Anak Cucu Rasulallah Di Indonesia

Kitab Syamsud Dhahiroh, Kitab Aqidatul Awwam dan berbagai sumber lainnya.

Di artikel pendek ini memuat alur sejarah para ulama garis keturunan Nabiyullah SAW yang berjasa besar dan abadi di tanah negeri NKRI.

Beliau SAW dikaruniai 7 anak 3 laki-laki dan 4 perempuan, yaitu :

1. Qasim

2. Abdullah

3. Ibrahim

4. Zaenab

5. Ruqoyyah

6. Ummu Kultsum

7. Fathimah Azzahra

Setiap keturunan berasal dari ayahnya, namun khusus untuk keturunan Sayyidatuna Fathimah bersambung kepada Rasulullah merekalah keturunan Nabi Muhammad, sebagaimana dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Setiap anak yg dilahirkan ibunya bernasab kepada ayahnya, kecuali anak-anak dari fathimah, akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka.” (HR. Imam Ahmad)

Sayyidatuna Fathimah dikarunia 2 orang putra yaitu Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein, dari kedua cucu Nabi ini melahirkan para anak cucu cucu Rasulullah yang hingga kini kita kenali dengan sebutan Syarif, Syarifah, Sayyid, Sayyidah dan Habib.

Keturunan dari Sayyidina Hasan RA :

Yaitu sering disebut dengan Al-Hasni hanya ada sedikit saja di indonesia.

Keturunan dari Sayyidina Husein RA, Beliau wafat di Karbala, beliau mempunyai 6 orang anak laki-laki dan 3 wanita, yaitu :

1. Ali Akbar

2. Ali Awsat (Ali Zainal ‘Abidin)

3. Ali Ashghar

4. Abdullah

5. Muhammad

6. Jakfar

7. Zainab

8. Sakinah

9 Fathimah

Putra Sayyidina Husein keseluruhannya wafat terkecuali Ali Awsat atau yang biasa dikenal dengan nama Imam Ali Zainal ‘Abidin, mempunyai putra bernama Muhammad Al-Baqir, yang mempunyai putra bernama Ja’far Ash-Shadiq yang menjadi Guru dari pada Imam Hanafi yang kemudian Imam Hanafi ini memiliki murid Imam Maliki, lalu Imam Maliki memiliki murid Imam Syafi’i dan Imam Syafi’i bermuridkan Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali).

Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq dilahirkan pada tahun 80 H riwayat lain menyebutkan 83 H. Meninggal di kota Madinah pada tahun 148 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi.

Keturunannya yaitu Ali Uraidi yang memiliki putra bernama Muhammad An-Nagieb memiliki putra Isa Arumi dan memiliki putra Ahmad Al-Muhajir. Ahmad bin Isa Al-Muhajir punya dua orang putra yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut, Yaman dan mendapat tiga putra yaitu Alwi, Jadid dan Ismail (Bashriy). Keturunan mereka punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap lestari. Mereka menamakan diri dengan nama sesepuhnya Alwi, yang kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan kaum Sayyid Alawiyin.

Kepindahannya ke Hadramaut disebabkan karena kekuasaan diktator khalifah Bani Abbas yang secara turun-menurun terus memimpin umat Islam, mengakibatkan rasa ketidakpuasan di kalangan rakyat.

Akibat dari kepemimpinan yang diktator, banyak kaum muslim berhijrah, menjauhkan diri dari pusat pemerintahan lalu hijrah dan menetap di Hadramaut, Yaman. Penduduk Yaman khususnya Hadramaut yang mengaku penduduk asli dari qabilah Qahthan, yang awalnya bodoh dan sesat berubah menjadi mengenal ilmu dan berjalan di atas syariat Islam yang sebenarnya. Al-Imam al-Muhajir dan keturunannya berhasil menundukkan masyarakat Hadramaut yang memiliki faham khawarijme dengan akhlak dan pemahaman yang baik.

Para Sayyid Alawiyin menyebarkan dakwah Islamnya di Asia Tenggara melalui dua jalan, pertama hijrah ke India kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke wilayah Asia Tenggara melalui pesisir India.

Diantara yang hijrah ke India adalah Syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota
Kanur dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai wafat.

Lalu Syarif Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Surat dan Ahmadabad. Dia hijrah atas permintaan kakeknya Syarif Syech bin Abdullah Al-Aydrus. Begitu pula keluarga Abdul Malik yang diberi dengan gelar ‘Azhamat Khan’. Dari keluarga inilah asal-muasal keturunan penyebar Islam di Indonesia khususnya di Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Kemudian dari India, mereka melanjutkan dakwahnya ke Indonesia, yaitu melalui daerah pesisir utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh.

