Al Hikam Habib Abu Bakar Alathas Azzabidi

Guru Besar Al Habib Abubakar bin Hasan Alatas Azzabidi, beliau adalah guru yang sangat luas ilmunya, rahmat kepada semua makhluk, dermawan, sederhana, waro’, bijaksana dan berintegritas tinggi. Beliau dengan semangat dan penuh kesabaran mengajar pada setiap hari Mingg,  ba’da Ashar, di Majelis Ta’lim beliau di Tanah baru Depok. Tak hanya mengajar, beliau juga menulis kalimat- kalimat hikmah, kata-kata bijak dan penuh makna.

Berikut beberapa buah hikam Al Habib dari ratusan hikam yang ada yang bisa kita renungkan dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Jadikan perjalanan hidupmu seperti kau sedang berjalan diatas pasir yang tidak terdengar suaranya, namun bekas langkahnya sangat jelas.

2. Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi daripada kejujuran , tapi tidak sedikit pula orang memusuhinya.

3. Janganlah kamu menghakimi manusia karena kekuatanmu, karena pada suatu saat Yang Maha Kuasa akan menghakimimu.

4. Berilah senyummu kepada musuhmu walaupun kamu tidak menyukainya, karena didalam senyummu telah berkurang dosamu.

5. Selimuti dirimu dengan ahlak yang mulia, maka semua manusia yang melihatmu akan  merasakan ketenangannya.

6. Ramahlah kamu kepada orang-orang yang buruk ahlaknya, mereka akan menjadikan kamu sebagai cerminnya.

7. Jika kamu bisa menasehati dirimu sendiri, pasti nasehatmu bisa diterima manusia.

8. Jika manusia mampu menjaga lidahnya dari perkataan buruk, dia telah melindungi lingkungannya dari kemarahan Tuhan.

9. Manusia yang jujur akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

10. Banyak manusia menyangka buruk kepada manusia lain, padahal pada jiwanya sendiri ada keburukan yang lebih buruk dari manusia lain.

11. Jika kamu bisa mengajak hatimu untuk berbuat baik, maka semua yang ada di sekelilingmu akan katakan kamu orang baik.

12. Semua fitnah itu buruk bagi setiap manusia, akan tetapi manusia itu tidak akan menjadi besar kalau dia tidak bertemu fitnah.

13. Jangan berbuat satu kesalahan kepada orang yang telah berbuat baik kepadamu, karena ada 10 kebaikan yang akan ditutup Allah untuk kamu.

14. Tanda seorang hamba yang baik adalah ridha dengan apa yang diberikan oleh Allah.

15. Janganlah kamu menghancurkan kemuliaan yang kamu miliki hanya karena pandangan yang berbeda.

16. Sifat emosi lebih banyak dimiliki oleh orang-orang yang suka melihat kesalahan orang lain. Dan sebaliknya, sifat sabar lebih banyak dimiliki oleh orang-orang yang suka melihat kebenaran orang lain.

17. Air mata yang kamu keluarkan adalah hanya jawaban atas perbuatan baikmu atau perbuatan burukmu.

18. Jalankan hidupmu dengan banyak berbuat baik kepada manusia walaupun dengan jumlah yang sedikit.

19. Jika burung setiap hari mendengar suara majikannya dan dia bisa menirukannya, bagaimana pula kalau manusia berkumpul dengan orang-orang baik, pasti manusia itu akan menjadi baik.

20. Belajarlah dari kesalahan orang lain, pasti kamu akan menjadi orang besar. Dengan syarat jangan menghina pada orang yang bersalah.

Advertisements

Rahasia Hidup Imam Ali

Imam Ali bin Abi Tholib RA berkata:

Kenyamanan tubuh terletak pada sedikitnya makan.
Ketenangan jiwa terletak pada sedikitnya dosa.
Ketenangan hati terletak pada sedikitnya ambisi.
Kenyamanan lisan terletak pada sedikitnya pembicaraan.

