. Khunais bin Huzafah r.a.
  76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm r.a.
  77. Abdullah bin Makhramah r.a.
  78. Abdullah bin Suhail bin Amru r.a.
  79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah r.a.
  80. Hatib bin Amru r.a.
  81. Umair bin Auf r.a.
  82. Sa’ad bin Khaulah r.a.
  83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah r.a.
  84. Amru bin al-Harith r.a.
  85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah r.a.
  86. Safwan bin Wahab r.a.
  87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah r.a.
  88. Sa’ad bin Muaz r.a.
  89. Amru bin Muaz r.a.
  90. Al-Harith bin Aus r.a.
  91. Al-Harith bin Anas r.a.
  92. Sa’ad bin Zaid bin Malik r.a.
  93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi r.a.
  94. ‘Ubbad bin Waqsyi r.a.
  95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi r.a.
  96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz r.a.
  97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi r.a.
  98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj r.a.
  99. Salamah bin Aslam bin Harisy r.a.
  100. Abul Haitham bin al-Tayyihan r.a.
  101. ‘Ubaid bin Tayyihan r.a.
  102. Abdullah bin Sahl r.a.
  103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid r.a.
  104. Ubaid bin Aus r.a.
  105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd r.a.
  106. Mu’attib bin ‘Ubaid r.a.
  107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi r.a.
  108. Mas’ud bin Sa’ad r.a.
  109. Abu Absi Jabr bin Amru r.a.
  110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi r.a.
  111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah r.a.
  112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail r.a.
  113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid r.a.
  114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar r.a.
  115. Sahl bin Hunaif bin Wahib r.a.
  116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir r.a.
  117. Mubasyir bin Abdul Munzir r.a.
  118. Rifa’ah bin Abdul Munzir r.a.
  119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man r.a.
  120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy r.a.
  121. Rafi’ bin Anjadah r.a.
  122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid r.a.
  123. Tha’labah bin Hatib r.a.
  124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah r.a.
  125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi r.a.
  126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi r.a.
  127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi r.a.
  128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi r.a.
  129. Asim bin Adi al-Ba’lawi r.a.
  130. Jubr bin ‘Atik r.a.
  131. Malik bin Numailah al-Muzani r.a.
  132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi r.a.
  133. Abdullah bin Jubair r.a.
  134. Asim bin Qais bin Thabit r.a.
  135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
  136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
  137. Salim bin Amir bin Thabit r.a.
  138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah r.a.
  139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man r.a.
  140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah r.a.
  141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah r.a.
  142. Sa’ad bin Khaithamah r.a.
  143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah r.a.
  144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) r.a.
  145. Al-Harith bin Arfajah r.a.
  146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair r.a.
  147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru r.a.
  148. Abdullah bin Rawahah r.a.
  149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah r.a.
  150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
  151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
  152. Subai bin Qais bin ‘Isyah r.a.
  153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah r.a.
  154. Abdullah bin Abbas r.a.
  155. Yazid bin al-Harith bin Qais r.a.
  156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah r.a.
  157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah r.a.
  158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah r.a.
  159. Sufyan bin Bisyr bin Amru r.a.
  160. Tamim bin Ya’ar bin Qais r.a.
  161. Abdullah bin Umair r.a.
  162. Zaid bin al-Marini bin Qais r.a.
  163. Abdullah bin ‘Urfutah r.a.
  164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais r.a.
  165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai r.a.
  166. Aus bin Khauli bin Abdullah r.a.
  167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru r.a.
  168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah r.a.
  169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid r.a.
  170. Amir bin Salamah r.a.
  171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad r.a.
  172. Amir bin al-Bukair r.a.
  173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah r.a.
  174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan r.a.
  175. ‘Ubadah bin al-Somit r.a.
  176. Aus bin al-Somit r.a.
  177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah r.a.
  178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus r.a.
  179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah r.a.
  180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam r.a.
  181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam r.a.
  182. Amru bin Iyas r.a.
  183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru r.a.
  184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy r.a.
  185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
  186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
  187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid r.a.
  188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah r.a.
  189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais r.a.
  190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah r.a.
  191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan r.a.
  192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus r.a.
  193. Ka’ab bin Humar al-Juhani r.a.
  194. Dhamrah bin Amru r.a.
  195. Ziyad bin Amru r.a.
  196. Basbas bin Amru r.a.
  197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi r.a.
  198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru r.a.
  199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh r.a.
  200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh r.a.
  201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) r.a.
  202. Abdullah bin Amru bin Haram r.a.
  203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
  204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
  205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh r.a.
  206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid r.a.
  207. Hubaib bin Aswad r.a.
  208. Thabit bin al-Jiz’i r.a.
  209. Umair bin al-Harith bin Labdah r.a.
  210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur r.a.
  211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ r.a.
  212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ r.a.
  213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais r.a.
  214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr r.a.
  215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr r.a.
  216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
  217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
  218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr r.a.
  219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr r.a.
  220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah r.a.
  221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid r.a.
  222. Sawad bin Razni bin Zaid r.a.
  223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
  224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
  225. Abdullah bin Abdi Manaf r.a.
  226. Jab

