Sahabat Nabi Yang Gagal Miskin

Suatu ketika Rasulullah SAW berkata, Abdurrahman bin Auf RA akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.

Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf RA pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. Abdurrahman bin Auf RA pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur, Alhamdulillah, kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf.

Sahabat gembira, Abdurrahman bin Auf RA pun gembira. Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku. Abdurrahman bin Auf RA gembira juga, sebab berharap jatuh miskin!

Abdurrahman bin Auf RA merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, karena sudah miskin. Namun, Subhanallah, rencana Allah itu memang yang terbaik.

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk. Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular dan obat yang bisa menyembuhkannya adalah kurma busuk!

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf RA dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Allahuakbar, orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah: “Wahai manusia, di langit ada rezeki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian.” (QS. Adz Dzariat:22)

Jadi, yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk? Allah SWT lah yang Memberi Rezeki.

Ibroh dari kisah ini sangat spesial buat kita, sebab ini membuat kita harus yakin bahwa rezeki itu totally dari Allah, bukan hanya karena usaha kita itu sudah cukup bagus atau produk kita yang terbaik yang akan memberi kita omzet yang banyak. Kadang-kadang, keyakinan dalam hati kita itu yang belum cukup kuat dan bulat.

Advertisements

Perilaku Orang Baik

MENGAPA ORANG BAIK SERING TERSAKITI?
Karena Orang Baik selalu mendahulukan orang lain. Dalam ruang kebahagiaannya, ia tak menyediakan untuk dirinya sendiri, kecuali hanya sedikit.

MENGAPA ORANG BAIK KERAP TERTIPU?
Karena Orang Baik selalu memandang orang lain tulus seperti dirinya. Ia tak menyisakan sedikitpun prasangka bahwa orang yang ia pandang penyayang mampu mengkhianatinya.

MENGAPA ORANG BAIK ACAP DINISTA?
Karena Orang Baik tak pernah mau membalas. Ia hanya menerima, meski bukan dia yang memulai perkara.

MENGAPA ORANG BAIK SERING MENETESKAN AIR MATA?
Karena Orang Baik tak ingin membagi kesedihannya. Ia terbiasa mengobati sendiri lukanya, dan percaya bahwa suatu masa Allah akan mengganti kesabarannya.

MENGAPA ORANG BAIK MASIH DIBILANG BURUK?
Karena manusia tidak akan bisa menyenangkan semua orang.

NAMUN ORANG BAIK TAK PERNAH MEMBENCI YANG MENYAKITI
Karena Orang Baik selalu memandang bahwa di atas itu semua, Allah-lah hakikatnya. Jika Allah melakukannya, bagaimana ia akan mendebat kehendak-NYA
Itu sebabnya Orang Baik tak memiliki almari dendam dalam kalbunya.
Jika kau buka laci-laci di hatinya, akan kau temukan hanya Cinta yang dimilikinya.

Jaminan Hutang Dan Mimpi Rasulullah

Syeikh Husna Syarif, seorang ulama besar di Mesir bercerita tentang seorang yang terbelit banyak hutang di tengah kubangan kemiskinannya.

Dulunya dia adalah orang yang sangat kaya raya namun jatuh bangkrut sampai terbelit hutang sana sini. Setiap hari, rumahnya penuh dengan orang yang menagih hutang. Akhirnya ia terpaksa pergi menjumpai seorang saudagar kaya dan meminjam uang sebanyak 500 dinar. 

Saking terkenalnya dia sudah banyak hutang sampai-sampai saudagar ini bertanya,

“Kira-kira kapan anda akan melunasi pinjaman ini?”

“Minggu depan tuan.” Jawabnya singkat.

Ia pun berhasil meminjam hutang lalu pulang dengan 500 dinar di genggamannya. Uang itu segera dia bayarkan kepada orang-orang yang setiap hari datang menagih hutang kepadanya sampai 500 dinar yang ia peroleh itu tidak tersisa sama sekali.

Hari demi hari ia bertambah sulit dan terpuruk kondisi ekonominya hingga tempo pembayaran hutangnya pun tiba. Saudagar mendatangi rumah si miskin dan mengatakan, “Tempo hutang anda telah tiba.”