Imam Ali bin Abi Tholib RA berkata:

Sebaik-baik dunia dan akhirat terletak pada 5 perkara:

  1. Memiliki jiwa yang kaya
  2. Menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain
  3. Mencari yang halal
  4. Bersandang ketakwaan
  5. Berpegangan kepada Allah dalam segala hal

10 Kunci Ketenangan Hati

1. TIDAK MEMBENCI & HINDARI PERMUSUHAN
Jangan sekali-kali membenci seseorang walaupun dia berbuat kesalahan kepadamu, tetapi doakan dia untuk berubah menjadi baik. Hidup kita akan selalu merasa aman jika kita tidak punya musuh.

2. TIDAK MENGELUH
Jangan berkeluh kesah! Karena apa yang kita alami adalah sebuah proses untuk kita menjadi lebih dewasa dalam banyak hal, sebaliknya perbanyaklah berdoa kepada Allah.

3. HIDUP SEDERHANA
Hiduplah sederhana walaupun punya kedudukan tinggi dan harta melimpah, karena apa yang kita terima semuanya hanya titipan Allah, kita tidak memiliki apapun.

4. BERPRASANGKA BAIK
Senantiasa berfikir positif meskipun kerap ditimpa musibah, karena dari setiap persoalan, kita akan mendapat hikmah, dan yakin bahwa Allah tidak pernah memberi cobaan melebihi kekuatan kita.

5. SELALU TERSENYUM
Senyumlah walaupun hati terluka karena hinaan orang, karena dia tidak tau apa yang dia perkatakan kepada kita.

6. SELALU MEMBERI
Gemar memberi dan berbagi walaupun kita tidak berlebih, karena sesungguhnya kita hanyalah bendahara Allah di dunia ini, Allah yang memiliki semuanya.

7. BERDOA TANPA SEPENGETAHUAN MEREKA
Jangan lelah dan bosan untuk selalu mendoakan orang yang kita cintai dan semua yang ada di sekeliling kita untuk kebaikan mereka dan tanpa sepengetahuannya, karena ketika kita mendoakan orang lain, sesungguhnya malaikat mendoakan kita.

8. TIDAK DENGKI & IRI HATI
Jangan iri dan dengki dengan kekayaan dan kesuksesan teman-temanmu, karena setiap orang yang menerima lebih akan diminta lebih dalam hidup ini, semuanya sudah Allah tetapkan sesuai porsinya masing-masing.

9. MUDAH MEMAAFKAN
Jangan merasa malas dan gengsi dalam memaafkan kesalahan orang lain, karena terdapat kelegaan dan ketenangan dalam kita memaafkan.

10. BANYAK BERSYUKUR
Selalu ingat nikmat yang Allah berikan pada kita, syukuri semua yang kita punya, walaupun kita tidak sanggup menghitungnya, mulai dari nafas, badan yang utuh, dll, karena dengan itu kita selalu merasa beruntung, dengan bersyukur Allah akan menambah nikmatNya pada kita, oleh karena itu pasti kita akan selalu bahagia.

Catatan Mutiara Dahlan Iskan

Jika semua yang kita kehendaki terus kita miliki, darimana kita belajar ikhlas?

Jika semua yang kita impikan segera terwujud, darimana kita belajar sabar?

Jika setiap do’a kita terus dikabukan, bagaimana kita dapat belajar ikhtiar?

Seorang yang dekat dengan Tuhan, bukan berarti tidak ada air mata.

Seorang yang taat pada Tuhan, bukan berarti tidak ada kekurangan.

Seorang yang tekun berdo’a, bukan berarti tidak ada masa-masa sulit.

Biarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Tuhan tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketulusan.

Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar keikhlasan.

Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang memaafkan.

Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan.

Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketangguhan.

Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kamu tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kemurahan hati.

 

 

 

 

Kisah Pelajaran Tauhid Berharga Untuk Anak

Ada anak bernama Adi yang ingin mengikuti study tour ke sebuah kota.

Adi : Yah, ini jadi gak, Adi mau ikut Study Tour?
Ayah : Kamu sudah bilang belum ke Allah?
Adi : Belum, yah.
Ayah : Bilang dulu deh ke Allah, masih ada waktu berapa?
Adi : Sekarang hari Kamis, harus bayar maksimal besok Jum’at, Sabtu mau berangkat.
Ayah : Yasudah, masih ada Maghrib, Isya, sholat malam dan masih ada Subuh di Jum’at pagi, buat doa. Sudah, kamu sholat dulu, doa dulu sama Allah.