ir bin Abdullah bin Riab r.a.

  1. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man r.a.
  2. An-Nu’man bin Yasar r.a.
  3. Abu al-Munzir Yazid bin Amir r.a.
  4. Qutbah bin Amir bin Hadidah r.a.
  5. Sulaim bin Amru bin Hadidah r.a.
  6. Antarah (maula Qutbah bin Amir) r.a.
  7. Abbas bin Amir bin Adi r.a.
  8. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad r.a.
  9. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais r.a.
  10. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah r.a.
  11. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus r.a.
  12. Qais bin Mihshan bin Khalid r.a.
  13. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid r.a.
  14. Jubair bin Iyas bin Khalid r.a.
  15. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman r.a.
  16. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah r.a.
  17. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid r.a.
  18. As’ad bin Yazid bin al-Fakih r.a.
  19. Al-Fakih bin Bisyr r.a.
  20. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah r.a.
  21. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
  22. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
  23. Mas’ud bin Qais bin Khaladah r.a.
  24. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
  25. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
  26. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan r.a.
  27. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah r.a.
  28. Khalid bin Qais bin al-Ajalan r.a.
  29. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid r.a.
  30. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir r.a.
  31. Khalifah bin Adi bin Amru r.a.
  32. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan r.a.
  33. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari r.a.
  34. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man r.a.
  35. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid r.a.
  36. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza r.a.
  37. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru r.a.
  38. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani r.a.
  39. Mas’ud bin Aus bin Zaid r.a.
  40. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid r.a.
  41. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid r.a.
  42. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
  43. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
  44. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
  45. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah r.a.
  46. Abdullah bin Qais bin Khalid r.a.
  47. Wadi’ah bin Amru al-Juhani r.a.
  48. Ishmah al-Asyja’i r.a.
  49. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi r.a.
  50. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man r.a.
  51. Tha’labah bin Amru bin Mihshan r.a.
  52. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru r.a.
  53. Ubai bin Ka’ab bin Qais r.a.
  54. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais r.a.
  55. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram r.a.
  56. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit r.a.
  57. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl r.a.
  58. Abu Syeikh Ubai bin Thabit r.a.
  59. Harithah bin Suraqah bin al-Harith r.a.
  60. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi r.a.
  61. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik r.a.
  62. Abu Salit bin Usairah bin Amru r.a.
  63. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik r.a.
  64. Amir bin Umaiyyah bin Zaid r.a.
  65. Muhriz bin Amir bin Malik r.a.
  66. Sawad bin Ghaziyyah r.a.
  67. Abu Zaid Qais bin Sakan r.a.
  68. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim r.a.
  69. Sulaim bin Milhan r.a.
  70. Haram bin Milhan r.a.
  71. Qais bin Abi Sha’sha’ah r.a.
  72. Abdullah bin Ka’ab bin Amru r.a.
  73. ‘Ishmah al-Asadi r.a.
  74. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik r.a.
  75. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah r.a.
  76. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah r.a.
  77. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud r.a.
  78. Al-Dhahhak bin Abdi Amru r.a.
  79. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah r.a.
  80. Jabir bin Khalid bin Mas’ud r.a.
  81. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal r.a.
  82. Ka’ab bin Zaid bin Qais r.a.
  83. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi r.a.
  84. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan r.a.
  85. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah r.a.
  86. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj r.a.
  87. Oleh bin Syuqrat r.a. (khadam Nabi s.a.w.)

Siapakah Habib Abdullah Alhaddad?

Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi adalah seorang murid Al-Habib Abdullah Al-Haddad yang mendapat mandat besar dari beliau, menyatakan kekagumannya terhadap gurunya dengan mengatakan, ”Seandainya aku dan tuanku Al-Habib Abdullah Al-Haddad ziarah ke makam, kemudian beliau mengatakan kepada orang-orang yang mati untuk bangkit dari kuburnya, pasti mereka akan bangkit sebagai orang-orang hidup dengan izin Allah. Karena aku menyaksikan sendiri bagaimana dia setiap hari telah mampu menghidupkan orang-orang yang bodoh dan lupa dengan cahaya ilmu dan nasihat. Beliau adalah lautan ilmu pengetahuan yang tiada bertepi, yang sampai pada tingkatan Mujtahid dalam ilmu-ilmu Islam, Iman dan Ihsan. Beliau adalah mujaddid pada ilmu-ilmu tersebut bagi penghuni zaman ini.”

Syaikh Abdurrohman Al-Baiti RA pernah berziarah bersama Al-Habib Abdullah Al-Haddad ke makam Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam Muhammad bin Ali Ba’alawy, dalam hatinya terbetik sebuah pertanyaan ketika sedang berziaroh, “Bila dalam sebuah majelis zikir para sufi hadir Al-Faqih Al-Muqaddam, Syaikh Abdurrohman Assegaff, Syaikh Umar al-Mukhdor, Syaikh Abdullah Al-Idrus, Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, dan yang semisal setara dengan mereka, mana diantara mereka yang akan berada di baris depan?”

Pada waktu itu guruku, Al-Habib Abdullah Al-Haddad, menyingkap apa yang ada dibenakku, kemudian dia mengatakan, “Saya adalah jalan keluar bagi mereka, dan tiada seseorang yang bisa masuk kepada mereka kecuali melaluiku.”

Setelah itu aku memahami bahwa beliau Al-Habib Abdullah Al-Haddad, adalah dari abad 2H, yang diakhirkan kemunculannya oleh Allah SWT pada abad ini sebagai rahmat bagi penghuninya.

Al-Habib Ahmad bin Umar bin Smith RA mengatakan, “Bahwa Allah memudahkan bagi pembaca karya-karya Al-Habib Abdullah Al-Haddad untuk mendapat pemahaman (futuh), dan berkah membaca karyanya Allah memudahkan segala urusannya agama, dunia dan akhirat, serta akan diberi ‘Afiat (kesejahteraan) yang sempurna dan besar kepadanya.”

Al-Habib Thohir bin Umar Al-Hadad RA mengatakan, “Semoga Allah mencurahkan kebahagiaan dan kelapangan, serta rezeki yang halal, banyak dan memudahkannya, bagi mereka yang hendak membaca karya-karya Al-Quthb Aqthob wal Ghouts Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad RA.”

Al-Habib Umar bin Zain bin Smith RA mengatakan, “Seseorang yang hidup sezaman dengan Al-Habib Abdullah Al-Haddad RA bermukim di Mekkah, sehari setelah Al-Habib Abdullah Al-Haddad wafat, ia memberitahukan kepada sejumlah orang bahwa semalam beliau RA sudah wafat. Ketika ditanya darimana ia mengetahuinya, ia menjawab, ‘Tiap hari, siang dan malam, saya melihat beliau selalu datang berthowaf mengitari Ka’bah (padahal beliau berada di Tarim, Hadhromaut). Hari ini saya tidak melihatnya lagi, karena itulah saya mengetahui bahwa beliau sudah wafat’.”

Orang Indonesia Diistimewakan Menziarahi Makam Imam Bukhari?

Kisah ini diceritakan oleh Tim Ekspedisi salah satu perusahaan minyak di Indonesia pada saat singgah di Kota Samarkand (Uzbekistan) sekitar tahun 2011.

Ceritanya Tim Ekspedisi Indonesia mengunjungi Samarkand. Memang di kota ini tidak ada yang bercitra atau memiliki nama jalan atau tempat yang bernuansa Indonesia, tapi bukan berarti Indonesia tidak dikenal disini. Justru Indonesia begitu dikenal dan dihormati di Samarkand.

Tim Ekspedisi Indonesia berniat untuk mengunjungi sebuah masjid yang di dalamnya terdapat makam Imam Besar Bukhari. Namun ketika mereka datang, waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan malam waktu setempat, dan masjid telah gelap. Namun mereka telah terlanjur disambut oleh pengurus masjid tersebut dan mempersilahkan mereka masuk. Lampu-lampu masjid pun dinyalakan kembali.