Dengan suara lirih dia menjawab, “Demi Allah saya sedang tak berhasil mendapatkan apa-apa untuk membayar. Tapi sungguh saya terus berusaha untuk melunasi.”

Saudagar merasa geram lalu mengadukannya ke pengadilan, dan membawanya ke hakim. Di pengadilan, Hakim bertanya, “Mengapa anda tidak membayar hutang anda?”

Dia menjawab, “Demi Allah saya tidak memiliki apa-apa tuan.”

Karena merasa ini adalah kesalahan si miskin maka hakim memvonisnya dengan hukuman penjara sampai ia bisa melunasi hutangnya. Kemudian si miskin bangkit dan berkata, “Wahai tuan Hakim, berilah saya waktu untuk hari ini saja. Saya hendak pulang ke rumah untuk berjumpa keluarga dan mengabarkan hukuman ini sekalian berpamitan dengan mereka, kemudian saya akan langsung kembali untuk menjalani hukuman penjara.”

Hakim, “Bagaimana mungkin, apa jaminannya kau akan kembali besok?”
Lelaki itu terdiam, tapi seolah mendapat ilham di benaknya. “Rasulullah SAW jaminanku, wahai tuan hakim, bersaksilah untukku jika besok aku tidak kembali maka aku bukanlah termasuk umat Rasulullah SAW.”

Sang Hakim tersentak diam, ia sadar betapa bahayanya jaminan itu jika si miskin bohong. Hakim berfikir sejenak lalu memilih untuk percaya demi Rasulullah SAW. Hukuman pun ditunda sampai besok.

Sesampainya di rumah, si miskin mengabarkan kondisinya kepada istrinya bahwa esok akan dipenjara.
Istrinya bertanya, “Kok sekarang engkau bisa bebas?”
“Aku menaruh nama Rasulullah SAW sebagai jaminanku.”
Air hangat menetes dari mata istrinya seraya ia berkata pada suaminya, “Jika nama Rasulullah SAW yang menjadi jaminan bagimu maka mari kita bershalawat.”

Dan mereka pun bershalawat kepada Rasulullah SAW dengan rasa cinta dan ketulusan yang mendalam hingga mereka tertidur.

Tiba-tiba dalam tidurnya mereka bermimpi melihat Rasulullah SAW. Beliau memanggil nama si miskin seraya berkata, “Hai fulan jika telah terbit fajar pergilah ke tempat Alim fulan. Sampaikan salamku padanya dan mintalah supaya ia menyelesaikan hutang piutangmu. Jika Alim itu tidak percaya maka sampaikan 2 bukti ini; ‘Katakan padanya bahwa di malam pertama ia sudah membaca shalawat untukku 1000 kali dan di malam terakhir dia telah ragu dalam jumlah bilangan shalawat yang dibacanya. Sampaikan padanya bahwa ia telah menyempurnakan shalawatnya.”

Seketika si miskin terbangun dan terkejut. Tanpa ragu setelah subuh ia pergi menuju rumah sang Alim dan berjumpa dengannya. Tanpa buang waktu si miskin menyampaikan mimpinya, “Wahai tuan, Rasulullah SAW telah menitipkan salam untukmu dan meminta agar engkau sudi menyelesaikan hutang piutangku.”

Alim bertanya, “Apa bukti dari kebenaran mimpimu itu?”

“Kata baginda Nabi, di malam pertama engkau telah bershalawat sebanyak 1000 kali dan di malam kedua anda tertidur dalam keadaan ragu dengan jumlah bilangan shalawat yang telah anda baca. Rasulullah SAW mengatakan bahwa hitungan shalawat anda telah sempurna dan shalawat anda telah diterima olehnya.”

Mendengar itu, Alim itu spontan menangis karena berita gembira shalawatnya diterima Rasulallah SAW. Maka alim tersebut memberi uang 500 dinar dari baitul mal untuk melunasi hutang si miskin dan 2500 dari harta pribadinya untuk si miskin sebagai tanda terima kasih atas berita gembira yang disampaikan.”