Adzan Maghrib pun berkumandang.

Ayah : Ayo kita ke masjid, kita minta sama Allah, supaya kamu nanti bisa berangkat ikut study tour. Harus bayar berapa?
Adi : Rp. 27.000.
Ayah : Ayo kita minta Rp. 27.000.

Setelah selesai sholat Maghrib, si ayah menyuruh Adi berdoa.

Ayah : Kamu berdoa, silahkan! Jangan dalam hati, supaya ayah bisa mengamini.
Adi : “Ya Allah, saya ingin ikut study tour, tapi ini ya Allah, punya ayah pelit banget, Rp. 27.000 aja harus sholat dulu, harus doa dulu, ya itulah mudah-mudahan ayah ngasih.”
Ayah : Huss..doanya langsung ke Allah.
Adi : “Ya Allah, tolong bayarin saya.”
Ayah : Huss..doanya langsung aja, bayarin kek, enggak kek, pokoknya berangkat study tour.
Adi : Yasudah. “Seperti yang dikata ayah ya Allah, Aammiiin.”
Ayah : Aammiiin.

Si Adi diajak lagi sholat Isya, dia doa lagi, ketika si Adi mikir tentang study tour, dibenerin sama ayahnya.

Ayah : Nak, kamu mikirin Allah, jangan mikirin duit.
Adi : Yaaa, tapi ini harus bayar.
Ayah : Tapi itukan kata orang, bukan kata Allah, lihat apa yang yang Allah bilang, kalo Allah bilang “berangkat ya berangkat”, betapa banyak orang yang bisa bayar, gak ikut karena sakit perut, karena ada masalah dengan orang tuanya, karena bis itu mogok, dll. Sudah kamu tidur besok bangun lagi untuk sholat malam.

Dengan nada lembut si ayah menasihati Adi yang gelisah. Dan besok harinya si Adi dipanggil ayahnya.

Ayah : Adi, sini nak! Berapa duit bayarnya?
Adi : Rp 27.000, yah.
Ayah : Sudah, ini ada duit Rp. 27.000.
Adi : Alhamdullillah.
Ayah : Sssttt, sebentar, kamu bayarin temen kamu yang belum bayar study tour!
Adi : Ooohh…trus buat Adi gimana?
Ayah : Urusan Allah.
Adi : Ooohh…urusan Allah.
Ayah : Sudah, nanti juga kamu tau.
Adi : Yasudah, assallamu’alaikum.

Berangkatlah si Adi ke sekolah dan membayarkan uangnya sesuai perintah ayahnya.

Adi : Assallamu’alaikum, Bu! Nih saya mau bayar.
Ibu Guru : Wa’alaikumsallam, nah kebetulan memang kamu termasuk yang belum bayar.
Adi : Tapi ini bukan buat saya, Bu.
Ibu Guru : Lalu buat siapa?
Adi : Siapa temen-temen saya yang belum bayar?
Ibu Guru : Ya ada tu, ada satu anak.
Adi : Yasudah Bu, kata ayah buat dia.

Ibu Guru : Loh, kamu kan belum bayar?
Adi : Tuh dia Bu, saya juga nggak ngerti. Yasudah Bu, ini buat dia (sambil memberikan uangnya).
Ibu Guru : Loh, buat kamu gimana?
Adi : Buat saya kata ayah “urusan Allah”.
Ibu Guru : Hmm..ya tapi, walaupun kamu bayarin orang lain, kamu besok nggak bisa ikut loh.
Adi : Nggak apa apa, bukan kata orang tua bukan kata ibu, tapi kata Allah.
Ibu Guru : Ya, tapi….
Adi : Yasudah Bu, wasallamu’alaikum (si Adi cium tangan lalu pergi).

Setelah membayarkan uangnya atas perintah ayahnya si Adi lapor lagi ke Allah dalam sholat Dhuhanya. “Ya Allah, sudah saya bayarkan sesuai dengan perintah dari ayah. Ya Allah kutitipkan nasibku kepadamu Ya Allah, supaya besok bisa berangkat study tour.”