Tim Ekspedisi Indonesia begitu terpukau dengan interior masjid yang begitu megah. Namun masih tersiratkan dalam hati mereka, mengapa pengurus masjid itu begitu berkenan mempersilahkan orang-orang Indonesia ini untuk masuk masjid untuk berziarah, padahal waktu telah gelap, dan lampu-lampu masjid telah dimatikan.

Setelah itu, Tim Ekspedisi Indonesia ini kemudian dipersilahkan menuju ruang bawah tanah untuk menziarahi makam Imam Bukhari Rahimahullah. Ziarah pun berlangsung. Setelah itu, mereka berbincang dengan pengurus masjid tersebut, dan menanyakan hal yang tadi menjadi pertanyaan mereka.

Mendengar jawaban dan penjabaran si pengurus masjid, Tim Ekspedisi Indonesia ini sangat kaget. Ternyata, si pengurus masjid dan kebanyakan umat Muslim di Uzbekistan sangat hormat kepada orang-orang Indonesia.

Dalam situs lain, seorang teman menceritakan betapa ramah orang-orang Muslim di Uzbekistan pada orang-orang Indonesia. Makam Imam Bukhari selalu ditutup untuk umum, namun bila ada orang Indonesia datang untuk berziarah, dengan senang hati mereka akan mempersilahkannya untuk masuk ke ruangan tempat makam Imam Bukhari berada. Dan ini ada sebab historinya.

Ternyata, masjid yang saat ini mereka kunjungi, dibangun adalah berkat saran dan permintaan Presiden Soekarno kepada Nikita Khrushchev, penguasa tertinggi Uni Soviet kala itu, yakni tahun 1961. Dan memang saat itu Uzbekistan masih masuk dalam wilayah negara Uni Soviet. Bukan hanya itu yang membuat masyarakat Muslim Uzbekistan begitu hormat pada orang-orang Indonesia, hal yang paling dikenang adalah ternyata Presiden Bung Karno-lah yang telah menyelamatkan keberadaan makam Imam Besar Bukhari.

Kisahnya seperti ini, pada tahun 1961 pemimpin partai Komunis Uni Soviet sekaligus penguasa tertinggi Uni Soviet, yang tadi kami sebutkan di atas yakni Nikita Sergeyevich Khrushchev mengundang Bung Karno untuk datang ke Moskow. Sepertinya Khrushchev ingin menunjukkan pada Amerika bahwa Indonesia berdiri di belakang Uni Soviet. Karena bukan orang lugu, Bung Karno tidak mau begitu saja datang ke Moskow. Bung Karno tahu kalau Indonesia terjebak, yang paling rugi dan menderita adalah rakyat Indonesia. Bung Karno tidak mau membawa Indonesia pada situasi yang tidak menguntungkan. Bung Karno juga tidak mau Indonesia dipermainkan negara manapun.

Kemudian Bung Karno mengajukan syarat untuk memenuhi undangan Khrushchev. Kira-kira Bung Karno berkata seperti ini, “Saya mau datang ke Moskow dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi, tidak boleh tidak.” Kemudian Khrushchev balik bertanya, “Apa syarat yang Paduka Presiden ajukan?” Bung Karno menjawab, “Temukan makam Imam Bukhari, saya sangat ingin menziarahinya.”

Jelas saja Khrushchev terheran-heran. Siapa pula itu Imam Bukhari. Dasar orang Indonesia, mungkin begitu sungutnya dalam hati. Tanpa buang waktu, Khrushchev segera memerintahkan pasukan elitnya untuk menemukan makam yang dimaksud. Entah berapa lama waktunya yang diperlukan anak buah Khrushchev untuk menemukan makam tersebut, yang pasti hasilnya nihil. Khrushchev kembali menghubungi Bung Karno, “Maaf Paduka Presiden, kami tidak menemukan makam orang yang Paduka cari. Apa Anda berkenan mengganti syarat Anda?” Bung Karno tersenyum sinis. “Kalau tidak ditemukan ya sudah. Saya urungkan niat untuk ke negara Anda.”

Kalimat singkat Bung Karno ini membuat kuping Khrushchev panas memerah. Khrushchev balik kanan dan memerintahkan orang-orang nomor satunya untuk memecahkan masalah ini.

Akhirnya, setelah bolak-balik sana-sini, serta mengumpulkan informasi dari orang -orang tua Muslim di sekitar Samarkand, anak buah Khrushchev berhasil menemukan makam Imam Besar kelahiran kota Bukhari tahun 810 Masehi itu. Makamnya dalam kondisi rusak tak terawat.