Dengan dana itu si miskin langsung bergegas pergi ke Hakim untuk menyelesaikan perkaranya. Sesampainya di pengadilan, si Hakim bangkit dari kursinya menyambut si miskin seakan sudah rindu. Dengan senyum lebar sang Hakim memanggilnya seraya berkata, “Kemarilah, berkat kamu aku mimpi berjumpa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW telah berpesan kepadaku bahwa jika aku menyelesaikan hutangmu maka kelak Rasulullah SAW akan menyelesaikan perkaraku di akhirat. Ini uang 500 dinar untuk lunasi hutang-hutangmu.”

Belum juga Hakim selesai bicara, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk. Ketika dibuka, ternyata saudagar penagih hutang. Dia langsung memeluk si miskin dan menciumnya sembari berucap, “Berkat anda saya mimpi berjumpa Rasulullah. Beliau berkata padaku jika aku merelakan hutangmu maka kelak di hari kiamat, Rasulullah SAW akan merelakan segala tanggunganku dan ini uang 500 dinar hadiah untuk anda dan hutangmu lunas.”

“Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya bersalawat kepada Nabi (Muhammad S.A.W) maka wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya.” (QS. Al Ahzab: 56)

Anak Cucu Rasulallah Di Indonesia

Kitab Syamsud Dhahiroh, Kitab Aqidatul Awwam dan berbagai sumber lainnya.

Di artikel pendek ini memuat alur sejarah para ulama garis keturunan Nabiyullah SAW yang berjasa besar dan abadi di tanah negeri NKRI.

Beliau SAW dikaruniai 7 anak 3 laki-laki dan 4 perempuan, yaitu :

1. Qasim

2. Abdullah

3. Ibrahim

4. Zaenab

5. Ruqoyyah

6. Ummu Kultsum

7. Fathimah Azzahra

Setiap keturunan berasal dari ayahnya, namun khusus untuk keturunan Sayyidatuna Fathimah bersambung kepada Rasulullah merekalah keturunan Nabi Muhammad, sebagaimana dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Setiap anak yg dilahirkan ibunya bernasab kepada ayahnya, kecuali anak-anak dari fathimah, akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka.” (HR. Imam Ahmad)

Sayyidatuna Fathimah dikarunia 2 orang putra yaitu Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein, dari kedua cucu Nabi ini melahirkan para anak cucu cucu Rasulullah yang hingga kini kita kenali dengan sebutan Syarif, Syarifah, Sayyid, Sayyidah dan Habib.

Keturunan dari Sayyidina Hasan RA :

Yaitu sering disebut dengan Al-Hasni hanya ada sedikit saja di indonesia.

Keturunan dari Sayyidina Husein RA, Beliau wafat di Karbala, beliau mempunyai 6 orang anak laki-laki dan 3 wanita, yaitu :

1. Ali Akbar

2. Ali Awsat (Ali Zainal ‘Abidin)

3. Ali Ashghar

4. Abdullah

5. Muhammad

6. Jakfar

7. Zainab

8. Sakinah

9 Fathimah

Putra Sayyidina Husein keseluruhannya wafat terkecuali Ali Awsat atau yang biasa dikenal dengan nama Imam Ali Zainal ‘Abidin, mempunyai putra bernama Muhammad Al-Baqir, yang mempunyai putra bernama Ja’far Ash-Shadiq yang menjadi Guru dari pada Imam Hanafi yang kemudian Imam Hanafi ini memiliki murid Imam Maliki, lalu Imam Maliki memiliki murid Imam Syafi’i dan Imam Syafi’i bermuridkan Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali).

Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq dilahirkan pada tahun 80 H riwayat lain menyebutkan 83 H. Meninggal di kota Madinah pada tahun 148 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi.

Keturunannya yaitu Ali Uraidi yang memiliki putra bernama Muhammad An-Nagieb memiliki putra Isa Arumi dan memiliki putra Ahmad Al-Muhajir. Ahmad bin Isa Al-Muhajir punya dua orang putra yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut, Yaman dan mendapat tiga putra yaitu Alwi, Jadid dan Ismail (Bashriy). Keturunan mereka punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap lestari. Mereka menamakan diri dengan nama sesepuhnya Alwi, yang kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan kaum Sayyid Alawiyin.