Si Adi malam sabtu makin gelisah di dalam kamar dan diketaui oleh ayahnya.

Ayah : Nak, tenang, kamu InshaaAllah kalo takdirnya berangkat, pasti berangkat, kalaupun tidak maka itu takdirmu. Sudah sekarang tidur dulu, nak (sambil mematikan lampu dan menutup pintu kamar Adi).

Adi pun tidur tanpa menjawab perkataan ayahnya. Lalu pagi harinya Si Adi ini tidak mandi dan tidak berpakaian sekolah karena dia tau dia tidak akan berangkat.

Ayah : Nak, kamu tidak bakal tau kamu berangkat atau tidak sampai kamu jalan.
Adi : Tapi yah..
Ayah : Nggak ada tapi-tapian, bismilah berangkat!

Lalu berangkatlah si Adi, sebelum berangkat dia diajarkan dzikir oleh ayahnya, dan kata ayah Adi “Kalo sampai, masuk dulu mushola, sholat dhuha dulu, lapor sama Allah bahwa sudah sampai mushola, sudah sampai sekolah, walaupun tidak ikut study tour” melihat si Adi berangkat keluar rumah, ibunya ini sudah menangis.

Ibu : Ini anak terlalu kecil untuk diajarkan tauhid!
Ayah : Nggak apa apa Bu, kita kenalkan Allah kepada Adi dan semoga Allah memberi keajaiban kepada Adi.

Dan benar, seperti yang diucapkan ayahnya “Belum tentu yang punya duit berangkat, dan belum tentu yang nggak punya duit nggak berangkat”.
Lalu diabsenlah satu-satu naik bis. Anak yang kemarin berdoa pagi-siang-sore-malam dan di hari terakhir dia bersedekah, Alhamdullillah tidak berangkat juga. Namun tiba-tiba satu pintu bis terbuka, ada ketua kelas turun.

Teman Adi : MasyaAllah, kok kamu gak ikut?
Adi : Ya begitulah..
Teman Adi : Gitu gimana? Belum bayar ya?
Adi : Ya belum sih..ya begitulah..
Teman Adi : Ooohh..jadi sekarang gak ikut nih?
Adi : Ya begitulah..
Teman Adi : Yasudah, jagain sekolah ya! Assallamu’alaikum!
(dengan perasaan sedih Adi menjawab salam dari ketua kelas)
Adi : Wa’alaikumsallam.

Lalu berangkatlah bis tersebut. semua orang melambaikan tangan termasuk anak yang dibayarin Adi. Setelahnya dia lapor lagi ke Allah dia sholat Dhuha, kali ini dia nangis “Ya Allah, nasibku begini amat ya..”

Setelah selesai sholat dan bersiap memakai sepatu, datang mobil alphard warna hitam ke sekolah, turun seorang ibu dan anaknya.

Ade : Woy, Assallamu’alaikum Adi!
Adi : Loh Ade, waalaikumsallam.
Ade : Udah pada berangkat ya?
Adi : Iya udah pada berangkat.
Ade : Kok kamu gak ikut? Ketinggalan ya?
Adi : Ya begitulah, sebenarnya sih bukan ketinggalan, saya belum bayar. Lalu kamu sendiri kenapa?
Ade : Ya niatnya mau berangkat, eh kok udah ditinggal aja sama bis, soalnya kena macet di jalan. Bentar ya!
Adi : Hah, eh iya..

Si Ade lalu bilang ke ibunya tentang Adi dan..

Ibu Ade : Yuk, kita susul teman-teman kalian, kita naik mobil!
(dengan kagetnya Adi menjawab)
Adi : Subhanallah, naik mobil? Alphard hitam ini?
Ade : Iya, naik!
Adi : AllahuAkbar, hmm bismillah.
(dengan perasaan bercampur aduk, Adi naik dan duduk di dalam mobil tersebut)
Ibu Ade : Yang enak ya dik, duduknya.
Adi : Iya tante.

Lalu di perjalanan si Adi nangis, berlinang air mata.