Imam Bukhari yang memiliki jasa yang begitu besar bagi agama dan umat Islam itu dimakamkan di Samarkand pada tahun 870 Masehi. Khrushchev pun meminta agar makam itu dibersihkan dan dipugar sebaik mungkin. Selesai renovasi Khrushchev kembali menghubungi Bung Karno.

Intinya misi pencarian makam Imam Bukhari telah berhasil. Sambil tersenyum Bung Karno mengatakan, “Baik, saya akan datang ke negara Anda.” Setelah dari Moskow, Bung Karno tiba di kota Samarkand pada tanggal 12 Juni 1961. Sehari sebelumnya puluhan ribu orang menyambut kehadiran Pemimpin Besar Revolusi Indonesia ini di kota Tashkent.

Kini kita semua mengetahui betapa luar biasa peran seorang Bung Karno. Tidak saja dia banyak berjasa di dalam negeri, namun di lingkup internasional pun dia punya peran yang tidak main-main. Kita juga ingat sepak terjang beliau dalam mengadakan Konferensi Asia Afrika, dan ketika beliau menggagas Gerakan Non Blok. Kita bisa mengambil banyak keteladanan dari sosok Presiden pertama Republik Indonesia sekaligus salah satu founding father bangsa ini. Doa dan cinta tulus kami untukmu Bapak. Semoga akan muncul pemimpin-pemimpin bangsa hebat seperti Bung Karno!

 

Indonesia Negeri Para Wali

Bumi telah menunjukkan tanda-tanda akhir zaman, dan bumi sudah terlalu tua untuk menanggung bebannya. Salah satu dari tanda akhir zaman adalah perpecahan ummat, dimana-mana telah ditemui fitnah akhir zaman dari paham najd yang lebih cenderung digelari wahabi karena kecondongan mereka terhadap pendapat Muhhamad Bin Abdul Wahab. Paham ini merebak dan menuntut tauhid mutlak secara massal yang sebenarnya memecah belah umat. Paham zionis dari yahudi telah berhasil secara perlahan tapi pasti menyusupi paham-paham seperti ini untuk bertujuan merusak Islam dari dalam.

Apalagi kalau bukan perpecahan ummat, membenturkan sunni-syiah, madzhab-madzhab, budaya versus tradisi Islam dan menarik nilai-nilai islam dari setiap jengkal thariqahnya. Sungguh rentan dan berbahaya.

Ketahuilah ini telah banyak menumpahkan darah dan harta kaum muslim. Membunuh dan mengaburkan jejak para salaf lewat pemalsuan kitab, memerangi ulama dan memecah ummat lewat organisasi-organisasi, ormas dan fanatisme akan tauhid yang semakin jelas menunjukkan tanda akhir zaman berikutnya yaitu “ditariknya ilmu dari dunia”.

Ilmu telah berhasil ditarik dari dunia dengan cara keji dan pembodohan generasi muda. Sehingga paham ini merebak dan menjadikan pemiliknya merasa sebagai seorang pejuang tauhid. Sungguh adalah kebodohan dan kedangkalan akhlak akan ilmu itu sendiri.

Indonesia penganut Islam terbesar setelah dunia Arab adalah target empuk paham-paham rendah ini. Meracuni generasi muda untuk belajar instant lewat via internet, majelis dangkal tanpa adanya seorang mursyid, mengerok ilmu agama dengan pemahaman sendiri dan dengan takaran kemampuan seorang abid.

Ketika seseorang menjadi abid (ahli ibadah) dia berada dalam ujian ilmu sesungguhnya. Kita harus belajar ridha atas kemutlakan terjadinya fitnah akhir zaman ini. Bentengi diri dan keluarga terdekat anda. Perlawanan secara masif akan menjadi ladang fitnah yang lebih berbahaya.

Indonesia sebagai negeri para wali, sebuah gelar yang sangat agung untuk sebuah negeri yang “bodoh” karena melupakan para walinya. Merujuk kembali kepada gelar tersebut adalah jalan keluar membentengi diri kita dan masyarakat kita akan paham najd ini.

Tenanglah, karena Indonesia tidak akan runtuh sebelum gelar ini berubah menjadi negeri yang kehilangan wali. Kedudukan mereka saat hidup hingga wafatnya tidak merubah kedudukan kewalian mereka. Cintai para wali cintai nasab dan ranting penyambung ilmu ini (ulama), ini lebih mudah ketimbang  menyerang dengan ketidaksepahaman yang menjadi tujuan mereka (provokasi).