Menurut Profesor Dr. Hamka. sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke Indonesia, tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu lalu kepulauan Indonesia dan Filipina. Memang harus diakui banyak jasa-jasa dari mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini.

Penyebar Islam dan pembangun kerajaan Islam di Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam di Mindanau dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam, pernah bangsa Sayyid dari keluarga Jamalullail menjadi raja di Aceh.

Negeri Pontianak pernah diperintah oleh bangsa Sayyid Al-Gadri. Siak oleh keluarga dari bangsa Sayyid Bin Shahab. Perlis (Malaysia) didominasi dan dirajai oleh bangsa dari Sayyid Jamalullail Yang Dipertuan Agung III Malaysia*, Sayyid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tuanku Haji Bujang ialah berasal dari keluarga Al-Aydrus.

Kedudukan para sayyid di negeri ini yang turun-temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri di mana mereka berdiam. Kebanyakan dari mereka menjadi ulama dan ada juga yang berdagang. Mereka datang dari Hadramaut dari keturunan Imam Isa Al-Muhajir dan Al-Faqih Al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal dari mereka ialah dari keluarga As-Segaf, Al-Kaff, Al-Athas, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Bafaqih, Al-Aydrus, Al-Haddad, Bin Smith, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al-Jufri, Bin Shahab, Al-Qadri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, Al-Hadi, Al-Zahir, Basyaiban, Ba’abud, Bin Yahya dan lain-lain.

Orang-orang dari Arab khususnya Hadramaut mulai datang secara masal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir diabad 18, sedangkan kedatangan mereka di pantai Malabar jauh lebih awal. Pemberhentian mereka yang pertama adalah di Aceh.
Dari sana mereka lebih memilih pergi ke Palembang dan Pontianak. Orang-orang Arab mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820 Masehi, dan qabilah-qabilah mereka baru tiba di bagian Timur Nusantara pada kisaran tahun 1870 Masehi.

Pendudukan Singapura oleh Inggris pada tahun 1819 Masehi dan kemajuan besar dalam bidang perdagangan membuat kota itu menggantikan kedudukan Aceh sebagai perhentian pertama dan titik pusat imigrasi bangsa-bangsa Arab. Semenjak pembangunan pelayaran kapal uap di antara Singapura dan Arab, Aceh sudah menjadi tidak penting lagi.

Di pulau Jawa terdapat enam qabilah besar Arab, yaitu di Batavia yang sekarang dikenal dengan nama Jakarta, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Tegal, dan Surabaya. Di Madura hanya ada satu yaitu di Sumenep. Qabilah Arab di Surabaya dianggap sebagai pusat qabilah di pulau Jawa bagian Timur.

Qabilah Arab lainnya yang cukup besar berada di Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Bangil, Besuki dan Banyuwangi. Qabilah Arab di Besuki mencakup pula orang Arab yang menetap di kota Panarukan dan Bondowoso.

Qabilah-qabilah Arab Hadramaut khususnya Alawiyin yang berada lokasi pesisir tetap menggunakan nama-nama qabilah mereka, sedangkan Alawiyin yang tidak dapat pindah ke pesisir karena berbagai sebab. Mereka berganti nama dengan nama-nama Jawa, mereka banyak yang berasal dari keluarga Ba’bud, Basyaiban, Bin Yahya dan lainnya.

Advertisements

Ali Bin Abi Thalib Menjawab

– Wahai Imam, apa makna sabar?

+ Imam Ali As: Sabar itu ada dua; sabar atas apa yang kau cintai dan sabar atas apa yang kau benci.

 

– Wahai Imam, bagaimana cara memutuskan masalah?

+ Imam Ali As: Lebih baik engkau memilih kekalahan dalam kebenaran, daripada menang dalam kedzoliman.

 

– Wahai Imam, apa hakikat mengabdi (berbakti)?

+ Imam Ali As: Setiap kali engkau melaksanakan bakti maka kesulitan akan menghadang, sebab dibalik kesulitanlah terletak pengabdian.

 

– Wahai Imam, apa yang harus aku amalkan hari ini dan esok?

+ Imam Ali As: Hari ini semua perbuatan tanpa perhitungan dan hari esok (akhirat) hanya ada perhitungan tanpa perbuatan.

 

– Wahai Imam, bicaralah tentang kenikmatan dan malapetaka!

+ Imam Ali As: Ketahuilah bahwa puncak kenikmatan dunia selalu lebih rendah dibandingkan dengan nikmatnya Surga, dan seluruh malapetaka di dunia adalah suatu kesenangan dibanding Neraka.

 

– Wahai Imam, apa yang paling mencemaskan hati manusia?

+ Imam Ali As: Perjalanan yang amat jauh dan cita-cita yang menggunung.

 

– Wahai Imam, apakah kekayaan yang paling mengagumkan?