Ade : Kenapa kamu? Nggak pernah naik Alphard, ya? (sambil bercanda Ade menghibur Adi)
Adi : Nggak, ayah saya bener, ayah saya bener.
Ade : Memang ayahmu ngomong apa?
Adi : ” Yang punya duit belum tentu berangkat, yang nggak punya duit belum tentu nggak berangkat, dan yang bayar belum tentu berangkat dan yang belum bayar belum tentu juga nggak berangkat”.
Ade : Ooohhh.. (si Ade hanya terdiam bingung dan heran)

Lalu berhentilah mobil tersebut di kilometer 26 dan mampir di sebuah rest area, terlihat ibu Ade dari kejauhan membawa makanan yang banyak dan enak untuk Ade dan Adi. Lalu si Adi meneteskan air mata lagi.

Ade : Walah, nangis lagi, kenapa kamu?
Adi : enggak, saya lagi ngebayangin temen-temen yang bayar Rp. 27000 cuma dapat 1 roti.
Ade : Oohhh.. (Ade masih terheran sambil memakan makanan dari ibunya)

Di sisi lain, tepatnya di rumah Adi.

Ayah : Bu, kalo anak kita pulang di jam 9 pagi ini, berarti dia gagal pergi, tapi semoga dia bertemu Allah.
Ibu : Aamiiin, Pak.

Tetapi siapa sangka si Adi tidak pulang dan pulang jam 7 malam.

Adi : Assallamu’alaikum, Yah, Bu!
Ayah : Waalaikumsallam, wuih..keren, bawa apa itu?
Adi : Ini ada tales, singkong, pisang.
Ayah : Subhanallah anak ayah!

Lalu diceritakanlah perjalanan Adi mulai berangkat sampai pulang kepada ayahnya.

Ayah : Sipp, bagus, akhirnya berangkat kan, besok pagi, berangkat seperti itu lagi ya. Doa, doa, doa. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

*Pelajaran yang diajarkan ayah kepada anaknya bahwa dahulukanlah Allah dari apapun.

Mati Sebelum Mati

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Fath Ar-Rabbani wal-Faidh Ar-Rahmani. Beliau mengatakan, “Wahai hamba Allah, sadarilah bahwa engkau hanya sebatas diberi harapan. Maka, jauhilah segala sesuatu selain Allah Azza wa Jalla dengan kalbumu sehingga engkau dapat dekat kepadaNya. Matilah engkau sebelum mati. Matilah engkau dari dirimu dan makhluk. Sungguh telah diangkat berbagai hijab dari dirimu dan Allah Azza wa Jalla.”
Seseorang bertanya, “Bagaimana saya harus mati?” Lalu beliau menjawab:

“Matilah dari mengikuti kemauan, hawa nafsu, tabiat dan kebiasaan burukmu, serta matilah dari mengikuti makhluk dan dari berbagai sebab. Tinggalkanlah persekutuan dengan mereka dan berharaplah hanya kepada Allah, tidak selainNya. Hendaklah engkau menjadikan seluruh amalmu hanya karena Allah Azza wa Jalla dan tidak mengharap nikmatNya.
Hendaklah engkau bersikap ridha atas pengaturan, qadha dan tindakanNya. Jika engkau melakukan hal yang demikian, maka hidup dan matimu akan bersamaNya. Kalbumu akan menjadi tentram. Dialah yang membolak-balikkannya sesuai dengan kehendakNya. Kalbumu akan selalu menjadi dekat kepadaNya, selalu terhubung dan bergantung kepadaNya. Engkau akan selalu mengingatNya dan melupakan segala perkara selain DiriNya.
Kunci surga adalah ucapan La ilâha illa Allâh, Muhammadur-Rasûlullâh. Sedangkan esok, kunci surga adalah kefanaan dari dirimu, orang lain, dan segala sesuatu selain Allah, dan dengan selalu menjaga batas-batas syariat.
Kedekatan kepada Allah adalah surga bagi manusia, sedangkan jauh dari Allah adalah neraka untuk mereka. Alangkah indah keadaan seorang mukmin, baik di dunia ataupun di akhirat. Di dunia dia tidak berkeluh-kesah atas keadaaan yang dia alami, setelah dia memahami bahwa Allah meridhainya, dimana pun dia berada cukuplah bagiannya dan ridha dengan bagian itu. Kemanapun dia menghadapkan wajahnya, dia memandang dengan cahaya Allah. Setiap isyaratnya adalah kepadaNya. Setiap kebergantungan adalah kepadaNya. Setiap tawakalnya adalah hanya kepadaNya.
Berhati-hatilah, jika ada seorang di antara engkau merasa bergembira berlebihan karena telah melakukan ketaatan, karena boleh jadi ada rasa takjub ketika dilihat orang lain atau berharap pujiannya.
Barangsiapa di antaramu ingin menyembah Allah, hendaklah memisahkan diri dari makhluk. Sebab, perhatian makhluk pada amal-amal mereka dapat merusaknya. Nabi SAW bersabda, “Engkau mesti ber-uzlah, sebab uzlah adalah ibadah dan bentuk kesungguhan orang-orang shaleh sebelum kalian.”
Engkau mesti beriman, lalu yaqin dan fana dalam wujud Allah, bukan dalam dirimu atau orang lain. Dan, tetaplah menjaga batas-batas syariat dan meridhai Rasulullah SAW. Tidak ada karamah bagi orang yang mengatakan sesuatu selain hal ini. Karena, inilah yang terjadi dalam berbagai shuhuf dan lawh kalam Allah Azza wa Jalla.
Engkau harus selalu bersama Allah; memutuskan diri untuk selalu denganNya dan bergantung kepadaNya. Hal demikian akan mencukupkan dirimu dengan pertolongan (ma’unah) di dunia dan akhirat. Dia akan menjagamu dalam kematian dan kehidupan, menjagamu dalam setiap keadaan. Engkau harus memisahkan yang hitam dari yang putih!”