Kepindahannya ke Hadramaut disebabkan karena kekuasaan diktator khalifah Bani Abbas yang secara turun-menurun terus memimpin umat Islam, mengakibatkan rasa ketidakpuasan di kalangan rakyat.

Akibat dari kepemimpinan yang diktator, banyak kaum muslim berhijrah, menjauhkan diri dari pusat pemerintahan lalu hijrah dan menetap di Hadramaut, Yaman. Penduduk Yaman khususnya Hadramaut yang mengaku penduduk asli dari qabilah Qahthan, yang awalnya bodoh dan sesat berubah menjadi mengenal ilmu dan berjalan di atas syariat Islam yang sebenarnya. Al-Imam al-Muhajir dan keturunannya berhasil menundukkan masyarakat Hadramaut yang memiliki faham khawarijme dengan akhlak dan pemahaman yang baik.

Para Sayyid Alawiyin menyebarkan dakwah Islamnya di Asia Tenggara melalui dua jalan, pertama hijrah ke India kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke wilayah Asia Tenggara melalui pesisir India.

Diantara yang hijrah ke India adalah Syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota
Kanur dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai wafat.

Lalu Syarif Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Surat dan Ahmadabad. Dia hijrah atas permintaan kakeknya Syarif Syech bin Abdullah Al-Aydrus. Begitu pula keluarga Abdul Malik yang diberi dengan gelar ‘Azhamat Khan’. Dari keluarga inilah asal-muasal keturunan penyebar Islam di Indonesia khususnya di Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Kemudian dari India, mereka melanjutkan dakwahnya ke Indonesia, yaitu melalui daerah pesisir utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh.

Menurut Profesor Dr. Hamka. sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke Indonesia, tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu lalu kepulauan Indonesia dan Filipina. Memang harus diakui banyak jasa-jasa dari mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini.

Penyebar Islam dan pembangun kerajaan Islam di Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam di Mindanau dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam, pernah bangsa Sayyid dari keluarga Jamalullail menjadi raja di Aceh.

Negeri Pontianak pernah diperintah oleh bangsa Sayyid Al-Gadri. Siak oleh keluarga dari bangsa Sayyid Bin Shahab. Perlis (Malaysia) didominasi dan dirajai oleh bangsa dari Sayyid Jamalullail Yang Dipertuan Agung III Malaysia*, Sayyid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tuanku Haji Bujang ialah berasal dari keluarga Al-Aydrus.

Kedudukan para sayyid di negeri ini yang turun-temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri di mana mereka berdiam. Kebanyakan dari mereka menjadi ulama dan ada juga yang berdagang. Mereka datang dari Hadramaut dari keturunan Imam Isa Al-Muhajir dan Al-Faqih Al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal dari mereka ialah dari keluarga As-Segaf, Al-Kaff, Al-Athas, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Bafaqih, Al-Aydrus, Al-Haddad, Bin Smith, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al-Jufri, Bin Shahab, Al-Qadri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, Al-Hadi, Al-Zahir, Basyaiban, Ba’abud, Bin Yahya dan lain-lain.

Orang-orang dari Arab khususnya Hadramaut mulai datang secara masal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir diabad 18, sedangkan kedatangan mereka di pantai Malabar jauh lebih awal. Pemberhentian mereka yang pertama adalah di Aceh.
Dari sana mereka lebih memilih pergi ke Palembang dan Pontianak. Orang-orang Arab mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820 Masehi, dan qabilah-qabilah mereka baru tiba di bagian Timur Nusantara pada kisaran tahun 1870 Masehi.

Pendudukan Singapura oleh Inggris pada tahun 1819 Masehi dan kemajuan besar dalam bidang perdagangan membuat kota itu menggantikan kedudukan Aceh sebagai perhentian pertama dan titik pusat imigrasi bangsa-bangsa Arab. Semenjak pembangunan pelayaran kapal uap di antara Singapura dan Arab, Aceh sudah menjadi tidak penting lagi.