+ Imam Ali As : Apabila engkau tak membutuhkan apa yang berada di tangan orang lain.

 

– Wahai Imam, dosa apakah yang terbesar?

+ Imam Ali As: Dosa terbesar adalah dosa yang diremehkan oleh pelakunya.

 

– Wahai Imam, apakah kehinaan yang besar di dunia ini?

+ Imam Ali As: Seseorang yang selalu mencari kesalahan orang lain, sedangkan dirinya penuh dosa dan kesalahan.

 

-Wahai Imam, bagaimana agar aku dapat menilai diri manusia?

+ Imam Ali As: Nilai manusia tersimpan di lidah dan tatapan matanya.

 

– Wahai Imam, bagaimana sifat seorang pendusta?

+ Imam Ali As: Pendusta takut pada bayangan dirinya, meskipun dia dalam keadaan aman.

 

– Wahai Imam, apa yang membuat ketuaan?

+ Imam Ali As: Susah hati sudah setengah ketuaan.

 

– Wahai Imam, dengan apa tujuan tercapai?

+ Imam Ali As: Tujuan tercapai dengan ketenangan hati, ketekunan, dan kerja keras.

Kerendahan Hati Sayyidina Abu Bakar & Sayyidina Ali

Diriwayatkan pada suatu hari Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib pergi berkunjung ke rumah Rosululloh. Setibanya di depan pintu rumah Nabi, satu sama lain saling mendorong rekannya untuk masuk terlebih dahulu.

Sayyidina Abu Bakar: “Kamu duluan, ya Ali!”

Sayyidina Ali: “Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Aba Bakr, sedang Rasulullah sendiri pernah bersabda tentangmu, ‘Belum pernah matahari terbit atau terbenam atas seseorang sesudah para nabi, lebih utama dari Abu Bakar’.”

Sayyidina Abu Bakar: “Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Ali, sedang Rasulullah juga pernah bersabda tentangmu, ‘Aku telah menikahkan wanita terbaik kepada lelaki terbaik, aku nikahkan putriku Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib’.”

Sayyidina Ali: “Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Aba Bakar, sedang Nabi SAW pernah bersabda, ‘Kalau iman umat ini ditimbang dengan iman Abu Bakar, tentu akan lebih berat timbangan iman Abu Bakar’.”

Sayyidina Abu Bakar: “Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Ali, sedang Rasulullah pernah bersabda tentangmu, ‘Dikumpulkan Ali bin Abi Thalib di Padang Mahsyar pada hari Kiamat kelak dengan berkendaraan bersama Fatimah, Hasan dan Husain, lalu orang-orang bertanya-tanya, “Nabi siapa gerangan itu?” Lalu ada yang menjawab, “Ia bukan nabi, tetapi Ali bin Abi Thalib dan keluarganya.”

Sayyidina Ali: “Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Aba Bakar, sedang Rasulullah pernah bersabda tentang engkau, ‘Kalau aku harus mempunyai kekasih selain dari Rabbku, tentu aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasihku’.”

Sayyidina Abu Bakar: “Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Ali, sedang Rasulullah pernah bersabda, ‘Pada hari kiamat aku bersama Ali, lalu Allah berfirman kepadaku: “Wahai kekasihku, aku telah pilihkan untukmu, Ibrahim Al-Khalil sebagai ayah terbaikmu, dan Aku telah pilihkan untuk Ali sebagai saudara dan sahabat terbaikmu.”

Sayyidina Ali: “Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Aba Bakar, sedang Allah Ta’ala pernah berfirman tentangmu, ‘Dan orang yang datang membawa kebenaran dan orang yang membenarkannya, mereka itu adalah orang-orang yang bertaqwa’ (QS. Az-Zumar: 33).”

Sayyidina Abu Bakar: “Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Ali sedang Allah Ta’ala juga telah mengisyaratkanmu dalam firman-Nya, ‘Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari kerelaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya’ (QS. Al-Baqarah: 207).”

Pada waktu keduanya sedang asyik memperbincangkan keutamaan sahabatnya, Jibril datang berkunjung kepada Rasulullah, seraya berkata: “Ya Rasulullah, di luar sana ada Abu Bakar dan Ali hendak menemuimu. Pergilah, sambutlah keduanya!”

Maka Rosululloh segera bangkit dari duduknya, menyambut mesra dan mempersilakan masuk kedua sahabatnya yang mulia. Beliau SAW menempatkan Sayyidina Abu Bakar di sebelah kanannya dan Sayyidina Ali di sebelah kirinya, seraya berkata kepada mereka, “Demikianlah kami kelak dibangkitkan di hari Kiamat.”

Akhlak mereka itu persis dengan ayat Allah yang berbunyi:

“Dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara: 215)