8 Jenis Rezeki

Oleh Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc.

Yang kerja keras belum tentu mendapat banyak.

Yang kerja sedikit belum tentu mendapat sedikit.

Karena sesungguhnya sifat Rezeki adalah mengejar, bukan dikejar.

Rezeki akan mendatangi, bahkan akan mengejar,

hanya kepada orang yang pantas didatangi.

Maka, pantaskan dan patutkan diri untuk pantas di datangi, atau bahkan dikejar rezeki.

Inilah hakikat ikhtiar.

Setiap dari kita telah ditetapkan rezekinya sendiri-sendiri.

Karena ikhtiar adalah kuasa manusia, namun rezeki adalah kuasa Allah Azza Wajalla.

Dan manusia tidak akan dimatikan, hingga ketetapan rezekinya telah ia terima, seluruhnya.

Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk harta.

Ada yang diluaskan dalam bentuk kesehatan.

Ada yang diluaskan dalam bentuk ketenangan dan keamanan.

Ada yang diluaskan dalam kemudahan menerima ilmu.

Ada yang diluaskan dalam bentuk keluarga dan anak keturunan yang shalih.

Ada yang dimudahkan dalam amalan dan ibadahnya.

Dan yang paling indah, adalah diteguhkan dalam hidayah Islam.

Hakikat Rezeki bukanlah hanya harta, rezeki adalah seluruh rahmat Allah Ta’ala.

8 JENIS REZEKI:

  1. Rezeki Yang Telah Dijamin

‎وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud:6)

2. Rezeki Karena Usaha

‎وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya.” (QS. An-Najm:39)

3. Rezeki Karena Bersyukur

‎لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim:7)

4. Rezeki Tak Terduga

‎وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا( ) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq:2-3)

5. Rezeki Karena Istighfar

‎فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ( ) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا

“Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan memperbanyak harta.” (QS. Nuh:10-11)

6. Rezeki Karena Menikah

‎وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya. (QS. An-Nur:32)

7. Rezeki Karena Anak

‎وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” (QS. Al-Israa’:31)

8. Rezeki Karena Sedekah

‎مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

“Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah:245)

 

Tidak Sepatutnya Merasa Lebih Dari Yang Lain

Di tengah perjalanan malamnya, Al-Imam Abu Yazid al-Busthami bertemu dengan seekor anjing. Dengan sigap, diangkatlah gamisnya, dengan maksud agar tidak terkena najisnya.