Di pulau Jawa terdapat enam qabilah besar Arab, yaitu di Batavia yang sekarang dikenal dengan nama Jakarta, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Tegal, dan Surabaya. Di Madura hanya ada satu yaitu di Sumenep. Qabilah Arab di Surabaya dianggap sebagai pusat qabilah di pulau Jawa bagian Timur.

Qabilah Arab lainnya yang cukup besar berada di Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Bangil, Besuki dan Banyuwangi. Qabilah Arab di Besuki mencakup pula orang Arab yang menetap di kota Panarukan dan Bondowoso.

Qabilah-qabilah Arab Hadramaut khususnya Alawiyin yang berada lokasi pesisir tetap menggunakan nama-nama qabilah mereka, sedangkan Alawiyin yang tidak dapat pindah ke pesisir karena berbagai sebab. Mereka berganti nama dengan nama-nama Jawa, mereka banyak yang berasal dari keluarga Ba’bud, Basyaiban, Bin Yahya dan lainnya.

Niat Puasa Ramadhan

Niat puasa khusus di malam pertama bulan Ramadhan, yakni dengan mengabungkan 2 niat, baca niat 2 kali.

1. Niat Puasa 1 Bulan Penuh

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ كُلِّهِ هَذِهِ السَّنَة لِلَّهِ تَعَالَى

“Saya niat berpuasa satu bulan Ramadhan penuh, di tahun ini karena Allah Ta’ala.“

2. Niat Puasa Esok Hari

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَة لِلَّهِ تَعَالَى

“Saya niat berpuasa besok di bulan romadhon tahun ini, karena Allah Ta’ala.”

Untuk hari-hari berikutnya niatlah seperti biasa (niat nomor 2).

Penggabungan niat sesuai tuntunan para salaf ini memiliki dua manfaat:

– Kalo kita lupa niat di malam harinya, maka puasa kita tetap sah, karena kita telah berniat mengikuti Imam Malik.

– Apabila ditakdirkan mati di pertengahan bulan Ramadhan, maka akan mendapatkan pahala puasa satu bulan penuh mengikuti pendapat Imam Malik.

Amalan Yang Membuat Allah Senang

Jangan bangga dengan banyak shalat, puasa dan zikir, karena itu belum tentu membuat Allah senang. 

Nabi Musa AS: “Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang? Sembayang kah?”

Allah: “Sholatmu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang. Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.

Nabi Musa AS: “Lalu apa yang membuat hati-Mu senang, Ya Allah?”

Allah: “Sedekah, infaq, zakat serta perbuatan baikmu terhadap sesama. Itulah yang membuat Aku senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, Aku hadir disampingnya. Dan Aku akan mengganti dengan ganjaran 700 kali.” (QS.Al-Baqarah: 261-262)

Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu, maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah.

Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain, maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya.

Ketika Baca Alqur’an Tanpa Tahu Artinya

Ada seorang remaja bertanya kepada kakeknya, “Kakek, apa gunanya aku membaca Al-Qur’an, sementara aku tidak mengerti arti dan maksud dari Al-Qur’an yang kubaca.“

Lalu si kakek menjawabnya dengan tenang, “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku dengan sekeranjang air.“

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tapi semua air yang dibawanya habis sebelum ia sampai di rumah.

Kakeknya berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat.“

Kakek meminta cucunya kembali ke sungai. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong (tanpa air) sebelum sampai di rumah.

Dia berkata kepada kakeknya, “Tidak mungkin bisa membawa sekeranjang air. Aku ingin menggantinya dengan ember.“

“Aku ingin sekeranjang air, bukan dengan ember,“ jawab kakek.

Si anak kembali mencoba, dan berlari lebih cepat lagi. Namun tetap gagal juga. Air tetap habis sebelum ia sampai di rumah. Keranjang itu tetap kosong.

“Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja. Air pasti akan habis di jalan sebelum sampai di rumah.“

Kakek menjawab:

“Mengapa kamu berpikir ini tidak ada gunanya? Coba lihat dan perhatikan baik-baik apa yang terjadi dengan keranjang itu.”

Anak itu memperhatikan keranjangnya, dan ia baru menyadari bahwa keranjangnya yang tadinya kotor berubah menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam.

“Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Al-Qur’an? Boleh jadi kamu tidak mengerti sama sekali. Tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu sadari kamu akan berubah, luar dan dalam. Itulah pekerjaan Allah dalam mengubah kehidupanmu.”

Apa Itu Cinta?

Cinta… 

Adalah Sayyidina ‘Ali, ketika dia berbaring tidur menggantikan Rasulullah SAW di kasurnya, padahal dia tahu bahwa sekelompok orang telah berkumpul untuk membunuh Rasulullah, dia juga tahu bahwa dia mungkin saja tewas di kasur yang sama!

Cinta…

Adalah Bilal, ketika dia tidak lagi mengumandangkan adzan setelah Rasulullah SAW wafat, lalu ketika Bilal mengumandangkan azan lagi atas permintaan Sayyidina ‘Umar saat penaklukan Baitul Maqdis. Tidak pernah tangisan begitu membahana terlihat sebelumnya saat Bilal mengucapkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullaah”.

Cinta…

Adalah Sayyidina Abu Bakar yang mengatakan, “Saat kami berhijrah, aku heran dengan munculnya susu yang tercampur air, lalu aku berikan susu tersebut kepada Rasulullah, dan aku katakan, ‘Minumlah wahai Rasulullah’.

Abu Bakar mengatakan, “Maka Rasulullah pun minum sehingga hilanglah dahagaku.” (Rasulullah yang minum, Abu Bakar yang hilang dahaganya).

Cinta…

Adalah sahabat Zubair yang mendengar kabar terbunuhnya Rasulullah, lalu dia pun keluar dengan menyeret pedangnya di jalan-jalan kota Makkah, padahal usianya baru 15 tahun. Agar pedangnya menjadi pedang pertama yang terhunus dalam sejarah Islam.

Cinta…

Adalah Rabi’ah bin Ka’b saat Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apa yang kamu butuhkan?” Rabi’ah pun menjawab, “Aku meminta agar aku bisa mendampingimu di surga.”

Cinta…

Adalah Tsauban ketika Rasulullah Saw bertanya kepadanya, “Apa yang membuat warna (wajahmu) berubah?” lalu Tsauban menjawab, “Aku tidak sakit dan terluka, hanya saja jika aku tidak melihatmu aku menjadi sangat merindu kesepian sampai aku bertemu denganmu.”

Cinta… 

Adalah ketika Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq berkata kepada Rasulullah SAW sebelum memasuki gua Tsur, “Demi Allah, janganlah engkau masuk sampai aku masuk terlebih dahulu, jika ada sesuatu di dalam gua ini maka akulah yang terkena bukan engkau.”

Cinta…

Adalah Sayyidina Abu Bakar yang menangisi Rasulullah ketika tampak tanda-tanda telah dekat kewafatannya, lalu Rasulullah menenangkannya, “Janganlah kamu menangis! Jika saja aku boleh menjadikan seseorang kekasih dari golongan manusia, aku pasti menjadikan Abu Bakar kekasihku.”

Ngetes Hati

Kajian Kitab Ihya’ Ulumiddin.
Oleh KH. Maimun Zubair.
 

Salah satu faedah berhubungan dengan masyarakat adalah adanya uji coba terhadap diri pribadi. Hal itu untuk menguji coba hati, akhlaq dan sifat-sifat batin yang tidak akan mungkin terjadi saat sendiri.

Orang yang terkena penyakit kudis, terkadang ia tidak mengetahui dan tidak merasa bahwa ia terkena penyakit kulit itu. Namun saat terkena gesekan dengan kain atau anggota tubuh lain, maka akan keluar nanah dari tubuh yang terkena penyakit kudis itu dan ia akan merasa sakit.

Begitu pula hati yang terkena berbagai penyakit, seperti sombong, mudah marah, iri hati, dengki serta penyakit yang lain, tidak akan terlihat penyakit yang bersemayam dalam hati saat ia sendiri. Namun saat ia berhubungan atau bahkan bergesekan dengan orang lain atau kepentingan orang lain, maka akan tampak isi sebenarnya yang ada dalam hatinya.

Oleh karena itu, orang yang akan membersihkan hatinya hendaknya menguji coba dengan berhubungan dengan orang lain, seperti yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu.

Saat ia merasa sombong, maka ia mengobati kesombongan itu dengan melakukan hal-hal yang dianggap remeh atau sepele pada keramaian, seperti membawa wadah air atau kayu bakar di atas kepala atau punggungnya pada khalayak ramai sehingga dilihat banyak orang.

Hal itu mereka lakukan untuk mengetahui penyakit yang tertanam dalam hatinya, karena penyakit hati dan godaan syetan adalah hal yang samar serta sedikit orang yang waspada terhadap kedua hal itu.

Diceritakan bahwa ada orang sholeh yang mengulangi sholat yang dilakukan selama beberapa tahun, padahal ia selalu melakukannya pada barisan pertama. Pada suatu hari ia tertinggal shalat berjamaah pada barisan pertama, sehingga ia shalat berjamaah pada barisan kedua. Saat itu ia merasa malu dilihat orang karena ia shalat pada barisan kedua.

Pada saat itu ia baru mengetahui dan sadar bahwa shalat berjamaah yang ia lakukan pada barisan pertama selama beberapa tahun, ternyata tercampur riya dan pamer, hatinya menikmati pandangan manusia atas dirinya serta menikmati anggapan dan i’tikad manusia bahwa ia termasuk golongan orang yang berlomba dan menjadi orang yang terdepan dalam kebaikan.

Dikatakan: Bepergian akan memperlihatkan budi pekerti aslinya. Karena bepergian merupakan salah satu bentuk dari berhubungan dan bercampur dengan manusia.

Halal Buat Kami, Haram Buat Tuan

Kisah dari ulama terkenal di Makkah, Abu Abdurrahman Abdullah Bin Al-Mubarak Al Hanzhali Al Marwazi.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur.

Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka:

“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.

“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”

“Tidak satupun.”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.

“Apa..?” ia menangis dalam mimpinya. 

“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.

“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

“Kok bisa??”

“Itu Kehendak Allah.”

“Siapa orang tersebut?”

“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq Damaskus*

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, di tepi kota.”

Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.

Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh.

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu.

“Betul, siapa tuan?”

“Aku Abdullah bin Mubarak”

Sa’id pun terharu, “Bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”

“Wah saya sendiri tidak tahu!”

“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini!”

Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.

“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar, ‘Labbaika allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka’ (Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu).

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis. Ya Allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat Ka’bah. Izinkan aku datang. Izinkan aku datang ya Allah.

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.

Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji. Saya sudah siap berhaji.”

“Tapi anda batal berangkat haji”

“Benar”

“Apa yang terjadi?”

“Istri saya hamil dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat.

‘Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?’

‘Ya, sayang.’

‘Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku.’

Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :

‘Tidak boleh tuan.’

‘Dijual berapapun akan saya beli.’

‘Makanan itu tidak dijual, tuan.’ katanya sambil berlinang mata.

‘Kenapa?’

Sambil menangis, janda itu berkata, ‘Daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan.’

Dalam hati saya, ‘Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?’

Karena itu saya mendesaknya lagi, ‘Kenapa?’

‘Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak. Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram.’

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

‘Ini masakan untuk mu.’

Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.

‘Pakailah uang ini untukmu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi.’

Ya Allah, disinilah Hajiku.

Ya Allah, disinilah Mekahku.”

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata.

Kisah ini memberi hikmah, bahwa membantu orang disekitar kita bisa jadi sama nilainya dengan pergi Haji di mata Allah

Buat yang akan naik haji atau yang sudah berhaji, ada dua yang tidak kekal dalam diri manusia, yakni masa muda dan kekuatan fisik.

Ada dua juga yang akan bermanfaat bagi semua orang, yakni budi pekerti yang luhur serta jiwa yang ikhlas memaafkan.

Ada dua yang akan mengangkat derajat kemulian manusia, yakni rendah hati dan suka meringankan beban hidup orang lain.

Ada dua yang akan menolak datangnya bencana, yakni sedekah serta menjalin hubungan silaturrahim.