Membedakannya tidaklah sulit, selayaknya ini hanya menjadi perjalanan menemukan seorang ayah bagi seorang anak yang tersesat. Dia hanya perlu menemukan ayahnya, sehingga ayahnya akan menjaminnya, mengasihinya, dan menjadi pelindungnya. Adalah akal yang bodoh seorang anak ketika mengetahui ayahnya masih hidup namun berusaha bertahan hidup jauh darinya dan berusaha paham cara bertahan hidup tanpa ayahnya yang pastinya telah teruji dengan takdir yang menjadikannya seorang ayah.

Suatu saat Al Magfurlahu sang Murrobbi Al Habib Muhammad bin Alwi Al Maliki berziarah ke makam datuknya (Rasullulah SAW) telah terbuka bagi beliau “hijab” sehingga beliau bertemu secara sadar kepada baginda Rosul SAW. Dan beliau menjumpai Sang Nabi bersama banyak pengikutnya dan sang Murobbi bertanya siapakah mereka wahai Rasullulah? Dan baginda Rosul menjawab mereka adalah orang INDONESIA yang menjadi banyak penghuni surga dan mereka mencintaiku. Sang Murobbi menangis dan berikutnya mencari orang-orang Indonesia di barisan para murid-muridnya dan mengatakan “Mana-mana orang Indonesia? Saya mencintai mereka.”

Semoga Allah melindungi Indonesia dengan keutamaan para Wali Allah dan menjadikan kita orang-orang yang disebutkan kisah diatas. Amin.

Uwais Al Qarni

Uwais Al Qarni seorang yang miskin hidup di jaman Rasulullah. Ia sangat mencintai Rasulullah namun belum pernah bertemu dengan Beliau SAW, ia rela mengurusi ibunya yang renta karena baktinya kepadanya. Dia dikaruniakan Allah SWT untuk bisa memberi syafaat pada mereka yang berbakti pada kedua orang tuanya, serta memberi syafaat pada orang yang mendoakan beliau (mengirim Al Fatihah), dan menceritakan kepada orang kisah beliau.

Ibnu Hajar

Adalah ia seorang yang bernama Ibnu Hajar. Tidak pernah duduk di Majelis Taklim hanya melayani jamaah, bersih-bersih, tapi setelah gurunya meninggal beliau lah yang menggantikan karena khidmat dan keberkahan ilmu yg diberikan gurunya.

Tawasul Dengan Orang Sholeh

Dikisahkan Ada suatu kaum yang daerah tempat mereka tinggal tidak turun hujan hingga bertahun-tahun. Karna begitu keringnya sampai banyak di antara penduduknya yg meninggal kehausan. Shalat Istisqa’ dilakukan berkali-kali, tetapi hujan tidak kunjung datang.

Kemudian ada seorang yang dianggap awam, memasuki daerah tersebut dan berkata:

“Wahai hadirin. Apa yang kalian lakukan?”

“Kami melaksanakan shalat Istisqa’. Minta hujan”, jawab mereka.

“Bolehkah saya membantu berdoa agar hujan turun?”

“Kami ini orang sedesa sudah doa dan shalat Istisqa’ belum juga turun hujan, kok kamu aneh, berani menawarkan diri untuk berdoa turun hujan?”

“Mungkin doa saya diterima oleh Allah SWT.”

“Ya sudah kalau begitu, silakan berdoa sesuka hatimu”, jawabnya.

Kemudian orang asing tersebut mengangkat tangan ke langit seraya berdoa, “Ya Allah, berkat orang yang telah dilihat mataku ini, tolong turunkan untuk mereka hujan ya Allah.”

Tidak lebih dari 10 menit langit mendung. Tidak sampai setengah jam kemudian turunlah hujan.

Mereka bertanya, “Doa apa yang kau panjatkan?”

“Saya hanya tawasul dengan amal saya.”

“Amalan apa yang ada di matamu?”

“Saya hanya tawasul dengan mata saya yang pernah memandang seorang wali dan ulama, bernama Abu Yazid Al-Busthami.

Subhanallah. Begitu hebat barokah seorang wali-wali Allah di dalam kepentingan hidup kita baik dalam urusan dunia maupun akherat.

Mudah-mudahan kita selalu mendapatkan sir dan barokah daripada wali-wali Allah. Dan dikumpulkan nanti bersama mereka semua. Aamiin.