Spontan anjing tersebut berhenti & memandang Abu Yazid. Atas kuasa Allah, Abu Yazid mendengar anjing tersebut berbicara, kepadanya, “Wahai Yazid, tubuhku ini kering, tidak akan menimbulkan najis kepadamu. Jika pun terkena najisku, engkau tinggal membasuhnya 7x, dengan air dan tanah. Maka najisku akan hilang, namun jika engkau angkat gamismu, karena berbaju manusia, merasa lebih mulia & menganggap aku hina, maka najis di dalam hatimu, tidak akan mampu terhapus, walau kau bersihkan dengan air dari 7 samudera.”

Abu Yazid terkejut mendengar perkataan anjing tersebut. Dia menunduk malu, dan segera meminta maaf kepada si anjing. Diajaknya anjing tersebut bersahabat & mengikuti perjalanannya, namun anjing tersebut menolak. Kemudian anjing itu berkata, “Engkau tak mungkin bersahabat & berjalan dengan aku, karena orang-orang yang memuliakanmu, akan mencemooh kamu & melempari aku dengan batu. Aku juga tidak tahu mengapa, mereka menganggap aku hina, padahal aku telah berserah diri, kepada pencipta-Ku atas wujud ini. Lihatlah, tidak ada yang aku bawa, bahkan sepotong tulang sebagai bekalku saja tidak. Sementara engkau masih membawa bekal sekantong gandum.” Kemudian anjing tersebut berlalu.

Dari jauh Abu Yazid memandangi anjing tersebut, berjalan meninggalkannya. Tidak terasa air mata Abu Yazid menetes, dan ia berkata dalam hati, “Ya Rabb, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-Mu saja, aku merasa tidak pantas. Bagaimana aku bisa pantas berjalan dengan-Mu? Ampunilah aku. Sucikanlah najis di dalam qalbuku ini.”

Jangan pernah merasa lebih baik, mulia dan terhormat pada ciptaan Allah, karena Allah melihat hatimu, bukan penampilanmu.

Perilaku Orang Baik

MENGAPA ORANG BAIK SERING TERSAKITI?
Karena Orang Baik selalu mendahulukan orang lain. Dalam ruang kebahagiaannya, ia tak menyediakan untuk dirinya sendiri, kecuali hanya sedikit.

MENGAPA ORANG BAIK KERAP TERTIPU?
Karena Orang Baik selalu memandang orang lain tulus seperti dirinya. Ia tak menyisakan sedikitpun prasangka bahwa orang yang ia pandang penyayang mampu mengkhianatinya.

MENGAPA ORANG BAIK ACAP DINISTA?
Karena Orang Baik tak pernah mau membalas. Ia hanya menerima, meski bukan dia yang memulai perkara.

MENGAPA ORANG BAIK SERING MENETESKAN AIR MATA?
Karena Orang Baik tak ingin membagi kesedihannya. Ia terbiasa mengobati sendiri lukanya, dan percaya bahwa suatu masa Allah akan mengganti kesabarannya.

MENGAPA ORANG BAIK MASIH DIBILANG BURUK?
Karena manusia tidak akan bisa menyenangkan semua orang.

NAMUN ORANG BAIK TAK PERNAH MEMBENCI YANG MENYAKITI
Karena Orang Baik selalu memandang bahwa di atas itu semua, Allah-lah hakikatnya. Jika Allah melakukannya, bagaimana ia akan mendebat kehendak-NYA
Itu sebabnya Orang Baik tak memiliki almari dendam dalam kalbunya.
Jika kau buka laci-laci di hatinya, akan kau temukan hanya Cinta yang dimilikinya.

Amalan Yang Membuat Allah Senang

Jangan bangga dengan banyak shalat, puasa dan zikir, karena itu belum tentu membuat Allah senang. 

Nabi Musa AS: “Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang? Sembayang kah?”

Allah: “Sholatmu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang. Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.

Nabi Musa AS: “Lalu apa yang membuat hati-Mu senang, Ya Allah?”

Allah: “Sedekah, infaq, zakat serta perbuatan baikmu terhadap sesama. Itulah yang membuat Aku senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, Aku hadir disampingnya. Dan Aku akan mengganti dengan ganjaran 700 kali.” (QS.Al-Baqarah: 261-262)

Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu, maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah.

Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain, maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya.